Kini, sayap yang kumiliki telah patah.
Terurai menjadi debu, tertiup angin dalam
semu.
Aku menjadi seorang yang dibalut pecahan
kaca.
Terkurung dalam denting simfoni malam,
dengan langit berwajah suram.
Kini, sayap yang kumiliki telah tiada.
Dibunuh dan ditelan oleh kekejaman ego.
Aku menjadi sebuah patung kusam dalam senja.
Disihir oleh masa lalu, tak berkutik walau
ditusuk melulu.
Sepasang sayap
yang jelas – jelas telah kumiliki hampir seutuhnya, perlahan rapuh dan tak tahu
bagaimana harus kurawat. Menjatuhkan satu per satu bulu halus yang selalu
kujaga kenanggunannya. Bagaimana tidak? Sayap yang selama ini selalu kuhargai
keberadaannya, selalu kucintai tiap ceritanya, perlahan menjadi rusak tak
beraturan. Membuat aku, pun langit serta pasangan dewa dewi yang melindunginya
bertanya dengan perasaan keingintahuan yang menggebu-gebu. Menderetkan beberapa
untaian kata yang siap dikeluarkan.
Aku perlahan
jatuh menjadi lumpuh. Seperti gedung pencakar langit Jakarta yang kehilangan
pilar kokohnya. Dengan reruntuhan yang menghantam riuh jalanan ibukota. Aku tak
lagi menjadi bidadari dengan senyum yang menyebar membelah angkasa, aku hanya
perempuan yang tak dapat mengepakkan sayap, menjadi hampa diantara makhluk
hidup yang berkeliaran mencari kesenangan dalam kebengisan dunia.
Sayapku
menjadi fatamorgana di atas gersangnya hidup yang sekarang. Aku pun tak tahu,
mengapa sayap itu sangat penting bagi hidupku untuk saat ini dan seterusnya.
Padahal, sayap itu dulu tak pernah kupandang, selalu menjadi bagian dari sudut di
ruangan yang jarang ku jamah. Entahlah, sepasang sayap itu kini menjadi sangat
berarti.
Aku berusaha
mencari sayap persis seperti sepasang sayap yang kumiliki. Namun, setiap sayap
itu seperti tak mempunyai nyawa. Hingga sepasang sayap membius membekukan
pengelihatanku, terlihat sempurna untuk kumiliki, namun terlalu kaku untuk
mengepakkan sayap, sedangkan aku tak dapat memiliki sayap yang tak bisa
menuntunku untuk terbang. Dan saat aku memutuskan untuk memilih sepasang sayap
lain yang lebih menarik, sayap itu terlalu banyak dihinggapi bidadari yang
lebih sempurna dibandingkanku. Lagipula, meskipun sayap itu terlihat indah
memanjakan mata, namun mempunyai duri menusuk yang terselubung di beberapa bulu
lembutnya
Pada akhirnya,
aku berusaha merangkai satu persatu potongan sayap yang telah hancur.
Memaksakan diri untuk terus membuat sepasang sayap milikku menjadi utuh
layaknya sedia kala. Sayapku tak pernah serapuh ini sebelumnya. Dan aku tak
tahu pasti alasan yang mendasari hancurnya sayapku. Yang kutahu, saat aku
hampir memiliki sepasang sayap itu, sayapku membuat dirinya mati. Membiarkan
rayap dari keserakahan ego memakan dirinya sendiri.
Bagaimanapun,
aku tak dapat membuat sayapku menjadi sesuatu yang baru. Semua yang telah
hancur, meskipun dapat kuperbaiki, takkan bisa seperti dulu. Sayapku hanya akan
menjadi rongsokan diantara rongsokan, seperti sampah yang berjalan beririgan
melewati sungai, yang membentang ditiap sudut kota di negeri yang tak tersentuh
keadilan.
Sayapku kini
pergi, tak lagi menjadi sesuatu yang kugenggam walau sebentar. Sayapku telah
menjadi bagian dari apa yang biasa kusebut dengan untaian masa lalu. Sedangkan
aku melebur menjadi lumpur, tak lagi menjadi bidadari yang tersenyum dari
langit khayangan. Aku tak lagi mengemas beberapa keceriaan yang biasa hadir
dalam atmosfer kebahagiaanku. Aku hanya menjadi apa yang orang sebut kenangan,
hanya bisa mendamba dan bermimpi, merangkai kata selayaknya pujangga,
mengorbankan diri termakan oleh dimensi waktu. Berharap akan kembali untuk
dapat memeluk hangat sayapku di waktu dulu.
Dan saat
sayapku mati. Perlahan aku akan mati. Menjadi mantan bidadari yang mungkin
dikenal oleh masa. Meski aku takkan dapat menggapai sayapku kembali, sayapku
adalah satu – satunya hal yang dapat kupeluk dengan abadi, meski hanya di
mimpi.