Rabu, 31 Oktober 2012

Penantianku dan Pengabaianmu (2)

Gnight all! malem ini, gue bakal lanjutin cerita Penantianku dan Pengabaianmu (1) mungkin bisa jadi penghibur lo yang suka baca ato sekedar bete trus gatau musti ngapain. jangka waktunya postingnya emang kelamaan dari part 1 sama part 2, abis gue kalo bete nulis bisa berhari-hari._. (penting gitu yah?)
okeh! check it!

------------------------------------------------------------------------------
     Hari itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan tugas yang setumpuk. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Aku menghempaskan diri ke kursi yang tak pernah lapuk, kursi taman. Disini teduh, lelahku lumayan menghilang. Tapi.. otakku masih saja tentangnya. Sudah genap satu setengah tahun orang itu tetap berkeliaran di benakku, masih terpajang jelas, tanpa cacat dan samar.
“Ren” ucap seorang cowok yang membuatku tersentak.
“oh, Aldo,” ucapku “tumben Do nyamperin hari gini, biasanya lu sibuk” lanjutku asal
“iya, gue mau ketemu lu ama Keina aja” balasnya “eh iya Keina mana?” tanya Aldo
“dia ada tugas banyak tuh. Cieee cariin Kei, suka yah? Hihihi” tawaku jahil, Aldo menatap sinis. Tanpa kusuruh dia duduk dengan kasar. Membuatku sedikit tersentak.
Aku tertawa melihat tingkahnya, cowok itu merubah raut muka dan memperhatikan buku sketsaku.
“lo… punya berapa banyak stok wajah Ikan butek itu?” tanyanya padaku
“dia Neo, bukan ikan butek tau!” aku memberikan pembelaan
“kita… baru kenal setahun yah? Trus lo idah berapa lama gak bisa lupain dia?” tanya Aldo, terlalu kepo
“satu setengah tahun” jawabku singkat
“HAH?GILAK!” teriak Aldo dengan reaksi terkejut, aku hanya diam
“lo masih nyimpen kenangan tentang dia?! Trus fungsi gue dan Keina yang ada di hari-hari lo ini apa?!” tanya Aldo bertubi-tubi
“lo temen gue Aldo, Kei juga. Kalian…” Aldo memotong kalimatku, “padahal, gue dan Kei berusaha buat lo ngelupain si ikan butek itu. Tapi kenyataannya, bahkan lo masih ngebela dia gara-gara tadi gue sebut ikan butek” ucap Aldo panjang lebar. Aku biarkan dia mengoceh tentang seseorang yang dia sebut ‘ikan butek’
“gue tau,” ucap Aldo lagi “lo masih sayang sama dia pake banget” lanjutnya. Aku terdiam
Aku dan Aldo berada diantara hening, kami berdua sama-sama membisu.
“oke Ren!” teriakannya buatku kaget, lalu dia berdiri “gue harus bisa ngebuat lu jadi cewek yang gak galauan! Inget Ren! Jangan terlalu pake perasaan lo buat ngadepin seseorang, kali-kali lo harus pake logika, okeh?!” ucapnya sambil mengacungkan jempol padaku, aku tersenyum.
Aldo, memang teman yang tak kenal
                                                                             --oo--
    Keina memang biasa berkunjung ke rumah saat Minggu. Entah itu mengerjakan tugas atau sekedar bermain denganku dan Jingga, kucing Persia milikku.
Keluargaku mengenal Keina cukup lama, semenjak SMP dia memang menjadi temanku. Keina itu… orang yang mengerti bahwa hidup itu bukan untuk menjalani hal yang merumitkan, tapi hidup itu dijalani untuk hal yang menyenangkan. Dia mengajari banyak hal, termasuk cinta.
    Dan bicara soal cinta, Keina termasuk orang yang pandai memakai topeng. Saat dirinya (lebih tepapnya hatinya) tersakiti, dia tersenyum seakan tak ada apapun. Dia adalah gadis yang tegar.
Obrolan kami berlanjut ke trend baju tahun ini, saat handphoneku berdering menandakan pesan masuk

“Ren, ada sms noh” ucap Rene dengan mulut penuh potato chips
Aku merangkak mengambil handphone yang terletak diatas meja, lalu membacanya.
Siapa pula orang asing sms siang bolong begini?
 
Hai 
Dari: 088891830723
                                                                                      

Jantungku berdegup kencang. Bukan, ini pasti bukan orang itu! Nomor belakang dia kan 530. Aku terus menatap layar, diam.
“siapa sih Ren? Wajah lu ga enakin gitu” tanya Keina, masih mengunyah snack
“hah? Oh bukan, bukan siapa-siapa” elakku. Keina menatap curiga, namun masih asik dengan cemilannya


Siapa ya?
Ke: 088891830723


Klik. Aku mengirim pesan, menunggu balasan. Ah! Bahkan dia membalas kurang dari 3 menit! Siapa sih orang ini?
 

Gue temen lu, masa lupa sih
Dari: 088891830723

                                                                                       
Temen gue banyak, to the point aja sih
Ke: 088891830723 

 
                                                                                                                                
Kok lu jadi ketus gini sih? Lo bukan lo yang dulu
Dari: 088891830723


 
Kulihat Keina asik bermain dengan Jingga. Selama Keina masih asik dengan dunianya, aku merasa tak ada masalah. Aku melanjutkan membalas sms orang itu.


Jaman berubah, gue yg dulu gk sama dengan gue yg skrng. Manusia gk akan sama seumur hidup
Ke: 088891830723


Tapi dulu, setahun lalu lo gak kaya gini kalo smsan ke orang baru
Dari: 088891830723


Lo kira gue bkln sama? Udah deh, elu itu siapa?
Ke: 088891830723


Gue adalah orang yang manggil lo ‘idung pesek’ setelah Wowo
Dari: 088891830723


    Aku berkeringat. Haduuh! Untuk apa sih kembali hadir disini?! Kembali mengusik semua yang hampir tertata rapih?

(continue)

Jumat, 12 Oktober 2012

12 Oktober 2011


Rabu,
Sehabis pulang sekolah, 10.30 pagi

Apa kalian ingat waktu itu? Kita berlima. 2 orang cewek penyuka korea dan 3 orang cowok penganut absolute tentang logika.
Hari itu cerah, sekolah masuk setengah hari karena ada rapat guru. Trus kita kumpul bareng di depan kelas gue, 9c.
Kita ngomong banyak hal, mulai dari ngejek idung gue ampe sentil obrolan tentang politik tahun itu. Sampai salah satu berkata

“main yuk! Kemana gitu kek!” ucap cewek setinggi 175cm yang berkacamata, Fia
“hayo! Dimana nih?” timpal seorang cowok hitam berkacamata, Nio

Kita berpikir, hingga gue teriak “dirumah gue ajaaa!! Ayah ibu kan kerja,jadi dirumah gue sendiri, ada alesan biar ditemenin gitu hehe”
“bener? Yaudah yuk!” ucap Fia
Semua setuju, kecuali cowok kutu buku tanpa kacamata. Afif.
“rumah gue jauh” ucapnya “tapi ya… gapapa deh, jarang-jarang kan” dan Afif terbujuk rayuan gue dan Fia
Apa kalian ingat hal itu?

Kita nunggu angkot kuning lewat, setelah berapa lama menunggu kita naik satu angkot yang memutar lagu…. Entahlah, lagunya nggak begitu terkenal
Kita naik, dengan gue dan Fia serta Afif di belakang, dan dua orang berkacamata lain, Nio dan Opal  disamping supir.
Di perjalanan kita masih aja tertawa, dengan lawakan Nio yang terkadang menyindir namun bikin kita ngakak.
Kita turun di pinggir jalan raya, menyebrang bersama dan akhirnya sampai disebuah rumah bergaya minimalis berwarna krem, tapi terlihat seperti rumah bergaya pendopo, entahlah.
Gue memutar kunci, dan kalian menunggu di teras, tepatnya di ayunan tua berwarna hijau dan merah. Gue membersihkan ruang tamu dan mengambil laptop juga beberapa cemilan, dan menyuruh kalian masuk
“assalamu’alaikum” ucap Opal, si cowok setinggi 180 dan berkacamata
Kalian duduk di sofa, kelelahan. Sedangkan gue dan Nio menyiapkan kabel untuk nge-charge laptop. Kita duduk melingkar, menghadap laptop dan membiarkan sunyi yang menari. Hingga Afif bersin dengan gayanya, kita tertawa.

Mungkin kenangan ini hanya gue yang mengingat.

Opal langsung senderan, Afif siap siaga melepas kaos kaki, dan Fia masih asik dengan tas punggungnya. Sementara itu rumah masih gelap, karena cahaya dari jendela belum ada. Opal ngomong
“ih kok hawanya ga enak ya? Jangan jangan ada hantu lagi hhiiiiiiyyyy”
“hayoloh dek, udah gelap, sumpek, jangan-jangannnnn”

Gue menjerit, ah Opal sama Nio bisa aja nakutin gue sama cewek berkacamata ini. Fia dan gue berpelukan, takut. Tapi kalian bertiga malah ketawa ngeliat reaksi gue dan Fia

Modem gue punya sinyal ndut-ndutan, bentar nyala bentar disconnect.
“punya literan beras gak dek?” ucap Nio. Dek, adalah panggilan gue karena gue lahir paling belakangan
“ngggg…kayak gimana ya ka?” balas gue dengan tampang polos kepada cowok yang 5 bulan lebih tua dari gue
Kalian terhuyung,syuuuungggg~ dan juga meleleh
“lo gatau literan? Yaudah deh ada mangkok dari seng kaga?” ucap Opal
“tar gue cari” balas gue, sedangkan yang lain ngemil permen coklat sambil ngombrol, si Fia dan Afif
Gue mencari bareng Nio, “INI DIAAA!!!!” teriak gue, membuat Nio menutup telinga dan menjitak kepala gue dengan gaya seorang mafia lagi hukum anak buahnya
“gausah teriak peseeek!!”
Kalian semua tertawa. Gue mendengus kesal

Sementara itu, Opal asik mengutak-atik laptop kesayangan gue, Fia main hape dan Afif asik ngemil.
Dan Nio?
Nio dan gue, curhat tentang seorang cowok berwajah oriental cina yang waktu itu gue kagumi, Awan namanya.
Orang yang gue suka dan orang yang menyakiti gue.

“kalo lo mau lupain lo harus lupain juga lambang yang berkaitan sama dia” ucap Nio bijak

“kalo mau move on, apapun tentangnya harus lo lupain” sambungnya
Kami bertukar cerita, tentang Awan. Orang yang berkata ‘suka’ pad ague tapi dia pacaran sama orang lain. Nio, sosok kakak yang bisa gue percaya, selain Fia, Opal dan Afif.

Trus kami berkumpul, Opal, Nio dan Fia lesehan sedangkan gue dan Afif duduk di sofa, masih ngemil permen coklat. Sampai…
“Fi, gue sama Nio punya ide” ucap Fia, “gimana kalo kita bikin account tentang galau-galau gitu?”
Kita diem
“bagus tuh, tapi jangan galau doang, ada lawaknya gitu” ucap Opal
“ama quote lagu!” sambung Afif
“nah kan gue sama Nio seneng ngelawak nih” timal Opal
“dan Ka Bay (sebutan gue untuk Afif) suka punya quote gitu sedangkan gue ama ka Fi (sebutan untuk Fia) suka galau sendiri tuh. Jadi buat aja yuk! Adminnya kita semuaaa!!!” ucap gue panjang lebar

Kami setuju. Opal dan Nio yang pinter tentang dunia cyber ngebuat account itu di salah satu social media. Sementara itu gue, Fia, dan Afif ngombrol tentang acc terbaru kami.
Account kita udah jadi, dengan gambar beberapa emot sedih berwarna biru dan satu emot kuning yang tersenyum. Saat itu kita seneng banget, soalnya meskipun kita gak bisa ketemu nanti, kita bisa komunikasi lewat account itu. Gue merasa…. Kalian temen yang paling oke bagi gue
Apa kalian juga berpikir hal yang sama?
Afif cuman bengong ngeliatin kita yang masing-masing punya account. Kita bercanda dan ngejek Afif gak gaul

“eh Fif, lo buat twitter dong kayak kita!!” ucap Nio
Kita menyoraki Afif, sampe akhirnya Afif setuju kita buatin account twitter dengan username @afifrafif. Afif masih newbie banget jadinya kita yang urusin twitternya untuk beberapa waktu.
Dan akhirnya, kita semua terhubung lewat twitter masing-masing. Kalian masih inget gak waktu itu?

Setelah itu, tepat tengah hari. Perut kita udah minta sesajen. Akhirnya gue sama Nio ke dapur buat masak mie. Sedangkan elo bertiga duduk manis di ruang tamu sambil mainin laptop gue.
Di dapur, kita berdua cerita banyak. Mulai dari alien, film terbaru, sms Awan yang modusnya nauzubillah, sambil nunggu air mendidih. Saat itu gue diajarin gimana caranya masak telor yang baru keluar dari kulkas. Kata ka Bow (sebutan untuk Neo) telor yang baru dari kulkas masih beku kuningnya, jadi direndem dulu ato nggak kocok, biar kuningnya gak terlalu kentel gitu.

Itu nasihat yang paling gue inget, yang masih gue praktekin sampe sekarang..

Trus lo bilang, lo lebih suka mie dengan telor rebus, saat gue udah terlanjur pecahin itu telor. Trus lo juga kasih tau gue gimana caranya pecahin telor dengan satu tangan, kayak ala chef gitu, lo inget gak, ka Bow?
Di dapur kita mainan, kita masak sesuka hati. Lo motong bawang dan gue yang ngerebus mie. Rasa ayam bawang yang paling gue suka. Kita juga buat es jeruk sama es marjan. Dapur sama ruang makan jadi berantakan gara-gara kita. Sampe si Opal nyeletuk
“wisss, lama amat disono, berduaan aja nih eheem”
“idiiih cemburu lo?” ejek gue.

Ah. Bahkan setiap detailnya masih gue inget, ekspresi Opal saat ngejek gue dan Nio, ekspresi Fia ama Afif yang cie-in. Mungkin kalian lupa..
Mie udah jadi, saat gue menemukan kaleng seng dan kalian menyoraki gue dengan kata “yeeee pesek!!!!” karena gue gatau kalo itu adalah literan beras. Ah udahlah, detail yang itu gak perlu gue certain. Cukup gue yang ingat..
Kita makan di satu mangkok gede, sebenernya sih gue sama Nio udah nyiapin 5 mangkok kecil untuk kita semua, udah dibagi-bagi lagi mie-nya. Tapi yaa.. dasar waktu itu kita laper banget, udah dibagi jadi 5 mangkok tetep aja kita makan barengan di mangkok gede. Rebutan telor rebus lah, mie-nya kebelibet lah, ampe gue makan pake tangan gara-gara garpunya berantem sama garpu Afif.

Apa cerita ini sudah membuka ingatan kalian?
Abis itu kita istirahat, gue dan Fia abis beresin makan tadi trus buat sirup marjan lagi. dan kalian para cowok tiduran kekenyangan.
Dzuhur. Kita sholat bareng, awalnya Nio sama Opal gamau jadi imam. Tapi akhirnya Opal nyerah dan jadi imam bagi gue dan 3 kakak gue.
Kita duduk bareng, masih cerita-cerita tentang politik dan gossip yang beredar di sekolah, sambil ngurusin acc kita.
Kita saling share, berbagi tentang ceritanya Opal dan pacarnya, Nio dan galaunya, gue dan emosi terhadap Awan, dan Afif yang berusaha pdkt sama Fia. Kita ketawa bareng, seakan rumah gue adalah tempat kumpul terbesar. Kita ejek-ejekan bareng, rasanya tuh yang menguasai dunia cuman kita berlima, gak ada yang lain.

Jam 2. Setelah makan, ngurusin acc baru, curhat bareng, ngelawak bareng, kalian pamit pulang. Rumah gue yang kayak kapal pecah kembali seperti baru setelah kalian beresin. Gue masih aja ketawa gara-gara si Nio yang bercanda dan Opal yang ngatain gue pesek.
Angkot kuning makin mendekati rumah gue, kalian siap-siap ninggalin Afif yang sepatunya Opal taro di samping tong sampah tetangga. Udah beberapa angkot kuning yang lewat, tapi kalian tetep ngobrol sambil nunggu Afif. Satu yang gue pelajari
Solidaritas
Setelah beres semua, kalian berkata “pulang dulu ya Arfi, makasih mie sama rumahnya” dengan riang. Gue tersenyum
Inikah yang namanya pertemanan sejati?


Jum’at, 12 Oktober 2012
Tepat setahun setelah itu..
Kita punya jalan masing-masing, gue masih berhubungan dengan Fia dan Afif. Sementara Nio dan Opal lost contact.
Karena hal kecil, tetapi besar bagi Nio, kita berpisah
Hal kecil yang membuat gue dan Opal juga menjauh.
Biasanya orang menyebutnya cntsgtg. Oke mungkin kalian tafsir aja sendiri.
Tapi setelah putus hubungan dengan Opal dan Nio, Nio kembali hadir meskipun suasana menjadi sedikit canggung. Sementara Fia dan Afif masih kumpul bareng meskipun lewat social media kita sendiri, bukan dengan account yang kita buat waktu itu.
Account itu dibiarkan gak keurus, karena masalah kecil itu. Tak pernah gue buka, kita berlima melupakan account yang dibuat untuk menyatukan kita sendiri. Miris
Tepat setahun, gue merindukan tawa kita bersama di ruang tamu, makan mie bareng, curhat dan beragumen lagi, sholat bareng
Ah. Mungkin hanya gue yang mengingat..
Gue disini, dirumah yang dulu menjadi markas. Dengan laptop dan beberapa benda yang menjadi saksi bisu saat hari itu
Atas nama pertemanan. Gue merindukan kalian, saat kita masih barengan.

Kepada Fia, Nio, Afif, Opal
Akankah kalian semua bisa kembali lagi menjadi kita?

12 oktober 2012
Selamat satu tahun warga pojokan sapu J
Entahlah, meskipun kalian melupakannya, gue masih ingat kejadian hari itu secara detail
Terlalu anak-anak yah, gue masih ingat kenangan yang seharusnya udah kalian timbun rapat-rapat :’)

Selasa, 09 Oktober 2012

HBD ke 15th buat kamu :)

Hei, kamu yang jauh disana :)

    Apakabar? Lama yah kita tidak berjumpa, bagaimana keadaan disana, di kota yang tidak kau sebut saat kita berpisah waktu itu? Apakah kamu masih jago Matematika dan Basket? Apa kamu semakin tinggi? Apa kamu masih mengingatku? Ah aku ini terlalu banyak tanya yah.

    aku masih ingat, saat kamu duduk diam kelas 2. Tidak mengobrol, tidak bercanda, kau adalah anak baru saat itu, kau masih lugu, masih polos, masih tidak mengetahui kondisi lingkungan sekolah. Lalu aku, dan temanku, menghampirimu, berkenalan dengan kalimat “halo, kamu anak baru yah? Siapa namamu?”. Kamu menatapku, tatapan dari seorang bocah laki-laki yang mempunyai bola mata hitam legam dengan senyum yang manis. “iya, aku Ari” ucapmu singkat, aku berkata dengan riang, entah apa yang membuatku bersemangat, “aku Ica. Ayo! Kita main!” teriakku, ya, dari awal kamu melihatku sering bermain dengan bocah laki-laki yang seumuran denganku, ya, aku memang tomboy, dulu.
    Ah sudahlah, jika aku terus membahas sejarah awal pertemuan kita kapan selesainya? Terlalu banyak peristiwa tersimpan di memori yang hampir usang.

    dulu, kamu dan aku bersahabat. Jajan, main, mengerjakan tugas, semua yang kulakukan disekolah hampir semuanya ditemani oleh sosok cowok berwajah Timur, oriental, manis, tegas.  Ya kamu. hingga aku sadar, ada sesuatu yang janggal di sini (baca:hati), rasanya makin lama makin kuat, makin besar. Rasa apa ini? Dulu saat kita belajar bersama, aku tidak merasakan apapun, tapi mengapa saat aku melihatmu hati ini seketika berdegup dengan kecepatan tak menentu?
    Kamu, mengajariku tentang rasa yang berdegup di sini (baca:hati). Kamu memberikan rasa yang seharusnya tidak kukenal saat itu, kita masih terlalu kecil, masih terlalu dini untuk mengetahui perasaan itu.        Aku tak mengerti mengapa kamu mengajariku untuk mengenal perasaan itu.
kita masih kelas 3 SD, rasa suka dan sayang ini harusnya tidak aku keluarkan. Aku masih kanak-kanak, tetapi kamu malah mengajariku untuk mencintaimu.
Kamu menyeretku untuk mengenal rasa ini lebih dalam, lebih peka. Dan aku menurutimu, kamu kan panutanku. Kamu bagaikan guru bagiku, bahkan kamu guru pertama yang mengajariku tentang perasaan itu.

    Aku menyukainya, aku menyukai perasaan ini. Dan aku lebih menyukainya saat kamu berkata bahwa kamu mempunyai perasaan yang sama. Apa aku senang? Oh tentu, sangat! Sangat senang! Kita menjalani hari dengan setumpuk permainan, kejahilan kecil, permen, cemilan, ah aku rindu.

    tapi, kita tetap sahabat, sebatas sahabat, tidak lebih. Walaupun kamu mengajariku menyelami perasaan ini lebih dalam, tetapi aku dan kamu masih menyukai label ‘sahabat’. Kita masih kecil,kan?
Hingga saat itu, usai agenda tahunan pembagian raport selesai, kamu menghampiriku. Mengatakan hal yang membuat laju peredaran darah di otakku berhenti sepersekian detik. “aku akan pindah”. Ucapan singkat yang terlihat sangat berat, bagiku dan bagimu. “jadi, kamu hanya dua tahun disini? Kenapa?” tanyaku, lugu.  Kalimat apa lagi yang harus aku keluarkan untuk orang yang selama ini aku kagumi?
“Disini, kamu baik-baik yah, jangan lupa sama aku, aku akan ingat kok sama Icha” ucapmu, disertai tawa, terlihat garing, hambar.

pertanyaanku tidak kamu jawab? Kamu pindah kemana? Atas dasar apa? Apa kamu tega meninggalkan aku disini? Lantas jika kamu pergi mengapa kamu mengajariku tentang perasaan itu? Apa tujuanmu mengenalkanku padanya?
Aku, tersenyum, menatap nanar wajahmu, “aku nggak lupa kok sama Ari”. Lalu kamu tersenyum, berat. Dan kamu meninggalkanku disamping tangga, menjauh dan pergi mengejar ibumu. Aku tetap menatapmu, perih. Kamu melihat ke arahku, melambaikan tangan. Sudahlah. Aku tak mau melihatmu, yang ada hanya sakit.
Dan sekarang, tepat 7 tahun semenjak pertemuan itu. Apa kamu mengingat janji yang dulu kau ucap? Yaitu mengingatku? Apa kemampuan Matematika dan basketmu meningkat? Aku ingin bertemu, tapi sayangnya, kota yang kamu tinggali sekarang bukanlah kota yang aku tempati.
Tepat hari ini, 9 Oktober, umurmu 15 tahun, sama sepertiku. Aku harap, kamu menyelipkan namaku di hembusan doamu hari ini.

Selamat ulang tahun ya, cinta pertamaku :)
Dari kenangan kecil masa lalumu