ekhem... kembali lagi dengan gue si imajiner amatiran yang punya beribu-ribu khayalan tentang cerita fiktif yang ujung-ujungnya ngegantung-__-
ett tapi selaaw~ gue posting cerbung gue yang baru,pastinya gak kaya the choose. semoga kalian suka :D happy reading guys ^^
----------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih membiarkan otakku membuka cabangnya, membiarkan memori masa lalu keluar. Hingga suara itu membuat otakku reflex menutup semua kenangan.
ett tapi selaaw~ gue posting cerbung gue yang baru,pastinya gak kaya the choose. semoga kalian suka :D happy reading guys ^^
----------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih membiarkan otakku membuka cabangnya, membiarkan memori masa lalu keluar. Hingga suara itu membuat otakku reflex menutup semua kenangan.
“Rene! Lo hari gini masih bengong?! Mau sampe kapan hah?!”
ucap Keina dengan nada ditinggikan, tak henti menegurku engan kalimat yang sama
setiap hari
“semua ada proses Kei, ada waktunya” jawabku singkat
“tapi ini udah hampir setahun Ren! Gue gak mau liat temen
baik gue bengong tijel hanya karena mikirin hal yang itu-itu aja!” ucap Keina,
nadanya boleh dikatakan naik satu oktaf.
“gue gak seperti dia yang cepat melupakan dan cepat punya
yang baru, gue masih..”
“apa?” tanya Keina. Ucapanku mengawang. Tenggorokanku
tercekat. Kalimat itu seakan-akan stuck di kerongkongan dan tak ingin
membebaskan diri
“gue…” ah, kalimat itu kembali mengudara. “gue masih belum
bisa melupakan” ucapku sekenanya. Bersiap menerima asupan amarah baru dari
Keina
“hah?! Lo masih gak bisa melupakan? Lo cewek bodoh kalo gak
bisa melupakan! Jangan bilang lo masih menunggu” kalimat Keina kembali menjadi
santapan sehari-hari
“kenyataannya…” aku terdiam “gue menunggu Kei. Entahlah, gue
rasanya masih pengen nunggu ampe beberapa waktu kedepan” jawabku. Keina
mendengus
“bodoh! Dia gak pernah menunggu lo! Dia cukup senang dengan
hidupnya sekarang dengan pacar dia yang baru!”
aku menatap sepatuku, mencoba membela diri
“apa lo gak pernah merasakan kehilangan, Kei? Kehilangan
seorang cowok yang lo sayang? Apa lo gak pernah merasa sakit?” tanyaku tajam,
tapi bukan Keina jika dia tidak bisa mengkritikku balik
“seenggaknya kegalauan gue gak sampe lama kayak lo. Udahlah!
Ngapain lo nunggu? Lo tau kan dia gak bakal mencari lo lagi, Ren. Mengingatpun
nggak akan!” jelas Keina, aku menatap kosong keluar jendela. Hampa.
“Kei, gue cukup nyaman dengan penantian gue ini, gue senang.
Melihat senyumnya via dunia mayapun, meski itu bukan untuk gue dan bukan karena
gue, gue cukup senang” balasku panjang lebar. Mungkin Keina kewalahan
menghadari gadis keras kepala sepertiku.
“penantian lo ini… gak berujung, Ren?” tanya Keina, pelan,
dan menusuk. “jika lo terus menanti, lo gak akan tau kalo diluar sana ada cinta
baru yang menunggu lo” ucap Keina mulai melembut
“saat penantian berubah jadi kejenuhan, mungkin saat itu gue
akan berhenti Kei. Menata hal yang baru” ucapku bersama senyum asimetris. Keina
mendekapku, hangat
“jadi… suatu saat, Neo akan pergi, kan?” tanyaku pada Keina,
ah nama itu lagi yang teringat
“gue yakin, suatu saat nanti dia bakal pergi, menghilang
dari hidup lo. Kalo perlu dia nyemplung ke palung Mariana di Samudra Pasifik
sana! Ihihihi” ucap Keina berapi-api, disertai tawa. Aku tersenyum simpul.
Percakapan
hari ini kembali menyangkut tentang orang itu, Neo. Cowok tinggi berkulit
kecoklatan itu tak henti-hentinya menyemburkan mega, mentransfer setiap detail
ekspresinya untuk dipaksa masuk ke otakku. Kata Keina, aku sudah memikirkannya hampir
satu tahun. Ah, bahkan aku lupa sejak kapan otakku mulai memutar secara
berulang kali memori tentang Neo.
Sekarang, Neo memiliki orang special yang baru, pastinya
bukan aku. Kekasihnya sekarang adalah teman lamaku, dulu dia adalah mantan Neo,
semacam CLBK klasik bagiku, dimana mantan saling bertemu dan saling suka, lagi.
Neo berpacaran dengan orang itu 2 hari setelah mengucapkan kalimat perpisahan
padaku, yang aku yakini proses CLBK klasik sudah berjalan dibelakangku lama
sekali.
Dia manis, lebih dariku. Dia cantik, lebih dariku. Mungin
memang itu yang membuat Neo lebih tertarik, karena aku yaaaa…tidak lebih dari
gadis biasa yang senang menulis dan menggambar.
--oo—
Hari
itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh
bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan
tugas yang setumpuk dari dosennya. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke
sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan
mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Aku menghempaskan diri ke kursi yang tak pernah lapuk, kursi
taman. Disini teduh, lelahku lumayan menghilang. Tapi.. otakku masih saja
tentangnya. Sudah genap satu setengah tahun orang itu tetap berkeliaran di
benakku, masih terpajang jelas, tanpa cacat dan samar.
“Ren” ucap seorang cowok yang membuatku tersentak.
“oh, Aldo,” ucapku “tumben Do nyamperin hari gini, biasanya
lu sibuk” lanjutku asal
“iya, gue mau ketemu lu ama Keina aja” balasnya “eh iya
Keina mana?” tanya Aldo
“dia ada tugas banyak tuh. Cieee cariin Kei, suka yah?
Hihihi” tawaku jahil, Aldo menatap sinis. Tanpa kusuruh dia duduk dengan kasar.
Membuatku sedikit tersentak.
Aku tertawa melihat tingkahnya, cowok itu merubah raut muka
dan memperhatikan buku sketsaku.
“lo… punya berapa banyak stok wajah Ikan butek itu?”
tanyanya padaku
“dia Neo, bukan ikan butek tau!” aku memberikan pembelaan
“kita… baru kenal setahun yah? Trus lo udah berapa lama gak
bisa lupain dia?” tanya Aldo, terlalu kepo
“satu setengah tahun” jawabku singkat
“HAH?GILAK!” teriak Aldo dengan reaksi terkejut, aku hanya
diam
“lo masih nyimpen kenangan tentang dia?! Trus fungsi gue dan
Keina yang ada di hari-hari lo ini apa?!” tanya Aldo bertubi-tubi
“lo temen gue Aldo, Kei juga. Kalian…” Aldo memotong
kalimatku, “padahal, gue dan Kei berusaha buat lo ngelupain si ikan butek itu.
Tapi kenyataannya, bahkan lo masih ngebela dia gara-gara tadi gue sebut ikan
butek” ucap Aldo panjang lebar. Aku biarkan dia mengoceh tentang seseorang yang
dia sebut ‘ikan butek’
“gue tau,” ucap Aldo lagi “lo masih sayang sama dia pake
banget” lanjutnya. Aku terdiam
Aku dan Aldo berada diantara hening, kami berdua sama-sama
membisu.
“oke Ren!” teriakannya buatku kaget, lalu dia berdiri “gue
harus bisa ngebuat lu jadi cewek yang gak galauan! Inget Ren! Jangan terlalu
pake perasaan lo buat ngadepin seseorang, kali-kali lo harus pake logika,
okeh?!” ucapnya sambil mengacungkan jempol padaku, aku tersenyum.
Aldo, memang teman yang tak kenal sedih, dia teman yang baik,
bagiku dan Keina.
--oo—