Senin, 09 Desember 2013

Talk.


"I know you're somewhere out there Somewhere far away
I want you back
I want you back"

Aku menulis ini saat dingin mulai menyertai malam yang perlahan menyergap, sesudah senja. Aku bukan pria yang menjunjung melankolis, tapi, harus kuakui, aku tengah melakukannya saat ini.
Melakukannya bersama bulan purnama di ujung langit sana, dengan harapan kamu melihat hal yang sama juga.

Untuk wanitaku, Carla.

Aku mencintaimu, kuingin bulan mendengar semua perkataanku, dan menyampaikannya padamu.
Aku tengah menatap bulan, melakukan hal yang sama terus menerus selama 3 tahun ini. Setidaknya, semenjak kita diharuskan untuk tidak saling memiliki. Ceritakan dengan cepat tentang kabarmu, kuharap kamu selalu cantik, manis, menawan, meski tidak denganku.
Meski bukan menjadi milikku.

Aku berpikir, terkadang. Apakah kita sedang melihat bulan yang sama? apa kita masih memiliki ikatan batin yang erat? meski waktu telah melampaui batas kemampuanku untuk menjangkaumu? Umm…Oh! Lihat Carla! itu rasi gubuk, menunjukkan selatan, dulu kita sama – sama menyukai rasi bintang, itu dulu, sebelum kita berpisah.
Jika saja mencarimu semudah menunjuk arah di rasi itu, aku takkan merasa begitu sakit menunggu seperti sekarang.
Kamu masih mengguncang pikiranku, Carla sayang. Walau sudah 3 tahun terakhir kita tak pernah saling bertatap muka, hanya pesan yang kubuat yang hampir menghabiskan semua buku tulis yang kumiliki. Semua di tumpuk rapi di laci mejaku, surat – surat dan puisi untukmu tanpa bisa aku kirim. Baiklah, kau mungkin takkan mengerti, bahwa aku terus menyayangimu. Intinya, kamu masih berhasil menyekap masa depanku, untuk terus melihat masa lalu—kamu.

Jika saja perjodohan itu bukanlah tindakan tegas dari orang tua kita masing-masing, mungkin kita masih dapat bersama. Dengan aku dan kamu yang saling melekatkan jemari kita satu sama lain. Tapi nyatanya, kamu miliknya, dan aku dimiliki wanita itu. Aku bisa saja menjadi pemberontak kedua orang tuaku (dan kabur dari rumah lalu mencari pekerjaan sehingga bisa melamarmu), memangnya ini zaman Siti Nurbaya?! Kita saling dewasa dan masih saja diikat dengan aturan perjodohan?! Jika saja ini bukan karena ayah yang umurnya semakin senja dan ibu yang selalu kusayangi, mungkin aku telah melakukan hal itu.

Jika saja, hanya jika, hanya kata ‘jika’. Karena sesungguhnya, kita tak pernah ditakdirkan untuk bersama. Sejarah tak menginkan kita untuk bersatu. Kamu bersamanya, dan aku (diharuskan) bersama wanita ini.
 Aku menatap bulan dengan lekat, berharap permukaan bulan tergantikan oleh bayangan wajahmu yang sulit terlepas dari otakku, apa kita tengah menatap hal yang sama? Apa bulan mendengarkan semua cerita kita? Apa disini hanya aku yang masih mencintaimu?

Carla sayang,
2 bulan lagi, aku diharuskan menikah. Sejujurnya, aku tak pernah ingin melakukannya, jika mempelai wanita yang berdiri di sampingku bukanlah kamu. okay, sebagai seorang laki-laki aku terlalu lemah untuk menolak perjodohan ini. Tapi percayalah, aku melakukan ini untuk kebahagiaan kedua orang tuaku, karena aku masih mencintaimu.
Kuingin bulan menyampaikan pesanku yang satu ini,
Semoga kita dapat bertemu, kuharap secepatnya.
Jika itu bisa dilakukan.
Jika Tuhan berencana untuk mempertemukan kita kembali.

Pria itu berdiri di balkon rumahnya. Menatap bulan yang sesekali tertutup awan tipis yang melintas. Pikirannya kabur, matanya tak terlihat sembab, namun beberapa tetes air sesekali mampir di pelupuk matanya. Ia merindukan gadis itu, Carla.

Seseorang memperhatikan pria itu dari balik pintu teras yang setengah terbuka. Memandang dari atas hingga bawah, dari rambut hitam cepaknya hingga kedua telapak kakinya yang berukuran 43.
Pria itu memiliki alis tebal, bola mata hitam, hidung mancung, lesung pipi yang terlukis jelas, rahang tegas, semua yang dimilikinya seperti ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hingga detail bahunya yang bidang serta tinggi tubuhnya yang sekitar 187 cm itu mampu membius wanita yang tepat berjalan menghampiri sang lelaki.

“sudah malam, kamu nggak kedinginan?” tanya wanita itu lembut, sang pria tampak diam tak bergeming
“bulannya bagus” wanita itu bergelajut manja di bahu sang pria “aku suka” ia menyandarkan kepala dan menyelipkan jemari tangannya di sela-sela jemari pasangannya.
“tiara..” pria itu berkata “aku mencintaimu” lanjutnya memutar tubuh sembari memeluk Tiara dengan erat, menutupi tangisnya.
-------
"At night when the stars light up my room
I sit by myself"

Bulan purnama, ya?

Malam ini aku terjaga, entahlah. Aku tak terbiasa untuk tidak tidur lewat jam 10, dan sekarang pukul 10.14 malam, aku tak tahu apa yang merasuki aku untuk menatap bulan malam ini.
Apakah bulan ingin menceritakan sesuatu? Apa aku hanya ingin dingin menusuk untuk mengembalikan ingatanku tentangmu? Oh, bicara mengenai kamu. aku rindu.
Kuingin bulan menulis semua ocehanku malam ini, hanya malam ini. Sebelumnya, ku titipkan rinduku kepada bulan, semoga ia segera menyampaikannya padamu.

Kepada Bima,
Menatap bulan sama saja seperti membayangkan wajahmu yang hingga kini masih terlihat nyata di benakku, meski telah 3 tahun berlalu. Apakah kamu masih seorang Bima yang sama? Dengan kacamata yang menutupi bola mata hitammu dan hidung mancung dan lesung pipi dan kegemaranmu memakan coklat dan kesukaanmu menggambar ilustrasi juga puisi dan…
Ah sudahlah, membahas tentangmu tak akan cukup untuk satu malam ini

Aku selalu bertanya, mengapa kita diharuskan Tuhan untuk tak saling memiliki? Apa Tuhan tak ingin ciptaannya ini memiliki pasangan sejati? Nyatanya kan, kita saling mencintai, bahkan teman-teman dan tempat yang menjadi saksi bisu kita tahu, bahwa kita memang saling melengkapi satu sama lain. Tapi mengapa akhir cerita harus merelakan kita untuk berpisah?
Oh, tunggu, Bima. Apa kita sedang melihat bulan yang sama? Kuharap kamu menatap bulan purnama malam ini. Meski tempat kita berbeda, tak tersentuh dan termakan waktu yang menggerus hal yang menyangkut kenangan kita. Umm..uh, hei! Itu rasi gubuk, kan? Rasi yang menunjukkan arah selatan di ujungnya. Apakah kamu ingat dulu kita sering mencari nama – nama rasi bintang, itu dulu, Bima.

Seandainya menatapmu semudah menatap rasi bintang gubuk, mungkin aku takkan pernah menahan rindu yang menggebu seperti ini.

Kamu masih bertahan di hatiku, Bima sayang. Meski sudah 3 tahun kita tak saling menyapa. Kau tahu, aku masih menyimpan beberapa puisimu dan gambarmu yang sengaja kau lukis di sela-sela kesibukanmu, tertata rapih di laci mejaku. Okay, mungkin kalimatku menjadi sukar untuk dimengerti, bahwa aku selalu merindu dan menharap kehadiranmu. Intinya, kamu masih berhasil menyita waktuku untuk stuck di masa lalu, mengingat waktu dulu—merindu dirimu.
Seandainya perjodohan itu bisa kita cegah, mungkin kita masih dapat bertemu. Saling memeluk erat tubuh kita satu sama lain. Tapi sekarang, kamu telah memilih wanita itu, dan aku telah dipilih pria yang menjadi rekomendasi ayah. Aku bisa saja mengancam untuk bunuh diri atau pergi dari rumah karena perjodohan konyol di era kebebasan ini. Memangnya sekarang masih menganut system Siti Nurbaya?! Ah, aku tak pernah mengerti apa yang menjadi dasar acara jodoh-jodohan ini. Jika saja bukan karena ibu yang sakit keras dan ayah yang terus memintaku menikah. Aku akan berkata BIG NO didepan semua saksi yang hadir di acara pertunanganku.

Ya, hanya seandainya, hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Toh, kenyataannya aku menerima perjodohan ini dan merelakanmu untuk wanita (yang kuharap tak kamu sukai kehadirannya) itu. Kita memang diharuskan untuk tidak bersatu oleh Tuhan. Takdir kita bukan untuk bersama. Jalan hidup kita tak pernah dialirkan untuk satu alur yang sama. Kamu milik wanita itu, dan aku menjadi milik pria ini.
Aku menatap bulan, begitu terang malam ini. Kuharap ia mencatat semua obrolan jarak jauh kita. Mungkin ia akan menyampaikanya padamu. Mengatakan betapa aku tak pernah jenuh untuk merindukan sosokmu.

Bima, priaku.
Dalam waktu dekat aku akan menikah. Kau tahu, aku masih berharap bahwa kamu tiba-tiba datang dan membatalkan acara pernikahanku. Atau mungkin, kamu yang menjadi pria yang berada disampingku, seandainya.

Karena mimpi yang kubangun untukmu, tak akan pernah menjadi kenyataan untuk sepenuhnya.
Aku ingin katakan satu hal.
Aku masih menyayangingu, bulan harus tahu ini dan merekamnya. Agar, kita dapat secepatnya bertemu, kalau bisa sebelum pernikahanku, seandainya (ini kata yang berhasil kuucapkan untuk kesekian kalinya).
Jika Tuhan ingin mempertemukan kita kembali. Kita akan bertemu.

Sang wanita menekuk lututnya dan menyelimutinya dengan tangan mungil itu, diatas lantai yang mulai membeku karena terpaan angin malam yang sungguh menusuk rusuk. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa disisir. Sesekali airmata menghiasi pelupuk matanya. Hatinya menyimpan luka yang terus menerus dipendamnya hampir 3 tahun.
Seorang pria datang menyelimuti Carla. Memeluk sebagian tubuhnya di tengah dingin yang menggeliat meminta ruang. Pria itu menatap rambut hitam sepinggul yang dimiliki Carla, wajah Carla dihiasi bola mata bulat berwarna cokelat hazel, pipi yang tembem, hidung yang mancung, kulitnya yang putih namun tak pucat, lesung pipi yang terlihat saat tersenyum, gigi yang rapih diperlihatkan saat ia tertawa terbahak, bibir yang merekah meminta untuk disentuh. Sayangnya, malam ini Carla menutup wajahnya dibalik kedua lutut yang sedari tadi ia goyangkan.

“Carla, ini sudah larut, kamu nggak mau tidur?” ucap pria yang duduk merangkul Carla. Carla menoleh menatap pria itu.
Carla menggelengkan kepalanya, member isyarat ‘aku tidak mengantuk’ pada pria yang (sebentar lagi) menjadi suaminya. Sang pria hanya mengangkat salah satu alisnya dengan senyum menggoda.
“tidur yah. Aku mau nemenin ayah dulu” pria itu berkata sembari berusaha untuk berdiri, membenarkan kacamatanya yang turun, saat Carla mencegahnya pergi sehingga ia hanya berdiri bertopangkan kedua lututnya. “Satria..”
Carla berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar lirih, lalu ia menatap Satria “aku mencintaimu” ucapnya menghambur menyatu dengan tubuh Satria. Satria membalas pelukan Carla.
“aku juga mencintaimu” senyum tersungging di bibirnya, memeluk Carla dengan erat.

Yang tanpa ia ketahui, Carla menangis di dalamnya.

Talking to the Moon
Berbicara pada rembulan
Try to get to You
Berusaha bicara padamu
In hopes you're on the other side
Berharap kau ada di sana
Talking to me too
Juga sedang berbicara padaku
Or Am I a fool
Ataukah aku ini orang gila
who sits alone
Yang duduk seorang diri
Talking to the moon
Berbicara pada rembulan
(Bruno Mars – Talking to The Moon)

Minggu, 01 Desember 2013

semua cowok sama aja

“semua cowok sama aja”
“semua cowok nggak ada beda. Sama-sama tukang nyakitin”
Kau tahu? Saat aku mengatakan itu, aku tak benar-benar mengatakannya. Maksudku, kuakui banyak cewek yang berkata seperti itu saat mereka tersakiti, tapi bukan berarti semua spesies yang jago meluluhkan wanita itu sama semua.

“semua cowok sama aja”
Kadang, kalimat itu memang sepenuhnya benar. Apa sih gunanya cowok(apalagi jaman sekarang)? cuman dateng, trus pedekate, trus tebar pesona,ngebuat cewek jatuh cinta, terus ditinggalin. Siklus yang (rata-rata) cewek alamin ya emang gitu.
Sukur-sukur kalau jadian dan nikah, kalo jadian udah lama trus putus….
Rasanya kayak pengen nelen iklan ‘truk aja gandengan’, sambil dengerin lagu galau dan nangis jungkir balik.

“semua cowok sama aja”
Aku sering berkata hal itu. Karena memang benar, cowok tuh selalu aja kayak gitu. Dateng – dateng cuman pedekate, kalo udah jadian, kalo udah gak sayang, main putus aja, nggak tau apa kalau hati cewek bukan mainan yoyo yang bisa ditarik ulur gitu? Apalagi kalo mereka punya pacar tapi nyari pdkt-an yang lain (yang bermaksud kalo mereka suatu hari putus sama pacarnya bisa langsung dapet yang baru). Sebagai cewek aku merasa…
di-kesamping-kan*-__-(?), dan pengen nyari dukun voodoo buat nyantet spesies kurang dihajar itu biar mati, trus ngebakar semua hal menyangkut orang itu (kalau perlu kenangan di otak bisa dibakar juga).

“semua cowok sama aja”
Tapi, kalian tahu nggak? Tuhan menciptakan manusia berbeda – beda. Mungkin, kita berkata hal seperti itu karena kita bertemu cowok yang notabenenya ‘sama’, maksudnya, kita bertemu makhluk yang punya tipikal ‘gak setia’ atau ‘moduser(atau apalah itu)’ atau ‘gak bisa berkomitmen secara pasti’.
Nggak semua makhluk kurang ditabok dari mereka itu memiliki tipikal yang sama. Mungkin, Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu, semacam cowok ‘yang sama aja’, sebelum dapat cowok yang ‘berbeda’.
Jadi, akan kuralat kalimat yang selalu meluncur dari para cewek yang sakit hati, hehe
“untuk sekarang semua cowok sama. Yang beda itu saat Tuhan ngasih cowok yang ‘gak sama’ di hidup kita”

Nggak ada kata “semua cowok sama aja”
Pikirkan kembali, apa mereka benar-benar ‘sama aja’? Atau kita menganggap mereka ‘sama aja’ karena kita terlalu ge-er?
Kan kadang kita seperti itu, aku juga seperti itu. Ada cowok yang deket taunya nggak suka sama kita. Mungkin, mungkin loh yah, mereka deket sama kita karena kita ‘nyaman’ untuk diajak ngobrol. Nggak semua kedekatan itu pertanda bahwa mereka mencintai kita. Oke aku mengakui, bahwa memang kodrat wanita untuk ‘gampang ge-er’. Tapi kurasa, kita harus membatasi tingkat ke-ge-er-an kita, meskipun aku sendiri nggak tau caranya gimana. Yang pasti, kita jangan kebanyakan ge-er sama cowok yang deket kita.
Siapa tahu, mereka deket karena kita temen orang yang dia suka..
Atau..karena kita juga gampang dia modusin..
Atau..karena kita dijadiin pelarian mereka..
Atau..mereka incar harta kita..
Atau..cuman pengen punya status pacaran..
Atau..ah sudahlah..
(maafkan aku udah mikir yang nggak-nggak ya wahai makhluk adam. Maaf bangeeet ._.)

Intinya, cowok itu nggak ada yang sama di seluruh belahan benua di dunia (halah). Yang ada itu adalah, kita bertemu dengan mereka yang memang rata-rata ‘sama semua’ atau… kita yang terlalu percaya bahwa dia menyukai kita.
Mereka berbeda kok, girls. Se-sama – samanya mereka, pasti ada satu hal yang berbeda. Yang jadi tugas kita dalam mencari cowok sekarang adalah, bagaimana kita bersikap dan menjaga hati agar nggak mudah jatuh cinta ke orang yang salah. Jika kita udah bisa melakukan hal itu, aku yakin, atas ijin Tuhan kita nggak akan lagi berkata kalau semua cowok sama aja.
Tuhan pasti akan ngasih hal yang terbaik, akan ngasih kita cowok yang berbeda. Maka dari itu, percayalah.
Dan jangan lagi mengatakan bahwa semua cowok di muka bumi ini sama aja.
See ya~

Sabtu, 23 November 2013

Seharusnya tentang kamu

Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah sekian lama aku mencoba menata beberapa keping hati yang terlepas dari tempatnya. Membersihkannya secara menyeluruh hingga semua kenangan yang kubiarkan berantakan di dalamnya tertata rapih. Saat itu, kurasa aku kembali siap untuk jatuh cinta,

Mengambil resiko jika suatu saat nanti beberapa keping hatiku kembali jatuh tak beraturan—berantakan.

Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah hampir beberapa tahun aku takut untuk memberanikan diri keluar dari pelukan menusuk masa lalu. Terus didekap seakan berkata bahwa mencintai seorang yang baru akan sama sakitnya dengan waktu dulu. Aku melewati beberapa duri yang mengikatku, aku menerjang, hingga aku kembali percaya kalau aku memang siap untuk kembali mencinta,

Mengambil konsekuensi untuk sakit suatu hari nanti.


    Kukira, kita sama-sama mempunyai perasaan saling memiliki. Tapi nyatanya, hanya aku yang pertama memulai perasaan ini, dan kamu sama sekali tak ingin turun tangan.
    Padahal, kamu menjadi pemenang telak. Menyibakkan tirai yang menutupi cahaya di satu ruang kosong yang kumiliki. Aku mengibarkan bendera putih, pertanda kamu memang pantas masuk dan membuat ruangan yang kumiliki kembali berwarna.

Seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar membuat ruang itu bercahaya.

   Otak mengutukku. Seharusnya kamu tak pernah percaya ucapan dan matanya, seharusnya kamu memakai logikamu untuk menaruh perasaan itu lagi! lihat, sekarang kamu terus menerus menggerus hatimu yang kembali berantakan, membuat semua kembali rusak!

    Kamu, ah kamu lagi. Kamu terlihat benar di kedua mataku, bahkan kesalahan kecilmu kubenarkan kejadiannya, aku terlalu mengagumimu hingga aku tak percaya dengan ucapan otakku untuk berhati-hati kembali, takut terjatuh dalam situasi yang sama lagi.
    Aku takut untuk mencinta, sebelum kamu datang memecahkan pemahaman itu, menarikku untuk berusaha keluar dari jeruji penuh duri yang setiap hari makin tumbuh bak semak belukar.

    Aku tahu, bekas luka dari duri itu masih tampak jelas dan teraba olehmu, tapi kamu memegang lukaku dan bersabar untuk menyembuhkannya, aku sempat melupakan dan menganggap masa lalu itu hanya sekedar masa lalu. Mereka adalah sejarah, katamu.

Tapi, seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar bersabar menyembuhkan lukaku.

    Aku menaruh kepercayaan padamu, aku tak akan lagi jatuh dan takut, ada kamu yang menemaniku. Aku mencintaimu, meski kucoba untuk menepis dan membuang pernyataan itu jauh ke bawah sadarku. Tapi nyatanya, aku mencintaimu secara pasti, tanpa ragu dan rancu. Kamu memberi tanda bahwa kamu siap untuk membopong diriku yang tak kuat untuk berdiri, memelukku menggantikan duri kesetanan yang telah melukaiku, kamu terlalu membiusku.

Kukira, kita mempunyai perasaan yang sama. Sama-sama memiliki.
Ternyata, pernyataan itu hanya aku yang menelannya.
---
Selamat atasmu yang berhasil membuat semua secara keseluruhan menjadi kacau. Membuang jauh-jauh kepercayaan yang dalam diam aku bangun sendiri, dan membuat semua dinding yang kuciptakan untukmu berhasil runtuh.
Aku kembali rapuh.

Kau tahu, aku menyiapkan perasaan ini dengan hati-hati, khusus untukmu yang bisa mengeluarkanku dari masa lalu.
Nyatanya, perasaan yang telah lama kusimpan rapi, saat kukeluarkan, malah kembali berantakan.
Aku kembali sukar untuk mencintai,
Aku takut semua hal yang menyangkut hati kembali tak beraturan.

Aku percaya padamu, dan kamu mematahkannya. Aku bisa mencintai kembali karena hadirmu, dan kamu merusaknya. Seakan kata ‘aku dan kamu’ tak ada lagi dalam sejarah kita.

Aku tak pernah merasa sesakit ini. Apa kamu pernah merasa sakit seperti ini?
Mencintai dalam diam, menaruh perasaan yang dalam.
Tapi saat kau tahu, perasaanmu tak pernah tersampaikan, bahkan hanya dapat terucap oleh hatimu. Tak pernah teraba secara pasti, dibunuh dengan cara nista, mengetahui bahwa cintamu tak benar-benar ingin dimiliki.

Harusnya aku tahu, kamu tak pernah berpikir untuk benar-benar mengikrarkan hubungan ini, aku hanya mainan bagimu,

Dan seharusnya aku tahu itu.

Rabu, 30 Oktober 2013

Hujan di akhir Oktober


Aku tak tahu apa yang membuatku tertarik untuk kembali menulis di pagi menjelang siang ini.

Pagi ini, pukul 11:20. Berapa hari hujan turun secara malu – malu, lalu berubah menyerbu wilayahku. Aku duduk tepat di samping jendela kelas, melihat beberapa butiran air yang sebentar lagi bertransformasi menjadi embun. Pagi ini hujan lumayan deras mengguyur kotaku setelah seminggu sebelumnya kota ini hanya diliputi cahaya terik dan mendung sesekali.
Hujan di penghujung Oktober, datang membawa beberapa tumpuk kenangan. Oh iya, kenangan yang mereka bawa bukanlah kenangan biasa,
Mereka membawa semua kenangan tentangmu, tentang kita.

Seandainya aku bisa melupakan luka yang kau bawa bersama hujan, mungkin aku tak akan merasa sesakit ini sekarang.

Siang ini, mata pelajaran kimia masih berlangsung dengan alot di kelasku, masih membahas tentang teori laju reaksi beserta kaitannya dengan orde reaksi. Sedangkan aku, tetap menatap papan tulis yang dipenuhi coretan tentang contoh dan rumus yang berbelit, namun otakku tak menjangkau materi itu untuk siang ini.
Otakku hanya menjangkau bayangan tentangmu, secara keseluruhan.

Kamu masih terlihat nyata, badan yang berpostur tegap dan atletis, rambut cepak yang kau biarkan berantakan, kacamata dengan frame hitam yang selalu kau benarkan letaknya, hidung mancung dan sedikit kumis tipis menghiasi wajah hitam manismu, serta sebuah senyuman berlesung pipi yang mampu membuatku mengingat setiap detailnya, bahkan aku hanya sebatas dadamu. Tidakkah kau tahu, aku masih mengingat semua secara jelas, harusnya tiga tahun ini kamu sudah terhapus dari otakku, ah entahlah.

Hujan kian deras, sederas ingatan mengenai kisah yang seharusnya usang. Yang terkadang membuatku lumpuh dan menyerah, yang terkadang pula kenangan tentangmu dapat bereaksi dengan cepat menjalar mengambil alih sistematika otakku.

Mereka hanya kenangan, tak seharusnya kau kembali mengingatnya. Kenangan memang permanen, tapi bukan berarti setiap hujan yang datang pada tanggal ini kamu harus memutar ulang semuanya.

Hal itu yang berkali – kali kutegaskan kepada diriku sendiri. Entah apa, yang pasti kamu selalu bisa mengundang semuanya untuk datang secara tiba – tiba.

I wish my mind had delete button,

Bagaimanapun, tiap hujan yang turun tepat pada tanggal ini, mereka selalu menyisakan beberapa rujukan dimana aku diharuskan untuk tak dapat melupakan; peristiwa ditengah hujan yang kau torehkan ke dalam ingatanku. Aku tahu (dan sadar berkali – kali) bahwa yang kulakukan ini bodoh, sejujurnya, hanya orang bodoh yang mau menunggu tumbuhan yang telah lama mati untuk kembali berbunga.

Awan kehabisan persediaan air untuk kembali membasahi kotaku. Sinar matahari serempak keluar dari celah awan hitam seakan tengah melaksanakan perintah. Semua tampak sama setelah hujan berhasil membuat wilayah ini basah selama 1,5 jam. Hanya terkadang, kenangan yang selalu dibawa hujan, takkan benar – benar hilang begitu cepat, lalu kembali seperti semula. Kamu dapat melupakan, tapi aku? Sulit melakukannya.

Kau tahu? Aku terbiasa dengan itu (setidaknya setelah 2,5 tahun ini). Hanya saja, kamu tak pernah tahu.

Di akhir Oktober ini, jangan kembali membuatku berharap hal yang tak mungkin lagi kuraih bersamamu. Kuharap, kamu tak lagi mendatangiku di akhir Oktober selanjutnya.

Senin, 28 Oktober 2013

HARI SUMPAH PEMUDA

HOI HOI HOI!!!

MERDEKA MERDEKA MERDEKA!

hari ini tepat tanggal 28 Oktober hari dimana  pemuda Indonesia bertekad untuk menggulingkan kekuasaan otoriter Belanda. tidak hanya itu, di hari ini pula, Indonesia memperingati HARI INDONESIA TANPA DISKRIMINASI. emang sih peringatan yang satu ini masih belum banyak yang tahu, baru diperingati aja sekitar tahun 2011an, jadi masih banyak orang yang gak tau hari Indonesia tanpa diskriminasi.

pada hari ini, ijinkan saya sebagai salah satu pemuda Indonesia mengucapkan brb siapin toa'* perjanjian sumpah pemuda sebagai berikut:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
seharusnya kita sebagai pemuda yang tinggal di negara adidaya ini, lebih mencintai dan menghargai bagaimana para pemuda jaman dulu susah payah mencapai kata merdeka. kita harusnya malu malah menurunkan kualitas bangsa dengan tawuran nggak jelas dan sedikitnya rasa nasionalisme yang mengalir dalam tubuh kita.

bukan maksud menggurui, tapi kita harusnya meneruskan perjuangan mereka yang gugur demi Indonesia, bukannya santai-santai pacaran dan main seakan - akan selamanya kita merdeka. inget, dunia makin canggih, peralatan perang makin canggih, anak-anak luar negeri juga lebih canggih (otaknya) dibanding kita yang males-malesan buat belajar, jadi bisa ada kemungkinan, kalau kita susah buat belajar, secara nggak langsung dengan adanya perusahaan asing, kita kembali dijajah secara diam. kita dijadiin babu, harusnya kita jaya di negara sendiri, bukan orang luar yang jaya di negeri kita, dan kita bisa jaya di negeri orang.

jadi, kita sebagai penerus nggak boleh males, kita hrus berusaha, sekecil apapun, sedikit apapun kita melangkah untuk suatu perubahan, maka langkah kita akan besar nantinya.

oh ya, NO BULLY! remaja nggak boleh ngebully, itu cuman nyakitin pihak yang dibully. kalo kalian jadi mereka, kalian akan sama sakitnya merasakan gimana mereka nahan ejekan dan diskriminasi. inget yah! NO BULLY =))

selamat HARI SUMPAH PEMUDA dan INDONESIA TANPA DISKRIMINASI :D

Rabu, 09 Oktober 2013

acak adut title

haloo, sudah lama sekali gue nggak ngepost._. semenjak kelas 2 ada aja halangan biar gue nggak kembali meluncurkan imajinasi gue yang absurd gewla-__- biasa lah, kelas 2 itu kelas yang materinya kelewat banyak jadi bener-bener gak bisa ngatur waktu buat nulis di laptop, paling kalo bisa hari Minggu, itupun kalo gue gak ngerjain PR sama nyuci baju seminggu. oh iya, kenapa curhat gini? ya maap deh -___-

hari ini, ya gak banyak sih yang mau gue ceritain, sekarang gue lagi mid test nih, untung aja besok pelajaran agama sama b.indo, jadi nggak pusing - pusing amat hehe (maafkan saya bu guru meremehkan pelajaranmu)._.

balik lagi ke keseharian gue yang gitu - gitu aja, bedanya waktu luang gue nggak seluas dan selebar hutan amazon sebanyak kelas 1, soalnya materi kelas 2 banyak,trus jadi penentu buat ke kelas 3, trus pelajarannya eksak pula, jadi bener-bener jadi orang sibuk gue.

sebenernya ini posting gak penting amat, ini cuman curhat geje abg biasa, soalnya cuman disini gue bener-bener pake bahasa gue, ya setidaknya gue mau bikin 'plong' hati huehehe.
oke.
disekolah kan ada adek kelas, nah suatu hari, ada satu orang, cowok, tinggi, unyu, anak atlet, kelas sepuluh, dan.... *drumrolls* BERKACAMATA! iya, itu sumpah demi samudra yang dikuasai dewa Neptunus (halah)  dia sangat mirip, ya gak mirip banget sih, pokoknya mirip dikit lah sama 'Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut'. anjir nggak sih! gue yang udah fokus-fokus buat ngadepin UN 2015, udah sibuk banget sama keperluan sekolah, eh keingetan lagi sama orang yang harusnya nggak lagi gue inget. benci nggak sih?! pokoknya kesel badai dewa gewlaaaa oficnefjksajsakdjaldisfn-___-

dan gue harus kembali berkutat dengan wajah yang mirip itu selama dua tahun! mana kelasnya disamping tangga, kan otomatis gue lewat situ mulu-___-(karena kelas gue ada di lantai dua)

dan gue harus kembali ber-shuffle ber-flashback sama hal hal yang seharusnya udah gapenting lagi. 2 TAON KALEEE DAN LO BELOM BISA LUPA?

Y U NO LEMPAR AJA ORANG ITU KE PEMBUANGAN SAMPAH BIAR LO NGGAK INGET LAGI SAMA DIA?!


jadi, ya begitulah, gue juga harus jadi bahan cengan karena idung gue yang sangat - sangat - super - duper - irit (dalam tanda kutip). tapi ya kalo yang satu ini it's oke lah, dari smp gue udah dibully kayak gini dan gue nggak ada niat sama sekali buat bunuh diri.

gue harus belajar lagi, nggak bisa maen kayak anak kecil lagi, emang bener-bener nih masa remaja absurd..

 "dibilang anak-anak udah punya kumis, dibilang dewasa muka tampang baby face gini" -Ilham, 17 tahun kurang setahun


jadi, sekian dulu posting asal-asalan gue, cerita tentang anak IPA yang gak tau harus cerita apa dan nulis cerita apa buat diceritain ke blog yang isinya cerita tentang cerita yang dia ceritain secara gak jelas <--- yo dawg

sampai ketemu kapan - kapan!!

salam unyu unyu mwwwah :*




nb: gue lagi pusing abis ngerjain fisika, jadi maap yak absurd banget hehe

Jumat, 30 Agustus 2013

Cerita seorang wanita


                Siang tampak terik. Jalanan dipenuhi pedagang yang setia menunggu pembeli yang berkenan menukarkan uangnya disana.
                Wanita itu bertahan di rumah tempat ia bernaung untuk saat ini. Berharap agar pria pujaannya datang dan memeluknya dengan erat. Wanita itu begitu optimis, bahwa, pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya akan datang, membelai lembut rambut hitamnya seperti yang biasa ia lakukan.
Wanita itu menunggu dengan tangguh. Ia sangat percaya bahwa hari ini, hari esok, atau hari yang lain sang pria akan datang untuk menjemputnya, membawanya pergi dari semua hal yang sudah membuatnya jenuh setengah mati. Maka, wajar saja ia tetap keras kepala untuk tetap menanti.

Wanita itu terus menerus bergumam setiap hari, atau mungkin setiap jam, atau bisa jadi setiap detik.

Apakah priaku akan datang? Apa ia akan memelukku? Ah, dia pasti akan membawa seikat mawar putih seperti yang ia janjikan sebelumberangkat  kerja! Aku tak sabar hihihihi.

                Wanita itu tersenyum lebar, sembari bergumam ia terus bercermin dengan menyisir rambut hitam sebahu yang ia miliki, menyematkan jepit bewarna pelangi di sebelah kanan, dan ia kembali tersenyum lebar.
                Hari ini, ia memakai short dress berwarna putih tulang, memakai sandal teplek dan gelang karet yang menghiasi pergelangan tangannya. Ia tampak anggun, cantik, hari ini dia sungguh cantik. Wanita itu mempunyai angan – angan yang terlalu tinggi, menjauh melewati atmosfer pikirannya sendiri. Bagaimanapun, wanita itu tetap menunggu sang pria, hingga saat ini.
Namun, sore tampak abu – abu, menutupi warna oranye dan ungu tipis yang sebelumnya menghiasi kota. Hujan tidak benar – benar turun di tempat dimana wanita ini berpijak. Wanita itu memudarkan senyumannya.

Perlahan, gerimis melanda.

                Semua orang yang lewat di depan wanita itu berlari berhamburan bagai gerombolan semut yang kehilangan arah. Setiap orang mencari tempat berteduh, tapi tidak dengan wanita ini.
Ia berlari keluar dari pintu kamarnya, menuju taman. Ia berharap pria yang selalu ia tunggu kehadirannya akan datang bersama hujan. Ia tidak mau seorangpun, siapapun, mengganggu penantiannya sore ini meskipun hanya sebentar.
Waktu menunjukkan hampir larut malam, namun hujan semakin mengguyur kota ini. Wanita itu memanggil nama sang pria dengan napas tersengal – sengal dan nada yang putus asa. Dalam hatinya, ia sangat yakin pria itu akan datang, entah sekarang, atau nanti.

Dan wanita itu berteriak memecah malam.
---
                Para perawat tak henti – hentinya memaksa wanita berumur 28 tahun itu untuk masuk ke dalam kamar. Semua perawat turun tangan, mulai dari cara halus hingga ancaman agar sang wanita mau masuk dan meninggalkan taman.
Dari lorong itu, terlihat beberapa orang tertawa melihat tingkah sang wanita, beberapa orang lainnya tengah diajak perawat untuk masuk dan beristirahat. Wanita itu teriak memanggil sebuah nama.

Nama suaminya, almarhum suaminya.

                Sang pria meninggal dalam kecelakaan kerja 6 bulan yang lalu. Setelah itu, sang wanita benar – benar tak sadarkan diri, ia terus meronta untuk bertemu pujaannya yang berada di dunia yang lain.
wanita itu menolak untuk masuk, sedangkan perawat sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan pasien dengan traumatik berat seperti ini. Wanita ini terus meneriaki nama suaminya. Berharap sang suami segera datang dan mencium keningnya. Seakan ia tak tahu bahwa suaminya tak pernah kembali kedalam pelukannya.

Wanita itu berteriak dengan keras untuk sekali. Tetapi, wanita tangguh itu menyerah oleh keadaan.
                Ia dibopong menuju kamar 90, tempatnya beristirahat 4 bulan terakhir. Beberapa perawat masuk dan membawa tali tambang, sedangkan perawat wanita membawa handuk dan baju ganti. Ia terlihat pasrah dengan rengekan kecil memanggil suaminya, ia lemah.
Lalu, ia tertidur pulas, dengan tangan dan kakinya yang diikat sejajar dengan ujung tempat tidur. Ini demi sang wanita, demi masa depannya, tanpa kekasih hatinya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Satu kisah di Malioboro


Night ya. malam ini, post ini adalah inspirasi saat gue pergi ke Yogya tempo hari. intinya sih ya sad ending (menurut gue) yasudah lah, happy reading ya~
(karya ini, untuk menyadarkanmu. bahwa saat itu, aku menunggu kamu di sepanjang Malioboro, tapi kamu tak kunjung hadir)

Aira
                Aku tak punya kekasih, setidaknya semenjak 4 tahun lalu, semenjak perpisahan itu, semenjak orang yang (sangat) kucintai memutuskan hubungan secara sepihak.
Selama itu, aku menunggu. Ya, menunggu, meskipun tahu orang yang selalu kutunggu kehadirannya mungkin tak lagi mengingatku. Bodoh ya hehe. Tapi, ya begitulah aku, tetap menunggunya disini. Aku berharap dia hadir, di Malioboro.

                Jalan setapak ini tak ubahnya seperti perjalanan waktu ke masa lalu, saat aku bersamanya.
Namanya Aldio, itulah nama orang yang telah menorehkan luka di hatiku. Membuatku bersikap bodoh bin tolol dengan menunggu tanpa kepastian. Semua orang bilang menunggu adalah hal yang membosankan, sudah kuno, tidak trendsetter. Untuk apa kamu lelah menunggu apabila kamu dapat melakukan aktivitas lain dari itu? Tapi, disinilah aku. Tidak berhenti berharap agar Aldio kembali lagi kesini, mengulang lagi kenangan yang kami lakukan di sepanjang jalan setapak Malioboro. Nyatanya, hanya aku yang berdiri.

Aldio
                Aku pernah punya kekasih, sekali, tetapi dia memutuskanku karena aku tak mengajaknya kencan di restoran bintang lima di pusat kota (dan itu adalah hal teraneh selama hidupku). Setelah itu, sampai sekarang, aku masih sendiri, bukan karena tidak ada pilihan, tapi aku tengah menunggu seseorang.
Semenjak 4 tahun lalu, aku memutuskan hubungan dengan seorang perempuan. Aku yang memutuskannya, dan sekarang aku menyesal mengingat hal itu. Kau tahu? Terkadang saat kau bosan dengan sesuatu (atau seseorang), kau bisa saja meninggalkannya tanpa berpikir dua kali, begitupun aku. Kejam ya? Membuat gadis itu menangis. Tunggu! Jangan menyalahkan keputusanku! Jika kau lelaki mungkin kau akan melakukannya. Mungkin..

                Namanya Aira, perempuan yang ku sia-siakan keberadaannya. Aku tak seharusnya bosan, seharusnya tak kulontarkan kalimat itu. Terbukti setelah putus dengannya aku hanya sekali memiliki kekasih (yang memutuskanku karena hal itu). Dan sudah 3 tahun terakhir Aira selalu berjalan di sepanjang Malioboro. Mungkin, atau hanya perasaanku, dia sebenarnya menungguku untuk hadir. Aku sering menatapnya berjalan santai di daerah ini. Kau tahu? Aku menatapnya secara diam selama tiga tahun terakhir! Meski Malioboro padat saat liburan, aku selalu bisa menemukannya. Aira, wanita dengan rambut hitam gelombang sebahu, mata bulat dan cokelat, kulit sawo matang dengan bibir merah delima. Kusadari, aku mencintainya.

Aira
                Aku biasa kesini saat liburan tiba. Tepat 3hari setelah liburan datang, aku selalu menyempatkan diri ke Yogyakarta. Selalu seperti itu 3 tahun ini. Aku sendiri tinggal di Jakarta sang ibukota, aku beri tahu ya, masa remaja kuhabiskan di Yogyakarta semenjak 1 SMP hingga 3 SMA. Keluargaku selalu berpindah, mengikuti ayah yang selalu bekerja di berbagai kota.
                Ponselku bergetar, seseorang mengirimkan pesan. Sepertinya aku pernah mengetahui pemilik nomor ini, tapi siapa?
“hai, Aira. Masih ingat denganku?”
“maaf ini siapa?” balasku sopan. Siapapun dia, aku merasa bahwa hatiku sedikit bergetar.
“aku Aldio. Kamu tidak menyimpan nomorku?”, kalimat itu tertulis jelas di ponselku.
Jantungku berdegup kencang.

“maaf, ponselku baru. Jadi semua kontak tak bisa kusimpan hehe” balasku dengan gemetar
“gapapa. Lama ya, kita tidak smsan” ucap Aldio dari pesan singkat. Ah! Aku gugup sekali, mungkin aku terlihat senyum sendiri oleh orang lain. Aku mendadak seperti orang gila!
“iya yah hahaha” ucapku, lalu aku menekan tombol kirim
Beberapa menit kemudian, Aldio tak membalas pesanku. Sial!

Aldio
                Aku memeriksa kontak di ponselku. Masih tertulis jelas nama Aira di urutan kelima. Dari sini, aku bisa melihat Aira yang berjalan santai. Dia tak pernah berjalan di kepadatan turis, dia selalu berjalan di tepi jalan raya, selama 3 tahun ini. Aku seperti tahu kapan Aira datang dan kapan Aira pulang ke Jakarta, seperti kontak batin.
“lagi apa?” tanyaku asal setelah beberapa menit aku mengabaikan pesannya
“jalan – jalan, kamu?” balasnya
“lagi cari sarapan. Jalan dimana?”tanyaku lagi. seandainya ia melihatku yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.
“kalo jalan ya di jalanan lah, hehe. Kamu sarapan dimana?”
Ternyata, dia tidak berkata bahwa dia di Maliboro. Kenapa ia tak jujur saja?

Aira
                Aku bingung! Sekaligus gugup! Juga senang! Tapi ingin meledak!
Harusnya aku berkata bahwa aku ada di sepanjang jalan Malioboro! Bukan berkata di jalanan! Ih Aira bodoh! Persetan dengan jemari yang dilanda kegugupan!
Oke, tenang sebentar, huuu…haaaa…
Ponselku berbunyi, itu pesan dari Aldio!
“masih nyari tempat yang enak sih bareng temenku” ucapnya. Oh, temannya ya…
Kupikir, ia sudah mendapat seseorang yang baru, dan bukan aku. Tunggu sebentar, Aldio sms aku lagi
“kamu masih sering ke Yogya?”
Eh! Dia menanyakannya! Dia mengingatku!

Aldio
“iya hehe, ini lagi di Yogya” balasnya mengagetkanku. Astaga! Akhirnya dia bilang bahwa dia di Yogya!
“oooh. Trus sekarang lagi dimananya Yogya?”
Fix! Aku akan menghampirinya!
Tak mungkin! Kamu terlalu naïf Aldio! Terbukti kamu hanya jadi mata-mata selama 3 tahun ini! Ucap hatiku yang lain.
Ponselku berbunyi, itu Aira, dengan sebuah pesan singkat yang berbunyi “aku di Malioboro”.

Aira
                Oh tidak! Apa yang baru aku ketik!?
Aku mengirim teks bahwa aku berada di Malioboro! Aduh! Mana mungkin Aldio peka dengan pesanmu?! Ucap hatiku.
Tenanglah Aira, dia pasti tahu kalau kamu selalu disini tiap tahun. Ucap hatiku yang lain.
“masih jalan di Malioboro?” pesan Aldio seketika ada di ponselku
“iya nih” balasku singkat. Mungkin dia ingin menghampiriku, senangnya!
Dan… ini sudah 5 menit setelah aku membalas pesan Aldio. Kenapa ia tak balas pesanku? Apa ia ada perlu? Lalu kenapa dia begitu penasaran dengan lokasiku sekarang?! Ah! Aira selalu bodoh kalau menyangkut hal ini! Dia tak akan peka! Jujur aku sangat sangat kecewa dengan Aldio!
Oh, atau memang dari awal aku saja yang terlalu percaya diri, padahal Aldio memang hanya ingin menyapa, sekedar menyapa lewat pesan teks!
Sudahlah! Lebih baik aku berlari dan keluar dari Malioboro!

Aldio
                Kenapa langkah kaki Aira dipercepat? Apa ia sedang melupakan sesuatu? Padahal aku ingin menghampirinya. Lebih baik aku segera berlari di belakangnya. Atau mungkin, ini bukan waktunya untuk bertemu? Tapi, aku ingin, sangat! Aku sengaja tak membalas pesannya karena aku ingin menepuk pundaknya dari belakang dan berkata ‘kejutan!’ seperti di ftv yang sering ditonton kakakku.
“aku di belakangmu” kalimat itu tertulis jelas di ponsel, tinggal kukirim saja. Ah! Aku merasa tidak bisa menjadi laki – laki gentleman hanya karena sosok Aira!

Aira
                Aku kembali melihat ponsel. Tuh kan, Aldio tak membalas pesanku! Sudah sudah! Harusnya sekalian saja aku berbohong, atau mungkin tak kubalas pesannya!

Aldio
                Aku berlari menuju jalan yang dilewati Aira. Tanpa pikir panjang aku menabrak beberapa penjual baju dan souvenir yang berjejer di sepanjang Malioboro. Napasku tersengal – sengal, aku tahu aku terlalu lelah, tapi aku yakin dapat bertemu Aira. Ini semua demi gadis itu.

Aira
                Aku berjalan cepat, lalu aku menabrak seseorang. Rasanya sakit, bahkan bisa kuperkirakan tinggiku hanya sampai bahunya.
“ma..maaf” ucapku pelan
“Aira ya? Masih ingat aku toh?” ucap laki – laki itu
Itu Satrio! Sahabat karibku!
“Tio?! Kukira kau gak disini! Suatu kejutan!”
“hehe. Aku lagi bantu ayahku tarik andong, biasa lah. Kerja sambilan Ra hehe” ucap Satrio bersemangat
“tarik andong? Bajumu bagus begitu kok hahaha”
“ini?” tanyanya sambil memegang setelan kaos Biru dan celana bahan warna hitam. “Aku itu bukan jadi kusirnya, tapi yang ngomong sama bule” jelas Satrio
“tour guide maksudmu?”
“NAAAH ITU LOH RA!” teriaknya. Kami tertawa riang.

Aldio
                Jarakku kurang lebih 5 meter dari Aira, saat kulihat ia tengah berbicara dengan riang…bersama seorang laki – laki tinggi yang sebelumnya pernah kulihat. Apa itu kekasih barunya? Atau seseorang yang tengah pdkt dengan Aira? Ah! Seharusnya aku selangkah lebih dulu untuk menepuk pundak Aira! Harusnya aku mengirim pesan itu agar Aira menungguku! Harusnya yang tengah mengobrol dengannya adalah aku..

Aira
“ngapain kamu ke Yogya? kamu cari Aldio?” tanya Satrio to the point. Aku diam
Satrio tahu banyak tentang Aldio, aku sering menceritakannya. Oh iya, satrio temanku saat kelas 2SMA (hingga sekarang), dia sudah punya kekasih (yaitu teman baikku sendiri) dan mereka berencana untuk tunangan tahun depan!
“aku mau naik andongmu ya. Sekalian kita cerita banyak” ajakku. Satrio bersemangat, mungkin aku pelanggan pertamanya.
Aku melihat ke belakang, mataku tertuju kepada jalanan yang penuh sesak dengan turis dan penjual. Seperti ada sesuatu yang mencegatku untuk diam disini.

Aldio
                Aku melihat Aira menghadap kemari, semoga ia melihatku. Tapi, bagaimana bisa ia melihat kearah kepadatan turis seperti ini? Tunggu, Aira berjalan menuju seberang jalan bersama pria tinggi itu, sepertinya mereka akan pergi bersama. Sudahlah, lebih baik aku pergi. Kesimpulannya, aku mengurungkan niatku menemui putri itu.

Aira
                Aku memeriksa barang yang kubawa, sepertinya tak ada yang terjatuh, lalu?
“Tio, tunggu ya, sepertinya ada sesuatu terjatuh di..umm…. disana!” kataku sambil menunjuk jalan depan toko Morita batik
“ooh..yasudah, aku dan bapakku tunggu disini”
Aku mengangguk, dan berlari ke depan toko Morita. Ada sesuatu yang memaksaku untuk terus berada disini. Tapi apa? Siapa? Aldio? Oh jangan bercanda! Mana mungkin dia mau menemuiku? Dia saja tak membalas pesanku! Tapi, aku tak ingin pergi dari Malioboro. Entahlah…

Aldio
                Aku melihat Aira berjalan mendekat tanpa pria Tinggi, hanya perasaanku atau dia memang kembali! Tapi ia terlihat mencari sesuatu. Baiklah, lebih baik aku pergi saja..

Aira
                Itu seperti Aldio.
                Ya! Itu memang dia! Atau, ini hanya ilusi optik karena aku selalu memikirkannya? Bahkan punggungnya yang bidang masih bisa ku kenali. Laki – laki yang mirip Aldio itu hanya berjarak beberapa meter dariku. Tinggi badannya bisa ku kenali, Sungguh! Mungkin aku salah orang, atau, apa aku hampiri saja orang itu? Tapi jika itu bukan Aldio, aku bisa malu tingkat dewa!

Aldio
                Aku kembali menoleh kearah Aira yang hanya berjarak beberapa meter dariku, ia terlihat memukul pelan kepalanya dengan tangan mungil yang ia miliki. Mungkin, sesuatu yang ia cari tak kunjung ketemu. Apa aku mendekat saja ya? Ah, tadi kan Aira bersama laki – laki itu. Fix, aku tak akan mendekatinya.

-----------------------
Setahun kemudian
                Aira kembali berjalan santai, ini adalah tahun ke-4 ia menjalankan ritual untuk berjalan di sekitar Malioboro, setelah 5 tahun ia tak bertemu sosok itu. Semenjak itu, Aira selalu menghadap belakang, sesuatu mencegatnya untuk terus mengunjungi Malioboro. Namun, Aira tak tahu apa yang mencegatnya, atau siapa yang sedang menunggunya.
                Dari kejauhan, Aldio kembali melakukan aktivitas ini. Memata – matai seorang gadis dari jarak beberapa meter. Setiap 3 hari setelah liburan, Aldio selalu kemari, dan melakukan hal ini selama 4 tahun berturut – turut. Perempuan itu terlalu bersinar dan tak bisa untuk Aldio hiraukan. Dan selama itu pula, Aldio hanya bisa memendam.

Dalam diam, mereka saling jatuh cinta.


Senin, 12 Agustus 2013

Sepenggal percakapan di perjalanan menuju Jakarta


                Aku menunggu dengan sabar kedatangan sang Sembrani, kereta yang akan mengantarku pulang ke Jakarta. Sekarang masih pukul 15.00, itu artinya waktu luangku disini masih sekitar 2 jam lagi. aku menelaah beberapa majalah terbitan lama yang tergeletak tak beraturan di atas meja, mencari beberapa artikel yang mungkin menyita pengelihatanku. Tapi kenyataannya, nol besar.
                Beberapa kereta melintas untuk sekedar mengangkut atau menurunkan beberapa penumpang. Hari memang sudah tampak senja, dengan warna oranye dan goresan violet tipis hasil tangan Tuhan, namun para penjelajah hidup di bumi ini masih ramai memadati stasiun. Aku meminum minuman kaleng yang berhasil aku dapatkan di toko kecil samping ruang tunggu, jenuh merajai, dan sepertinya ini akan terus beranjut hingga satu jam kedepan.

                Pandanganku berkeliaran tak tentu arah. Memandangi setiap orang yang tengah membawa barang-barangnya berlalu lalang didepanku, hingga aku memandang orang itu…
ia mempunyai ukuran tubuh yang memang lebih tinggi untuk orang normal pada umumnya, tubuhnya tak terlalu gemuk, kulitnya terlihat kecoklatan terkena sinar senja, tubuhnya tegap dan bidang, rambutnya pendek cepak berwarna hitam, dengan gurat wajah tegas dan hidungnya yang mancung, dan matanya yang bulat. Ia membawa satu tas ransel berukuran sedang di punggungnya dan sebuah biola yang ia bawa di tangan kirinya, terlihat gusar dengan raut wajah bimbang.

                Tatapan kami terkunci satu sama lain, setidaknya untuk beberapa detik. Ia tersenyum padaku, dan aku membalas senyum simpulnya. Lalu ia pergi menuju pusat informasi, sedangkan aku masih duduk dan memandang pria itu dari kejauhan, terdengar seperti kebetulan yang telah direncanakan Tuhan untukku di sore sejuk ini. Ia tampak seperti seseorang yang sudah lama bergabung dalam pikiranku, bedanya, seorang di hidupku mencintai gitar, bukan biola. Seperti seseorang yang selalu melekat, tapi tak pernah digenggam.

Oh jangan! Jangan dia lagi!
-----
                Waktu menunjukkan pukul 17.00, keretaku berhenti tepat di rel nomor 1. Secepat itu pula, aku mendapati diriku telah berada di gerbong 03, mencari tempat duduk dengan nomor 4B di atasnya, meletakkan barang bawaan di bagasi atas dan merebahkan diri. Entah untuk kesekian ribu atau juta kali, aku berhasil mengundang pria itu masuk ke pikiranku. Ini adalah masa liburan, dan aku masih saja menyisipkan sketsa wajahnya di loker dalam otakku. Bagaimana bisa seorang yang telah meninggakanku selama dua tahun masih tetap tergambar jelas dan bayangnya tak terlihat pudar? Ah, selalu saja tentang Bima yang kubahas dalam persoalan ini. Ya, si jangkung dengan mata kecoklatan dan tubuh atletis, tak berbeda jauh dengan pria yang bertatapan denganku di ruang tunggu beberapa waktu lalu, serta kegemarannya bermain gitar begitu sukses membuatku stuck untuk menunggu tanpa kepastian, berharap ia kembali untuk sekedar menyatakan rindu terhadapku. Entahlah, begitu berat rasanya melupakan orang yang selama ini membuat kenangan dalam hidupku. Seperti ibarat kata, ‘melupakan seseorang sama susahnya dengan mengingat seseorang yang belum pernah kita temui’.

                Penumpang lain datang mencari tempat duduk masing – masing, wajah mereka terlihat lelah dengan raut amarah, sebagian mencoba duduk dengan sikap anggun dan berintelek, tidak ada yang tau pasti, terkadang manusia di dunia telah terbiasa memakai topeng di keseharian hidupnya, mereka selalu menggunakannya untuk terlihat luar biasa dimata orang lain. Sehingga mereka terlanjur memendam egonya, dan membuat ego diluar sifat asli mereka, mereka terlanjur terjebak dengan topeng mereka sendiri. Ah sudahlah, orang – orang yang menjadi pengelana di bumi Tuhan ini sudah semakin tak tentu arah atas kemauannya. Biarlah. Kini, kembali ke pembicaraan kita.
                Aku melihat ke arah jendela, terlihat petugas kereta bertopi merah berjalan cepat menuju ruang masinis. Petugas lain terlihat membantu wanita paruh baya di dekat papan informasi. Terdengar langkah kaki mendekat kemari.
“permisi, ini kursi 4A?” ucap pria kepadaku, aku menoleh, dan melihatnya lagi.
“ya, ini kursi 4A” ucapku datar. Wajahku terlihat sumringah. Mengapa harus seseorang yang menyerupai dia yang bersama denganku?!
“tadi kita sempat bertemu kan?”
“iya, kamu yang tadi terlihat gusar disana kan?haha” tawaku renyah
Pria yang menyerupai Bima itu mengangguk sambil tertawa “sepertinya kita seumuran. Aku Rio, hanya Rio. Masih bisa disebut remaja”
“Vania. Panggil saja Nia jika kau mau. Oh, dan masih remaja” ucapku diiringi tawa.
                Kami seperti sudah terikat, mungkin ini kebetulan untuk kedua kalinya yang berhasil direncanakan Tuhan untukku. Tapi yang pasti, pria ini sudah membangkitkan kenangan yang seharusnya telah ku pendam cukup lama.
-----
                Kereta melaju perlahan, kami berdua kembali terdiam. Langit sudah tampak berwarna hitam, dengan bintang yang sesekali muncul di balik awan strato yang masih agak terlihat, petugas kereta tengah membagikan selimut ke setiap kursi. Lampu – lampu kota terlihat indah menghiasi sepanjang perjalanan menuju Jakarta, dingin semakin menyelimuti, biar begitu lampu penghias malam tetap menjadi layar yang selalu kupandang dari sini.

                Kembali ke topik mengenai Bima, sebagai teman dalam malam untuk hari ini. Dia adalah satu – satunya pria yang bisa membuatku menutup pintu hati untuk 2 tahun terakhir. Tak ada yang spesial darinya, memang, tapi… entahlah, sosoknya terlalu luar biasa dan berpengaruh di hidupku. Ia sama seperti remaja lain yang senang bersosialisasi dan mengembangkan minatnya. Ia memang pintar, lagipula dia manis, tak banyak yang bisa kuceritakan mengenai sosok atletis itu. Aku sendiri tak tahu mengapa aku terpikat olehnya.
                Kami saling menyayangi selama hampir satu setengah tahun, waktu yang lama bagiku untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Selama itu, entahlah, aku tak tahu apa yang menyebabkan perahuku harus pergi dari pelabuhannya, meninggalkan pelabuhan itu dalam keadaan kosong tak terurus. Bima pergi, ya, tanpa sebab, dan itu pasti. Setiap pria yang kutahu selalu memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, mereka semua terlihat sama, tak bertanggung jawab terhadap hati seorang wanita. Tapi bodohnya, aku masih menunggu pria itu hingga kini, detik ini.
“kamu turun dimana?” ucap Rio membuyarkan lamunanku.
“Jakarta, di Gambir. Kamu sendiri?”
“di Stasiun Semarang” jawabnya, kami kembali terdiam “mau cokelat?” ia menawarkan
“terima kasih, aku tak biasa makan coklat malam hari” tolakku halus
“oh begitu ya, maaf”
“tak apa” ucapku.

                Kami kembali berkutat dengan pikiran masing – masing. Waktu menunjukkan pukul 22.00, penumpang yang lain telah tertidur, sebagian masih memainkan telpon genggam mereka dengan mata sayu. Rio terlihat belum memejamkan mata, dengan bacaan yang sedari tadi ia baca. Aku kembali menatap jendela yang menampilkan lukisan bintang dan bulan sabit hasil ciptaan Tuhan.
“Ngomong – ngomong…..” ucapku untuk membuka pembicaraan santai “suka main biola ya?”
Ia menatapku, aku balas menatapnya “ya, aku mencintai biola. Sangat” jelasnya singkat, aku mengangguk kecil
“apa yang kamu cintai?” tanyanya
Aku tertegun sejenak, aku mencintai apa? Tidak tahu. Aku mencintai siapa? Bima.
“aku sama sekali tak menyukai alat musik” jawabku, ia tersentak “tapi aku mencintai seni tulis, mereka bisa hidup dan melekat di hati. Dikembangkan menjadi untaian kata yang tak berujung dan mempunyai arti. Tulisan bisa membuatku merasakan fantasi yang tak bisa dirasakan orang lain. Dan aku mencintainya” ujarku
“kamu sama seperti dirinya, ia membenci alat musik apapun. Tapi ia mencintai seni tulis” ucapnya menatap jendela
“siapa?” tanyaku penasaran
Rio menatapku, dengan tatapan menerawang “seseorang, yang berhasil membiusku, namun berhasil pula untuk melukaiku”
                Kami terdiam cukup lama, hingga aku menanggapinya “aku tahu rasanya”
Rio tersenyum "ah, kamu mungkin tak tahu rasanya kehilangan seseorang yang berpengaruh terhadap masa depanmu"
"sungguh aku bisa merasakannya" protesku, "Jujur, kamu mirip seseorang yang bisa membuatku tersenyum, bedanya, seorang itu mencintai gitar, bukan biola. Tapi akhirnya ya, aku sama sepertimu"

                Rio menghadapku, dan tersenyum simpul. Kami mempunyai persamaan; sama – sama masih menempatkan seseorang di sisa hidup kami. Masih mencintai orang yang seharusnya tak lagi menjadi seseorang di keseharian kita, seharusnya mereka hanya sebatas kenangan yang tak boleh diingat terlalu banyak.
“kau tahu? Satu – satunya cara adalah mengikhlaskannya pergi” ucap Rio sambil memakan sisa cokelatnya. Aku tersentak
“maksudmu?”
“aku mencintai wanita itu selama lebih dari 3 tahun terakhir, namanya Meysa, dan selama itu aku tak bisa mencintai wanita lain.” ungkapnya
Aku terdiam, melihat kedua kaki mungilku “Terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan pelabuhan sementara, sebelum akhirnya kita sampai di pelabuhan terakhir, dimana kita mengaitkan jangkar kapal kita untuk selamanya, begitu bukan?”
“kamu benar” tegasnya, “tapi, susah rasanya jika kamu telah mencintai orang, yang berpengaruh besar terhadap sifatmu yang akan berlanjut hingga nanti. Dia sudah melekat kuat dan juga melukai sebagian besar hatiku, dan mungkin hanya orang yang tepat yang akan menyembuhkannya”
“pada intinya, kamu mencintainya?” aku bertanya
“hingga detik ini, bisa dibilang…..ya. Tapi, aku sadar…”
“dari apa?”
“kenangan yang terus kubawa pergi, jika kubiarkan perlahan akan semakin menorehkan luka. Jika terus kubawa, itu artinya aku akan menyakiti hatiku sendiri. Aku harus tinggalkan itu, aku tak boleh membawa kenangan terlalu banyak” ujarnya panjang lebar
                Rio seperti tahu banyak tentang arti mencintai dengan tulus namun dilukai dengan luka menyayat. Semua percakapan kami memang tertuju kepada satu orang; orang yang kami cintai. Aku bisa berpura – pura untuk tak melihat Bima lagi, tapi harus meninggalkan sebagian kenangan…?
“bagaimana jika keputusanmu untuk terus menunggu?” tanyaku pelan
“setiap penantian memiliki titik jenuh, Vania. Tak selamanya penantianmu akan berbuah manis. Jika orang yang kamu tunggu telah memiliki pelabuhan terakhirnya, apa kamu akan terus menanti?” ia tersenyum menghadapku, berusaha meyakinkan bahwa tidak baik untuk terus menunggu seseorang yang keberadaannya terlihat samar.
“kau benar, kita harus meninggalkan kenangan yang tak perlu”

                Kereta melaju dengan lambat, lalu berhenti di sebuah stasiun kecil untuk suatu keperluan. Di luar, tampak tiada seorangpun, kecuali 3 orang petugas yang berjaga malam ini. Lalu kereta melaju lagi menuju Semarang.
“aku belajar banyak dari pengalaman mencintai Meysa” ucap Rio sambil menyeruput kopi panas yang baru ia pesan, “Memang, jika terus memaksakan untuk melupakan seseorang justru akan membuat kita makin mengingat. Tapi, jika kita tak mencoba melupakan, kita akan stuck di masa lalu, dan tak bisa membuka hati untuk siapapun”
“jadi, sekarang kamu mencoba untuk melupakan Meysa?” ucapku penuh tanya
“melupakan, bukan berarti menghapusnya. Hanya menyisihkannya sebagai ingatan sekunder. Bagaimanapun, dia kan telah mengisi keseharianku dulu. Kejam namanya jika tiba – tiba aku menghapus dan memaksa untuk tak menganggapnya”
“lalu, kalau dia kembali?”
“ya…. kalau aku mau jatuh ke lubang yang sama, aku akan menerimanya. Tapi jika aku ingin bangkit, aku harus mengikhlaskannya. Kalau Tuhan merancang ia menjadi jodohku, mungkin memang itulah saatnya” jawabnya meyakinkan
                Jarum pendek hampir mengarah ke angka 12, sudah hampir satu setengah jam kami berbincang mengenai hati. Untuk saat ini, aku mendapatkan alasan untuk tak lagi mempertahankan bayang Bima di keseharianku, kurasa.
“aku tidur duluan ya. Selamat malam” ucapku membelakanginya, ia hanya tersenyum sambil mengunyah cokelat yang baru ia buka.
------
                Alarm handphone milikku berbunyi pukul 03.00, tidur selama 3 jam yang lumayan lama untukku selama perjalanan berlangsung. Dingin masih menguasai, namun aku sadar, Rio tak lagi berada di kursi sampingku. Mungkin kota Semarang sudah lewat saat aku tertidur tadi, dan ia turun tanpa mengucapkan sepatah kata atau sekedar membangunkanku, mungkin ia tak enak untuk mengatakannya. Lalu aku mendapati secarik kertas dan chocolate bar di kursi sampingku, secarik kertas yang bertuliskan ‘ikuti hatimu, apabila ia ingin bertahan untuk menunggu, maka kamu harus mengambil resiko apapun itu. Tapi jika ingin pergi, itu artinya bebas’.
------ 
                Rio adalah orang tercepat yang kukenal, hanya karena ia mempunyai kemiripan dengan Bima, aku merasa nyaman saat berbincang dengannya. Entahlah, aku berpikir bahwa Tuhan mempertemukanku dengan Rio untuk mengulang kembali semua kisah bersama Bima, atau mungkin, Tuhan memiliki jalan agar aku dapat melupakan Bima.
                Aku tak dapat tidur kembali, memang waktu tidurku tergolong sedikit, namun jika dipaksakan tentu akan membuatku sakit kepala. Lagipula, hujan di luar menjadi daya tarik sendiri di pagi buta ini. Waktu yang pas untuk menimang kembali kalimat Rio, memikirkan apakah aku harus tetap menunggu atau berjalan pergi seperti yang ia lakukan. Aku terlalu banyak membawa kenangan, sehingga susah untuk melepas keberadaannya di masa lalu. Aku terlalu menguras otakku mengenai hal yang berbau Bima, tanpa tahu bahwa semakin lama hanyalah goresan luka yang aku timbulkan. Mencintai Bima memang bukan hal yang salah, tapi menunggu seorang yang tak tahu kapan kembali adalah suatu keputusan yang seharusnya tak aku pilih.
                Jam menunjukkan pukul 04.00, penumpang yang lain tengah terbangun dari tidur nyenyak mereka. Langit sudah berwarna biru tua, sebentar lagi fajar datang. Aku melakukan regangan kecil untuk ototku. Keputusan yang kuambil memang berat, menurutku. Dan aku yakin takkan mudah untuk melakukannya.

                Pagi telah datang, kereta telah memasuki Jakarta, aku bersiap untuk segera turun dan bergegas, seperti penumpang lain yang bersiap dengan ego mereka yang baru. Di Gambir, kereta ini melakukan pemberhentian terakhir. Orang sudah berlalu lalang memadati stasiun untuk sekedar mencari nafkah, sebagian datang untuk menjemput sanak keluarga mereka. Aku berjalan sendiri menuju pintu keluar, memanggil taksi, lalu meluncur pulang.
                Aku memutuskan meninggalkan sebagian kenanganku disana, di kereta itu. Meninggalkan beberapa kenangan mengenai Bima dan sosoknya. Mencoba untuk terus melangkah ke depan seperti ucapan Rio sewaktu itu. dan sesekali, menggenggam erat coklat pemberian pria pemain biola itu..

                Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi memang sulit ditempuh. Tapi bila itu membuat hati dan diri kita menjadi lebih baik, kita harus melakukannya.

26 Juni 2013
sepanjang perjalanan menuju Jakarta


Jumat, 02 Agustus 2013

Percakapan.

well, cerita hari ini sebenernya lebih kayak diary gitu, masih tentang cewek yang ingin melupakan, cowok yang udah pernah nyakitin dia, sama seorang cowok yang mencintainya dengan hati, dan ngebantu dia buat ngelepas kenangannya. ya baca sendiri aja deh hehe.
happy reading ^^


08 Mei 2011
Percakapan santai kita
Aku        : kamu percaya kesempatan kedua?
Kamu    : nggak
Aku        : kenapa?
Kamu    : karena… biasanya kita tak tahu bahwa itu adalah kesempatan kedua. Kadang kita malah menyia-nyiakan kesempatan itu buat hal yang harusnya gak perlu
Aku        : kalau, kita putus, terus kalau aku atau kamu minta kesempatan kedua? Gimana?
Kamu    : hush! apaan sih kamu?! aku pengennya kita terus sampe kakek nenek! Ngomong seenaknya!
Kamu cemberut luar biasa, aku kan hanya bertanya. Tapi, memang pertanyaanku yang keterlaluan
Aku        : maaf, aku cuman nanya kok hehe
Kamu    : gausah pake peng-ibaratan kita juga dong!
Aku        : hehehe, iya aku minta maaf Ninoooo
Kamu hanya terdiam, lalu menghadapku dengan senyummu, dan merangkulku dengan erat

17 Mei 2011
Percakapan kamu sama aku, di hari anniversary kita ke 1 tahun
Kamu    : selamat tanggal 17, Fia
Aku        : selamat juga ya, makasih udah bisa pacaran sama aku sampe setahun gini, hehe
Kamu    : hahaha..
Kamu tertawa renyah, menatapku dalam-dalam, memegang erat kedua tanganku
Kamu    : aku mencintaimu
Aku        : aku juga, No
Kamu    : cinta aku lebih lebih ke kamu
Aku        : aku juga
Kamu    : dih jawabnya singkat banget
Kamu mengerutkan wajah, aku tersenyum geli melihat tingkahmu saat marah tak karuan, seperti anak kecil
Aku        : ya aku mau bilang apa? Rasa sayang itu gak bisa digambar sama kata-kata, kalo udah sayang, yaudah. Sayangnya aku sampe sini nih ke kamu, sampe hati.
Aku tersenyum, pun denganmu. Kamu terlihat manis dibawah senja dan cahaya matahari yang menyiratkan warna oranye. Kita berpandangan
Kamu    : aku milikmu selamanya
Aku        : aku juga, aku menyayangimu sampai kapanpun
Kamu tersenyum..

21 Desember 2011
Percakapan dihari saat kamu mengucap kalimat itu
Aku        : apa yang menjadi alasanmu memutuskanku?
Kamu    : aku...ingin sendiri
Aku        : begitu? Kamu kira aku percaya dengan kebohonganmu kali ini? Jelaskan kesalahanku.
Kamu    : aku... kamu seharusnya tak perlu bertanya apapun. Aku ingin kita putus, kita udah nggak bisa kayak dulu
Aku menunduk, berusaha menahan tetesan air mata agar tak terlihat oleh kamu. aku berusaha tegar.
Aku        : kamu nggak logis banget. aku punya salah? Aku minta maaf.
Kamu    : aku… kamu gausah mengenalkanku pada cewek itu
Aku menangkap getaran yang kamu lontarkan lewat mulutmu. Ada sedikit rasa menyesal serta sakit dan ingin mengulang waktu. kamu mencintai wanita itu
Aku        : dia partner kelompok kita. Wajar bila aku mengenalkannya padamu!
Kamu    : kamu tak tahu apapun, Fia
Aku        : kamu mencintainya, aku tahu, sejak 2 minggu lalu.
Kamu terperangah. Kehabisan kata. Kamu kira aku tak tahu, gerak-gerik anehmu selama 2 minggu ini? Selalu terlihat sempurna di hadapan Maya, tapi di hadapanku terlihat konyol.
Kamu    : ya, aku menyukainya. Dan dia menyukaiku. Toh,dia tak tahu bahwa kita pacaran, dia hanya tahu kita akrab dari kecil.
Aku tersentak, masih berusaha menahan semua luapan emosi yang tertuju padamu. Aku mengusap mataku, mencoba menatapmu
Aku        : gitu? Yaudah. Emang hubungan macam ini nggak bisa dipaksa
Kamu    : lo ngerti kenapa gue mutusin lo kan. Jadi, maaf gue nggak bisa jadi seutuhnya buat lo Fi
Aku        : ya, nggak apa-apa. Udah sana, jauh jauh dari aku.
Berapa detik kemudian, kamu pergi, menyusul Maya yang berada tepat diujung jalan sana. Dan aku masih terpaku disini, menangis

12 Maret 2012
Percakapan dengan Maya, yang berujung amarah
Maya     : gue sebel sama Nino.
Aku mengangkat kedua alisku. Oh, iya. Maya tak tahu dulu aku menjadi kekasihnya, tepat sebelum Maya datang
Maya     : masa dia belain main games daripada nge-date sama gue?!
Aku diam.
Maya     : eh tapi ya, dia pernah cerita tentang mantannya loh, bikin gue ngefly juga hihi
Aku menatap wajah gadis itu dengan tajam
Aku        : kenapa sama mantannya?
Maya     : kata Nino, mantannya itu nggak peka. Dia sih nggak bilang semua, katanya kalo dia ngungkapin kalimat A ke si cewek, si cewek cuman bilang‘oh’ atau ‘aku juga’, nggak pernah ngomong panjang lebar mengenai perasaannya ke Nino. Trus dia bilang ke gue kalo gue itu pacar dia yang baik gitu deh hihihi
Emosiku meluap, terselip rasa bersalah karena perasanku yang tak benar-benar ditunjukkan pada Nino. Ini karena pendirianku, yang menganggap bahwa tidak semua rasa sayang harus diungkapkan. tapi, bagaimanapun, aku kesal setengah mati atas perkataan Maya
Aku        : kok dia bilang gitu sih? Gak cemburu lo?
Maya     : nggak, justru itu motivasi kalo gue harus lebih baik dari mantan mantannya. Gitu.
Setelah percakapan itu, aku meninggalkan Maya menuju gerbang.

3 April 2012
Aku dan Aldo. Percakapan dengan luka
Aldo       : pasti tentang Nino lagi nih
Aku mengangguk, Aldo selalu mengerti bagaimana aku tersiksa menunggu tanpa kepastian, ia selalu tau bahwa ia adalah orang yang selalu kucari keberadaanya, untuk membahas tentang kamu
Aldo       :  lo, tetep ngarepin Nino?
Aku        : iya Kak
Aldo mengeritkan dahinya, beberapa pertanyaan muncul begitu banyak di kepala ketua Ekskul yang menjadi kakak kelasku.
Aldo       : dia udah mati kali, gak ada kabar juga yang dia kasih ke lo
Aku        : dia itu hidup! Kalaupun mati dia tetep bernyawa di hati aku! Aku… nepatin kata-kata aku sendiri, Kak. Aku sayang sama dia sampe hati, sampe kapanpun
Aldo       : go forward Fia! Move on! Cowok bukan cuman dia! Masih banyak orang lain yang sebenarnya lebih sayang sama lo, dengan hati mereka. Hanya mereka belom mau mengungkapkan.
Ada kekhawatiran lebih yang tersirat dibalik mata Aldo. Aku tak mengerti, tak akan. Aku tetap memilih Nino, penguat hidupku, penghancur hatiku
Aldo       : batu banget sih, tetep pertahanin orang yang sekarang gak pernah nganggep lo.
Aku        : bukan batu, ini setia namanya
Aldo       : setia meskipun dilukai berkali-kali? Digantungin gak jelas dan disakitin? Setia dari mananya Fiaaa
Aku hanya diam, tak mengerti. Terlalu bodoh rasanya diceramahi Aldo mengenai penantian. Bisa apa aku di depannya? Dia selalu berhasil menyiratkan kalimat yang tak mudah kumengerti
Aldo       : suatu hari, nanti, lo akan punya orang yang bisa melindungi, bukan menyakiti. Yang bisa ngebuat lo senyum. Orang yang deket sama lo mungkin..
Aldo seperti mengatakan dengan tulus. Sangat tulus
Aku        : cuman Nino kak, yang bisa bikin aku senyum
Aldo hanya terdiam. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia ucap, terlihat dari wajahnya yang mengisyaratkan sesuatu yang dalam, tapi apa? Dia hanya berdiri di depanku, memantulkan bola basket yang sedari tadi dipegangnya. Sesuatu mencegatnya untuk tidak mengatakan beberapa hal. Ia hanya pasrah, tapi seperti masih memperjuangkan sesuatu.
Aldo       : yaudah, terserah. Tapi gue yakin, lo bisa move on! Bisa pindah ke seseorang yang lebih baik daripada si jelek Nino.
Lantas ia pergi

30 April 2012
Diatas titik kejenuhanku
                Aku menimang kalimat Aldo beberapa minggu lalu, apa aku akan mendapatkan seseorang yang akan melindungiku ukan menyakiti? Ah! Rasanya hati ini masih terus berpihak kepada kamu, ya, hanya kamu, tak ada yang lain. Kenapa aku terlalu idiot menuruti tiap kata yang dilontarkan hatiku? Kenapa aku terus menunggu orang yang tak pasti? Apa ini cinta? Tapi kurasa cinta itu mengikhlaskan, bukan menunggu dengan sakit seperti ini!
                Terus saja aku terpaut sepanjang malam ini, siapa lagi kalau bukan kamu yang aku pikirkan. Kamu selalu sukses membayangiku tentang masa lalu. Kamu itu aneh, mengucap perpishan, membuatku menunggu dengan kesetiaan yang masih tertanam kuat, yang entah kapan mencapai titik jenuhnya.
                Kalimat Aldo kembali terlintas, dengan beberapa sakit yang sukses kamu buat. Aku merasa ini sia-sia, tapi..aku tak ingin pergi. Apa penantianku ini sudah mencapai puncaknya? Sudah berhasil mencapai titik jenuhnya, untuk pergi dan melihat orang yang lebih baik?

2 Mei 2012
Percakapan mengenai hati, bersama Aldo
Aldo       : gue tau nih, lo kesini mau curhat tentang Nino lagi kan?
Aku        : hihihi, abis kaka enak diajak curhat
Aldo       : terus aja gue dijadiin tong sampah bagi lo, berasa gak dianggap haha
aku hanya tersenyum asimetris, Aldo merasa tak dianggap olehku, padahal lebih dari itu....dia penyemangatku..
Aldo       : gimana Nino? Masih lo perjuangin?
Aku        : iya kak
Setelah itu, Aldo diam, sesekali hanya melihatku yang kutangkap memiliki tatapan nanar. Entahlah
Aldo       : lo… belom nentuin orang yang ngisi hati lo?
Aku        : cuman ada Nino kak, disini.
Aldo       : batu dasar. Lo gak sadar apa orang di sekitar lo sayang dan pengen ngelindungin lo lebih dari apapun? Seenggaknya setelah Tuhan dan keluarganya itu adalah diri lo.
Aku menatap wajahnya yang terlihat sumringah. Aldo bersikap aneh, seperti bulan lalu. Aku tetap saja tak mengerti.
Aku        : ada kali kak yang mau ngorbanin kayak gitu buat aku. Berasa mimpi jadi putri hahaha
Ucapku dengan nada ejekan, mana mungkin hal yang dibicarakan Nino adalah kenyataan.
Aldo       : ada lah! Pasti ada! Lo itu harusnya dilindungin bukan dibuat galau kayak gini!
Aku        : yakin? Siapa juga yang mau ngelakuin itu buat aku? Gak ada kaaaak
Aldo seketika melempar bola basket seenaknya, memutar tubuhnya ke arahku, lalu memegang kedua pundakku. Tatapannya begitu dalam.
Aldo       : gue. Gue mau ngelakuin semua agar lo nggak terus sakit kayak gini sama Nino yang nggak jelas itu.
Tatapannya dalam, dari hati, wajahku panas. Terselip rasa yang tak percaya, bimbang, senang, apapun, yang membuat hati ini seketika menganggap Nino hanya obsesiku semata.
Aku        : a.. aku.. jadi.. kak Aldo itu..
Aldo menghela napasnya,sedikit bergetar
Aldo       : lo gak tau? Ah dasar bocah nggak peka. Gue sayang sama lo, gue pengen lo senyum. Tapi kalo lo lebih milih Nino yang gak tau arahnya itu, yaudah lah, gue gak bisa maksa juga kan.
Aku        : aku… jadi nggak enak, curhat tentang Nino terus
Kami terdiam, aku menunduk memerah, Aldo mulai melepas kedua tangannya, berjalan menuju bola, lalu kembali lagi ke arahku
Aldo       : lo itu kayak boomerang buat gue. Udah gue coba buat ngilangin rasa kayak gini, eh balik lagi. dan Nino itu ibarat air buat lo. Lo adalah bunga, tanpa air lo nggak bisa hidup, gak bisa berfotosintesis. Gue berasa bukan apa-apa di hidup lo, cuman temen. Kalo gue paksa lo buat suka sama gue, ntar yang ada rasa suka lo itu cuman beban.
Aldo tersenyum getir, terlihat keputus asaan yang selama ini jarang terlihat mata. aku sadar, kamu adalah segalanya, tapi ketika melihat Aldo, aku merasa bahwa kamu hanyalah obsesi yang tak bisa kulepas pergi.
Aku        : kak..
Aldo menoleh ke arahku
Aku        : aku ingin lupain Nino, tapi aku nggak yakin kak. Aku takut, rasa ini muncul lagi buat Nino. Aku butuh orang yang bisa buat aku percaya, kalau Nino bukan satu-satunya orang yang bisa buat aku senyum.
Aldo       : …..
Aku        : aku..aku butuh bantun kakak. Aku nggak bisa berjuang buat lupain Nino kayak gini, rasanya sakit kalau harus melupakan dengan cara kayak gini. Tapi… daripada aku makin sakit. Aku inget kalimat kakak, aku harus moving forward.
Aldo menatapku tak percaya. Apa ini jalan terbaik yang telah kupilih? Apa aku telah melakukan hal yang benar? Ah, sudahlah.
Aldo       : gue bisa bantu lo buat ngapus Nino. Tapi, gue butuh kepercayaan dari lo.
Aku        : aku percaya, sangat, kalau kakak bisa ngubah pendirian aku. Jenuh kak rasanya nunggu orang yang nggak nungguin kita. Aku capek, aku pengin berubah. Aku pengin, kakak yang merubah itu..

30 November 2012
Hati untuk  Aldo
                Aldo selalu bisa membuatku tersenyum, setidaknya semenjak setahun ini Nino bersama dengan Maya. Dia selalu sukses membuatku percaya bahwa bukan hanya Nino saja yang dapat membuat senyum merekah di bibirku.
                Aldo membantuku untuk terus melangkah maju, tetap mendukung meskipun ia tau, keberadaannya hanya menjadi penyemangat untukku. Bagaimanapun, aku berusaha agar Aldo dapat diterima oleh hatiku seutuhnya.
Aku        : enak gak nasi gorengnya?
Aldo       : asin banget, pedes banget, manis banget, ih gaenak campur aduk gini
Aku        : yakin? Kok dimakan terus sih kak? Haha
Aldo       : kan gue menghargai masakan lo Fi haha
Aku        : bilang aja suka kan sama buatan aku?
Aldo       : iya deh iyaaa
Aldo memakan nasi buatanku dengan lahap, aku tersenyum
Aku        : makasih ya kak, udah buat aku percaya
Aldo menatapku, dan tersenyum

17 Mei 2013
Dua tahun setelah anniversary itu, kamu kembali
                Aku mencoba melupakan semua hal yang berbau hari ini, sakit, memang. Tapi aku harus melanjutkan semua jika aku tak ingin lagi menjadi orang yang bertahan demi cinta diatas kesakitan.
                Aku bersama Aldo di sepanjang koridor, saat kamu datang, dan merubah seluruh atmosfer duniaku.
Kamu    : hai, Fia
Kamu menyapaku seperti ada keengganan, aku diam
Aldo       : gue.. ke ruang ekskul bentar ya, lo bisa nyusul nanti Fi
Kamu    : ngg.. kamu mau ikut Aldo?
Aku        : tumben pake aku-kamu, kemarin ngomongnya gue-lo
Kamu tersentak, seperti tak percaya aku menyindirmu begitu tajam
Kamu    : ngg..aku cuman kangen sama kamu
Aku        : kangen? Hah? Aku nggak salah denger nih? sejak kapan kerinduan yang kamu miliki sepenuhya buat aku? Bukannya buat Maya?
Kamu    : Maya bukan orang yang pas buat aku, cuman kamu
Aku        : Maya nggak pas buat kamu? kamu kan pacaran sama dia setahun
Kamu    : semua gak bisa diukur hanya dengan setahun Fi, yang aku sayang ternyata cuman kamu
Kamu kembali melemparkan kalimat rayuan yang dulu sukses membuatku mabuk setengah mati
Aku        : Kamu jangan kembali
Kamu    : Kenapa? Aku hanya merindukanmu
Aku        : Jangan merindukanku, hal yang kamu lakukan hanya membuat sakit
Kamu    : Menurutku ini hal yang wajar. Aku, merindukanmu. Aku juga ingin kamu kembali…
Aku        : Tidak. Kamu masa laluku, kamu tak seharusnya kembali!
Kamu    : Tapi aku ingin kembali ke kamu
Aku        : Aku udah janji gak akan mau ngeliat kamu,walaupun sakit dan sulit
kamu diam, berkata dengan tatapan tak percaya padaku. Seakan-akan kamu sama sekali tidak terima pernyataan yang tadi aku ucapkan
Aku        : Tinggalkan aku
Kamu    : Tapi ak…
Aku        : Aku sakit! Kamu ngerti?! Aku nunggu kamu! tapi kamu gak lagi kembali ke jalan ini! Kamu gak akan tau rasanya nunggu kayak yang aku lakukan!
Kamu    : Aku sayang kamu. aku sadar, walaupun kamu Gak lagi dengan aku. Pada akhirnya hati aku sebagian besar berpihak padamu
Aku        : Kesadaran kamu telat. Saat aku ingin pergi, kamu datang. Membuat rindu ini kembali muncul
Kamu    : Tapi, dasarnya kamu masih merindukan aku kan?
aku terdiam beberapa saat, pun denganmu. Kita terdiam cukup lama, kamu menungguku mengucapkan sebuah kata, yang pada akhirnya aku rangkai dengan susah payah
Aku        : Ya. Aku merindukan kamu, sampai saat ini
Kamu    : Kalau gitu kasih aku kesempatan kedua
Aku        : Kamu sendiri yang bilang. Kita gak punya kesempatan kedua. Meskipun ada, tapi sebagian besar kesempatan itu malah kita sia-siakan
Kamu    : Makanya aku pengen kembali, aku pengen perbaiki apa yang telah aku rusak
Aku        : Jangan, kumohon
Kamu    : kenapa?
Aku hanya diam, aldo tepat di belakang pilar itu. Memata-matai kita
Aku        : aku..tak mau mengulang semua apa yang telah membuatku sakit
Kamu    : kalau kita masih saling mencintai, kita bisa kayak dulu, kita ulang semua dari awal
Aku        : tidak! Aku tak ingin mencintaimu lagi!
Penolakanku adalah gertakan bagimu, kamu terkejut. Emosiku kembali meluap, dan saat itu pula, Aldo menghampiri
Aldo       : jangan paksa dia, kalo dia gak mau sama lo yaudah
Kamu    : tau apa lo tentang hubungan gue sama Fia? Gak ada!
Aldo       : gue emang gak tau apa-apa, tapi selama lo nggak ada, Fia cerita semua hal yang udah dia alami tentang rasa sakit nungguin lo. Lo gak tau itu kan? Karna lo lebih milih sama Maya!
Aku        : kak, biarin Nino ngomong sama aku
Kemarahan Aldo memuncak, tidak terima apabila aku terus menerus sakit dan menangis karena Nino. Sedangkan Nino hanya terpaku menelan kalimat Aldo
Aldo       : kita pergi aja Fi, aku antar kamu pulang
Aldo meraih tanganku, membawaku menu ju lapangan parkir di seberang sana. Kamu melihat kami pergi, dari raut wajahmu, kamu menyesal.

10 Juni 2013
Hati untuk Aldo
Aku menatap Aldo. Kejadian di hari itu belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Tapi, aku tau, Nino yang selama ini menjadi obsesi yang tak bisa kulepas, perlahan menghilang, digantikan oleh sosok tinggi atletis yang kini berada di sampingku. Aldo
Aku        : gimana sparingnya? Pasti kalah deh
Aldo terdiam, lalu tersenyum jail
Aldo       : aku menang dong! Berhubung aku menang, sesuai janji ya, kamu traktir aku sama temen-temen lain bakso pakde
Aku        : ih apaan sih? Nggak lah nggak mau!!
Aldo       : udah janji juga
Aldo tertawa terbahak –bahak melihat wajahku yang kusut akibat kalah. Setelah itu, dia terdiam, menatapku
Aku        : yaudah aku bayarin, berapa orang nih?
Aldo       : udah gausah, kamu traktir aku potato chips aja. Kasian kamunya
Aku        : gapapa, lagian aku kan udah janji.
Aldo       : hmm.. gimana gantinya kamu temenin aku jalan-jalan aja? Deal? OKE!!
Aku mengangguk setuju. Aldo membereskan peralatannya dan merangkulku, sedangkan aku membantunya membawa satu liter air minum yang memang sehari-hari ia bawa untuk persiapan latihan. Kami pergi menuju parkiran. Dengan senyum