Aku tak tahu apa yang membuatku tertarik untuk kembali
menulis di pagi menjelang siang ini.
Pagi ini, pukul 11:20. Berapa hari hujan turun secara malu –
malu, lalu berubah menyerbu wilayahku. Aku duduk tepat di samping jendela kelas,
melihat beberapa butiran air yang sebentar lagi bertransformasi menjadi embun.
Pagi ini hujan lumayan deras mengguyur kotaku setelah seminggu sebelumnya kota
ini hanya diliputi cahaya terik dan mendung sesekali.
Hujan di penghujung Oktober, datang membawa beberapa tumpuk
kenangan. Oh iya, kenangan yang mereka bawa bukanlah kenangan biasa,
Mereka membawa semua kenangan tentangmu, tentang kita.
Seandainya aku bisa melupakan luka yang kau bawa bersama
hujan, mungkin aku tak akan merasa sesakit ini sekarang.
Siang ini, mata pelajaran kimia masih berlangsung dengan
alot di kelasku, masih membahas tentang teori laju reaksi beserta kaitannya
dengan orde reaksi. Sedangkan aku, tetap menatap papan tulis yang dipenuhi
coretan tentang contoh dan rumus yang berbelit, namun otakku tak
menjangkau materi itu untuk siang ini.
Otakku hanya menjangkau bayangan tentangmu, secara
keseluruhan.
Kamu masih terlihat
nyata, badan yang berpostur tegap dan atletis, rambut cepak yang kau biarkan
berantakan, kacamata dengan frame hitam yang selalu kau benarkan letaknya,
hidung mancung dan sedikit kumis tipis menghiasi wajah hitam manismu, serta
sebuah senyuman berlesung pipi yang mampu membuatku mengingat setiap detailnya,
bahkan aku hanya sebatas dadamu. Tidakkah kau tahu, aku masih mengingat semua
secara jelas, harusnya tiga tahun ini kamu sudah terhapus dari otakku, ah
entahlah.
Hujan kian deras, sederas ingatan mengenai kisah yang
seharusnya usang. Yang terkadang membuatku lumpuh dan menyerah, yang terkadang
pula kenangan tentangmu dapat bereaksi dengan cepat menjalar mengambil alih sistematika
otakku.
Mereka hanya kenangan, tak seharusnya kau kembali
mengingatnya. Kenangan memang permanen, tapi bukan berarti setiap hujan yang
datang pada tanggal ini kamu harus memutar ulang semuanya.
Hal itu yang berkali – kali kutegaskan kepada diriku
sendiri. Entah apa, yang pasti kamu selalu bisa mengundang semuanya untuk
datang secara tiba – tiba.
I wish my mind had delete button,
Bagaimanapun, tiap hujan yang turun tepat pada tanggal ini,
mereka selalu menyisakan beberapa rujukan dimana aku diharuskan untuk tak dapat
melupakan; peristiwa ditengah hujan yang kau torehkan ke dalam ingatanku. Aku
tahu (dan sadar berkali – kali) bahwa yang kulakukan ini bodoh, sejujurnya,
hanya orang bodoh yang mau menunggu tumbuhan yang telah lama mati untuk kembali berbunga.
Awan kehabisan persediaan air untuk kembali membasahi
kotaku. Sinar matahari serempak keluar dari celah awan hitam seakan tengah
melaksanakan perintah. Semua tampak sama setelah hujan berhasil membuat wilayah
ini basah selama 1,5 jam. Hanya terkadang, kenangan yang selalu dibawa hujan,
takkan benar – benar hilang begitu cepat, lalu kembali seperti semula. Kamu
dapat melupakan, tapi aku? Sulit melakukannya.
Kau tahu? Aku terbiasa dengan itu (setidaknya setelah 2,5
tahun ini). Hanya saja, kamu tak pernah tahu.
Di akhir Oktober ini, jangan kembali membuatku berharap hal
yang tak mungkin lagi kuraih bersamamu. Kuharap, kamu tak lagi mendatangiku di
akhir Oktober selanjutnya.