Rabu, 26 Desember 2012

my life like a DRAMA!

Gue cewek

Ya. Cewek biasa.

Intro buat jurnal tentang gue ya gitu aja. Tentang gue yang jenis kelaminnya cewek dan kehidupan kayak drama.

    Hari ini hari Rabu, menurut arah angin (gak ada nyambungnya-_-) hari ini hari yang lumayan bagus bagi gue si remaja (mudah) labil ini untuk bergalau ria.
    Gak… gue gak galauin pelajaran yang bikin otak gue muter 360 derajat. Gue juga gak galauin makhluk adam yang gak mau keluar dari pikiran gue. Gue galauin idup gue, yang gue pikir hidup gue ini persis kayak drama atau ftv yang sering gue tonton di salah satu stasiun tv.
    Ya kayak tokoh film yang pemeran utamanya itu seorang cewek yang masih remaja. Yang galau gara-gara si dia gak peka, atau si pelaku terlibat cinta segitiga, atau si pelaku bersahabat dengan musuhnya, atau si pelaku lagi ada masalah sama keluarga, atau apalah..

    Gue heran dan kadang suka merenung (lebih tepatnya bengong) di angkot jurusan dadap mikirin alur hidup gue, terutama tentang cinta cintaan, kok rasanya gue udah ngalamin semua yah? Mulai dari pengorbanan, trus gebetan yang gak peka, terlibat cinta segitiga, bingung gara-gara cinta, pacarnya direbut, dicampakin, disakitin, di PHPin, di buat nunggu, oke cukup. Seakan-akan tuh gue nganggepnya produser pembuat film terinspirasi dari pengalaman hidup gue *aiiih apa pula*
    Diluar cinta-cintaan. Gue kadang mikir alur hidup gue tuh monoton banget yah.  Ke sekolah > ngerjain tugas > pulang > makan > mandi > sholat > belajar > tidur > bangun > beresin rumah > main bentaran > ke sekolah…..
Dan aktivitas gue itu-itu aja, experience-nya paling kalo gue lagi dapet nilai bagus atau ada temen cowok gue yang seketika perhatian.
    Dan yang gue bingungin dari hidup gue satu. kenapa gue nganggep kalo diri gue ini adalah pemeran utama dari sebuah pagelaran drama kolosal besar yang menceritakan tentang hidup seorang cewek yang lagi bingung sama dirinya sendiri. Lo aja yang baca bingung apalagi gue yang ngalamin..-__-

    Gue cewek biasa. Sama kayak yang lain. Bedanya, gue menganggap semua palsu, gue menganggap gue lagi main di drama yang gak tau tamatnya kapan, gue nganggep apa yang gue liat itu semua cerita yang biasa muncul di layar tv. Bahkan kadang gue nganggep gue ini sebenernya gak ada, gue cuman cewek imajinas, jadi gue nganggepnya tuh gue ada 2! Yang satu keliatan orang yang satu lagi ada di dalam diri gue, yang satu antagonis yang satunya protagonist. Oke ini mulai gila!!!
    Well… gue juga ngerasa gue-lah penonton drama hidup gue. Gue yang ngalamin gue juga yang ketawa atau nangis inget kejadian dulu. Aduh ini drama gue makin rumiiitt!! *ini udah mulai stres sendiri
   Life like a drama, with my script, life like I am the actress. Gue hidup ikutin script yang udah dikasih Allah, dengan gue yang mengatur gimana caranya gue jalanin drama ini. Intinya, gue hidup bingung gini gara-gara gue masih dalam tahap ‘mencari’. Ya. Gue masih ‘mencari’ apa yang harusnya bisa ‘melengkapi’ hidup gue, ngebuat hidup gue totally full sampe ending! Makanya gue masih suka ngerenungin hidup di angkot.
Mungkin itu alasan logisnya kenapa gue sering galau gak karuan gara-gara mikirin hidup kayak drama. Jadi untuk episode sekarang, gue sebagai pemeran utama harus bersikap dewasa dalam memecahkan masalah, gaboleh teledor, lebih focus buat nyari jati diri-nya.

    Sekarang hari senin, sang produser yang ada di hati gue bilang gue harus ngadepin apa yang ada di depan gue, gaboleh nengok belakang kecuali dijadiin pelajaran. Produser bilang imajinasi gue harus dikurangin.
Sekarang hari senin, menurut BMKG cuaca bakal terang, jadi gue harus lanjutin episode ftv ini!!

    Dan bagi lo yang satu jalan sama gue gara-gara bingung tentang hidup lo. Gue punya satu pesen..
Hadapi apa yang ada di depan lo. Meskipun itu susah sekalipun, karena setiap masalah punya penyelesaian. Jadilah pemeran utama yang punya imajinasi segudang. Dan gak ada yang gak mungkin jika Allah mengijinkan.

Salam unyu-unyu

Senin, 24 Desember 2012

Hujan dan Kenangan (2)


merindukanmu, bolehkah?

    Ada kalanya aku diajak kembali ke masa lalu oleh memori yang ada di otakku, diundang kembali untuk menari berasma kejadian masa lalu yang mengingatkanku pada bayang itu, bayang dirimu.
    Entah kenapa sampai saat ini aku mempertahankan luka dan sakit yang ada di hatiku, karenamu. Padahal, hidupku yang terisi olehmu sudah lama sekali hinggap di kenyataanku, dan mungkin tak akan menjadi hal indah untuk kedua kalinya. Sehingga aku masih betah untuk berpetualang dalam labirin kerinduan yang aku sendiri tak tau dimana letak garis akhirnya.

    Kenanganku tak terjamah oleh siapapun, setidaknya kenangan itu masih tersimpan rapi dalam berjuta lemari yang ada di otakku. Mereka selalu kutempatkan pada lemari spesial, lemari yang penuh dengan memori dan kejadian yang menyangkut kita berdua. Kenangan yang sudah lama sekali, bahkan aku tak yakin jika kamu masih menyimpan memori itu dengan rapih, seperti yang kulakukan.

     Siang itu, hujan dengan lembutnya membasahi bumi, tanpa permisi. Makin lama makin deras, seakan marah karena aku kembali merindukan masa-masa itu. Diatas sana Dewa Zeus mengirimkan beberapa petir disela hujan yang semakin menghujam tanah, yang sama sekali tak mengusikku untuk tetap merindu dan memikirkanmu. Salahkah? bila aku terus menerus memikirkan kamu? oh! memangnya aku siapa? aku hanya perempuan yang merindukan kejadian dimana dia bisa tertawa lepas karena kehadiran seseorang. Pentingkah diriku menjadi bagian dari realitamu? Pentingkah peranku dalam aktifitas di hidupmu?
      Masih saja aku merindukan masa lalu, lebih tepatnya masa disaat kau berada disisiku. Mungkin harus kuperjelas, aku merindukan dirimu, yang sekarang tengah dengan orang lain dan sama sekali tidak memikirkan apalagi merindukanku. Salahkah? bila aku masih disini dan tetap menari bersama kejadian masa lalu? memangnya di hidupmu aku masih dianggap? bahkan kau begitu mudahnya meninggalkan dan menghapus namaku dalam hidupmu.
      Hah.. Aku kembali akrab dengan sepi, bersantai ria ditemani air mata yang perlahan jatuh, entah dengan sebab apa. Tapi aku menikmatinya, sangat.
Kenangan ini, adalah saksi bisu atas kerinduanku terhadapmu, aku kembali menari melintasi memori masa lalu, mengabaikan hujan yang turun semakin deras disertai kemarahan Dewa Zeus. Disini, aku terdiam, sendiri.

    Dan untukmu, kuharap.. Kamu secepatnya melepaskanku dari jeratan kisah masa lalu, yang membuatku selalu merindukanmu. Karena.. Kau tak akan mencintaiku lagi kan? jadi.. agar aku dapat melupakanmu dan tak berharap untuk menjadi bagian dirimu lagi, dengan segala hormat, kumohon lepaskan aku.

Senin, 10 Desember 2012

Hujan dan Kenangan


Senin, 10 Desember 2012
03:40 pm
    Hujan begitu riamg bernyanyi diluar sana, aku menghangatkan diriku dengan selimut dan secangkir teh hangat, begitu nyaman.
Dari dalam sini, aku melihat rintik hujan yang bertransformasi menjadi embun di kaca jendela. Hujan hari ini sepertinya hujan terderas selama 3 bulan terakhir, setelah sebelumnya hujan badai yang menumbangkan pohon besar dekat rumah. Aku kembali meringkuk di kasur dan memeluk diri dengan selimut.

Hujan sore ini, mengingatkan aku tentang kejadian itu. Kejadian di masa lalu, saat kamu memberikan jaketmu untuk kupakai, sedangkan kau sendiri kedinginan menahan jahatnya angin.

   Aku kembali mengacak-acak otakku tentang masa lalu, membuat beberapa tetes air keluar dari dalam mata. Secara naluriah, aku tak ingin mengundang masa lalu untuk hadir, tapi waktulah yang menyeretku untuk kembali ke jaman itu. Dan secara berkala, slide tentang aku dan kamu saat itu terputar jelas, dan sekarang di otakku sudah berdiri sebuah bioskop yang menampilkan film jadul tentang kita yang dulu. Dan harus ku akui, ini memang terjadi.
Hujan semakin mengeluarkan kekuatannya, aku semakin memeluk diriku dan menyeruput teh hangat dengan tenang. Melihat jendela kembali membuat film yang berada di otak dipercepat hingga sampai di suatu slide

“walaupun kamu bukan yang pertama, tapi aku harap kamu menjadi yang terakhir untukku, hingga nanti”

Aku tersenyum. “hingga nanti..”
Hingga nanti, saat megaku dan megamu benar-benar menyatu.

   Mengharap khayalan itu terjadi bagaikan mencoba merengkuh gunung, mustahil untuk kuraih. Aku adalah kamu, kamu adalah kamu, hanya aku yang masih dijalan ini, sedangkan kamu telah pergi jauh sebelumnya.
   Kamu bukanlah aku, tapi aku adalah kamu.
Memang benci rasanya menahan rindu yang hanya sepihak. Bukankah setahuku, rindu diciptakan untuk dua orang? Tapi aku, aku berpikir bahwa rindu untukmu hanya aku yang merasa, sedangkan rindumu padaku mustahil untuk kudapat. Sejak kapan aku terlalu bodoh untuk menunggu secara sendiri. Ini tak adil!
Hujan mulai mereda, ia kembali tenang dengan menjatuhkan rintikan air secara lembut. Disini aku masih dibalut selimut, dengan secangkir teh yang sedikit.
Aku mencoba menghapus semua, tapi yang ku dapat, hanyalah slide yang berisi memori yang membuat hening diriku sendiri

“mungkin memang Tuhan tak mentakdirkan kita bersama untuk sekarang, tapi jika Tuhan mentakdirkan kita berdua, kita pasti akan bersama lagi”

   Senyumku memudar, berganti tetesan air mata, lagi..
Lantas, untuk apa kamu berjanji untuk menjadikanku paling terakhir? Apa salahku sehingga kamu jatuhkan? Benci sekali mengetahui bahwa aku masih mencinta dan kau tidak. Cukup!
   Hujan kembali mengeluarkan amarahnya. Dewa Zeus mengeluarkan petirnya dari angkasa. Diluar langit kembali kelabu, langit berduka.
Aku memeluk erat tubuhku. Disini dingin, sama seperti saat itu. Bedanya, tidak ada kamu atau sms darimu. Aku adalah orang asing di hidupmu.

Seberapapun aku menunggumu, sebanyak apapun aku menuliskan kata untukmu, kamu tak akan mengerti tentangku lagi. Bahkan film yang diputar di otakku, berisi semua tentang kejadian kita berdua. Sampai kapan kamu mau menyiksaku dengan wajah dan senyummu? Cukup lelah bila setiap hari aku harus memaksa otakku agar tidak kembali ke masa lalu. Ada apa denganmu? Sampai-sampai kamu tidak membiarkanku untuk lepas dari kenangan?!
   Hujan memang sepenuhnya reda, setidaknya untuk waktu sekarang. Aku melepaskan pelukan untuk diriku, mencoba menahan dingin yang masih menjalar di sekitar kamarku.
Aku mengusap mata yang penuh air, dan berusaha bangkit dari sana. Begitu juga dengan hatiku, hati yang selama ini dipenuhi oleh kecintaan pada dirimu. Aku harus meninggalkanmu, meski enggan rasanya
   Selimut tadi kulipat rapi, otakku juga telah siap mengemasi peninggalan masa lalu yang masih ada di dalamnya. Secangkir teh hangat itu telah habis, perasaanku padamu juga berusaha untuk menghilang.

Aku mengulas senyum, meneguhkan hati
“terima kasih, Reno”
Saat ini, berhentilah menunggu seseorang yang nyatanya dia tak akan bisa kamu miliki
Untuk apa kau lama menunggu, jika hasil yang kau dapat hanyalah sia-sia?

Untukmu, Reno. Jika aku masih denganmu, aku takkan tahu rencana Tuhan. Aku berpisah denganmu, bukti bahwa Tuhan akan memberikan rencanaNya yang sempurna.

Rabu, 28 November 2012

IT'S NOVEMBER 28th!!

well malem ini, gue gak mau basa basi! gak mau pake pembukaan "night all'' ato apalah! kita langsung ke inti

sekarang tanggal 28 november. dimana (dulu) ada kejadian FANTASTIS di hidup gue. oke forget it yaaa itu udah setahun laluuuu~
dan di tanggal ini, gue harap gue bisa "trying to search someone new'' yang lebih CETAR MEMBAHANA BADAI~
buat orang yang gak gue anggap (yang pada akhirnya masih betah banget di otak gue) HepiFailetAnip eaaaa <///3 semoga lo (GROAA!) longlast ama dia *ayo senyum dong ca senyuuum!* dan semoga gue menemukan the best person (dan lo bisa pergi dengan damai dari otak dan hidup gue) okey?
harapan gue buat lo ialaaahh:
1. jangan lamalama gentayangan di otak gue
2. gausah cari-cari gue, gue masih di bumi kok (itupun kalo lo peduli nyari gue garagara gue ganti nomer)
3. gue masih inget lo, asal lo inget gue
4. tolong ajarin gue move on semudah lo move on kepacar lo yang sekarang *yang ini musti diingat!*
5. gue gak akan ketemu lo sebelum gue kerja ato bener-bener bisa ngelupain situ

itu harapan gue, semoga aja ya terwujud amiiiinn!!!
for epilogue, gue berharap setelah tanggal ini hari gue masih sangat berwarna, please God kabulin doa hambaaa~
dan buat yang terakhir kalinya.........

HAPPY 28th BUAT KALIAN YANG ULANG TAHUN, ANNIVERSARY, DAPET REJEKI, NAIK JABATAN, ANAKNYA LAHIR, NIKAH, ATO YANG LAINNYAAA <3

best regards,
Rachacha

Rabu, 31 Oktober 2012

Penantianku dan Pengabaianmu (2)

Gnight all! malem ini, gue bakal lanjutin cerita Penantianku dan Pengabaianmu (1) mungkin bisa jadi penghibur lo yang suka baca ato sekedar bete trus gatau musti ngapain. jangka waktunya postingnya emang kelamaan dari part 1 sama part 2, abis gue kalo bete nulis bisa berhari-hari._. (penting gitu yah?)
okeh! check it!

------------------------------------------------------------------------------
     Hari itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan tugas yang setumpuk. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Aku menghempaskan diri ke kursi yang tak pernah lapuk, kursi taman. Disini teduh, lelahku lumayan menghilang. Tapi.. otakku masih saja tentangnya. Sudah genap satu setengah tahun orang itu tetap berkeliaran di benakku, masih terpajang jelas, tanpa cacat dan samar.
“Ren” ucap seorang cowok yang membuatku tersentak.
“oh, Aldo,” ucapku “tumben Do nyamperin hari gini, biasanya lu sibuk” lanjutku asal
“iya, gue mau ketemu lu ama Keina aja” balasnya “eh iya Keina mana?” tanya Aldo
“dia ada tugas banyak tuh. Cieee cariin Kei, suka yah? Hihihi” tawaku jahil, Aldo menatap sinis. Tanpa kusuruh dia duduk dengan kasar. Membuatku sedikit tersentak.
Aku tertawa melihat tingkahnya, cowok itu merubah raut muka dan memperhatikan buku sketsaku.
“lo… punya berapa banyak stok wajah Ikan butek itu?” tanyanya padaku
“dia Neo, bukan ikan butek tau!” aku memberikan pembelaan
“kita… baru kenal setahun yah? Trus lo idah berapa lama gak bisa lupain dia?” tanya Aldo, terlalu kepo
“satu setengah tahun” jawabku singkat
“HAH?GILAK!” teriak Aldo dengan reaksi terkejut, aku hanya diam
“lo masih nyimpen kenangan tentang dia?! Trus fungsi gue dan Keina yang ada di hari-hari lo ini apa?!” tanya Aldo bertubi-tubi
“lo temen gue Aldo, Kei juga. Kalian…” Aldo memotong kalimatku, “padahal, gue dan Kei berusaha buat lo ngelupain si ikan butek itu. Tapi kenyataannya, bahkan lo masih ngebela dia gara-gara tadi gue sebut ikan butek” ucap Aldo panjang lebar. Aku biarkan dia mengoceh tentang seseorang yang dia sebut ‘ikan butek’
“gue tau,” ucap Aldo lagi “lo masih sayang sama dia pake banget” lanjutnya. Aku terdiam
Aku dan Aldo berada diantara hening, kami berdua sama-sama membisu.
“oke Ren!” teriakannya buatku kaget, lalu dia berdiri “gue harus bisa ngebuat lu jadi cewek yang gak galauan! Inget Ren! Jangan terlalu pake perasaan lo buat ngadepin seseorang, kali-kali lo harus pake logika, okeh?!” ucapnya sambil mengacungkan jempol padaku, aku tersenyum.
Aldo, memang teman yang tak kenal
                                                                             --oo--
    Keina memang biasa berkunjung ke rumah saat Minggu. Entah itu mengerjakan tugas atau sekedar bermain denganku dan Jingga, kucing Persia milikku.
Keluargaku mengenal Keina cukup lama, semenjak SMP dia memang menjadi temanku. Keina itu… orang yang mengerti bahwa hidup itu bukan untuk menjalani hal yang merumitkan, tapi hidup itu dijalani untuk hal yang menyenangkan. Dia mengajari banyak hal, termasuk cinta.
    Dan bicara soal cinta, Keina termasuk orang yang pandai memakai topeng. Saat dirinya (lebih tepapnya hatinya) tersakiti, dia tersenyum seakan tak ada apapun. Dia adalah gadis yang tegar.
Obrolan kami berlanjut ke trend baju tahun ini, saat handphoneku berdering menandakan pesan masuk

“Ren, ada sms noh” ucap Rene dengan mulut penuh potato chips
Aku merangkak mengambil handphone yang terletak diatas meja, lalu membacanya.
Siapa pula orang asing sms siang bolong begini?
 
Hai 
Dari: 088891830723
                                                                                      

Jantungku berdegup kencang. Bukan, ini pasti bukan orang itu! Nomor belakang dia kan 530. Aku terus menatap layar, diam.
“siapa sih Ren? Wajah lu ga enakin gitu” tanya Keina, masih mengunyah snack
“hah? Oh bukan, bukan siapa-siapa” elakku. Keina menatap curiga, namun masih asik dengan cemilannya


Siapa ya?
Ke: 088891830723


Klik. Aku mengirim pesan, menunggu balasan. Ah! Bahkan dia membalas kurang dari 3 menit! Siapa sih orang ini?
 

Gue temen lu, masa lupa sih
Dari: 088891830723

                                                                                       
Temen gue banyak, to the point aja sih
Ke: 088891830723 

 
                                                                                                                                
Kok lu jadi ketus gini sih? Lo bukan lo yang dulu
Dari: 088891830723


 
Kulihat Keina asik bermain dengan Jingga. Selama Keina masih asik dengan dunianya, aku merasa tak ada masalah. Aku melanjutkan membalas sms orang itu.


Jaman berubah, gue yg dulu gk sama dengan gue yg skrng. Manusia gk akan sama seumur hidup
Ke: 088891830723


Tapi dulu, setahun lalu lo gak kaya gini kalo smsan ke orang baru
Dari: 088891830723


Lo kira gue bkln sama? Udah deh, elu itu siapa?
Ke: 088891830723


Gue adalah orang yang manggil lo ‘idung pesek’ setelah Wowo
Dari: 088891830723


    Aku berkeringat. Haduuh! Untuk apa sih kembali hadir disini?! Kembali mengusik semua yang hampir tertata rapih?

(continue)

Jumat, 12 Oktober 2012

12 Oktober 2011


Rabu,
Sehabis pulang sekolah, 10.30 pagi

Apa kalian ingat waktu itu? Kita berlima. 2 orang cewek penyuka korea dan 3 orang cowok penganut absolute tentang logika.
Hari itu cerah, sekolah masuk setengah hari karena ada rapat guru. Trus kita kumpul bareng di depan kelas gue, 9c.
Kita ngomong banyak hal, mulai dari ngejek idung gue ampe sentil obrolan tentang politik tahun itu. Sampai salah satu berkata

“main yuk! Kemana gitu kek!” ucap cewek setinggi 175cm yang berkacamata, Fia
“hayo! Dimana nih?” timpal seorang cowok hitam berkacamata, Nio

Kita berpikir, hingga gue teriak “dirumah gue ajaaa!! Ayah ibu kan kerja,jadi dirumah gue sendiri, ada alesan biar ditemenin gitu hehe”
“bener? Yaudah yuk!” ucap Fia
Semua setuju, kecuali cowok kutu buku tanpa kacamata. Afif.
“rumah gue jauh” ucapnya “tapi ya… gapapa deh, jarang-jarang kan” dan Afif terbujuk rayuan gue dan Fia
Apa kalian ingat hal itu?

Kita nunggu angkot kuning lewat, setelah berapa lama menunggu kita naik satu angkot yang memutar lagu…. Entahlah, lagunya nggak begitu terkenal
Kita naik, dengan gue dan Fia serta Afif di belakang, dan dua orang berkacamata lain, Nio dan Opal  disamping supir.
Di perjalanan kita masih aja tertawa, dengan lawakan Nio yang terkadang menyindir namun bikin kita ngakak.
Kita turun di pinggir jalan raya, menyebrang bersama dan akhirnya sampai disebuah rumah bergaya minimalis berwarna krem, tapi terlihat seperti rumah bergaya pendopo, entahlah.
Gue memutar kunci, dan kalian menunggu di teras, tepatnya di ayunan tua berwarna hijau dan merah. Gue membersihkan ruang tamu dan mengambil laptop juga beberapa cemilan, dan menyuruh kalian masuk
“assalamu’alaikum” ucap Opal, si cowok setinggi 180 dan berkacamata
Kalian duduk di sofa, kelelahan. Sedangkan gue dan Nio menyiapkan kabel untuk nge-charge laptop. Kita duduk melingkar, menghadap laptop dan membiarkan sunyi yang menari. Hingga Afif bersin dengan gayanya, kita tertawa.

Mungkin kenangan ini hanya gue yang mengingat.

Opal langsung senderan, Afif siap siaga melepas kaos kaki, dan Fia masih asik dengan tas punggungnya. Sementara itu rumah masih gelap, karena cahaya dari jendela belum ada. Opal ngomong
“ih kok hawanya ga enak ya? Jangan jangan ada hantu lagi hhiiiiiiyyyy”
“hayoloh dek, udah gelap, sumpek, jangan-jangannnnn”

Gue menjerit, ah Opal sama Nio bisa aja nakutin gue sama cewek berkacamata ini. Fia dan gue berpelukan, takut. Tapi kalian bertiga malah ketawa ngeliat reaksi gue dan Fia

Modem gue punya sinyal ndut-ndutan, bentar nyala bentar disconnect.
“punya literan beras gak dek?” ucap Nio. Dek, adalah panggilan gue karena gue lahir paling belakangan
“ngggg…kayak gimana ya ka?” balas gue dengan tampang polos kepada cowok yang 5 bulan lebih tua dari gue
Kalian terhuyung,syuuuungggg~ dan juga meleleh
“lo gatau literan? Yaudah deh ada mangkok dari seng kaga?” ucap Opal
“tar gue cari” balas gue, sedangkan yang lain ngemil permen coklat sambil ngombrol, si Fia dan Afif
Gue mencari bareng Nio, “INI DIAAA!!!!” teriak gue, membuat Nio menutup telinga dan menjitak kepala gue dengan gaya seorang mafia lagi hukum anak buahnya
“gausah teriak peseeek!!”
Kalian semua tertawa. Gue mendengus kesal

Sementara itu, Opal asik mengutak-atik laptop kesayangan gue, Fia main hape dan Afif asik ngemil.
Dan Nio?
Nio dan gue, curhat tentang seorang cowok berwajah oriental cina yang waktu itu gue kagumi, Awan namanya.
Orang yang gue suka dan orang yang menyakiti gue.

“kalo lo mau lupain lo harus lupain juga lambang yang berkaitan sama dia” ucap Nio bijak

“kalo mau move on, apapun tentangnya harus lo lupain” sambungnya
Kami bertukar cerita, tentang Awan. Orang yang berkata ‘suka’ pad ague tapi dia pacaran sama orang lain. Nio, sosok kakak yang bisa gue percaya, selain Fia, Opal dan Afif.

Trus kami berkumpul, Opal, Nio dan Fia lesehan sedangkan gue dan Afif duduk di sofa, masih ngemil permen coklat. Sampai…
“Fi, gue sama Nio punya ide” ucap Fia, “gimana kalo kita bikin account tentang galau-galau gitu?”
Kita diem
“bagus tuh, tapi jangan galau doang, ada lawaknya gitu” ucap Opal
“ama quote lagu!” sambung Afif
“nah kan gue sama Nio seneng ngelawak nih” timal Opal
“dan Ka Bay (sebutan gue untuk Afif) suka punya quote gitu sedangkan gue ama ka Fi (sebutan untuk Fia) suka galau sendiri tuh. Jadi buat aja yuk! Adminnya kita semuaaa!!!” ucap gue panjang lebar

Kami setuju. Opal dan Nio yang pinter tentang dunia cyber ngebuat account itu di salah satu social media. Sementara itu gue, Fia, dan Afif ngombrol tentang acc terbaru kami.
Account kita udah jadi, dengan gambar beberapa emot sedih berwarna biru dan satu emot kuning yang tersenyum. Saat itu kita seneng banget, soalnya meskipun kita gak bisa ketemu nanti, kita bisa komunikasi lewat account itu. Gue merasa…. Kalian temen yang paling oke bagi gue
Apa kalian juga berpikir hal yang sama?
Afif cuman bengong ngeliatin kita yang masing-masing punya account. Kita bercanda dan ngejek Afif gak gaul

“eh Fif, lo buat twitter dong kayak kita!!” ucap Nio
Kita menyoraki Afif, sampe akhirnya Afif setuju kita buatin account twitter dengan username @afifrafif. Afif masih newbie banget jadinya kita yang urusin twitternya untuk beberapa waktu.
Dan akhirnya, kita semua terhubung lewat twitter masing-masing. Kalian masih inget gak waktu itu?

Setelah itu, tepat tengah hari. Perut kita udah minta sesajen. Akhirnya gue sama Nio ke dapur buat masak mie. Sedangkan elo bertiga duduk manis di ruang tamu sambil mainin laptop gue.
Di dapur, kita berdua cerita banyak. Mulai dari alien, film terbaru, sms Awan yang modusnya nauzubillah, sambil nunggu air mendidih. Saat itu gue diajarin gimana caranya masak telor yang baru keluar dari kulkas. Kata ka Bow (sebutan untuk Neo) telor yang baru dari kulkas masih beku kuningnya, jadi direndem dulu ato nggak kocok, biar kuningnya gak terlalu kentel gitu.

Itu nasihat yang paling gue inget, yang masih gue praktekin sampe sekarang..

Trus lo bilang, lo lebih suka mie dengan telor rebus, saat gue udah terlanjur pecahin itu telor. Trus lo juga kasih tau gue gimana caranya pecahin telor dengan satu tangan, kayak ala chef gitu, lo inget gak, ka Bow?
Di dapur kita mainan, kita masak sesuka hati. Lo motong bawang dan gue yang ngerebus mie. Rasa ayam bawang yang paling gue suka. Kita juga buat es jeruk sama es marjan. Dapur sama ruang makan jadi berantakan gara-gara kita. Sampe si Opal nyeletuk
“wisss, lama amat disono, berduaan aja nih eheem”
“idiiih cemburu lo?” ejek gue.

Ah. Bahkan setiap detailnya masih gue inget, ekspresi Opal saat ngejek gue dan Nio, ekspresi Fia ama Afif yang cie-in. Mungkin kalian lupa..
Mie udah jadi, saat gue menemukan kaleng seng dan kalian menyoraki gue dengan kata “yeeee pesek!!!!” karena gue gatau kalo itu adalah literan beras. Ah udahlah, detail yang itu gak perlu gue certain. Cukup gue yang ingat..
Kita makan di satu mangkok gede, sebenernya sih gue sama Nio udah nyiapin 5 mangkok kecil untuk kita semua, udah dibagi-bagi lagi mie-nya. Tapi yaa.. dasar waktu itu kita laper banget, udah dibagi jadi 5 mangkok tetep aja kita makan barengan di mangkok gede. Rebutan telor rebus lah, mie-nya kebelibet lah, ampe gue makan pake tangan gara-gara garpunya berantem sama garpu Afif.

Apa cerita ini sudah membuka ingatan kalian?
Abis itu kita istirahat, gue dan Fia abis beresin makan tadi trus buat sirup marjan lagi. dan kalian para cowok tiduran kekenyangan.
Dzuhur. Kita sholat bareng, awalnya Nio sama Opal gamau jadi imam. Tapi akhirnya Opal nyerah dan jadi imam bagi gue dan 3 kakak gue.
Kita duduk bareng, masih cerita-cerita tentang politik dan gossip yang beredar di sekolah, sambil ngurusin acc kita.
Kita saling share, berbagi tentang ceritanya Opal dan pacarnya, Nio dan galaunya, gue dan emosi terhadap Awan, dan Afif yang berusaha pdkt sama Fia. Kita ketawa bareng, seakan rumah gue adalah tempat kumpul terbesar. Kita ejek-ejekan bareng, rasanya tuh yang menguasai dunia cuman kita berlima, gak ada yang lain.

Jam 2. Setelah makan, ngurusin acc baru, curhat bareng, ngelawak bareng, kalian pamit pulang. Rumah gue yang kayak kapal pecah kembali seperti baru setelah kalian beresin. Gue masih aja ketawa gara-gara si Nio yang bercanda dan Opal yang ngatain gue pesek.
Angkot kuning makin mendekati rumah gue, kalian siap-siap ninggalin Afif yang sepatunya Opal taro di samping tong sampah tetangga. Udah beberapa angkot kuning yang lewat, tapi kalian tetep ngobrol sambil nunggu Afif. Satu yang gue pelajari
Solidaritas
Setelah beres semua, kalian berkata “pulang dulu ya Arfi, makasih mie sama rumahnya” dengan riang. Gue tersenyum
Inikah yang namanya pertemanan sejati?


Jum’at, 12 Oktober 2012
Tepat setahun setelah itu..
Kita punya jalan masing-masing, gue masih berhubungan dengan Fia dan Afif. Sementara Nio dan Opal lost contact.
Karena hal kecil, tetapi besar bagi Nio, kita berpisah
Hal kecil yang membuat gue dan Opal juga menjauh.
Biasanya orang menyebutnya cntsgtg. Oke mungkin kalian tafsir aja sendiri.
Tapi setelah putus hubungan dengan Opal dan Nio, Nio kembali hadir meskipun suasana menjadi sedikit canggung. Sementara Fia dan Afif masih kumpul bareng meskipun lewat social media kita sendiri, bukan dengan account yang kita buat waktu itu.
Account itu dibiarkan gak keurus, karena masalah kecil itu. Tak pernah gue buka, kita berlima melupakan account yang dibuat untuk menyatukan kita sendiri. Miris
Tepat setahun, gue merindukan tawa kita bersama di ruang tamu, makan mie bareng, curhat dan beragumen lagi, sholat bareng
Ah. Mungkin hanya gue yang mengingat..
Gue disini, dirumah yang dulu menjadi markas. Dengan laptop dan beberapa benda yang menjadi saksi bisu saat hari itu
Atas nama pertemanan. Gue merindukan kalian, saat kita masih barengan.

Kepada Fia, Nio, Afif, Opal
Akankah kalian semua bisa kembali lagi menjadi kita?

12 oktober 2012
Selamat satu tahun warga pojokan sapu J
Entahlah, meskipun kalian melupakannya, gue masih ingat kejadian hari itu secara detail
Terlalu anak-anak yah, gue masih ingat kenangan yang seharusnya udah kalian timbun rapat-rapat :’)

Selasa, 09 Oktober 2012

HBD ke 15th buat kamu :)

Hei, kamu yang jauh disana :)

    Apakabar? Lama yah kita tidak berjumpa, bagaimana keadaan disana, di kota yang tidak kau sebut saat kita berpisah waktu itu? Apakah kamu masih jago Matematika dan Basket? Apa kamu semakin tinggi? Apa kamu masih mengingatku? Ah aku ini terlalu banyak tanya yah.

    aku masih ingat, saat kamu duduk diam kelas 2. Tidak mengobrol, tidak bercanda, kau adalah anak baru saat itu, kau masih lugu, masih polos, masih tidak mengetahui kondisi lingkungan sekolah. Lalu aku, dan temanku, menghampirimu, berkenalan dengan kalimat “halo, kamu anak baru yah? Siapa namamu?”. Kamu menatapku, tatapan dari seorang bocah laki-laki yang mempunyai bola mata hitam legam dengan senyum yang manis. “iya, aku Ari” ucapmu singkat, aku berkata dengan riang, entah apa yang membuatku bersemangat, “aku Ica. Ayo! Kita main!” teriakku, ya, dari awal kamu melihatku sering bermain dengan bocah laki-laki yang seumuran denganku, ya, aku memang tomboy, dulu.
    Ah sudahlah, jika aku terus membahas sejarah awal pertemuan kita kapan selesainya? Terlalu banyak peristiwa tersimpan di memori yang hampir usang.

    dulu, kamu dan aku bersahabat. Jajan, main, mengerjakan tugas, semua yang kulakukan disekolah hampir semuanya ditemani oleh sosok cowok berwajah Timur, oriental, manis, tegas.  Ya kamu. hingga aku sadar, ada sesuatu yang janggal di sini (baca:hati), rasanya makin lama makin kuat, makin besar. Rasa apa ini? Dulu saat kita belajar bersama, aku tidak merasakan apapun, tapi mengapa saat aku melihatmu hati ini seketika berdegup dengan kecepatan tak menentu?
    Kamu, mengajariku tentang rasa yang berdegup di sini (baca:hati). Kamu memberikan rasa yang seharusnya tidak kukenal saat itu, kita masih terlalu kecil, masih terlalu dini untuk mengetahui perasaan itu.        Aku tak mengerti mengapa kamu mengajariku untuk mengenal perasaan itu.
kita masih kelas 3 SD, rasa suka dan sayang ini harusnya tidak aku keluarkan. Aku masih kanak-kanak, tetapi kamu malah mengajariku untuk mencintaimu.
Kamu menyeretku untuk mengenal rasa ini lebih dalam, lebih peka. Dan aku menurutimu, kamu kan panutanku. Kamu bagaikan guru bagiku, bahkan kamu guru pertama yang mengajariku tentang perasaan itu.

    Aku menyukainya, aku menyukai perasaan ini. Dan aku lebih menyukainya saat kamu berkata bahwa kamu mempunyai perasaan yang sama. Apa aku senang? Oh tentu, sangat! Sangat senang! Kita menjalani hari dengan setumpuk permainan, kejahilan kecil, permen, cemilan, ah aku rindu.

    tapi, kita tetap sahabat, sebatas sahabat, tidak lebih. Walaupun kamu mengajariku menyelami perasaan ini lebih dalam, tetapi aku dan kamu masih menyukai label ‘sahabat’. Kita masih kecil,kan?
Hingga saat itu, usai agenda tahunan pembagian raport selesai, kamu menghampiriku. Mengatakan hal yang membuat laju peredaran darah di otakku berhenti sepersekian detik. “aku akan pindah”. Ucapan singkat yang terlihat sangat berat, bagiku dan bagimu. “jadi, kamu hanya dua tahun disini? Kenapa?” tanyaku, lugu.  Kalimat apa lagi yang harus aku keluarkan untuk orang yang selama ini aku kagumi?
“Disini, kamu baik-baik yah, jangan lupa sama aku, aku akan ingat kok sama Icha” ucapmu, disertai tawa, terlihat garing, hambar.

pertanyaanku tidak kamu jawab? Kamu pindah kemana? Atas dasar apa? Apa kamu tega meninggalkan aku disini? Lantas jika kamu pergi mengapa kamu mengajariku tentang perasaan itu? Apa tujuanmu mengenalkanku padanya?
Aku, tersenyum, menatap nanar wajahmu, “aku nggak lupa kok sama Ari”. Lalu kamu tersenyum, berat. Dan kamu meninggalkanku disamping tangga, menjauh dan pergi mengejar ibumu. Aku tetap menatapmu, perih. Kamu melihat ke arahku, melambaikan tangan. Sudahlah. Aku tak mau melihatmu, yang ada hanya sakit.
Dan sekarang, tepat 7 tahun semenjak pertemuan itu. Apa kamu mengingat janji yang dulu kau ucap? Yaitu mengingatku? Apa kemampuan Matematika dan basketmu meningkat? Aku ingin bertemu, tapi sayangnya, kota yang kamu tinggali sekarang bukanlah kota yang aku tempati.
Tepat hari ini, 9 Oktober, umurmu 15 tahun, sama sepertiku. Aku harap, kamu menyelipkan namaku di hembusan doamu hari ini.

Selamat ulang tahun ya, cinta pertamaku :)
Dari kenangan kecil masa lalumu

Rabu, 19 September 2012

kagum, suka, sayang, cinta. bedanya?


Gmorning everyone!! How r u? hope you have a beautiful day, right? Lalalala~
Pagi buta gini nih gue akan membahas tentang love, bukan sembarang lope-lopean, disini gue mau menguraikan perbedaan keempat elemen yang gue jadiin judul itu.
   PERNYATAAN!
gue gak tau apa yang gue alamin ini, kalo ngeliat dia tuh bawaannya mau senyum melulu. sebut aja namanya Ujang (yaampun-_-) oke yang bagusan dikit, namanya Rain (bukan artis korea yaah) dia orangnya pendiem, jaim, gue seneng kalo dia udah baca buku, he's really cool guy!! dia cuman ngobrol sama temen akrab, dan masalahnya adalah------ dia belom MOVE ON!!!
ada perasaan yang hampir meleduk kalo liat dia, apalagi kalo gak sengaja ketemu dan tatap mata, oh my God! malaikat dari mana lagi yang berhasil membius guee?!!!
dia berbeda, pipinya yang merah dengan sedikit bekas jerawat membuat wajahnya tampak kece (bagi gue), mata dia yang tajam seakan-akan menggambarkan kalo dia itu tegas, cara dia baca... aduh gak bisa gue gambarin pake kalimat deh, seakan-akan dia tuh malaikat yang sempurna dimata gue :3 
   POKOK MASALAH!
perasaan apa yang muncul di hati gue? apakah ini rasa suka? kagum? sayang? atau cinta?
    PEMBAHASAN!
gue akan membahas satu persatu, dimulai dari..... *drumrolls
1. kagum
   perasaan ini tuh bisa disebut obsesi, rasa senang terhadap sesuatu yang menurut mata mempunyai daya tarik kayak magnet. gue gak menyebut kalo ini itu sama kayak rasa suka. beda tipis sih.
apanya yang beda??
pertama, kekaguman terhadap seseorang itu biasanya cuman muncul dari luar doang, seperti kita (cewek) ngeliat cowok cakep bin kece. pasti mata gak bakal merem dan ngeliatin kemana si cowok pergi, setelah bayangnya hilang, kita mulai asik sama aktivitas yang tadi sempet ditinggal. yegak? ngaku daah ngakuu :p
kedua, bedanya adalah. lo itu dikit-dikit suka dikit-dikit gasuka.
contoh 1 >> "aduuh dia kece amat sih kalo lagi serius, terkesan dewasa :3"
contoh 2 >> "aah dia gitu dih gabisa peka banget jadi cowo! kesel gue!"
jadii, kadang lu itu berpihak sama dia, tapi kalo dia lagi gak hoki lu berpaling dan seakan-akan gapunya rasa sama dia.
ketiga, kekaguman itu bersifat sementara. ibaratnya itu kayak lagu. kalo itu lagu booming banget bakal lo dengerin, dan kalo udah basi diapus dari playlist.
   ini menurut penelitian gue, penelitian kecil-kecilan loh yaaa
2. suka
   perasaan ini sedikit lebih condong ke sayang, hampir siih tapi dia lebih akrab sama kagum.
menurut gue, perasaan suka ini adalah perasaan yang hadir kalo kita ngeliat seseorang dan kita tetep mikirin dia.
apa persamaannya sama kagum?
pertama, kedua perasaan ini bersifat sementara, meskipun menurut gue perasaan suka itu lebih bertahan lama
kedua, rasa kagum dan suka itu bisa kita curahkan ke siapa aja, bisa lebih dari satu! kayak perasaan kita ke artis idola aja. gue suka Jung Yong Hwa (leader CNBlue), Bruno Mars, Mocca, dan artis-artis lain. jadi menurut gue rasa suka itu universal. 
apa bedanya sama kagum?
pertama, perasaan ini biasanya lebih awet, tahan lama. lo bisa suka ampe beberapa hari, bulan, minggu, ato setahun. dan kalo lo udah mendapat 'sesuatu' yang baru, perlahan tanpa lo sadari, lo mengubur perasaan suka buat 'sesuatu' yang dulu lo idolakan
kedua, rasa suka itu tuh bisa ke siapa aja, dimana aja, kapan aja. Bisa tiba-tiba suka sama orang yang baru lo kenal, trus tiba-tiba juga lo suka lagi sama orang yang lain. Oh jangan sebut ‘playboy’ atau ‘playgirl’! kalo yang itu gue bahas di perasaan sayang.
Ketiga, suka itu gak seperti sayang, suka itu tuh cuman sekedar ‘luar’, lo gak terlalu mendalami, misalnya lo suka orang itu tapi lo gak bisa ngerasain apa yang dia rasain. Lo cuman tau kalo lo suka sama dia karena inilah, itulah, beginilah, begitulah, tapi lo gak mencari seluk beluknya.
 Yap! Itu adalah definisi suka menurut gue~
3. sayang
   Naaah!! Ini nih yang menurut gue paling-palingg!!
Sayang… umm sayang itu adalah perasaan dimana kita ikut terhanyut dalam suasana yang dialamin sama dia. Perasaan sayang itu adalah perasaan yang menurut gue, punya kasta lebih tinggi dari perasaan cinta.
 Apa yang ngebuat dia lebih tinggi kastanya??
Pertama, sayang itu adalah rasa yang bahkan kita rela dan mau ngelepas orang lain demi kebahagiaannya. Istilahnya adalah sayang = (mencoba dan belajar) mengikhlaskan. Kayak lo melepas si doi karena dia mau ngejar cita-cita dia dulu, yaa seperti itulah~
Kedua, perasaan sayang biasanya lebih berteman sama logika dan pikiran dewasa. Sayang itu perasaan yang lebih mementingkan kondisi kedepan. Misalnya lo milih buat putus biar dia bisa lebih focus buat kedepan nanti ngejar impian dia, kalo gak gitu dia gabakal bisa focus dan pelajarannya terganggu ama pacaran, ya seperti itulaah~
Ketiga, biasanya perasaan sayang itu udah sampai ke ulu hati, udah nancep dihati gitu lah. Jadi lo biasanya ikut sedih kalo dia punya masalah, lo membantu dia, lo semangatin dia. Dan lo ikut seneng kalo dia bahagia, seakan-akan tuh lo ngerasain juga.
    Dan sayang itu, gabisa menghilang gitu aja kaya kagum sama suka. Biasanya rasa sayang itu tuh bisa lama, lamaaaaa banget ampe waktu yang gabisa ditentuin, atau bahkan permanent. Dan itu yang bikin gue tertarik sama rasa sayang :’)
   Dan kalo ada orang yang suka obral kalimat “sayang” baik leat bbm, message, ato ucapan, waspada! Dia adalah playboy tjap colokan listrik! Maksutnya dia tuh playboy yang suka nyosor kemana-mana, kalo udah ada yang kepincut, dia tinggal~ (NB: ini berlaku ke playgirl dan orang yang udah punya tanda-tandanya*?*)
4. cinta
   Banyak orang yang bilang “apa itu cinta?” “kenapa ada cinta?” daaan sebagainya
Kalo tiba-tiba ada perasaan yang menggebu-gebu dihati lo, jangan sebut dia cinta! Cinta diawal ga akan ngejamin kalo lo itu beneran cinta, perasaan yang biasanya muncul mendadak trus tiba-tiba ilang dalam jangka waktu pendek, itu mah kagum.
 Sayang sama cinta sih menurut gue punya persamaan yang lumayan.
Satu. mereka sama-sama awet. Gak kayak kagum sama suka
Dua. Mereka gabisa ilang dalam jangka waktu pendek kayak suka sama kagum
Tiga. Mereka biasanya disalahgunakan sama oknum PHP dan pelaku modus
 Tapi, cinta sama sayang itu juga punya perbedaan, meskipun gak menonjol..
Pertama, cinta itu kata gue stratanya (tingkatan)  lebih rendah satu tingkat dibanding sayang. Soalnya, dari sekian banyak survey yang gue lakukan, orang dengan enteng nyebut kata “cinta” disbanding “sayang”. Haduuh, ‘semurah’ itukah kalimat cinta?
Kedua, cinta itu murni, asli, gue gak akan pernah mau setuju kalo ada yang nyebut “cinta itu tuh dibuat mainan aja”, itu kata temen gue. Halo mbaaa, lo pas gede nanti gamau dapet cinta asli apa? Lo mau gitu dapet cinta PHP alias abal-abal pas nikah nanti?
Ketiga. Cinta itu disaat lo masih (gak) rela berkorban. Tau pepatah “cinta tak harus memiliki”? gue kira ada yang salah, cinta itu tuh perjuangan, walaupun biasanya tanpa sengaja. Cinta gak bisa gitu aja berkorban dan akhirnya meninggalkan luka karena dilepas secara paksa. Bukan itu bukan yang disebut cinta.
    Dan cinta itu, damai. Kalo ada yang pacaran kerjaannya berantem mulu, itu sih bukan asam manisnya cinta, itu mah menjerumus ke benci nantinya.  Boleh sih lu kasih bumbu ‘asam’ kayak gitu, tapi kalo keseringan ya gawat juga
   KESIMPULAN!
   Perasaan yang ada di diri gue hanya sebatas kagum, karena gue kadang-kadang suka illfil sendiri kalo ngeliat dia lagi beler(cengo over!) ato sendawa
   PROLOG!
   So, itu adalah pembahasan gue tentang KAGUM, SUKA, SAYANG, CINTA. Iya, intinya, lo harus tau perasaan apa yang tengah melanda hati lo, apa itu suka,  kagum, sayang, cinta. Apa itu cuman rasa sebagai temen, sahabat, ttm-an, atau lebih dari temen. Lo harus lebih telisik dan teliti lagi dalam hal ini. Itu quote gue hari ini, muihihihi

Sekiann~

Minggu, 09 September 2012

Sekarang. Kita

well, ini salah satu dari sekian banyak puisi 'amatir'an gue. maklum pemula._.

Kita, tanpa sekat yang memisahkan
Dengan aku yang selalu menjadi bintang ditiap sepi malammu
Dengan aku yang selalu menjadi pemeran utama dimimpi tidurmu
Kamu selalu menjadikanku peneduh ditiap siang terik di hidupmu
Menjadikanku permata yang tak ingin kaulepas
Dulu
Sekarang. Kita, dengan sekat yang menjulang tinggi
Dengan aku, yang masih menjadikanmu raja
Dengan aku, yang masih menjadikanmu pelaku utama
Dan aku yang masih menjadikanmu sinar di kegelapanku
Dengan aku, yang sekarang sendiri, tanpamu
Sekarang. Kita, dengan pilihan masing-masing
Dengan kamu, yang sudah melupakan jalan yang kita lalui bersama
Dengan aku, yang masih setia menunggu diujung jalan yang sempat membuat kita bersatu
Kita, telah jauh berbeda
Kamu menjauh, pergi meninggalkan goresan tinta kenangan yang sukar kuhapus
Aku menunggu, memungut sisa-sisa kenangan yang kau biarkan terurai
Sekarang. Kita, dengan perasaan yang tak saling mengenal
Dengan aku, yang berdiri teguh atas nama kasih sayang, meskipun luka
Dengan kamu, yang pergi menusukkan perih, dan tak pernah kembali

Tangerang, 3 September 2012
atas nama rindu dalam semu, dan rasa yang terabaikan
aku masih mencintaimu

Rabu, 29 Agustus 2012

Penantianku dan Pengabaianmu (1)

ekhem... kembali lagi dengan gue si imajiner amatiran yang punya beribu-ribu khayalan tentang cerita fiktif yang ujung-ujungnya ngegantung-__-

ett tapi selaaw~ gue posting cerbung gue yang baru,pastinya gak kaya the choose. semoga kalian suka :D happy reading guys ^^
----------------------------------------------------------------------------------------

             Aku masih membiarkan otakku membuka cabangnya, membiarkan memori masa lalu keluar. Hingga suara itu membuat otakku reflex menutup semua kenangan.

“Rene! Lo hari gini masih bengong?! Mau sampe kapan hah?!” ucap Keina dengan nada ditinggikan, tak henti menegurku engan kalimat yang sama setiap hari
“semua ada proses Kei, ada waktunya” jawabku singkat
“tapi ini udah hampir setahun Ren! Gue gak mau liat temen baik gue bengong tijel hanya karena mikirin hal yang itu-itu aja!” ucap Keina, nadanya boleh dikatakan naik satu oktaf.
“gue gak seperti dia yang cepat melupakan dan cepat punya yang baru, gue masih..”
“apa?” tanya Keina. Ucapanku mengawang. Tenggorokanku tercekat. Kalimat itu seakan-akan stuck di kerongkongan dan tak ingin membebaskan diri
“gue…” ah, kalimat itu kembali mengudara. “gue masih belum bisa melupakan” ucapku sekenanya. Bersiap menerima asupan amarah baru dari Keina
“hah?! Lo masih gak bisa melupakan? Lo cewek bodoh kalo gak bisa melupakan! Jangan bilang lo masih menunggu” kalimat Keina kembali menjadi santapan sehari-hari
“kenyataannya…” aku terdiam “gue menunggu Kei. Entahlah, gue rasanya masih pengen nunggu ampe beberapa waktu kedepan” jawabku. Keina mendengus
“bodoh! Dia gak pernah menunggu lo! Dia cukup senang dengan hidupnya sekarang dengan pacar dia yang baru!”
   aku menatap sepatuku, mencoba membela diri

“apa lo gak pernah merasakan kehilangan, Kei? Kehilangan seorang cowok yang lo sayang? Apa lo gak pernah merasa sakit?” tanyaku tajam, tapi bukan Keina jika dia tidak bisa mengkritikku balik
“seenggaknya kegalauan gue gak sampe lama kayak lo. Udahlah! Ngapain lo nunggu? Lo tau kan dia gak bakal mencari lo lagi, Ren. Mengingatpun nggak akan!” jelas Keina, aku menatap kosong keluar jendela. Hampa.
“Kei, gue cukup nyaman dengan penantian gue ini, gue senang. Melihat senyumnya via dunia mayapun, meski itu bukan untuk gue dan bukan karena gue, gue cukup senang” balasku panjang lebar. Mungkin Keina kewalahan menghadari gadis keras kepala sepertiku.
“penantian lo ini… gak berujung, Ren?” tanya Keina, pelan, dan menusuk. “jika lo terus menanti, lo gak akan tau kalo diluar sana ada cinta baru yang menunggu lo” ucap Keina mulai melembut
“saat penantian berubah jadi kejenuhan, mungkin saat itu gue akan berhenti Kei. Menata hal yang baru” ucapku bersama senyum asimetris. Keina mendekapku, hangat
“jadi… suatu saat, Neo akan pergi, kan?” tanyaku pada Keina, ah nama itu lagi yang teringat
“gue yakin, suatu saat nanti dia bakal pergi, menghilang dari hidup lo. Kalo perlu dia nyemplung ke palung Mariana di Samudra Pasifik sana! Ihihihi” ucap Keina berapi-api, disertai tawa. Aku tersenyum simpul.

                Percakapan hari ini kembali menyangkut tentang orang itu, Neo. Cowok tinggi berkulit kecoklatan itu tak henti-hentinya menyemburkan mega, mentransfer setiap detail ekspresinya untuk dipaksa masuk ke otakku. Kata Keina, aku sudah memikirkannya hampir satu tahun. Ah, bahkan aku lupa sejak kapan otakku mulai memutar secara berulang kali memori tentang Neo.
Sekarang, Neo memiliki orang special yang baru, pastinya bukan aku. Kekasihnya sekarang adalah teman lamaku, dulu dia adalah mantan Neo, semacam CLBK klasik bagiku, dimana mantan saling bertemu dan saling suka, lagi. Neo berpacaran dengan orang itu 2 hari setelah mengucapkan kalimat perpisahan padaku, yang aku yakini proses CLBK klasik sudah berjalan dibelakangku lama sekali.
Dia manis, lebih dariku. Dia cantik, lebih dariku. Mungin memang itu yang membuat Neo lebih tertarik, karena aku yaaaa…tidak lebih dari gadis biasa yang senang menulis dan menggambar.
                                                                          --oo—
                Hari itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan tugas yang setumpuk dari dosennya. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Aku menghempaskan diri ke kursi yang tak pernah lapuk, kursi taman. Disini teduh, lelahku lumayan menghilang. Tapi.. otakku masih saja tentangnya. Sudah genap satu setengah tahun orang itu tetap berkeliaran di benakku, masih terpajang jelas, tanpa cacat dan samar.

“Ren” ucap seorang cowok yang membuatku tersentak.
“oh, Aldo,” ucapku “tumben Do nyamperin hari gini, biasanya lu sibuk” lanjutku asal
“iya, gue mau ketemu lu ama Keina aja” balasnya “eh iya Keina mana?” tanya Aldo
“dia ada tugas banyak tuh. Cieee cariin Kei, suka yah? Hihihi” tawaku jahil, Aldo menatap sinis. Tanpa kusuruh dia duduk dengan kasar. Membuatku sedikit tersentak.
Aku tertawa melihat tingkahnya, cowok itu merubah raut muka dan memperhatikan buku sketsaku.
“lo… punya berapa banyak stok wajah Ikan butek itu?” tanyanya padaku
“dia Neo, bukan ikan butek tau!” aku memberikan pembelaan
“kita… baru kenal setahun yah? Trus lo udah berapa lama gak bisa lupain dia?” tanya Aldo, terlalu kepo
“satu setengah tahun” jawabku singkat
“HAH?GILAK!” teriak Aldo dengan reaksi terkejut, aku hanya diam
“lo masih nyimpen kenangan tentang dia?! Trus fungsi gue dan Keina yang ada di hari-hari lo ini apa?!” tanya Aldo bertubi-tubi
“lo temen gue Aldo, Kei juga. Kalian…” Aldo memotong kalimatku, “padahal, gue dan Kei berusaha buat lo ngelupain si ikan butek itu. Tapi kenyataannya, bahkan lo masih ngebela dia gara-gara tadi gue sebut ikan butek” ucap Aldo panjang lebar. Aku biarkan dia mengoceh tentang seseorang yang dia sebut ‘ikan butek’
“gue tau,” ucap Aldo lagi “lo masih sayang sama dia pake banget” lanjutnya. Aku terdiam
Aku dan Aldo berada diantara hening, kami berdua sama-sama membisu.
“oke Ren!” teriakannya buatku kaget, lalu dia berdiri “gue harus bisa ngebuat lu jadi cewek yang gak galauan! Inget Ren! Jangan terlalu pake perasaan lo buat ngadepin seseorang, kali-kali lo harus pake logika, okeh?!” ucapnya sambil mengacungkan jempol padaku, aku tersenyum.

Aldo, memang teman yang tak kenal sedih, dia teman yang baik, bagiku dan Keina.
                                                                              --oo—

Senin, 27 Agustus 2012

saat ini aku....

aku (lagi-lagi) menulis, hanya untuk iseng, hehe. yah aku tahu aku adalah orang yang tidak punya kerjaan, tapi tulisan ini semata-mata karena rasa bosanku (mungkin?)

hai.

   umm.. aku harus berkata apa yah untuk mengawali perbincangan kita? oh iya aku tau !
apa kabar, kamu? baikkah? oh tentu kamu selalu baik, dan memang kenyataannya kamu itu baik-baik saja, karena hidupmu sudah lengkap--- ada dia.
atau aku terlalu sotoy? hah sudahlah
hai. apa kamu masih sama dengan yang dulu? tampak ceria meskipun aku tahu kamu sedang sakit, tetap tersenyum meskipun aku tau kamu sedang tidak bahagia. topeng itu... bagiku tak mempunyai arti
halah, apa sih aku ini? men-judge kamu gitu aja. padahal kamu bukan siapa-siapa aku.
lebih tepatnya, aku dan kamu bukan siapa-siapa.

   aku tetap merangkai kata. seperti yang kamu tahu, aku mencurahkan segalanya lewat tulisan yang bahkan aku sendiripun tak tahu untuk apa tulisan amatiranku tentangmu. yang kutahu, dengan menulis aku merasa bahwa aku masih bisa mencurahkan perasaanku, meskipun lewat tulisan aneh ini.
   tidak ada kata-kata indah yang bisa aku keluarkan untukmu. tidak ada majas, tidak ada kalimat sastra, tidak ada kalimat pujian yang menghiperbola. semua adalah tulisan yang memang berasal dari hati, sederhana dan tak beraturan, yang memang dia (baca:hati) masih menampakkan lukanya.

hai. kamu.
   dibalik rasa benci yang kubuat untukmu, ada rindu terselip didalamnya, diujung rasa kebencianku terhadap luka yang sekarang tak kunjung sembuh, banyak rindu yang tertampung disudut terpencil hatiku.
ruangan didalam sini (baca:hati) masih berantakan, tak ada yang membereskannya, karena memang aku menutup pintu itu dan tak membiarkan orang lain masuk. aku sendiri... tak ingin membereskannya. bukan karena aku tak punya kuasa untuk melakukan itu. aku hanya.. jika aku masuk dan kembali melihat ruang yang penuh pecahan tajam itu, ada sakit yang menjalar, namun aku tak punya daya mencegah rasa sakit itu menguasai diriku. aku membiarkannya.
   bodoh
sampai sekarang, ruang itu masih berantakan, masih ada pecahan dari figura masa lalu, masih ada gulungan film tentang kenangan yang terurai begitu saja, masih ada bingkai foto kamu dan aku (karena,tak pernah ada kita,lagi) yang berantakan disana. ruangan itu tidak berdebu, karena pada dasarnya, didalam sini tak ada debu yang ingin menyentuh ruangan yang berisi hal menyakitkan.
   tapi tenang saja, perlahan aku mencoba masuk dan membereskannya dengan tanganku, sendiri. tidak. tidak ada yang membantuku untuk menata ulang ruangan itu. murni hanya aku yang akan membereskannya, tak ada bantuan.
karena sekarang ini, aku tidak membutuhkan bantuan siapapun.
tapi, pada kenyataannya, aku hanya berhasil membereskan satu figura, dari sekian banyak figura yang terpajang kemudian jatuh berserakan. susah juga yah, membereskan ruangan yang dulu kamu tinggali. aku lelah loh menata ulang semuanya, apa kamu tau? mungkin tidak, hahaha.

kamu.
   seperti yang kubilang, ada rindu terselip dibalik kebencian yang aku pancarkan padamu. tapi, aku tak berharap kamu kembali pulang, melewati jalanku, lalu kembali hadir di rumahku. aku tak ingin berharap hal konyol menengah gila tentangmu.
kamu, punya jalan pulang sendiri, jalan yang lebih baik dibandingkan jalanku. dan aku... aku yakin Tuhan memberikan jalan terbaik untuk pulang. yang pasti, setelah saat ini, jalan aku dan kamu berbeda, jauh.
   aku tahu, kamu sekarang berstatus kekasih orang. tapi apa yang bisa aku perbuat? ini hanyalah sebuah surat. ini hanyalah tulisan tentang curahan hati gadis labil yang masih beranjak dewasa, yang hanya ingin mengeluarkan beban hatinya lewat tulisan amatir yang tak mempunyai makna berarti.
   kamu, sudah yah. aku sepertinya tak perlu berbicara banyak, aku hanya memberi kabar tentang keadaanku. meskipun aku tahu... kamu akan tertawa atau mungkin membuang muka sambil berkata 'cih!' karena melihat tulisan ini. meskipun aku tahu... ini hanyalah surat bodoh yang dibuat oleh orang silly sepertiku. aku harap, aku dan kamu bertemu, tidak sekarang. mungkin nanti, saat aku dan kamu sudah menemukan jalan masing-masing. see you...

saat mengerjakan setumpuk PR, saat masih fokus mengerjakan salah satu tugas
di otakku, tetap saja terlintas untuk bertanya 'apa kabarmu?'