Minggu, 31 Maret 2013

Bruno Mars - When I was Your Man

Hai all~~

   Gue mau kasih satu lagu referensi yang menurut gue mmmm… emang lagunya udah keluar sekitar awalah tahun 2013 sih, tapi gue ampe sekarang suka banget sama lagu ini. Ya maklum sehati gitu lagunya sama gue, huehehehehe  :”””””)

Judulnya ya tadi, When I was Your Man yang dinyanyiin abang Bruno mars.

   Lagu ini mengisahkan tentang seorang cowok yang masih sayang sama MANTANNYA (etdah selaw aja fi nulis mantannya-_-) sedangkan mantan itu udah punya kekasih baru. IYA, KEKASIH BARU! (-______-)”. Trus si cowok ini (ceritanya Bruno Mars) dulu tuh suka ngasih bunga kesukaan ceweknya, ngegandeng tangan ceweknya, sampe bela – belain dateng ke segala pesta cuman ngebuat si kekasihnya itu seneng karena ceweknya suka menari.
    Tapi si Bruno ini ummm… gue gak tau sih kenapa -_-v yang pasti setelah p*t*s kalo dia tiap denger temennya lagi ngomongin mantannya dia langsung nangis, trus kalo ngedenger nama cewek itu akang Bruno langsung tersayat – sayat hatinya :”)
    Dan ceritanya akang Bruno mau minta maaf, pengen ngebaikin kesalahannya, pengen berubah, tapi kesempatan itu udah gak ada. Jadi dia berharap sama kekasih baru cewek itu agar selalu ngelakuin hal yang pernah Bruno lakuin dulu, kayak ngasih bunga, gandengan tangan, sampe ngajak si cewek buat nari. Disini akang Bruno berusaha tegar banget jadi seorang cowok yang pernah jadi MANTAN cewek itu.

Ah ya gitu lah pokoknya! Lo gak akan ngerti kalo cuman ngebaca artikel doang, nih gue kasih link download, video, sama lyric-nya

link : download Bruno Mars


Bruno Mars – When I was Your Man

Same bed, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don't sound the same
When our friends talk about you all that it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
And it all just sound like uh, uh, uh

Hmmm too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
It all just sounds like uh, uh, uh, uh

Hmmm too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

Although it hurts I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he buys you flowers, I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done when I was your man!
Do all the things I should have done when I was your man!

Sedih gak sih? Kalo gak merasa sedih, coba kalian galau – galau dulu, trus kalian hayati deh lagu ini. Jangan cuman denger donag, tapi dalamin juga okeh?!!
So, Happy bergalau-galauaaaaann~~~~

Kamis, 28 Maret 2013

antara aku, kamu, dia

ini mungkin tulisan pertama, dimana gue berperan jadi 3 tokoh^^. disini ceritanya gue jadi si cewek, jadi si cowok, sama jadi si pacarnya cowok yang sekarang. gak tau dah bagus apa nggak hehehe._.

happy reading~~~


Manda
    Hari itu, saat aku berada di sebuah café kecil di mall, dan hendak keluar dari sana. Aku melihat Dimas tepat di depanku. Iya, Dimas yang selalu mengganggu laju pikiranku bila mengingatnya. Aku berusaha mungkin untuk membuat semua seperti biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha untuk mengalihkan pandangan dengan melihat isi tas berwarna merah jambu milikku. Yang mungkin sebenarnya adalah hal yang malas sekali kulakukan.
   Disamping Dimas, berdiri seorang gadis manis berkulit agak coklat, bermata bulat dan mempunyai gingsul, serta menggenggam erat lengan Dimas; kekasih Dimas saat ini.
   Sekuat tenaga aku menahan rasa gugup ketika Dimas mulai menyadari keberadaanku dan mendekat menghampiri, yang tentu saja bersama kekasihnya. Meskipun begitu, entah mengapa aku tak bisa mengelak untuk tidak bertemu dengannya.
“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucapnya sebagai awal pertemuan.
“Baik, kamu?” ucapku ramah tanpa menatapnya.
“lumayan, untuk saat ini” balasnya.

    Aku berdiri diam tepat di depan Dimas, bersyukur karena Dimas terlihat baik dengan kekasihnya sekarang. Namun terselip rasa tak terucap mengetahui bahwa aku sakit mendengar suara dan menatap kedua matanya yang tajam.

“gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” lontarku memecah keheningan. Menatap Dimas.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” balasnya dengan senyum. Senyum yang beberapa bulan terakhir sudah tak pernah kulihat.

    Dimas tampak lebih bahagia sekarang.
Ia tak banyak berubah, tetap dewasa, tetap tinggi, tetap pintar, tetap manis..
    Aku mengulas senyum. “aku mau pulang dulu Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlast buat kalian” lalu aku berjalan menjauh.

    Ada sakit yang melewati hati dan otak. Kesal, sesak, rindu, terharu, benci.
Dimas tak lagi melihatku, tidak akan pernah. Bahkan kurasa dia lebih senang bersama kekasihnya yang sekarang. Dimas terlalu mencintai Farah, dan tak akan menoleh padaku, lagi. memang Dimas gak akan kembali, dan aku gak seharusnya bermimpi bahwa semua akan kembali

Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku, lalu menangis.

Aku mencintai Dimas

Dimas
    Hari itu, saat aku menunggu Farah membeli sebuah ice tea, aku mengarahkan pandangan ke semua penjuru mall, melihat apakah aku dapat melihat sesuatu yang menarik. Lalu aku melihatnya.
    Dia Manda, gadis yang dulu pernah ada di hidupku. Aku terus menatapnya, namun sepertinya ia tidak menyadari keberadaanku.

    Aku meminta Farah untuk diam disini, sedangkan aku pergi sebentar dengan alasan menemui teman lamaku, tetapi Farah tetap ingin aku disampingnya. Memaksaku untuk tidak meninggalkannya. Dan aku masih menatap Manda, yang tampaknya ingin keluar dari café dengan tergesa – gesa.
Manda akhirnya melihatku, saat aku tepat didepannya dan menatap kedua bola mata yang berwarna cokelat tua. Aku berusaha menghilangkan kegugupanku dan mencoba mendekatinya untuk sekedar bertanya tentang keadaannya saat ini. Namun, Farah meletakkan tangannya di lenganku dengan erat, membuatku tak nyaman.             Dan pada akhirnya aku dapat menatap wajah Manda dari dekat, yang sudah lama tak kulihat.

“Hai Man, gimana kabar kamu?” tanyaku dari hati
“Baik, kamu?” balasnya tanpa menatapku, terlalu sibuk dengan isi tas merah jambunya.
“lumayan, untuk saat ini” jawabku. Kuharap dia mengerti arti sebenarnya dari kalimat itu.

Aku merindukan Manda
Aku merindukan tawanya, senyumnya, lelucon anehnya, aku merindukan waktu saat di dekatnya.

“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap gadis ceria itu mengagetkanku.

Kurasa, dia tak lagi mencintaiku.
Kurasa, hanya aku yang masih mencintainya.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawabku tersenyum. Mencoba menetralisir suasana otakku yang mulai terpaut dengan Manda. Ada keheningan sebentar.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlast buat kalian” ucapnya dengan senyum yang selalu ku tunggu kemunculannya. Lalu ia pergi menjauh

    Ada keinginan untuk memeluknya sebelum kami berpisah dan tak tahu kapan bertemu kembali, aku merasa sangat merindukannya. Namun sepertinya, ia tidak merindukannku.
Namun sepertinya, ia tak lagi melihatku.

Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku, lalu menangis

Aku kehilangan Manda

Farah
    Aku pergi membeli ice tea ditemani Dimas saat itu. Awalnya memang tak ada apapun di pengelihatanku, namun sesuatu mencegatku untuk menatap Dimas.
    Dimas terlihat tengah menatap seorang gadis di kejauhan. Aku masih belum yakin siapa gadis itu, tapi aku merasa  gadis itu adalah Manda; seseorang yang pernah hidup dan menetap di hati Dimas. Tadinya aku merasa bahwa tidak apa – apa bila Dimas bertemu teman lamanya di mall superbesar ini. Namun, untuk saat ini, menatap Manda membuatku berpikir bahwa Dimas mempunyai sesuatu hal yang ingin disampaikan kepada gadis itu.

Dan aku pura – pura tak tahu.

    Dimas memintaku untuk diam disini, sementara ia pergi menghampiri gadis yang diakuinya sebagai teman lama. Aku tak mau bila Dimas harus bertemu masa lalunya tanpa aku disampingnya. Jika itu terjadi, mungkin ada beberapa hal yang dapat memicu permasalahan antara aku dan Dimas, membuatku menjadi ‘seseorang yang dulu ada di hidup Dimas’. Jika kamu mengerti apa maksudku.
Selesai membeli minum, aku dan Dimas berjalan menuju café; tempat Manda berada saat itu. Aku menggenggam erat Dimas, mencoba tidak melepaskannya. Karena, dengan seperti ini Manda akan tahu bahwa Dimas telah memiliki seseorang yang sangat mencintainya.

“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucap Dimas
“baik,kamu?” balas gadis berambut bergelombang itu
“lumayan, untuk saat ini” jawab Dimas.
    Percakapan berjalan alot. Dengan aku sebagai pendengar, dengan Dimas dan Manda menjadi tokoh dalam dialog ini.
    Menatap Manda membuatku berpikir bahwa ia tak lagi memperhatikan Dimas sebagai masa lalu terindahnya. Sedangkan menatap Dimas membuatku berpikir bahwa ia memang mencintaiku, dan menurutku ini adalah hal yang bagus--  Dua masa lalu yang tak saling menghadap.

“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap Manda mengagetkanku.
    Mungkin, Manda hanya ingin tahu..
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawab Dimas disertai senyum, membuatku semakin yakin bahwa tidak ada penghalang antara aku dan Dimas.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlasting kalian” Manda berkata lagi, kali ini dengan senyuman (perpisahan). Dimas menatap Manda dari kejauhan, seakan Dimas memang tidak menganggap Manda sebagai seseorang yang special di hidupnya.

Aku senang, reuni Dimas dan Manda berakhir.
Aku senang, menjadi bagian dari kehidupan Dimas saat ini.

Dan aku tak mau, seseorang seperti Manda datang lagi hanya untuk menyapa Dimas.

Lantas, aku pulang ke rumah dan berdiam diri di kamar

Aku membenci Manda.

Selasa, 05 Maret 2013

suatu kondiri saat aku mengingatmu

    Ada masa lalu yang terlintas jelas saat aku melewati tempat itu. Ada kenangan, ada kamu, ada kita, di masa lalu. Membayangkan kembali perasaan dan kehangatan yang terjalin antara kita, yang pada waktu itu hanya melakukan aktivitas makan siang dan bercanda bersama, tak lebih.

    Jalan menuruh rumah terlihat penuh sesak. Dan sialnya aku tepat berada didepan tempat sejarah kita di masa lalu. Jangan bertanya apakah aku kembali mengingat detail antara kita (oh maaf…maksudku aku, dan kamu). Kenangan kamu tak ayal menyebabkanku kembali ke lubang waktu untuk memeriksa apakah semua itu masih tetap ada dihatimu, atau tidak.
    
    Romansa langit abu-abu dan beberapa rintik hujan menyertai ingatanku sore ini, seakan (sangat) mendukung apabila aku terus menerus mengingatmu meskipun sudah mencoba kulupakan.  Aku bukan tak mengerti bagaimana caranya untuk membuat kamu sepenuhnya terhapus dari hidupku, hanya saja…kamu masih pantas untuk menempati otak ini dan melarang kenangan baru masuk untuk mengajakku berhenti memikirkanmu. Itu saja.
    Kejenuhanku diatas garis normal. Entahlah, setiap aku memikirkan tentangmu ada perasaan yang berbeda di sini; runyam, kusut, sesak, gelap, tak beraturan, sedikit cahaya terang, bahagia, seakan tak lagi punya hati, benci, rindu, atau apapun yang membuat laju darah untuk sebentar mengalir lebih cepat dari biasanya. Sudah belasan, atau mungkin ratusan bahkan ribuan kali aku merasakan hal seperti ini, entah itu tiap hari ataupun menit. Yang pada intinya, hingga sekarang, aku masih memikirkanmu.
    Jika menyangkut kamu, aku tidak punya banyak improvisasi kata selain kata rindu, benci, cinta, kenangan, dan waktu. Terlalu rumit untuk mendefinisikan siapa dirimu dalam keseharianku meskipun aku hanya ingin menuliskan namamu dalam beberapa paragraph kecil. Kamu mungkin bisa membayangkan bagaimana aku harus berlari dari situasi yang selalu mengingatkan kembali siapa diriku di hidupmu pada masa lalu. Mungkin kalimatku terlalu sulit untuk sekarang.

    Beberapa kendaraan melaju pelan, perlahan mobil yang ku tumpangi berjalan menjauh dari tempat yang penuh atmosfer tentangmu. Seharusnya aku sudah melupakannya sejauh tempat itu menghilang dari mataku.
    Namun tetap saja, sejauh aku melepas pengelihatanku dari tempat itu, kota ini menyimpan semua hal tentang kita bahkan di sudut terpencilnya, di sepanjang jalan dan gang yang kulewati bersamamu, di setiap toko yang dulu pernah kita singgahi, di tiap sudut di depan teras rumah, di semua benda yang dulu saling kita suka, hingga di salah satu kartun yang dulu kita junjung tinggi tokoh utamanya.

Itu terlalu banyak. Sangat banyak untuk kutampung sendiri.

    Kenangan tak selamanya membiusku, memang. Tapi kenangan selalu sukses membuatku memikirkan kamu dan membayangkan aktifitas yang pernah kita lewati. Kenangan tidak banyak merubah hidupku, namun 100% kenangan merubah alur hidupmu sekarang.

Kamu muak, aku tahu.

Kamu benci karena aku selalu menyangkut pautkan masa lalu, aku tahu.

Kamu merasa ilfill dengan orang yang terlalu ‘bergalau ria dengan sajak absurd bagimu’ seperti aku, aku tahu.

Aku tahu itu. Tapi kamu tak tahu penyakit apa yang kurasa tiap aku menuliskan sesuatu tentangmu.

Tapi kamu tak mengerti bagaimana perasaan seseorang yang hingga sekarang masih bertahan pada tempatnya.

Kamu tidak akan mengerti.
Karena kamu tidak pernah merasakannya.