"I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back"
I want you back
I want you back"
Aku menulis ini saat dingin mulai menyertai malam yang
perlahan menyergap, sesudah senja. Aku bukan pria yang menjunjung melankolis,
tapi, harus kuakui, aku tengah melakukannya saat ini.
Melakukannya bersama bulan purnama di ujung langit sana,
dengan harapan kamu melihat hal yang sama juga.
Untuk wanitaku, Carla.
Aku mencintaimu,
kuingin bulan mendengar semua perkataanku, dan menyampaikannya padamu.
Aku tengah menatap
bulan, melakukan hal yang sama terus menerus selama 3 tahun ini. Setidaknya,
semenjak kita diharuskan untuk tidak saling memiliki. Ceritakan dengan cepat
tentang kabarmu, kuharap kamu selalu cantik, manis, menawan, meski tidak
denganku.
Meski bukan menjadi
milikku.
Aku berpikir,
terkadang. Apakah kita sedang melihat bulan yang sama? apa kita masih memiliki
ikatan batin yang erat? meski waktu telah melampaui batas kemampuanku untuk
menjangkaumu? Umm…Oh! Lihat Carla! itu rasi gubuk, menunjukkan selatan, dulu
kita sama – sama menyukai rasi bintang, itu dulu, sebelum kita berpisah.
Jika saja mencarimu
semudah menunjuk arah di rasi itu, aku takkan merasa begitu sakit menunggu seperti
sekarang.
Kamu masih mengguncang
pikiranku, Carla sayang. Walau sudah 3 tahun terakhir kita tak pernah saling
bertatap muka, hanya pesan yang kubuat yang hampir menghabiskan semua buku
tulis yang kumiliki. Semua di tumpuk rapi di laci mejaku, surat – surat dan
puisi untukmu tanpa bisa aku kirim. Baiklah, kau mungkin takkan mengerti, bahwa
aku terus menyayangimu. Intinya, kamu masih berhasil menyekap masa depanku,
untuk terus melihat masa lalu—kamu.
Jika saja perjodohan
itu bukanlah tindakan tegas dari orang tua kita masing-masing, mungkin kita
masih dapat bersama. Dengan aku dan kamu yang saling melekatkan jemari kita
satu sama lain. Tapi nyatanya, kamu miliknya, dan aku dimiliki wanita itu. Aku bisa
saja menjadi pemberontak kedua orang tuaku (dan kabur dari rumah lalu mencari
pekerjaan sehingga bisa melamarmu), memangnya ini zaman Siti Nurbaya?! Kita saling
dewasa dan masih saja diikat dengan aturan perjodohan?! Jika saja ini bukan
karena ayah yang umurnya semakin senja dan ibu yang selalu kusayangi, mungkin
aku telah melakukan hal itu.
Jika saja, hanya jika,
hanya kata ‘jika’. Karena sesungguhnya, kita tak pernah ditakdirkan untuk
bersama. Sejarah tak menginkan kita untuk bersatu. Kamu bersamanya, dan aku
(diharuskan) bersama wanita ini.
Carla sayang,
2 bulan lagi, aku
diharuskan menikah. Sejujurnya, aku tak pernah ingin melakukannya, jika
mempelai wanita yang berdiri di sampingku bukanlah kamu. okay, sebagai seorang
laki-laki aku terlalu lemah untuk menolak perjodohan ini. Tapi percayalah, aku
melakukan ini untuk kebahagiaan kedua orang tuaku, karena aku masih
mencintaimu.
Kuingin bulan
menyampaikan pesanku yang satu ini,
Semoga kita dapat
bertemu, kuharap secepatnya.
Jika itu bisa dilakukan.
Jika itu bisa dilakukan.
Jika Tuhan berencana
untuk mempertemukan kita kembali.
Pria itu berdiri di balkon rumahnya. Menatap bulan yang
sesekali tertutup awan tipis yang melintas. Pikirannya kabur, matanya tak
terlihat sembab, namun beberapa tetes air sesekali mampir di pelupuk matanya. Ia
merindukan gadis itu, Carla.
Seseorang memperhatikan pria itu dari balik pintu teras yang
setengah terbuka. Memandang dari atas hingga bawah, dari rambut hitam cepaknya
hingga kedua telapak kakinya yang berukuran 43.
Pria itu memiliki alis tebal, bola mata hitam, hidung
mancung, lesung pipi yang terlukis jelas, rahang tegas, semua yang dimilikinya
seperti ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hingga detail bahunya yang bidang
serta tinggi tubuhnya yang sekitar 187 cm itu mampu membius wanita yang tepat
berjalan menghampiri sang lelaki.
“sudah malam, kamu nggak kedinginan?” tanya wanita itu
lembut, sang pria tampak diam tak bergeming
“bulannya bagus” wanita itu bergelajut manja di bahu sang
pria “aku suka” ia menyandarkan kepala dan menyelipkan jemari tangannya di
sela-sela jemari pasangannya.
“tiara..” pria itu berkata “aku mencintaimu” lanjutnya memutar
tubuh sembari memeluk Tiara dengan erat, menutupi tangisnya.
-------
"At night when the stars light up my room
I sit by myself"
I sit by myself"
Bulan purnama, ya?
Malam ini aku terjaga, entahlah. Aku tak terbiasa untuk
tidak tidur lewat jam 10, dan sekarang pukul 10.14 malam, aku tak tahu apa yang
merasuki aku untuk menatap bulan malam ini.
Apakah bulan ingin menceritakan sesuatu? Apa aku hanya ingin
dingin menusuk untuk mengembalikan ingatanku tentangmu? Oh, bicara mengenai
kamu. aku rindu.
Kuingin bulan menulis semua ocehanku malam ini, hanya malam
ini. Sebelumnya, ku titipkan rinduku kepada bulan, semoga ia segera menyampaikannya
padamu.
Kepada Bima,
Menatap bulan sama
saja seperti membayangkan wajahmu yang hingga kini masih terlihat nyata di
benakku, meski telah 3 tahun berlalu. Apakah kamu masih seorang Bima yang sama?
Dengan kacamata yang menutupi bola mata hitammu dan hidung mancung dan lesung
pipi dan kegemaranmu memakan coklat dan kesukaanmu menggambar ilustrasi juga
puisi dan…
Ah sudahlah, membahas
tentangmu tak akan cukup untuk satu malam ini
Aku selalu bertanya,
mengapa kita diharuskan Tuhan untuk tak saling memiliki? Apa Tuhan tak ingin
ciptaannya ini memiliki pasangan sejati? Nyatanya kan, kita saling mencintai,
bahkan teman-teman dan tempat yang menjadi saksi bisu kita tahu, bahwa kita
memang saling melengkapi satu sama lain. Tapi mengapa akhir cerita harus
merelakan kita untuk berpisah?
Oh, tunggu, Bima. Apa kita
sedang melihat bulan yang sama? Kuharap kamu menatap bulan purnama malam ini. Meski
tempat kita berbeda, tak tersentuh dan termakan waktu yang menggerus hal yang
menyangkut kenangan kita. Umm..uh, hei! Itu rasi gubuk, kan? Rasi yang
menunjukkan arah selatan di ujungnya. Apakah kamu ingat dulu kita sering
mencari nama – nama rasi bintang, itu dulu, Bima.
Seandainya menatapmu
semudah menatap rasi bintang gubuk, mungkin aku takkan pernah menahan rindu yang
menggebu seperti ini.
Kamu masih bertahan di
hatiku, Bima sayang. Meski sudah 3 tahun kita tak saling menyapa. Kau tahu, aku
masih menyimpan beberapa puisimu dan gambarmu yang sengaja kau lukis di
sela-sela kesibukanmu, tertata rapih di laci mejaku. Okay, mungkin kalimatku
menjadi sukar untuk dimengerti, bahwa aku selalu merindu dan menharap
kehadiranmu. Intinya, kamu masih berhasil menyita waktuku untuk stuck di masa
lalu, mengingat waktu dulu—merindu dirimu.
Seandainya perjodohan
itu bisa kita cegah, mungkin kita masih dapat bertemu. Saling memeluk erat
tubuh kita satu sama lain. Tapi sekarang, kamu telah memilih wanita itu, dan
aku telah dipilih pria yang menjadi rekomendasi ayah. Aku bisa saja mengancam untuk
bunuh diri atau pergi dari rumah karena perjodohan konyol di era kebebasan ini.
Memangnya sekarang masih menganut system Siti Nurbaya?! Ah, aku tak pernah mengerti
apa yang menjadi dasar acara jodoh-jodohan ini. Jika saja bukan karena ibu yang
sakit keras dan ayah yang terus memintaku menikah. Aku akan berkata BIG NO
didepan semua saksi yang hadir di acara pertunanganku.
Ya, hanya seandainya,
hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Toh, kenyataannya aku menerima perjodohan
ini dan merelakanmu untuk wanita (yang kuharap tak kamu sukai kehadirannya)
itu. Kita memang diharuskan untuk tidak bersatu oleh Tuhan. Takdir kita bukan
untuk bersama. Jalan hidup kita tak pernah dialirkan untuk satu alur yang sama.
Kamu milik wanita itu, dan aku menjadi milik pria ini.
Aku menatap bulan,
begitu terang malam ini. Kuharap ia mencatat semua obrolan jarak jauh kita. Mungkin
ia akan menyampaikanya padamu. Mengatakan betapa aku tak pernah jenuh untuk
merindukan sosokmu.
Bima, priaku.
Dalam waktu dekat aku
akan menikah. Kau tahu, aku masih berharap bahwa kamu tiba-tiba datang dan
membatalkan acara pernikahanku. Atau mungkin, kamu yang menjadi pria yang
berada disampingku, seandainya.
Karena mimpi yang
kubangun untukmu, tak akan pernah menjadi kenyataan untuk sepenuhnya.
Aku ingin katakan satu
hal.
Aku masih
menyayangingu, bulan harus tahu ini dan merekamnya. Agar, kita dapat secepatnya
bertemu, kalau bisa sebelum pernikahanku, seandainya (ini kata yang berhasil
kuucapkan untuk kesekian kalinya).
Jika Tuhan ingin
mempertemukan kita kembali. Kita akan bertemu.
Sang wanita menekuk lututnya dan menyelimutinya dengan
tangan mungil itu, diatas lantai yang mulai membeku karena terpaan angin malam
yang sungguh menusuk rusuk. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa disisir. Sesekali
airmata menghiasi pelupuk matanya. Hatinya menyimpan luka yang terus menerus
dipendamnya hampir 3 tahun.
Seorang pria datang menyelimuti Carla. Memeluk sebagian
tubuhnya di tengah dingin yang menggeliat meminta ruang. Pria itu menatap
rambut hitam sepinggul yang dimiliki Carla, wajah Carla dihiasi bola mata bulat
berwarna cokelat hazel, pipi yang tembem, hidung yang mancung, kulitnya yang
putih namun tak pucat, lesung pipi yang terlihat saat tersenyum, gigi yang
rapih diperlihatkan saat ia tertawa terbahak, bibir yang merekah meminta untuk
disentuh. Sayangnya, malam ini Carla menutup wajahnya dibalik kedua lutut yang
sedari tadi ia goyangkan.
“Carla, ini sudah larut, kamu nggak mau tidur?” ucap pria
yang duduk merangkul Carla. Carla menoleh menatap pria itu.
Carla menggelengkan kepalanya, member isyarat ‘aku tidak mengantuk’ pada pria yang
(sebentar lagi) menjadi suaminya. Sang pria hanya mengangkat salah satu alisnya
dengan senyum menggoda.
“tidur yah. Aku mau nemenin ayah dulu” pria itu berkata sembari
berusaha untuk berdiri, membenarkan kacamatanya yang turun, saat Carla
mencegahnya pergi sehingga ia hanya berdiri bertopangkan kedua lututnya. “Satria..”
Carla berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar lirih,
lalu ia menatap Satria “aku mencintaimu” ucapnya menghambur menyatu dengan
tubuh Satria. Satria membalas pelukan Carla.
“aku juga mencintaimu” senyum tersungging di bibirnya,
memeluk Carla dengan erat.
Yang tanpa ia ketahui, Carla menangis di dalamnya.
Talking to the Moon
Berbicara pada rembulan
Try to get to You
Berusaha bicara padamu
In hopes you're on the other side
Berharap kau ada di sana
Talking to me too
Juga sedang berbicara padaku
Or Am I a fool
Ataukah aku ini orang gila
who sits alone
Yang duduk seorang diri
Talking to the moon
Berbicara pada rembulan
Berbicara pada rembulan
Try to get to You
Berusaha bicara padamu
In hopes you're on the other side
Berharap kau ada di sana
Talking to me too
Juga sedang berbicara padaku
Or Am I a fool
Ataukah aku ini orang gila
who sits alone
Yang duduk seorang diri
Talking to the moon
Berbicara pada rembulan
(Bruno Mars – Talking to The Moon)