ini mungkin tulisan pertama, dimana gue berperan jadi 3 tokoh^^. disini ceritanya gue jadi si cewek, jadi si cowok, sama jadi si pacarnya cowok yang sekarang. gak tau dah bagus apa nggak hehehe._.
happy reading~~~
Manda
Hari itu, saat aku berada di sebuah café kecil di mall, dan
hendak keluar dari sana. Aku melihat Dimas tepat di depanku. Iya, Dimas yang
selalu mengganggu laju pikiranku bila mengingatnya. Aku berusaha mungkin untuk
membuat semua seperti biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha
untuk mengalihkan pandangan dengan melihat isi tas berwarna merah jambu
milikku. Yang mungkin sebenarnya adalah hal yang malas sekali kulakukan.
Disamping Dimas, berdiri seorang gadis manis berkulit agak
coklat, bermata bulat dan mempunyai gingsul, serta menggenggam erat lengan
Dimas; kekasih Dimas saat ini.
Sekuat tenaga aku menahan rasa gugup ketika Dimas mulai
menyadari keberadaanku dan mendekat menghampiri, yang tentu saja bersama kekasihnya.
Meskipun begitu, entah mengapa aku tak bisa mengelak untuk tidak bertemu
dengannya.
“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucapnya sebagai awal pertemuan.
“Baik, kamu?” ucapku ramah tanpa menatapnya.
“lumayan, untuk saat ini” balasnya.
Aku berdiri diam tepat di depan Dimas, bersyukur karena
Dimas terlihat baik dengan kekasihnya sekarang. Namun terselip rasa tak terucap
mengetahui bahwa aku sakit mendengar suara dan menatap kedua matanya yang
tajam.
“gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” lontarku memecah keheningan.
Menatap Dimas.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” balasnya dengan senyum.
Senyum yang beberapa bulan terakhir sudah tak pernah kulihat.
Dimas tampak lebih bahagia sekarang.
Ia tak banyak berubah, tetap dewasa, tetap tinggi, tetap
pintar, tetap manis..
Aku mengulas senyum. “aku mau pulang dulu Dim, udah dari
tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlast buat kalian” lalu aku berjalan
menjauh.
Ada sakit yang melewati hati dan otak. Kesal, sesak, rindu,
terharu, benci.
Dimas tak lagi melihatku, tidak akan pernah. Bahkan kurasa
dia lebih senang bersama kekasihnya yang sekarang. Dimas terlalu mencintai
Farah, dan tak akan menoleh padaku, lagi. memang Dimas gak akan
kembali, dan aku gak seharusnya bermimpi bahwa semua akan kembali
Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku,
lalu menangis.
Aku mencintai Dimas
Dimas
Hari itu, saat aku menunggu Farah membeli sebuah ice tea, aku
mengarahkan pandangan ke semua penjuru mall, melihat apakah aku dapat melihat
sesuatu yang menarik. Lalu aku melihatnya.
Dia Manda, gadis yang dulu pernah ada di hidupku. Aku terus
menatapnya, namun sepertinya ia tidak menyadari keberadaanku.
Aku meminta Farah untuk diam disini, sedangkan aku pergi
sebentar dengan alasan menemui teman lamaku, tetapi Farah tetap ingin aku
disampingnya. Memaksaku untuk tidak meninggalkannya. Dan aku masih menatap
Manda, yang tampaknya ingin keluar dari café dengan tergesa – gesa.
Manda akhirnya melihatku, saat aku tepat didepannya dan menatap
kedua bola mata yang berwarna cokelat tua. Aku berusaha menghilangkan
kegugupanku dan mencoba mendekatinya untuk sekedar bertanya tentang keadaannya
saat ini. Namun, Farah meletakkan tangannya di lenganku dengan erat, membuatku
tak nyaman. Dan pada akhirnya aku dapat menatap wajah Manda dari dekat, yang
sudah lama tak kulihat.
“Hai Man, gimana kabar kamu?” tanyaku dari hati
“Baik, kamu?” balasnya tanpa menatapku, terlalu sibuk dengan
isi tas merah jambunya.
“lumayan, untuk saat ini” jawabku. Kuharap dia mengerti arti
sebenarnya dari kalimat itu.
Aku merindukan Manda
Aku merindukan tawanya, senyumnya, lelucon anehnya, aku
merindukan waktu saat di dekatnya.
“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap gadis ceria itu
mengagetkanku.
Kurasa, dia tak lagi mencintaiku.
Kurasa, hanya aku yang masih mencintainya.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawabku tersenyum.
Mencoba menetralisir suasana otakku yang mulai terpaut dengan Manda. Ada
keheningan sebentar.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan
ya, semoga longlast buat kalian” ucapnya dengan senyum yang selalu ku tunggu
kemunculannya. Lalu ia pergi menjauh
Ada keinginan untuk memeluknya sebelum kami berpisah dan tak
tahu kapan bertemu kembali, aku merasa sangat merindukannya. Namun sepertinya,
ia tidak merindukannku.
Namun sepertinya, ia tak lagi melihatku.
Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku,
lalu menangis
Aku kehilangan Manda
Farah
Aku pergi membeli ice tea ditemani Dimas saat itu. Awalnya
memang tak ada apapun di pengelihatanku, namun sesuatu mencegatku untuk menatap
Dimas.
Dimas terlihat tengah menatap seorang gadis di kejauhan. Aku
masih belum yakin siapa gadis itu, tapi aku merasa gadis itu adalah Manda; seseorang yang pernah
hidup dan menetap di hati Dimas. Tadinya aku merasa bahwa tidak apa – apa bila
Dimas bertemu teman lamanya di mall superbesar ini. Namun, untuk saat ini,
menatap Manda membuatku berpikir bahwa Dimas mempunyai sesuatu hal yang ingin
disampaikan kepada gadis itu.
Dan aku pura – pura tak tahu.
Dimas memintaku untuk diam disini, sementara ia pergi
menghampiri gadis yang diakuinya sebagai teman lama. Aku tak mau bila Dimas
harus bertemu masa lalunya tanpa aku disampingnya. Jika itu terjadi, mungkin
ada beberapa hal yang dapat memicu permasalahan antara aku dan Dimas, membuatku
menjadi ‘seseorang yang dulu ada di hidup Dimas’. Jika kamu mengerti apa
maksudku.
Selesai membeli minum, aku dan Dimas berjalan menuju café;
tempat Manda berada saat itu. Aku menggenggam erat Dimas, mencoba tidak
melepaskannya. Karena, dengan seperti ini Manda akan tahu bahwa Dimas telah
memiliki seseorang yang sangat mencintainya.
“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucap Dimas
“baik,kamu?” balas gadis berambut bergelombang itu
“lumayan, untuk saat ini” jawab Dimas.
Percakapan berjalan alot. Dengan aku sebagai pendengar,
dengan Dimas dan Manda menjadi tokoh dalam dialog ini.
Menatap Manda membuatku berpikir bahwa ia tak lagi
memperhatikan Dimas sebagai masa lalu terindahnya. Sedangkan menatap Dimas
membuatku berpikir bahwa ia memang mencintaiku, dan menurutku ini adalah hal
yang bagus-- Dua masa lalu yang tak
saling menghadap.
“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap Manda
mengagetkanku.
Mungkin, Manda hanya ingin tahu..
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawab Dimas disertai
senyum, membuatku semakin yakin bahwa tidak ada penghalang antara aku dan
Dimas.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan
ya, semoga longlasting kalian” Manda berkata lagi, kali ini dengan senyuman
(perpisahan). Dimas menatap Manda dari kejauhan, seakan Dimas memang tidak
menganggap Manda sebagai seseorang yang special di hidupnya.
Aku senang, reuni Dimas dan Manda berakhir.
Aku senang, menjadi bagian dari kehidupan Dimas saat ini.
Dan aku tak mau, seseorang seperti Manda datang lagi hanya
untuk menyapa Dimas.
Lantas, aku pulang ke rumah dan berdiam diri di kamar
Aku membenci Manda.