Aku melangkah
secepat yang kubisa. Sekarang pukul 13.08, janjiku sudah ngaret selama satu
jam, ini karena semua kemacetan di ruas jalan menuju jantung kota, dimana pusat
pemerintahan kota diatur disana.
Langkahku tepat berhenti di depan gerbang sekolah yang setahun
lalu meluluskanku menjadi calon murid SMA. Aku menunggu Naya dengan wajah
beralaskan asap knalpot dan rambut yang mulai mengembang tak karuan. Hampir 5
menit aku diam bak kambing mencari induknya, dan Naya akhirnya datang.
Kami berbincang ria, mengganti berbagai macam topic mulai
dari cowok cakep hingga gossip simpang siur di kalangan alumni. Kami duduk di
bawah pohon belimbing, dengan beralaskan tempat duduk yang dibuat seperti kayu
dan sedikit lumut yang menyelimuti. Sebenarnya, tujuanku datang ke pentas seni tidak
hanya untuk melihat artis papan atas yang heboh berjingkrak di atas panggung,
alasanku kesini (selain melihat artis yang kegantengannya mencapai level 8 itu),
untuk melihat sosok itu…..
“Iru, lo tadi dicariin!!” teriak Kiara, yang (bagaimanapun)
tidak terdengar jelas karena music diatas panggung yang begitu memekakkan
telinga siapapun.
“HAH? AMA SIAPA?” ucapku tak kalah kencang, setelah itu, ia
mendekat untuk berbisik
“sama Ken.” Ucapnya.
------------------------------------------------~
Di pentas
seni ini, satu-satunya harapanku agar bisa bertemu dengan sosok itu meskipun
hanya semenit. Bagiku, apalah arti keramaian yang tengah mengerubutiku apabila
aku sendiri merasa kosong, bukan karena apa-apa. Tapi pentas seni ini adalah
satu-satunya acara yang menjanjikan dia untuk hadir, satu-satunya cara yang
sepertinya haram untuk aku indahkan.
Aku hanya diam. Iya, diam. Untuk apa aku ikut melompat dan
bersorak apabila pikiranku melayang kemana-mana. Mencari ke sekitar apakah ia
akan terlihat oleh mata atau justru menghilang dari pengelihatan.
Tapi, kamu
tahu, sosok itu memang tak terlihat oleh mataku.
“Iru, kantin yuk. Gue haus tau” celetuk Naya, membuatku
(berpura-pura) fokus menatap sang vokalis, lalu menjawab pernyataan si cewek
cungkring itu.
“lo aja”
“ah gue haus Iru. Tega lu emang” ucapnya dengan nada
bentakan, lalu menarikku dari keramaian
“ah lu, yaudah gue juga mau pipis hihi”
Di depan,
terlihat barisan cowok dengan wajah yang familiar; cowok satu angkatan
denganku. Aku lebih memilih jalan memutar, ketimbang harus menyapa dengan akhir
pem-bully-an yang dirumuskan padaku.
Terlihat jelas seorang cowok berwajah oriental. Dengan mata
dan postur tubuh yang tak ubahnya seorang atlet dari tim basket. Wajah yang
terlalu ‘asing’ untuk tak ku kenali.
Dia Ken, dengan Aldo disampingnya, dan Handphone di
genggamannya.
Aldo teriak memanggilku, entah, Ken seakan-akan diam tak
berkutik. Mencoba menjadi orang tuli satu sekolahan, merasa bahwa beberapa
waktu lalu ia tak mencariku.
Aku menoleh tepat, bertatapan, dengan Aldo. Tentunya, Ken
acuh padaku. Aku bisa apa? Memaksa Ken melihatku dan mencoba meneriaki namanya
saat pentas berlangsung? Oh mungkin itu adalah hal yang konyol yang harus aku
lewati. Ya aku tentu tidak ingin melakukannya!
Aku mengacuhkan Aldo, si hitam dengan rambut bagai sarang
tawon. Aku berusaha menghilangkan gemetar yang menjalar di seluruh tubuh. Harus
terlihat bodoh seperti apa lagi aku? Melihat Ken dari samping saja sudah
membuatku dagdigug setengah mati, bagaimana jika aku bertemu yang berbincang
dengannya?!
Beberapa waktu telah berlalu, sang vokalis tetap saja
menebarkan senyumnya dan membuat para cewek dibawah panggung terbius beberapa
jam. Entah.
Aku mencoba memusatkan perhatianku kepada pembicaraan yang
dihidangkan oleh Naya, dan teman-temannya. Sungguh, karena kejadian “Aldo
memanggilku namun yang disampingnya (Ken) bersikap acuh” membuatku pusing
tingkat dewa Neptunus. Segitu pusingkah aku menghadapi masalah kecil itu? Oh,
okay. Mungkin harusnya aku bersikap biasa dan tidak terlalu membebani pikiranku
dengan peristiwa kecil ini.
--------------------------------------------------~
hari menjelang petang. Kiara mengajakku untuk keluar dari
pentas itu dan membawaku untuk masuk ke salah satu mall di kota. Aku hanya
menurut, lagipula, vokalis yang kegantengannya ada di level 8 itu sudah
berhenti menyumbangkan suaranya di depan anak-anak abg yang begitu terlihat
histeris. Namun…
“kenapa Ru?” tanya Kiara
“gak, gapapa. Udah yuk jalan” jawabku berat
“masih nunggu Ken?”
“eh?” kagetku.
Coba dipikir lagi, Iru, adalah seorang anak yang sehari-hari
selalu bisa atasi masalahnya. Tapi mengapa jika berhubungan dengan pria yang
satu ini Iru terlihat sangat lemah?! Ayo Iru bangkit!
“lo masih nunggu kan? Mau kita tunggu sampe dia lewat gerbang?”
tawar Kiara dengan nada yang sangat diperhalus
“gue mau ketemu Bu Kira, yuk”
Kali ini, Kiara yang mengikutiku.
Ya sebenarnya, bertemu Bu Kira salah satu alasan untuk
mengalihkan pembicaraan kali ini. Tapi, lagi-lagi, dia terlihat di mataku—
Ken beranjak pulang, dengan temannya yang dulu satu kelas. Aku
ingin menghampiri…tapi kamu tahu sendiri, bagaimana reaksiku saat aku
berhadapan dengan Ken. Dengan berat aku kembali mengobrol dengan Bu Kira.
Aku melewati gerbang, bertahan disana untuk sementara waktu.
ah! Apasih yang sebenarnya harus kutunggu?! Ken? Dia tidak terlihat mata lagi
Iru, mungkin dia pergi ke kantin dulu, jadi mengapa terus Iru tunggu
kehadirannya?
karena, pentas seni ini yang menjanjikan Ken untuk hadir
Aku dan Kiara setia menunggu, hingga salah satu temanku
datang
“Iruuu~ nungguin siapa lagi sih? Acara udah selesai tahu”
Aku dan Kiara hanya berpandangan. Bisu.
“pasti nunggu Ken ya Ru?” Ucapnya to the point, temanku yang
satu ini pasti tahu karena… ia tahu bahwa aku masih menyayangi Ken--- lewat
social mediaku.
“iya tuh si Iru masih aja nunggu” celetuk Kiara. Aku diam
“Iru pengen ngucap perpisahan ya ke Ken? Ken kan mau pindah
jauh Ru, nggak di kota ini lagi”
Aku diam.
Sakit begitu cepat melewati urat nadi dan perlahan menyatu
dengan siklus peredaran darah. Jujur, sebelumnya, aku memang tahu bahwa Ken
akan pergi dari kota ini, dan saat itu ekspresiku (sama sekali) datar, seakan
itu hanya salah satu gossip yang suatu saat akan lenyap. Tapi ternyata..
“Iru, ucapin salam perpisahan sekarang aja Ru, daripada
nanti, malah mendem sakit sendiri” ucap temanku yang satu itu.
Kiara menatapku tanpa reaksi, ia tahu pasti aku akan
mengeluarkan setetes demi setetes air dari mata meskipun aku berusaha
tersenyum. Kiara tak banyak membantu jika hal ini menimpaku. Aku terlalu stuck
untuk mengharapkan hiburan dari Kiara. Dan sedangkan, temanku yang satu itu,
pergi menuju pintu gerbang.
“Iru masih mau nunggu? Nanti Kiara ikutan nunggu, Kalo nggak
mau nunggu lagi Kiara ajak Iru pulang” ucapnya dengan pelan. Percakapan kami
berubah menjadi sangat halus. Ini semua agar hati Iru tidak terus kaku, menurut
Kiara.
“aku…” aku tak banyak berbicara. “kok Ken belum lewat ya?”
“mungkin Ken lagi bareng temennya Ru, yaudah kita tungguin
aja”
Kiara dan aku tetap menunggu, ah! Aku terlalu bodoh untuk
mengikuti hatiku agar terus menunggu Ken!
“Kiara…pulang yuk. Toh Ken gak akan lewat sini. Ken pasti
lagi kumpul bareng temennya. Atau mungkin Ken lewat belakang buat ngindarin Iru”
“tapi kan, tadi Ken nanya ke Kiara tentang Iru, masak iya dia
gak mau ngeliat Iru”
“udahlah” ucapku singkat.
“jadi, Iru gak mau nunggu lagi. ini mungkin pentas seni
terakhir yang Ken kunjungi, kalau tahun depan kan Ken udah nggak di kota ini
lagi. ini kesempatan terakhir Iru buat ketemu Ken. Aku temenin deh” tawar Kiara
sekali lagi.
Aku menimang-nimang tawaran Kiara. Hari sudah terlihat abu-abu,pertanda
hujan. Jika aku menunggunya, mungkin Ken akan lewat dan berpapasan denganku,
itupun kalau ia tidak melewati pintu belakang. Jika aku tidak menunggunya….mungkin
aku tak bisa bertemu dengan senyumnya lagi karena perbedaan jarak yang cukup
jauh.
“Kiara, ayuk pulang. Aku capek.” Ucapku dengan nada yang
lebih pasrah santun
“Iru serius mau pulang, jadi kita nggak usah nunggu Ken
lagi?” tanya Kiara
Aku tersenyum. Kiara mengambil ancang-ancang untuk siap
merangkulku. Ia tahu, senyum yang ku keluarkan selama ini atas nama Ken adalah
senyum semu.
“yaudah sih, menurutku Ken gak mau ketemu sama aku. Biarin aja
ini jadi pentas seni terakhir Ken. Seharusnya apa peduliku dengan hal ini? Hahaha.”
“jadi pas Ken pergi, Iru gak mau ngucapin salam perpisahan?”
ucapnya untuk meyakinkanku
“gausah Ra. Gak penting kok, bagi Ken perpisahan dariku itu gak
penting, hehe”
Lantas, aku pulang. Kiara merangkulku, dan aku yakin Kiara
tak bisa lagi berbuat apapun terhadap diriku.
Aku hanya bisa tersenyum
sepanjang jalan. Melihat apakah aku harus kembali menghadap belakang dan
memastikan bahwa Ken tepat terkunci di pengelihatanku. Aku tak dapat berbuat
banyak, aku seperti seorang anak kecil yang mainan kesayangannya dihancurkan
oleh anak yang lebih besar. Aku masih berusaha berkata bahwa ini mimpi. Seandainya
pentas seni ini adalah yang terakhir bagi Ken, maka aku adalah orang yang
paling tidak beruntung karena tak dapat berbincang dengan Ken meski sebentar.
“Iru gapapa kan?”
“gapapa kok Ra, Aku baik-baik aja”
“yakin, mumpung kita masih di jalan ini, Iru gak mau balik
lagi?”
“gausah lah, Ken gak disini lagi kok.” Jawabku singkat.
Aku mengikuti Kiara untuk pergi ke sebuah mall. Pentas seni ini telah menjanjikan Ken untuk
hadir, namun, pentas seni ini juga telah menjanjikanku untuk menyadari beberapa
hal..
Ken tak akan kembali, meskipun kembali, ia tak akan sama,
toh ia juga mengacuhkanku. Ken akan pergi, dengan begitu percuma aku terlalu
menunggu dan berharap. Meskipun aku melarangnya pergi, Ken akan tetap menuju
kota yang jauh itu.
Pada intinya, pentas seni ini adalah pentas terakhir untuk Ken,
juga pentas terakhir untukku.
(maaf. saya tak dapat menyapamu. saya terlalu bingung. tapi lebih dari itu, selamat berpisah. semoga saya tak lagi menjadi kaku bila bertatap muka denganmu. kamu tetap yang terbaik.)