Rabu, 26 Desember 2012

my life like a DRAMA!

Gue cewek

Ya. Cewek biasa.

Intro buat jurnal tentang gue ya gitu aja. Tentang gue yang jenis kelaminnya cewek dan kehidupan kayak drama.

    Hari ini hari Rabu, menurut arah angin (gak ada nyambungnya-_-) hari ini hari yang lumayan bagus bagi gue si remaja (mudah) labil ini untuk bergalau ria.
    Gak… gue gak galauin pelajaran yang bikin otak gue muter 360 derajat. Gue juga gak galauin makhluk adam yang gak mau keluar dari pikiran gue. Gue galauin idup gue, yang gue pikir hidup gue ini persis kayak drama atau ftv yang sering gue tonton di salah satu stasiun tv.
    Ya kayak tokoh film yang pemeran utamanya itu seorang cewek yang masih remaja. Yang galau gara-gara si dia gak peka, atau si pelaku terlibat cinta segitiga, atau si pelaku bersahabat dengan musuhnya, atau si pelaku lagi ada masalah sama keluarga, atau apalah..

    Gue heran dan kadang suka merenung (lebih tepatnya bengong) di angkot jurusan dadap mikirin alur hidup gue, terutama tentang cinta cintaan, kok rasanya gue udah ngalamin semua yah? Mulai dari pengorbanan, trus gebetan yang gak peka, terlibat cinta segitiga, bingung gara-gara cinta, pacarnya direbut, dicampakin, disakitin, di PHPin, di buat nunggu, oke cukup. Seakan-akan tuh gue nganggepnya produser pembuat film terinspirasi dari pengalaman hidup gue *aiiih apa pula*
    Diluar cinta-cintaan. Gue kadang mikir alur hidup gue tuh monoton banget yah.  Ke sekolah > ngerjain tugas > pulang > makan > mandi > sholat > belajar > tidur > bangun > beresin rumah > main bentaran > ke sekolah…..
Dan aktivitas gue itu-itu aja, experience-nya paling kalo gue lagi dapet nilai bagus atau ada temen cowok gue yang seketika perhatian.
    Dan yang gue bingungin dari hidup gue satu. kenapa gue nganggep kalo diri gue ini adalah pemeran utama dari sebuah pagelaran drama kolosal besar yang menceritakan tentang hidup seorang cewek yang lagi bingung sama dirinya sendiri. Lo aja yang baca bingung apalagi gue yang ngalamin..-__-

    Gue cewek biasa. Sama kayak yang lain. Bedanya, gue menganggap semua palsu, gue menganggap gue lagi main di drama yang gak tau tamatnya kapan, gue nganggep apa yang gue liat itu semua cerita yang biasa muncul di layar tv. Bahkan kadang gue nganggep gue ini sebenernya gak ada, gue cuman cewek imajinas, jadi gue nganggepnya tuh gue ada 2! Yang satu keliatan orang yang satu lagi ada di dalam diri gue, yang satu antagonis yang satunya protagonist. Oke ini mulai gila!!!
    Well… gue juga ngerasa gue-lah penonton drama hidup gue. Gue yang ngalamin gue juga yang ketawa atau nangis inget kejadian dulu. Aduh ini drama gue makin rumiiitt!! *ini udah mulai stres sendiri
   Life like a drama, with my script, life like I am the actress. Gue hidup ikutin script yang udah dikasih Allah, dengan gue yang mengatur gimana caranya gue jalanin drama ini. Intinya, gue hidup bingung gini gara-gara gue masih dalam tahap ‘mencari’. Ya. Gue masih ‘mencari’ apa yang harusnya bisa ‘melengkapi’ hidup gue, ngebuat hidup gue totally full sampe ending! Makanya gue masih suka ngerenungin hidup di angkot.
Mungkin itu alasan logisnya kenapa gue sering galau gak karuan gara-gara mikirin hidup kayak drama. Jadi untuk episode sekarang, gue sebagai pemeran utama harus bersikap dewasa dalam memecahkan masalah, gaboleh teledor, lebih focus buat nyari jati diri-nya.

    Sekarang hari senin, sang produser yang ada di hati gue bilang gue harus ngadepin apa yang ada di depan gue, gaboleh nengok belakang kecuali dijadiin pelajaran. Produser bilang imajinasi gue harus dikurangin.
Sekarang hari senin, menurut BMKG cuaca bakal terang, jadi gue harus lanjutin episode ftv ini!!

    Dan bagi lo yang satu jalan sama gue gara-gara bingung tentang hidup lo. Gue punya satu pesen..
Hadapi apa yang ada di depan lo. Meskipun itu susah sekalipun, karena setiap masalah punya penyelesaian. Jadilah pemeran utama yang punya imajinasi segudang. Dan gak ada yang gak mungkin jika Allah mengijinkan.

Salam unyu-unyu

Senin, 24 Desember 2012

Hujan dan Kenangan (2)


merindukanmu, bolehkah?

    Ada kalanya aku diajak kembali ke masa lalu oleh memori yang ada di otakku, diundang kembali untuk menari berasma kejadian masa lalu yang mengingatkanku pada bayang itu, bayang dirimu.
    Entah kenapa sampai saat ini aku mempertahankan luka dan sakit yang ada di hatiku, karenamu. Padahal, hidupku yang terisi olehmu sudah lama sekali hinggap di kenyataanku, dan mungkin tak akan menjadi hal indah untuk kedua kalinya. Sehingga aku masih betah untuk berpetualang dalam labirin kerinduan yang aku sendiri tak tau dimana letak garis akhirnya.

    Kenanganku tak terjamah oleh siapapun, setidaknya kenangan itu masih tersimpan rapi dalam berjuta lemari yang ada di otakku. Mereka selalu kutempatkan pada lemari spesial, lemari yang penuh dengan memori dan kejadian yang menyangkut kita berdua. Kenangan yang sudah lama sekali, bahkan aku tak yakin jika kamu masih menyimpan memori itu dengan rapih, seperti yang kulakukan.

     Siang itu, hujan dengan lembutnya membasahi bumi, tanpa permisi. Makin lama makin deras, seakan marah karena aku kembali merindukan masa-masa itu. Diatas sana Dewa Zeus mengirimkan beberapa petir disela hujan yang semakin menghujam tanah, yang sama sekali tak mengusikku untuk tetap merindu dan memikirkanmu. Salahkah? bila aku terus menerus memikirkan kamu? oh! memangnya aku siapa? aku hanya perempuan yang merindukan kejadian dimana dia bisa tertawa lepas karena kehadiran seseorang. Pentingkah diriku menjadi bagian dari realitamu? Pentingkah peranku dalam aktifitas di hidupmu?
      Masih saja aku merindukan masa lalu, lebih tepatnya masa disaat kau berada disisiku. Mungkin harus kuperjelas, aku merindukan dirimu, yang sekarang tengah dengan orang lain dan sama sekali tidak memikirkan apalagi merindukanku. Salahkah? bila aku masih disini dan tetap menari bersama kejadian masa lalu? memangnya di hidupmu aku masih dianggap? bahkan kau begitu mudahnya meninggalkan dan menghapus namaku dalam hidupmu.
      Hah.. Aku kembali akrab dengan sepi, bersantai ria ditemani air mata yang perlahan jatuh, entah dengan sebab apa. Tapi aku menikmatinya, sangat.
Kenangan ini, adalah saksi bisu atas kerinduanku terhadapmu, aku kembali menari melintasi memori masa lalu, mengabaikan hujan yang turun semakin deras disertai kemarahan Dewa Zeus. Disini, aku terdiam, sendiri.

    Dan untukmu, kuharap.. Kamu secepatnya melepaskanku dari jeratan kisah masa lalu, yang membuatku selalu merindukanmu. Karena.. Kau tak akan mencintaiku lagi kan? jadi.. agar aku dapat melupakanmu dan tak berharap untuk menjadi bagian dirimu lagi, dengan segala hormat, kumohon lepaskan aku.

Senin, 10 Desember 2012

Hujan dan Kenangan


Senin, 10 Desember 2012
03:40 pm
    Hujan begitu riamg bernyanyi diluar sana, aku menghangatkan diriku dengan selimut dan secangkir teh hangat, begitu nyaman.
Dari dalam sini, aku melihat rintik hujan yang bertransformasi menjadi embun di kaca jendela. Hujan hari ini sepertinya hujan terderas selama 3 bulan terakhir, setelah sebelumnya hujan badai yang menumbangkan pohon besar dekat rumah. Aku kembali meringkuk di kasur dan memeluk diri dengan selimut.

Hujan sore ini, mengingatkan aku tentang kejadian itu. Kejadian di masa lalu, saat kamu memberikan jaketmu untuk kupakai, sedangkan kau sendiri kedinginan menahan jahatnya angin.

   Aku kembali mengacak-acak otakku tentang masa lalu, membuat beberapa tetes air keluar dari dalam mata. Secara naluriah, aku tak ingin mengundang masa lalu untuk hadir, tapi waktulah yang menyeretku untuk kembali ke jaman itu. Dan secara berkala, slide tentang aku dan kamu saat itu terputar jelas, dan sekarang di otakku sudah berdiri sebuah bioskop yang menampilkan film jadul tentang kita yang dulu. Dan harus ku akui, ini memang terjadi.
Hujan semakin mengeluarkan kekuatannya, aku semakin memeluk diriku dan menyeruput teh hangat dengan tenang. Melihat jendela kembali membuat film yang berada di otak dipercepat hingga sampai di suatu slide

“walaupun kamu bukan yang pertama, tapi aku harap kamu menjadi yang terakhir untukku, hingga nanti”

Aku tersenyum. “hingga nanti..”
Hingga nanti, saat megaku dan megamu benar-benar menyatu.

   Mengharap khayalan itu terjadi bagaikan mencoba merengkuh gunung, mustahil untuk kuraih. Aku adalah kamu, kamu adalah kamu, hanya aku yang masih dijalan ini, sedangkan kamu telah pergi jauh sebelumnya.
   Kamu bukanlah aku, tapi aku adalah kamu.
Memang benci rasanya menahan rindu yang hanya sepihak. Bukankah setahuku, rindu diciptakan untuk dua orang? Tapi aku, aku berpikir bahwa rindu untukmu hanya aku yang merasa, sedangkan rindumu padaku mustahil untuk kudapat. Sejak kapan aku terlalu bodoh untuk menunggu secara sendiri. Ini tak adil!
Hujan mulai mereda, ia kembali tenang dengan menjatuhkan rintikan air secara lembut. Disini aku masih dibalut selimut, dengan secangkir teh yang sedikit.
Aku mencoba menghapus semua, tapi yang ku dapat, hanyalah slide yang berisi memori yang membuat hening diriku sendiri

“mungkin memang Tuhan tak mentakdirkan kita bersama untuk sekarang, tapi jika Tuhan mentakdirkan kita berdua, kita pasti akan bersama lagi”

   Senyumku memudar, berganti tetesan air mata, lagi..
Lantas, untuk apa kamu berjanji untuk menjadikanku paling terakhir? Apa salahku sehingga kamu jatuhkan? Benci sekali mengetahui bahwa aku masih mencinta dan kau tidak. Cukup!
   Hujan kembali mengeluarkan amarahnya. Dewa Zeus mengeluarkan petirnya dari angkasa. Diluar langit kembali kelabu, langit berduka.
Aku memeluk erat tubuhku. Disini dingin, sama seperti saat itu. Bedanya, tidak ada kamu atau sms darimu. Aku adalah orang asing di hidupmu.

Seberapapun aku menunggumu, sebanyak apapun aku menuliskan kata untukmu, kamu tak akan mengerti tentangku lagi. Bahkan film yang diputar di otakku, berisi semua tentang kejadian kita berdua. Sampai kapan kamu mau menyiksaku dengan wajah dan senyummu? Cukup lelah bila setiap hari aku harus memaksa otakku agar tidak kembali ke masa lalu. Ada apa denganmu? Sampai-sampai kamu tidak membiarkanku untuk lepas dari kenangan?!
   Hujan memang sepenuhnya reda, setidaknya untuk waktu sekarang. Aku melepaskan pelukan untuk diriku, mencoba menahan dingin yang masih menjalar di sekitar kamarku.
Aku mengusap mata yang penuh air, dan berusaha bangkit dari sana. Begitu juga dengan hatiku, hati yang selama ini dipenuhi oleh kecintaan pada dirimu. Aku harus meninggalkanmu, meski enggan rasanya
   Selimut tadi kulipat rapi, otakku juga telah siap mengemasi peninggalan masa lalu yang masih ada di dalamnya. Secangkir teh hangat itu telah habis, perasaanku padamu juga berusaha untuk menghilang.

Aku mengulas senyum, meneguhkan hati
“terima kasih, Reno”
Saat ini, berhentilah menunggu seseorang yang nyatanya dia tak akan bisa kamu miliki
Untuk apa kau lama menunggu, jika hasil yang kau dapat hanyalah sia-sia?

Untukmu, Reno. Jika aku masih denganmu, aku takkan tahu rencana Tuhan. Aku berpisah denganmu, bukti bahwa Tuhan akan memberikan rencanaNya yang sempurna.