Sabtu, 04 Juli 2015

We are never gettin' back together

Based on Taylor song
Aku akan ceritakan sesuatu.

Mantan kekasihku bernama Matt. Ia hanya laki-laki biasa, tidak setampan Shawn Mendes danTaylor Lautner,  tapi ia cukup terkenal di kampus, terutama kalangan perempuan.
Aku ingat saat kami putus untuk pertama kalinya, pada pertengahan tahun di musim panas, masalah sepele.

Katanya, ia sudah muak dengan ini semua.

Wajar aku terheran-heran. Muak? Memangnya apa yang salah?
Ia berkata bahwa kita tak lagi sama sejak sebulan yang lalu, sehingga yang ia butuhkan hanya ingin sendiri, ia butuh ruang untuk merasa bebas, bleh, bleh, bleh. Dan kupikir, hah? Sebenarnya siapa yang duluan menghilang sebulan ini?
kutegaskan padannya, ‘kita tak akan pernah bisa bersatu kembali!’ kuharap ia menelan hidup-hidup kalimat itu

Lalu, keputusan itu di dapat. Kami berpisah. Cukup bagus, aku benci mendengar ocehannya yang mengatakan kalau aku sudah berubah total, kami tidak lagi sejalan, ini, itu, meh. Kini aku seperti bebas dan.. senang rasanya tidak memikirkannya untuk beberapa waktu.

Dua minggu kemudian, Matt mengunjungi rumahku. Tentu aku kaget tujuh turunan mendapati mantan pacarku sendiri datang, ditengah kedamaianku, dan membawa sepucuk bunga mawar putih yang selalu kusuka. Ia berkata,

“maafkan aku, aku merindukanmu, aku berjanji dalam hidupku untuk berubah, percayalah padaku kali ini, please

Demi kerang ajaib spongebob. Sejak kapan ia mau mengemis seperti ini padaku?

Aku memutar kedua bola mataku, juga memperbaiki sikapku di ambang pintu. Menatapnya dengan tatapan ‘kau serius?’ disertai ejekan. Entahlah, sekarang aku yang muak melihatnya di depanrumahku.
“aku sudah bilang aku membencimu. Dan kita berpisah!”
Matt buru-buru menjawab “aku serius mencintaimu”

Dan aku langsung berkata padanya kita putus. Bye.
Oh Tuhan.

Silahkan saja jika nanti ia mau pergi ke teman-temannya atau semua temanku lalu datang lagi kepadaku untuk mengatakan kalau ia menyayangiku sekarang. Tapi kuyakin,kami memang tidak akan lagi bisa bersatu.

Aku mungkin akan rindu saat Matt menantangku berkelahi, lalu aku akan berteriak bahwa aku yang benar  dan memang Matt yang salah selama ini. Setelah kami berkelahi tanpa menemukan titik terang, Matt akan menghilang untuk menenangkan diri sambil mendengarkan lagu-lagu apalah-itu-yang Matt bilang jauh lebih menyenangkan dibanding pacarnya sendiri

Kupikir,memang benar jika seharusnya kami berpisah, itu yang terbaik. Meskipun ia menginginkanku kembali, bukankah ia yang pertama kali memulai ini semua, Matt tidak sadar apa kalau buku yang sudah dibaca berkali-kali tidak akan mengubah isinya.

Tapi, semua perjuangan dia tidak sampai disitu. Esoknya, pada malam hari, ia menelponku.

Matt berkata “aku masih mencintaimu”
Dan responku langsung terkikik atasnya . bujuk rayu yang bagus

“kau tahu, kupikir ini tak akan berhasil, ini melelahkan. Maksudku.. sungguh” aku mengatakan itu padanya
“kita tidak akan bisa bersatu, seperti dulu”
Lalu aku buru-buru menutup telponnya.

Lagi, aku mengatakan itu seperti sudah ratusan kali padanya. Toh, ia harus menerima apa yang menjadi keputusannya dulu, bukannya kembali dan memohon ataskesalahan yang ia perbuat. Itu konsekuensi yang harus Matt ambil.
Biarlah, memang kita tak akan pernah lagi bisa bersatu.