Ada kalanya aku diajak kembali ke
masa lalu oleh memori yang ada di otakku, diundang kembali untuk menari berasma
kejadian masa lalu yang mengingatkanku pada bayang itu, bayang dirimu.
Entah kenapa sampai saat ini aku mempertahankan
luka dan sakit yang ada di hatiku, karenamu. Padahal, hidupku yang terisi
olehmu sudah lama sekali hinggap di kenyataanku, dan mungkin tak akan menjadi hal
indah untuk kedua kalinya. Sehingga aku masih betah untuk berpetualang dalam
labirin kerinduan yang aku sendiri tak tau dimana letak garis akhirnya.
Kenanganku tak terjamah oleh
siapapun, setidaknya kenangan itu masih tersimpan rapi dalam berjuta lemari
yang ada di otakku. Mereka selalu kutempatkan pada lemari spesial, lemari yang
penuh dengan memori dan kejadian yang menyangkut kita berdua. Kenangan yang
sudah lama sekali, bahkan aku tak yakin jika kamu masih menyimpan memori itu
dengan rapih, seperti yang kulakukan.
Siang itu, hujan dengan lembutnya
membasahi bumi, tanpa permisi. Makin lama makin deras, seakan marah karena aku
kembali merindukan masa-masa itu. Diatas sana Dewa Zeus mengirimkan beberapa
petir disela hujan yang semakin menghujam tanah, yang sama sekali tak
mengusikku untuk tetap merindu dan memikirkanmu. Salahkah? bila aku terus
menerus memikirkan kamu? oh! memangnya aku siapa? aku hanya perempuan yang
merindukan kejadian dimana dia bisa tertawa lepas karena kehadiran seseorang. Pentingkah
diriku menjadi bagian dari realitamu? Pentingkah peranku dalam aktifitas di
hidupmu?
Masih saja aku merindukan masa lalu,
lebih tepatnya masa disaat kau berada disisiku. Mungkin harus kuperjelas, aku
merindukan dirimu, yang sekarang tengah dengan orang lain dan sama sekali tidak
memikirkan apalagi merindukanku. Salahkah? bila aku masih disini dan tetap
menari bersama kejadian masa lalu? memangnya di hidupmu aku masih dianggap?
bahkan kau begitu mudahnya meninggalkan dan menghapus namaku dalam hidupmu.
Hah.. Aku kembali akrab dengan sepi,
bersantai ria ditemani air mata yang perlahan jatuh, entah dengan sebab apa.
Tapi aku menikmatinya, sangat.
Kenangan ini,
adalah saksi bisu atas kerinduanku terhadapmu, aku kembali menari melintasi
memori masa lalu, mengabaikan hujan yang turun semakin deras disertai kemarahan
Dewa Zeus. Disini, aku terdiam, sendiri.
Dan untukmu,
kuharap.. Kamu secepatnya melepaskanku dari jeratan kisah masa lalu,
yang membuatku selalu merindukanmu. Karena.. Kau tak akan mencintaiku lagi kan?
jadi.. agar aku dapat melupakanmu dan tak berharap untuk menjadi bagian dirimu
lagi, dengan segala hormat, kumohon lepaskan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar