Selasa, 18 Juli 2017

Materi Teks Biografi


KD : 3.15 Menganalisis aspek makna dan kebahasaan dalam teks biografi

Indikator:
Siswa mampu mendata aspek kebahasaan dalam teks biografi
Siswa mampu menyimpulkan unsu kebahasaan dalam sebuah teks biografi



Teks Biografi
Biografi merupakan riwayat hidup seseorang atau tokoh yang ditulis oleh orang lain. 


Dalam sebuah teks biografi terdapat beberapa unsur kebahasaan yang membangun teks tersebut. Unsur-unsur kebahasaan yang terdapat dalam teks biografi antara lain:
  • Kata Hubung
Kata hubung (konjungsi) merupakan susunan kata yang berfungsi sebagai penghubugn atau menghubungkan susunan kata dengan kata yang lain dalam suatu kalimat.Kata hubung dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat 3 jenis kata hubung yaitu:
  1. Konjungsi Koordinatif: kata penghubugn untuk menghubungkan 2 atau lebih unsur yang setara kedudukannya. Contoh: dan, serta, atau, sedangkan
  2. Konjungsi subordinatif: kata penghubugn untuk menghubungkan dua unsur kalimat yang kedudukannya tidak setara. Contoh: supaya, bila, sejak, sehingga
  3. Konjungsi Korelatif: kata penghubugn berupa kata yang berpasangan utnuk menghubungkan dua unsur kalimat yang kedudukannya setara. Contoh: tidak hanya..., demikian...sehingga, ....pun
  • Rujukan Kata
Rujukan kata dalam teks biografi merupakan kata yang merujuk pada apa yang telah diungkapkan sebelumnya: antara lain:
  1. Rujukan benda atau hal :ini, itu
  2. Rujukan tempat                :di sana, di sini
  3. Rujukan Personil              :ia, -nya, beliau
  • Kata Kerja
Kata kerja (verba) adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya, dimana kata ini umumnya menjadi predikat dalam suatu kalimat. Berdasarkan objeknya, kata kerja terbagi:

  1. K. Kerja Transitif: K. Kerja yang membutuhkan pelengkap atau objek. Contoh: Memukul, menangkap
  1. K. Kerja Intransitif: K. Kerja yang tidak membutuhkan pelengkap. Contoh: lari, tidur
Agar lebih jelas, Mari kita analisis teks berikut:
Teks Biografi B.J. Habibie


Setelah mengerjakan tugas, kita akan kilas balik materi dengan menjawab soal berikut:

Rabu, 11 November 2015

I almost do

Taylor Swift - I almost do

Kamis, 2Februari 2015
Gerimis jatuh perlahan pada mulanya, lalu beberapa dari mereka turun dengan cepat dan semakin menghujam. Di tempat Lara, rintikan air berubah menjadi hujan dengan petirnya yang menyambar.
Menyesal tak mungkin ada arti, Lara tahu itu. Ia hanya selalu menginginkan hal itu tidak terjadi 3 tahun lalu

Memutuskan hubungan dengan Ed.

Dalam hujan, ia bertaruh bahwa Ed masih terbangun di tengah malam-seperti dirinya, dan tengah lelah akibat pekerjaan beratnya setiap minggu

Lara bertaruh jika Ed sedang menatap kota yang sama sambil duduk ditemani kopi panas dengan damainya.
Lara tahu bahwa ia salah, bahwa dengan mengatas namakan ego adalah hal yang seharusnya tidak menguasai laju pikirannya. Lara sangat ingin bertemu Ed, menyampaikan betapa rindu meskipun hanya sekilas saja. Mengatakan jika Lara sangat sakit saat dirinya tidak berani untuk menelpon sebatas menanyakan kabar. Ia hanya menyesal

Tapi itu takkan merubah apapun.

Seperti badai yang ingin menghujam, Lara terus bertaruh jika Ed berpikir Lara telah berpaling dan membecinya. Karena Lara selalu mengabaikan pesan Ed yang seharusnya ia balas
Lara bertaruh, Ed tidak pernah berpikir jika Lara tidak pernah mau menyapanya,dan Lara akan mengucapkan selamat tinggal lagi.
Lara berharap, ia dapat menghamburkan dirinya kembali di dalam pelukan Ed, Lara hanya berharap ia akan melakukannya sekalipun terlambat

Tapi setiap ia tidak melakukannya, ia hampir melakukannya
Ia hampir melakukan itu semua.

Mereka telah membuat semua kacau juga rumit, dan mengakhiri hubungan adalah jalan terbaik bagi keduanya. Itu yang terngiang di pikiran Lara.
Ia ingin mengakui di setiap mimpinya, Ed selalu berada disitu
Menyentuh pipinya dan menanyakan hal yang sama
Apakah Lara ingin kembali menjalin hubungan dengannya
Seperti dulu
Dalam mimpi Lara ingin, tapi Lara hanya hampir melakukannya.
Hampir berkata ya.
Hujan tak berhenti sampai sini, Lara masih setia di kursinya bersama cokelat panas yang ia letakkan di meja, menatap jendela dan bergumam sendiri

Lara bertaruh kalau Ed masih memikirkannya.
Lara bertaruh dalam hidupnya, Ed masih mencintainya.

Kamis, 05 November 2015

hiatus for a while (?)

yak gue kembali setelah hiatus beberapa abad bulan mungkin, gue bener-bener tipikal yang gak bisa ngatur jadwal kayak orang pada umumnya, gue hanya bisa fokus sama satu hal. makanya gue selalu fokus buat mencintai dia.

lupakan. itu gak termasuk daftar topik.

karena pada kenyataannya, gue hiatus selama ini udah banyak ngalamin 'jatuh' trus 'blank' trus 'move up'.
'jatuh' ke orang yang yah...giliran gue 0-100 dia malah 100-0..
'blank' gatau mau buat apa selama kita saling hilang kabar, dan tetiba dia kayak gak bisa digapai lagi, yelaah
trus 'move up' karena gue harus sadar kalo mikirin dia gak bakal bikin ip gue bagus buat semester ini.

banyak banget tugas, itu salah satu faktor. karena kalo gue mau ikut uts gue harus ngumpulin tugas yang tebelnya kayak kbbi tahun 2008.
trus mikirin bikin puisi, hehe.
mikirin cara meminimalisir keuangan di kosan.
btw, gue ngekos sama bocah, dia gak perlu gue ceritain kayaknya
mikirin tugas lapangan, padahal gue masih maba huhuhuhu
mikirin tema skripsi, kata dosen gue harus dipikirin dari sekarang sebelum idenya diambil orang, yaudahlah
eiya, ama ngalamin writer's block yang sangaaaaattttt panjang ampe gue gatau lagi alasan gue nulis buat apa.

ya banyak sih, banyak banget, kalo dipikirin mah gatau, tapi ntar pasti keluar sendiri alasan gue hiatus, ya emang gitu, dasar elu fi

anyway, gue buat tulisan ini saat lagi genting-gentingnya kelas ngomongin uts linguistik yang (katanya) lebih horror dari paranormal activity ke 6,biasa lah, materi banyaknya subhanallah, sama ehm, do....do....do..mikado mikado ekstra....... maksud ya, lupakan geli sendiri gue wkwkw

at least gue lagi ada project buat cerita...uhm gak bagus sih cuman buat iseng hehe, ceritanya itu judulnya dari A sampe Z, dan temanya macem-macem, sekarang lagi coba selesein yang galau hehe doain yakkk *doa sendiri dalem hati*

okay then, bye bye *bow*

Senin, 19 Oktober 2015

two month

udah dua bulan gue menjadi seorang mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, agak kecemplung sih tapi selama ini gue berharap gue bisa menyukai jurusan ini dengan hati sebagaimana mencintai dia dalam diam. ea. bodo

well, logika otak dan perasaan hati gue udah kayak naik turun gunung ngadepin dua bulan ini dan rasanya susah banget buat stabil. terlebih hati gue menghadapi yang namanya 'rasa suka'.
menyukai orang dari 0-100, sedangkan orang yang gue suka presentasinya dari 100-0. sedih ya. iya. emang. huf
kan gue jadi kesel ya, giliran gue suka dia jauh, pdkt doang menggebu-gebu, ngajak jalan, pacaran kagak, giliran gue suka dia pergi, giliran udah dapetin gue selama pdkt pergi, dah hati urang kudu naon ieu kang? dipiceun ka tong sampah?

nyalahin dia gak bisa, nyalahin diri gue juga gak bisa. di fase ini, yang namanya saling mendoakan dalam diam adalah satu-satunya cara, setelah meminta kepada Tuhan biar jodoh lu dientengin...berat badannya.
oh bukan, bukan

maksudnya, dientengin buat ketemu sama lo. minta ke Tuhan bahwa he's not the only reason to stay, dan yakin ada yang better.

skip skip skip teeeeeetttt

hush. masalah suka itu bisa sama siapa aja, tapi kalo sayang..hemmm cuman satu dan selamanya buat dia, gebetan aja dulu banyakin, tapi didieu tah tetep dia seorang, nunjuk hati ceritana
itu kata temen gue. temen ya. temen. te...me....n....

abis ini gue uts, yuhu! materi aja gue belom tau, masih gak nguasain materi yang ada di 8 matkul. daaaaan minggu depan gue ulangan dan gak ada ide mau isi apaan. sedangkan tugas tetep mengalir layaknya cinta yang terus bertambah buat dia

eleh, cinta mulu ampe gumoh.

yaudah yah udah, bebi mau blajal, bai!

Senin, 17 Agustus 2015

Kuliah?

Tjiee, udah kuliah, udah gede uhuyyy
Meh, gue masih bertingkah like a kid in elementary school guys!

Alhamdulillah  lucky me, gue masuk universitas negeri Jakarta jurusan pendidikan bahasa indonesia
BU ARFIII BU ARFIIII AKAKAKAKAK NGOCOL
GAK ada pikiran gue masuk ptn, gak ada! Gue udah hopeless gitu karena gue gak lulus snm sama sbm dan umb. Yah mau gimana, mungkin juga usaha gue setengah hati dan nyebrang jurusan itu gak semudah nyebrang dari hatinya ke hati orang lain *apadeh. Gue udah pasrah lillahita'ala karena harapan terakhir gue cuman um unj ini doang.

Masuk sma gue menargetkan diri langsung ke ips, ngejar cita cita gue jadi penyair atau novelis atau pelukis, seenggaknya itu passion gue. Tapi ayah gue bilang, gue harus masuk ipa, gimanapun itu, gak peduli apapun alesan gue, gue harus ipa.
Karena ipa adalah jurusan 'wah' dan elegan di pandangan semua orang.
Yaudah, gue ikhlas kan diri gue dan memilih ipa, boleh sih nanti kuliah nyebrang jurusan, tapi grade gue harus meningkat atau stabil. Udahlah, I have no idea mau kemana gue kuliah nanti. Satu satunya minat gue di bidang eksak cuman TI,karena gue getol banget otak atik komputer, selebihnya, gue gak berharap banyak dengan hasil fisika kimia gue huhu.
Gue memutuskan menjadi teknisi di akhir semester empat. Diakhir semester enam gue balik lagi gak tau tujuan kuliah.
Gue mau ke dkv,ke seni rupa juga, yang akhirnya semua itu gak diijinin ayah gue hmp. Akhirnya gue memilih jadi....
Guru.
G u r u .
G   u   r   u   .
Pada dasarnya keluarga gue emang guru. Uyut, kakek, ayah, ibu, tante, sepupu, sodara, semua guru, darah biru guru emang ngalir dari dulu di keluarga gue. Jadi itu mungkin yang buat gue gak boleh ambil jurusan selain itu. Padahal kan apapun bisa jadi guru, tapi entahlah, beliau pengennya gue lanjut ke keguruan.
Pas snm, gue pilih jadi guru matematik, lumayan deh ya bisa melampiaskan dendam karna guru mtk gue galak banget dulu (gak ada hubungannya). Lagipula, keluarga gue jatuhnya di guru ips,makanya gue pengen jadi guru ipa.
Tapi sayangnya, gak ke terima: ')
Trus gue udah pilih resiko terakhir ke swasta, yang gue jatuhkan pilihan gue di jurusan akuntansi, seenggaknyake gue mikir nanti ilmu hitung gue gak melempem banget. Gue udah mulai coba suka sama akuntansi,meskipun pilihan gue random abis dan beda tiap ngedaftar.
Then, gue daftar sbm dengan jurusan TI, but at least, gue gak dapet juga.
Gue sempet khawatir. Ortu gue udah pensiun baru aja,  kalo gue swasta, mau dikasi ongkos apa gue dengan gaji pensiun yang segitu. Gue disitu mikir dua kali. Iya yah, kenapa gue selalu nyesel dengan hal kayak gini? Kasian ortu, kerja dan gajinya nanti cuman modal buat gue. Masa gue gak ngasih apa apa buat mereka?

akhirnya, gue milih umb untirta jurusan pend.bahasa indo dan akuntansi. Gatau deh ya no point banget gue random jurusan nya dari snm ampe um. Karna pilihnya harus dua, gue tulis akuntansi sama pendidikan itu(yang pendidikan hasil mufakat bersama setelah gue menyerahkan semuanya /eleh)
Unj juga tuh. Akhirnya gue ujian tulis di unj dulu, alhamdulillah bukan seperti ekspektasi gue soal ipsnya, soal yang lumayan bagi gue yang nyebrang jurusan, tapi lucky me gue bisa ngerjain meskipun kosong 20 dari 70 soal hmp. Lagipula, alhamdulillah gak ada sistem minus. Kalo di umb itu ada sistem minus, dan soalnya kayak uraian yang gue bahkan gak ngerti itu apa. Yaudah lah, pasrah lagi pasrah lagi

Pas hari pengumuman, umb gue gak lulus. Gue nangisss berasa nggak guna jadi anak.  Cuman berat beratin biaya doang di swasta.
And then, the miracle comes! Besoknya gue cek situs unj dengan harapan yang 0,000001% bagi gue. Gue buka dengan biasa dan ternyata..
Lulus.
Lu-lus.
L. U. L. U. S
LULUUUUSSSSSSZZZ
ALHAMDULILLAAAHHH
Dengan jurusan pendidikan bahasa, gue kayak udah ya Allah, makasih banget udah denger doa hambanya yang masih suka lupa untuk mensyukuri hal yang kecil. Gue ngerasa Allah emang..duh uudah deh, gak kebayang senengnya gimana gue sama ibu sama ayah, pokoknya seneng bangett!
The best present i've ever had! kado yang indah banget di ultah gue ke 18 hari ini.

Intinya, banyak banyak bersyukur sama Allah, selalu doa dan usaha, minta restu dari orang tua, yang terpenting itu.
Dan, ikuti aja hati lo, gue awalnya udah coba cari masa depan lain selain masuk sastra karena gue di ipa, tapi nyatanya, malaikat nyatet cita cita pertama gue buat mendalami kesusastraan Indonesia:')

Udah ah. Amanat kali ini adalah "trust your heart. Work not too hard, but intellegent" keren gak wkwk

Dan. MERDEKAAAA!!

Sabtu, 04 Juli 2015

We are never gettin' back together

Based on Taylor song
Aku akan ceritakan sesuatu.

Mantan kekasihku bernama Matt. Ia hanya laki-laki biasa, tidak setampan Shawn Mendes danTaylor Lautner,  tapi ia cukup terkenal di kampus, terutama kalangan perempuan.
Aku ingat saat kami putus untuk pertama kalinya, pada pertengahan tahun di musim panas, masalah sepele.

Katanya, ia sudah muak dengan ini semua.

Wajar aku terheran-heran. Muak? Memangnya apa yang salah?
Ia berkata bahwa kita tak lagi sama sejak sebulan yang lalu, sehingga yang ia butuhkan hanya ingin sendiri, ia butuh ruang untuk merasa bebas, bleh, bleh, bleh. Dan kupikir, hah? Sebenarnya siapa yang duluan menghilang sebulan ini?
kutegaskan padannya, ‘kita tak akan pernah bisa bersatu kembali!’ kuharap ia menelan hidup-hidup kalimat itu

Lalu, keputusan itu di dapat. Kami berpisah. Cukup bagus, aku benci mendengar ocehannya yang mengatakan kalau aku sudah berubah total, kami tidak lagi sejalan, ini, itu, meh. Kini aku seperti bebas dan.. senang rasanya tidak memikirkannya untuk beberapa waktu.

Dua minggu kemudian, Matt mengunjungi rumahku. Tentu aku kaget tujuh turunan mendapati mantan pacarku sendiri datang, ditengah kedamaianku, dan membawa sepucuk bunga mawar putih yang selalu kusuka. Ia berkata,

“maafkan aku, aku merindukanmu, aku berjanji dalam hidupku untuk berubah, percayalah padaku kali ini, please

Demi kerang ajaib spongebob. Sejak kapan ia mau mengemis seperti ini padaku?

Aku memutar kedua bola mataku, juga memperbaiki sikapku di ambang pintu. Menatapnya dengan tatapan ‘kau serius?’ disertai ejekan. Entahlah, sekarang aku yang muak melihatnya di depanrumahku.
“aku sudah bilang aku membencimu. Dan kita berpisah!”
Matt buru-buru menjawab “aku serius mencintaimu”

Dan aku langsung berkata padanya kita putus. Bye.
Oh Tuhan.

Silahkan saja jika nanti ia mau pergi ke teman-temannya atau semua temanku lalu datang lagi kepadaku untuk mengatakan kalau ia menyayangiku sekarang. Tapi kuyakin,kami memang tidak akan lagi bisa bersatu.

Aku mungkin akan rindu saat Matt menantangku berkelahi, lalu aku akan berteriak bahwa aku yang benar  dan memang Matt yang salah selama ini. Setelah kami berkelahi tanpa menemukan titik terang, Matt akan menghilang untuk menenangkan diri sambil mendengarkan lagu-lagu apalah-itu-yang Matt bilang jauh lebih menyenangkan dibanding pacarnya sendiri

Kupikir,memang benar jika seharusnya kami berpisah, itu yang terbaik. Meskipun ia menginginkanku kembali, bukankah ia yang pertama kali memulai ini semua, Matt tidak sadar apa kalau buku yang sudah dibaca berkali-kali tidak akan mengubah isinya.

Tapi, semua perjuangan dia tidak sampai disitu. Esoknya, pada malam hari, ia menelponku.

Matt berkata “aku masih mencintaimu”
Dan responku langsung terkikik atasnya . bujuk rayu yang bagus

“kau tahu, kupikir ini tak akan berhasil, ini melelahkan. Maksudku.. sungguh” aku mengatakan itu padanya
“kita tidak akan bisa bersatu, seperti dulu”
Lalu aku buru-buru menutup telponnya.

Lagi, aku mengatakan itu seperti sudah ratusan kali padanya. Toh, ia harus menerima apa yang menjadi keputusannya dulu, bukannya kembali dan memohon ataskesalahan yang ia perbuat. Itu konsekuensi yang harus Matt ambil.
Biarlah, memang kita tak akan pernah lagi bisa bersatu. 

Jumat, 23 Mei 2014

pendiem.


yap! akhirnya gue balik lagiii!! (muncul dari pintu ajaib doraemon-_-)

kali ini gue pengen menelusuri sesuatu hal yang biasanya dianggap patung sama orang lain, oh bukan sesuatu hal, tapi salah satu sifat...

 PENDIAM!

Ngebahas bagaimana mereka menjalani konflik batin mereka sehari-hari (karena well, mereka gak punya temen sebanyak anak gaol di lingkungan mereka), bagaimana mereka harus beraptasi dengan lingkungan baru, bagaimana mereka harus melakukan hal yang sebenernya mereka gak suka tapi mereka takut buat nolak itu,bagaimana pola pikir mereka dan kalimat yang tercekat di tenggorokannya dan ide yang lumayan gila di otak mereka, gue membahas ini karena sejujurnya... gue.adalah.pendiem.

Gak bisa dibilang pendiem banget sih, gue cuman gak banyak ngomong di kelas, buktinya gue masih punya temen dan masih bisa komunikasi ke yang lain, masih bisa ketawa bareng dan untungnya nggak dijauhin. Tapi, gue termasuk anak yang kalo di lingkungan itu sedikit menutup diri. Bukan, bukan karena lingkungannya serem atau kenapa, gue lebih berpikir hal-hal yang diluar nalar seperti:

1. gue takut, saat gue masuk di lingkungan itu mereka gak bisa nerima gue dengan baik.
2. gue khawatir, kalo gue masuk lingkungan itu gue bakal jadi orang 'yang-bukan-gue-banget'
3. gue takut, kalo gue masuk itu grup, trus gue joking, malah jadi krik yang bikin gue mampus abis
4. gue cuman jaga-jaga takut ada orang di sekitar gue itu ternyata gak suka sama gue, dan akhirnya gue cuman jadi kacang.

Yah, sesimpel itu nalar (prediksi kelewat batas, mungkin) yang selalu kebayang di pikiran gue kalo gue masuk ke satu komunitas baru. Makanya nih, gue paling benci kalo gue disuruh les dan gue gak punya temen disitu, takutnya gue paling terbelakang banget. Atau, pembagian kelas setiap satu tahun sekali, gue takut gue dapet temen gak bener dan gue gak bisa mengkondisikan diri gue sendiri. Hal kecil yang begitu luar biasa pengaruhnya di hidup seseorang.

Dan well, gue suka dilema sendiri kalo di kelas. Contohnya, saat temen sebangku lagi pergi, trus temen di depan bangku gue lagi tidur dan satu lagi diem (sebenernya gue punya temen yang sama pendiemnya, jadi makin hebat skill diem gue *?*), temen bangku belakang gue asik sama handphone dan curhat sama temen di belakangnya. Jadilah gue diem sendiri kan, yaudah, penyelesaian kasusnya cuman dua :
Diem di bangku, ngerjain sesuatu, denger musik, atau ikutan tidur
Atau keluar dan coba gabung sama yang lain. Tapi gue gak tau topic yang dibahas, bodo ah asal join aja
Dan gue milih option satu tuh, yang seharusnya GAK GUE PILIH, gue tau itu bisa ngebuat diri gue makin terlihat pendiem (soalnya di satu kasus, gue pernah join ke temen yang lagi ngobrol dan hasilnya gue beneran jadi kacang dan ngebuat suasana canggung maksimal). Satu hal, gue gak bisa mulai pembicaraan.
Nah ini yang jadi permasalahan sebenernya, kita gak bisa yang namanya ngilangin "negative thinking" yang emang udah kebawa di kehidupan sehari - hari.  Makanya, kita jadi selalu kepikiran bahwa kita ada di luar lingkungan kita, out of group (kata ibu gue yang psikolog) gak bisa masuk dan ngerasa terisolir, hanya mau temenan sama beberapa orang yang sekalinya temenan lengkeeet terus kayak perangko ama lem ketek-_-

itu adalah masalah pertama, yang kedua:

Orang yang terbiasa pendiam itu emang orang yang…sebenernya gak punya antipati terhadap social, hanya saja mereka menjadi ‘paranoid tak langsung’ seperti itulah. Look this picture..



See? Dan yang perlu lo tau, imajinasi mereka melebihi apa yang mereka tunjukan dalam dunia nyata, mereka memiliki pemikiran yang menurut gue lebih kece (maksutnya banyak ide yang sebenernya mereka ciptakan), hanya saja kembali ke awal, mereka gak bisa ungkapin itu semua karena ketakutan mereka yang takut ditolak oleh lingkungan. Jadilah, di dunia nyata mereka cuman bisa diem dan kalo ditanya orang yang gak terlalu dekat agak canggung gak jelas gitu.
Menurut gue, mereka bisa beragumen melebihi biasanya, pasti kalo ada orang yang nganggep mereka pendiem, pas ngeliat mereka ngomong langsung bilang:
“wih, kok banyak omong banget sih dia? Biasanya kan pendiem”

    Asal mereka tau aja yah. kita nih, emang pendiem dan di-cap ‘gak keliatan’ saking cuman bisa duduk dan bercanda sama orang yang emang ada di lingkungan sendiri, tapi sebenernya kalau mereka tahu kita tuh pengen ngomong banyak banget! B-A-N-Y-A-K---B-A-N-G-E-T! Sayangnya itu cuman muncul ampe kerongkongan trus gak sengaja ketelen, akhirnya gak jadi ngeluarin deh.
Perlu diingat (lagi-lagi) alasan gak ngeluarin idenya tuh takut dianggep gak bagus dan malah jadi ngerusak, kadang gue kalo mau ngeluarin ide pas lagi kerja kelompok bareng orang yang gak terlalu deket sama gue suka mikir ampe 3x, “ngasih ide gak yah? Ah ntar malah gak diterima lagi” dan ternyata pas gue udah kasih ide gue, mereka malah setuju.
    Dan yang ini, harusnya kita nggak boleh ngeluarin pikiran kalo mereka gak bakal terima ide kita. Coba dulu diusulin tuh idenya, kalo mereka nolak yaudah, itu bukan karena lo adalah seorang pendiem jadi mereka nggak suka ide lo. Anggep positif aja, mungkin mereka gak setuju karena ide lo terlalu imajinatif, atau karena menurut mereka hanya elu-yang-bisa-ngelakuin-itu dan mereka gak ngelakuin apapun, yang lebih mainstream mungkin mereka takut ide lo itu bisa membuat mereka jadi semacam Einstein dan selalu mencoba hal baru dan membuat mereka dianggap setengah gila (itu versi kalo kerja kelompok sains, gak lucu yah? Yaudah-__-)

Itu yang kedua, yang ketiga:

    Ada beberapa orang yang pendiam berusaha untuk masuk ke suatu perkumpulan, dimana ia bela-belain ngorbanin hidupnya (agak konyol sih, ampe bawa nyawa) biar dia bisa masuk ke lingkungan itu dan jadi orang popuer yang charming dan banyak temen.
Kenyataannya, kalo lo adalah tipe yang kayak gini, lo bakal dapet nol gede. ZONK!
(sukur sukur kalo lo emang beneran bertransformasi dari ‘si-pendiem’ ke ‘si-charming’)
    Gue pernah nyoba ini, dan berhasil. Gue beneran seneng banget ampe kalo bisa gue tumpengan dan ngadain selametan kayak 7 bulanan hamilnya kakak gue (agak duskam ya ini). Gue masuk ke satu komunitas yang emang gaul-charming-popular-chibichibi dan ternyata itu gak berlangsung lama. Gue beneran berjuang banget buat masuk itu grup, gak gitu juga sih hehe. Pokoknya gue ngerasa kalo gue emang harus update terbaru tentang gadget, software buat selfie, baju trendsetter, artis luar, lagu oke, bahkan gue bela-belain nongkrong bareng mereka dan mencoba agak jaga jarak dengan temen lama gue (dan untuk yang ini, gue saranin kalian gak ngelakuin itu, JANGAN!). Tapi gue dapet hasilnya:
    Gue masuk ke grup dan berhasil jadi cewek kece meskipun cuman kece diseluruh kelas di lantai 1-_-, yah namanya juga permulaan masa mau jebret ke ‘orang yang populer satu sekolah’?
Tapi,disini gue sadar, kita gak usah bela-belain dan ngelakuin hal yang gak kita suka demi masuk ke salah satu komunitas. Inget pepatah klise; Be YourSelf. Gausah jadi orang lain kalo lo mau lepas dari gelar ‘pendiem’, apalagi kalo sampe ninggalin temen lo dan akhirnya lo salah pilih pergaulan, hasilnya juga ntar elu yang rugi.
Yang diperluin tuh cuman satu: keterbukaan dan positive thinking, eh, itu dua deh. Pokoknya itu lah, kalo kita nggak punya itu, kita seumur hidup cuman bisa temenan sama computer, bantal, sama guling, sama handphone juga, sama ipod juga deh, sama buku diary hello kitty juga boleh, ah pokoknya lo hanya akan menjadi ‘orang-yang-gak-pernah-dilihat-oleh-oranglain’ dan cuman dianggep angin.

Lain kasus:

Menurut gue, orang yang pendiem tuh malu banget kalo mau kenalan bahkan sama orang di sebelahnya. Kayak gue pas pertama masuk ajaran baru, gue kikuk banget dan butuh ekstra keberanian buat nyapa tablemate gue yang beda sekolah. Itu tuh rasanya kayak lo lagi ikut lomba marathon 3km yang ternyata kalo mau nyampe finish harus nyebrangin jurang pake galah yang panjangnya seiprit, itu deg-degannya beneran campur aduk.

Mau nyapa, takut gak digubris atau lebih parah dia ternyata gak suka duduk sama gue
Sekalinya nyapa, terus kenalan, pasti abis itu nggak ada topic lagi.

Akhirnya gue (kembali) muter otak, siapin kalimat yang enak didenger seperti “hei beb, kenalan yuk”, atau “hai girl, wanna talk about the boys?”, atau yang parah abis “gue arfi, xxtahun, female, Jakarta, ini nomer gue sama line, lanjut sms yah *nyodorin kertas*”. Oke, yang satu itu beneran gue blacklist dari otak.

    Dan guepun dapet kalimat perkenalan awal (setelah mikir sekian banyak, sangat alay dan duskam yah) “hai, gue arfi, lo siapa?” lalu, “dari sekolah mana nih?” dan, “salam kenal yah, ntar kita saling share aja kalo ada yang nggak enak” seperti itu.
Itu hal kecil yang suka ngeganggu dan suka jelas banget. Kasian kan, kalo satu kasus mereka cuman bisa diem, dan sekalinya diem biasanya jadi tempat pembullyan karna gak bisa ngelawan, dan pasti mereka itu sendiri…iya, sendiri (oke lupakan ini). Itulah mereka kadang suka ngelawan konflik di diri mereka. Mereka mau bingittt (itu ‘t’nya ampe tiga) bersosialisasi karena sesungguhnya mereka bukan antisocial, sayang kemauan mereka hilang karna cuman sampe kerongkongan doang. Please deh, gue rasa kita sebagai cewek cakep dan cowok kece harus mulai terbuka.
(tuh kan, giliran ngomong bisa, pas dipraktekin iya iya ogah-_-)


    Gak peduli bagaimanapun imajinatifnya elo dan seapiknya penampilan lo, kalo gak bisa ngomong lancar sama orang, bakal dianggep angin juga. Tapi gue heran kalo orang pinter yang pendiem sama cowok/cewek cakep tapi pendiem, mereka masih aja jadi sorotan, kalo pinter dibilangnya fokus belajar, kalo cakep dibilangnya gaya diem mereka itu cool. Dan peratiin deh, kalo di kelas lu ada anak yang jarang banget ngoceh, pasti kalo temen lu nanya ke dia temen lu agak segan gitu, trus kalo anak yang jarang ngebacot itu ngomong pasti semua orang kayaknya masang tampang acuh tak acuh tapi gak ngobrol gitu. Entah deh, bahas lain kali aja.

    Intinya, gue antara seneng sama nggak jadi pendiem. Seneng karena gue gak perlu terjebak ke pergaulan yang bukan gue banget (lagian siapa juga yang mau ngajak orang yang jarang ngomong buat masuk ke perkumpulan kece?), tapi sedih karena gue gak bisa adaptasi dan susah buat komunikasi sama orang.
Baiklah, itu dulu ya bahas-bahas dan opini gue tentang orang pendiem atau tepatnya orang yang gak banyak omong. Sekian dan terus berjaya perfilman Indonesia!! (gak nyambung-_-)