Senin, 27 Mei 2013

Untitled.


Untuk seseorang yang selalu kuharap untuk kembali hadir tepat disisi.

Hari ini, mungkin akan menjadi hari yang amat baik untuk kamu, tapi aku tak tahu apakah hari ini adalah hari yang memihak padaku atau tidak.

Sebelumnya, selamat ya untuk kamu yang hari ini merayakan ulang tahun. Happy birthday.

Tahun ini, aku hanya dapat mengucapkan kalimat itu ke dalam bentuk karangan biasa. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini aku tak dapat bertatap muka ataupun sekedar menyapa kamu baik langsung atau melalui dunia maya.
Tahun lalu, aku dapat leluasa bertemu dan berbincang denganmu. Di hari ulang tahunmu ini, waktu itu, kita bercanda di depan koridor, duduk santai di bangku dan pohon belimbing di sampingnya, bercerita tentang kejadian saat aku tidak masuk selama seminggu, bercerita mengenai kejadian yang kita lewati bersama yang begitu banyak. Awalnya, aku berniat memberikan kamu bola basket sebagai kado untuk ulang tahunmu waktu itu, tapi kamu berkata “udah, gak usah kasih aku kado, repotin banget sih” dengan nada khas milikmu.

Sekarang. Tak begitu banyak yang berubah. Aku tetap ingat ulang tahunmu, namun aku tak tahu apakah kamu mengingat ulang tahunku atau tidak. Kamu masih tetap menjadi sesuatu yang bersinar dalam kenangan yang kusimpan rapi di pikiranku, namun aku tak tahu, apakah aku menjadi bintangmu, ataukah hanya sebuah debu di ujung pikiran yang kau miliki.

Dan yang berubah saat ini, aku tidak lagi ada di sampingmu, pun denganmu.

Selamat untuk hari ini. Semoga kamu selalu sehat, tidak mudah sakit, sukses, dan bisa mencintai seorang yang tepat untuk hidupmu kedepan.

Happy birthday :)

Minggu, 26 Mei 2013

sesuatu yang tak kamu tahu tentang hatiku - 2




    Aku terus menerus melewati sakit yang tertancap erat disini. Menunggu wanitaku dengan harapan bahwa ia juga masih mencintaiku diujung belahan bumi disana. Menunggu dengan atmosfer yang selalu memutar wajahnya tiap kali aku melewati hari. Mengingat tiap detail raut wajahnya yang diukir indah oleh Tuhan. Mengingat awal saat aku menatapnya dengan muka memerah. Mengingat semuanya dengan perih, dengan luka.

    Dia takkan tahu apa yang selalu ada di pikiranku selama dua tahun terakhir ini

    “hai Evan.” Ucap wanitaku disuatu hari dengan langit yang sedikit kelabu. Itu adalah pertemuan pertama semenjak ia memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikannya. Semua masih sama, hanya saja bidadariku mempunyai rambut sebahu berwarna cokelat.
    Aku menatapnya sebentar, lalu tersenyum, “sekarang sudah dua tahun, dan kita hanya perlu satu tahun lagi untuk kembali bersama” kataku dengan raut wajah berbinar. Namun yang ku lihat, wanitaku meniadakan senyumnya, membiarkanku dengan pertanyaan yang memenuhi otak.

    “kamu jangan nunggu lagi Van. Usahamu akan sia – sia jika kamu terus menanti aku untuk kembali ke kamu. kita mungkin takkan seperti dulu untuk selamanya” ucapnya dengan menundukkan kepala. “aku mempunyai seseorang yang baru. Dan kamu mungkin tahu, orang itu bukanlah kamu”. Aku menatapnya tak percaya, merasa bahwa ini hanyalah kebohongan yang selalu ia lakukan. “aku telah dimiliki seseorang yang lain Van, dan kamu harus percaya kenyataan itu” lanjutnya.

    Aku tertegun, “bukankah kamu bilang bahwa kita harus saling percaya?”

   Wanita itu diam, tak dapat mengucap apapun selain kata ‘aku’ dan ‘aku’. Selama itu, aku masih menunggu wanitaku. Disaat aku mengerti bahwa hanya aku yang masih bertahan di jalur kesetiaan ini. Disaat aku tahu bahwa hanya aku yang mencintai, sedangkan dia mencintai yang lain. “jadi, kenapa waktu itu kamu bilang kita harus percaya, sehingga aku merasa bahwa aku harus menunggumu?”.

    Tapi, wanita itu kembali diam.

    Hening merajai kami. Hingga akhirnya kuputuskan untuk berdiri. “aku pergi”
Berat mengetahui bahwa sebagian hatiku telah pergi ke muara lain. Tak menyadari bahwa hanya aku tempat berteduhnya untuk sepanjang hidupnya. Jika ini adalah mimpi, kuharap aku dapat terbangun dengan keadaan normal. Atau, aku berharap terkena amnesia sehingga tak dapat merasakan bagaimana sakitnya kehilangan bidadariku.

“Evan!” teriak wanita yang sekarang tak lagi berada di muaraku. “aku menyayangimu” ucapnya dengan air mata yang membendung di sudut matanya. Kebohongannya selalu manis di telingaku, yang kuyakini tak mungkin untuk aku percayai lagi. aku meninggalkannya, saat matahari menjadi raja tunggal dihari itu. Sama seperti yang ia lakukan dua tahun lalu.
.    .    .    .

    Senja berlalu dengan tenang. Saat ini waktunya bulan menjadi ratu dengan nyanyian merdu, dengan bintang yang menjadi latar suara dari keheningan malam yang menguasai atmosfer saat ini.
Tepat setahun, mestinya saat ini aku bersama dengan wanita yang (seharusnya) menjadi milikku. Namun saat ini, aku masih berada ditempat dimana bidadari itu meninggalkanku terbang. Disini, aku menjaga hatiku yang mungkin dapat membawanya kembali. Meski sekarang hati ini dipenuhi tusukan karenanya.

    Tapi bagaimanapun, ia tak akan mengetahui tentang cintaku.

(untuk kamu, yang teguh menjaga hati ditengah hamparan sakit yang menyayat. Bertahan dengan hati yang berselimut luka. Memakan tiap menit keputus-asaan dari penantian dengan perasaan tulusmu. Untuk kamu yang mencintanya  atas nama kasih sayang. Untuk kamu, Mr.P)

Sabtu, 18 Mei 2013

sesuatu yang tak kamu tahu tentang hatiku - 1


“jadi, kita berpisah dulu?” ucapku pelan. Aku menatap wanita yang tepat  berada di depan mataku. Wanita yang tiap detik selalu kuingat wajahnya. Wanita yang mengatakan kalimat itu saat siang menjadi penguasa hari.
“Iya Van. Aku ingin fokus dengan pelajaran. Aku mau kita sendiri dulu” balasnya menatapku, seakan kita takkan pernah bertemu lagi untuk beberapa waktu kedepan. Entahlah, aku juga tak dapat mengatakan apapun di depan bidadari yang selama ini selalu kusyukuri kehadirannya. Berharap agar wanitaku berubah pikiran dan menarik kembali semua kalimat yang telah ia keluarkan. Mengapa saat aku mencintainya, bidadari itu malah terbang menuju ke arah lain?
“aku mencintaimu, aku bersumpah demi semua hari yang menjadi sejarah kisah kita. Meskipun aku yang lebih dulu mengucap perpisahan, tapi kamu selalu menjadi yang utama di hatiku. Kamu tetap disini” ungkap wanita yang memiliki rambut bergelombang sembari menunjuk tepat di hatinya, “3 tahun akan terasa sebentar jika aku dan kamu menunggu dengan tulus dan tidak merasa terbebani oleh apapun. Kita berdua harus sama – sama percaya Van”.

Aku menatap objek lain yang mungkin dapat membuat ke-fokusanku terpecah untuk sesaat, tapi semuanya terasa sama di mata.

Menatap wanitaku memang nyaman terasa, walau sebenarnya akan berujung luka.

“aku mau nunggu kamu. sampai kamu sadar kalau hanya aku tempat terakhir kamu untuk selamanya” kataku mantap. Wanita itu tersentak, lalu tersenyum, “Aku gak akan kemana – mana”. Dia menggenggam tanganku, mencoba untuk membuat aku percaya dengan semua ucapan yang wanita itu jatuhkan tepat di ulu hatiku, “aku mencintaimu” lanjutnya tanpa beban, kebohongan kesekian darinya yang sialnya tetap kupercaya.
Aku meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat jua. Merasa harus memeluk wanitaku dan berkata bahwa aku lebih mencintainya. Namun, aku hanya berkata hal yang sama layaknya ucapan yang ia lontarkan sebelumnya.
“aku tahu, aku juga mencintaimu” balasku singkat.

Wanitaku balas tersenyum, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. “aku pergi dulu ya Van” ujar wanita itu dengan posisi berdiri, kemudian ia melepaskan genggamannya dari tanganku. Menatapku dengan senyuman seperti bidadari yang hendak menebarkan kasih cintanya.

Kami berpisah, tepatnya bidadariku yang lebih dulu terbang menjauh. Bukan aku, bahkan aku masih tetap di tempat ini dan berharap untuk dapat mendekapnya meski hanya sebentar.

Dia takkan tahu, bagaimana hatiku yang hanya dapat terbuka karenanya, berusaha menunggu selama 3 tahun tanpa kepastian, bertahan dengan diselimuti abu – abu di tiap senja dan terik matahari. Menunggunya terasa sakit, namun hanya ialah masa depanku.

Jumat, 17 Mei 2013

Sepasang Sayap


Kini, sayap yang kumiliki telah patah.
Terurai menjadi debu, tertiup angin dalam semu.
Aku menjadi seorang yang dibalut pecahan kaca.
Terkurung dalam denting simfoni malam, dengan langit berwajah suram.

Kini, sayap yang kumiliki telah tiada.
Dibunuh dan ditelan oleh kekejaman ego.
Aku menjadi sebuah patung kusam dalam senja.
Disihir oleh masa lalu, tak berkutik walau ditusuk melulu.

    Sepasang sayap yang jelas – jelas telah kumiliki hampir seutuhnya, perlahan rapuh dan tak tahu bagaimana harus kurawat. Menjatuhkan satu per satu bulu halus yang selalu kujaga kenanggunannya. Bagaimana tidak? Sayap yang selama ini selalu kuhargai keberadaannya, selalu kucintai tiap ceritanya, perlahan menjadi rusak tak beraturan. Membuat aku, pun langit serta pasangan dewa dewi yang melindunginya bertanya dengan perasaan keingintahuan yang menggebu-gebu. Menderetkan beberapa untaian kata yang siap dikeluarkan.

    Aku perlahan jatuh menjadi lumpuh. Seperti gedung pencakar langit Jakarta yang kehilangan pilar kokohnya. Dengan reruntuhan yang menghantam riuh jalanan ibukota. Aku tak lagi menjadi bidadari dengan senyum yang menyebar membelah angkasa, aku hanya perempuan yang tak dapat mengepakkan sayap, menjadi hampa diantara makhluk hidup yang berkeliaran mencari kesenangan dalam kebengisan dunia.
    Sayapku menjadi fatamorgana di atas gersangnya hidup yang sekarang. Aku pun tak tahu, mengapa sayap itu sangat penting bagi hidupku untuk saat ini dan seterusnya. Padahal, sayap itu dulu tak pernah kupandang, selalu menjadi bagian dari sudut di ruangan yang jarang ku jamah. Entahlah, sepasang sayap itu kini menjadi sangat berarti.

    Aku berusaha mencari sayap persis seperti sepasang sayap yang kumiliki. Namun, setiap sayap itu seperti tak mempunyai nyawa. Hingga sepasang sayap membius membekukan pengelihatanku, terlihat sempurna untuk kumiliki, namun terlalu kaku untuk mengepakkan sayap, sedangkan aku tak dapat memiliki sayap yang tak bisa menuntunku untuk terbang. Dan saat aku memutuskan untuk memilih sepasang sayap lain yang lebih menarik, sayap itu terlalu banyak dihinggapi bidadari yang lebih sempurna dibandingkanku. Lagipula, meskipun sayap itu terlihat indah memanjakan mata, namun mempunyai duri menusuk yang terselubung di beberapa bulu lembutnya

    Pada akhirnya, aku berusaha merangkai satu persatu potongan sayap yang telah hancur. Memaksakan diri untuk terus membuat sepasang sayap milikku menjadi utuh layaknya sedia kala. Sayapku tak pernah serapuh ini sebelumnya. Dan aku tak tahu pasti alasan yang mendasari hancurnya sayapku. Yang kutahu, saat aku hampir memiliki sepasang sayap itu, sayapku membuat dirinya mati. Membiarkan rayap dari keserakahan ego memakan dirinya sendiri.
    Bagaimanapun, aku tak dapat membuat sayapku menjadi sesuatu yang baru. Semua yang telah hancur, meskipun dapat kuperbaiki, takkan bisa seperti dulu. Sayapku hanya akan menjadi rongsokan diantara rongsokan, seperti sampah yang berjalan beririgan melewati sungai, yang membentang ditiap sudut kota di negeri yang tak tersentuh keadilan.

    Sayapku kini pergi, tak lagi menjadi sesuatu yang kugenggam walau sebentar. Sayapku telah menjadi bagian dari apa yang biasa kusebut dengan untaian masa lalu. Sedangkan aku melebur menjadi lumpur, tak lagi menjadi bidadari yang tersenyum dari langit khayangan. Aku tak lagi mengemas beberapa keceriaan yang biasa hadir dalam atmosfer kebahagiaanku. Aku hanya menjadi apa yang orang sebut kenangan, hanya bisa mendamba dan bermimpi, merangkai kata selayaknya pujangga, mengorbankan diri termakan oleh dimensi waktu. Berharap akan kembali untuk dapat memeluk hangat sayapku di waktu dulu.
    Dan saat sayapku mati. Perlahan aku akan mati. Menjadi mantan bidadari yang mungkin dikenal oleh masa. Meski aku takkan dapat menggapai sayapku kembali, sayapku adalah satu – satunya hal yang dapat kupeluk dengan abadi, meski hanya di mimpi.