Ada masa lalu yang terlintas
jelas saat aku melewati tempat itu. Ada kenangan, ada kamu, ada kita, di masa
lalu. Membayangkan kembali perasaan dan kehangatan yang terjalin antara kita,
yang pada waktu itu hanya melakukan aktivitas makan siang dan bercanda bersama,
tak lebih.
Jalan menuruh rumah terlihat
penuh sesak. Dan sialnya aku tepat berada didepan tempat sejarah kita di masa
lalu. Jangan bertanya apakah aku kembali mengingat detail antara kita (oh
maaf…maksudku aku, dan kamu). Kenangan kamu tak ayal menyebabkanku kembali ke
lubang waktu untuk memeriksa apakah semua itu masih tetap ada dihatimu, atau
tidak.
Romansa langit abu-abu dan
beberapa rintik hujan menyertai ingatanku sore ini, seakan (sangat) mendukung
apabila aku terus menerus mengingatmu meskipun sudah mencoba kulupakan. Aku bukan tak mengerti bagaimana caranya
untuk membuat kamu sepenuhnya terhapus dari hidupku, hanya saja…kamu masih
pantas untuk menempati otak ini dan melarang kenangan baru masuk untuk mengajakku
berhenti memikirkanmu. Itu saja.
Kejenuhanku diatas garis normal.
Entahlah, setiap aku memikirkan tentangmu ada perasaan yang berbeda di sini;
runyam, kusut, sesak, gelap, tak beraturan, sedikit cahaya terang, bahagia,
seakan tak lagi punya hati, benci, rindu, atau apapun yang membuat laju darah untuk
sebentar mengalir lebih cepat dari biasanya. Sudah belasan, atau mungkin
ratusan bahkan ribuan kali aku merasakan hal seperti ini, entah itu tiap hari
ataupun menit. Yang pada intinya, hingga sekarang, aku masih memikirkanmu.
Jika menyangkut kamu, aku tidak
punya banyak improvisasi kata selain kata rindu, benci, cinta, kenangan, dan
waktu. Terlalu rumit untuk mendefinisikan siapa dirimu dalam keseharianku
meskipun aku hanya ingin menuliskan namamu dalam beberapa paragraph kecil. Kamu
mungkin bisa membayangkan bagaimana aku harus berlari dari situasi yang selalu
mengingatkan kembali siapa diriku di hidupmu pada masa lalu. Mungkin kalimatku
terlalu sulit untuk sekarang.
Beberapa kendaraan melaju pelan,
perlahan mobil yang ku tumpangi berjalan menjauh dari tempat yang penuh
atmosfer tentangmu. Seharusnya aku sudah melupakannya sejauh tempat itu
menghilang dari mataku.
Namun tetap saja, sejauh aku melepas pengelihatanku
dari tempat itu, kota ini menyimpan semua hal tentang kita bahkan di sudut
terpencilnya, di sepanjang jalan dan gang yang kulewati bersamamu, di setiap toko
yang dulu pernah kita singgahi, di tiap sudut di depan teras rumah, di semua benda
yang dulu saling kita suka, hingga di salah satu kartun yang dulu kita junjung
tinggi tokoh utamanya.
Itu terlalu banyak. Sangat banyak
untuk kutampung sendiri.
Kenangan tak selamanya membiusku,
memang. Tapi kenangan selalu sukses membuatku memikirkan kamu dan membayangkan
aktifitas yang pernah kita lewati. Kenangan tidak banyak merubah hidupku,
namun 100% kenangan merubah alur hidupmu sekarang.
Kamu muak, aku tahu.
Kamu benci karena aku selalu
menyangkut pautkan masa lalu, aku tahu.
Kamu merasa ilfill dengan orang
yang terlalu ‘bergalau ria dengan sajak absurd bagimu’ seperti aku, aku tahu.
Aku tahu itu. Tapi kamu tak tahu
penyakit apa yang kurasa tiap aku menuliskan sesuatu tentangmu.
Tapi kamu tak mengerti bagaimana perasaan seseorang yang hingga sekarang masih bertahan pada tempatnya.
Tapi kamu tak mengerti bagaimana perasaan seseorang yang hingga sekarang masih bertahan pada tempatnya.
Kamu tidak akan mengerti.
Karena kamu tidak pernah merasakannya.
Karena kamu tidak pernah merasakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar