Based on Taylor song
Aku akan ceritakan sesuatu.
Mantan kekasihku bernama Matt. Ia hanya laki-laki biasa,
tidak setampan Shawn Mendes danTaylor Lautner,
tapi ia cukup terkenal di kampus, terutama kalangan perempuan.
Aku ingat saat kami putus untuk pertama kalinya, pada
pertengahan tahun di musim panas, masalah sepele.
Katanya, ia sudah muak dengan ini semua.
Wajar aku terheran-heran. Muak? Memangnya apa yang salah?
Ia berkata bahwa kita tak lagi sama sejak sebulan yang lalu, sehingga yang ia butuhkan hanya ingin sendiri, ia butuh ruang untuk merasa bebas, bleh, bleh, bleh. Dan kupikir, hah? Sebenarnya siapa yang duluan menghilang sebulan ini?
kutegaskan padannya, ‘kita tak akan pernah bisa bersatu kembali!’ kuharap ia menelan hidup-hidup kalimat itu
Ia berkata bahwa kita tak lagi sama sejak sebulan yang lalu, sehingga yang ia butuhkan hanya ingin sendiri, ia butuh ruang untuk merasa bebas, bleh, bleh, bleh. Dan kupikir, hah? Sebenarnya siapa yang duluan menghilang sebulan ini?
kutegaskan padannya, ‘kita tak akan pernah bisa bersatu kembali!’ kuharap ia menelan hidup-hidup kalimat itu
Lalu, keputusan itu di dapat. Kami berpisah. Cukup bagus, aku
benci mendengar ocehannya yang mengatakan kalau aku sudah berubah total, kami
tidak lagi sejalan, ini, itu, meh. Kini aku seperti bebas dan.. senang rasanya
tidak memikirkannya untuk beberapa waktu.
Dua minggu kemudian, Matt mengunjungi rumahku. Tentu aku
kaget tujuh turunan mendapati mantan pacarku sendiri datang, ditengah
kedamaianku, dan membawa sepucuk bunga mawar putih yang selalu kusuka. Ia berkata,
“maafkan aku, aku merindukanmu, aku berjanji dalam hidupku
untuk berubah, percayalah padaku kali ini, please”
Demi kerang ajaib spongebob. Sejak kapan ia mau mengemis
seperti ini padaku?
Aku memutar kedua bola mataku, juga memperbaiki sikapku di
ambang pintu. Menatapnya dengan tatapan ‘kau serius?’ disertai ejekan. Entahlah,
sekarang aku yang muak melihatnya di depanrumahku.
“aku sudah bilang aku membencimu. Dan kita berpisah!”
Matt buru-buru menjawab “aku serius mencintaimu”
“aku sudah bilang aku membencimu. Dan kita berpisah!”
Matt buru-buru menjawab “aku serius mencintaimu”
Dan aku langsung berkata padanya kita putus. Bye.
Oh Tuhan.
Silahkan saja jika nanti ia mau pergi ke teman-temannya atau
semua temanku lalu datang lagi kepadaku untuk mengatakan kalau ia menyayangiku
sekarang. Tapi kuyakin,kami memang tidak akan lagi bisa bersatu.
Aku mungkin akan rindu saat Matt menantangku berkelahi, lalu
aku akan berteriak bahwa aku yang benar dan
memang Matt yang salah selama ini. Setelah kami berkelahi tanpa menemukan titik
terang, Matt akan menghilang untuk menenangkan diri sambil mendengarkan lagu-lagu
apalah-itu-yang Matt bilang jauh lebih menyenangkan dibanding pacarnya sendiri
Kupikir,memang benar jika seharusnya kami berpisah, itu yang
terbaik. Meskipun ia menginginkanku kembali, bukankah ia yang pertama kali
memulai ini semua, Matt tidak sadar apa kalau buku yang sudah dibaca
berkali-kali tidak akan mengubah isinya.
Tapi, semua perjuangan dia tidak sampai disitu. Esoknya,
pada malam hari, ia menelponku.
Matt berkata “aku masih mencintaimu”
Dan responku langsung terkikik atasnya . bujuk rayu yang
bagus
“kau tahu, kupikir ini tak akan berhasil, ini melelahkan. Maksudku..
sungguh” aku mengatakan itu padanya
“kita tidak akan bisa bersatu, seperti dulu”
Lalu aku buru-buru menutup telponnya.
Lagi, aku mengatakan itu seperti sudah ratusan kali padanya.
Toh, ia harus menerima apa yang menjadi keputusannya dulu, bukannya kembali dan
memohon ataskesalahan yang ia perbuat. Itu konsekuensi yang harus Matt ambil.
Biarlah, memang kita tak akan pernah lagi bisa bersatu.