Rabu,
Sehabis pulang sekolah, 10.30 pagi
Apa kalian ingat waktu itu? Kita berlima. 2 orang cewek
penyuka korea dan 3 orang cowok penganut absolute tentang logika.
Hari itu cerah, sekolah masuk setengah hari karena ada rapat
guru. Trus kita kumpul bareng di depan kelas gue, 9c.
Kita ngomong banyak hal, mulai dari ngejek idung gue ampe
sentil obrolan tentang politik tahun itu. Sampai salah satu berkata
“main yuk! Kemana gitu kek!” ucap cewek setinggi 175cm yang
berkacamata, Fia
“hayo! Dimana nih?” timpal seorang cowok hitam berkacamata,
Nio
Kita berpikir, hingga gue teriak “dirumah gue ajaaa!! Ayah
ibu kan kerja,jadi dirumah gue sendiri, ada alesan biar ditemenin gitu hehe”
“bener? Yaudah yuk!” ucap Fia
Semua setuju, kecuali cowok kutu buku tanpa kacamata. Afif.
“rumah gue jauh” ucapnya “tapi ya… gapapa deh, jarang-jarang
kan” dan Afif terbujuk rayuan gue dan Fia
Apa kalian ingat hal itu?
Kita nunggu angkot kuning lewat, setelah berapa lama
menunggu kita naik satu angkot yang memutar lagu…. Entahlah, lagunya nggak
begitu terkenal
Kita naik, dengan gue dan Fia serta Afif di belakang, dan
dua orang berkacamata lain, Nio dan Opal disamping supir.
Di perjalanan kita masih aja tertawa, dengan lawakan Nio
yang terkadang menyindir namun bikin kita ngakak.
Kita turun di pinggir jalan raya, menyebrang bersama dan
akhirnya sampai disebuah rumah bergaya minimalis berwarna krem, tapi terlihat
seperti rumah bergaya pendopo, entahlah.
Gue memutar kunci, dan kalian menunggu di teras, tepatnya di
ayunan tua berwarna hijau dan merah. Gue membersihkan ruang tamu dan mengambil
laptop juga beberapa cemilan, dan menyuruh kalian masuk
“assalamu’alaikum” ucap Opal, si cowok setinggi 180 dan
berkacamata
Kalian duduk di sofa, kelelahan. Sedangkan gue dan Nio menyiapkan
kabel untuk nge-charge laptop. Kita duduk melingkar, menghadap laptop dan
membiarkan sunyi yang menari. Hingga Afif bersin dengan gayanya, kita tertawa.
Mungkin kenangan ini hanya gue yang mengingat.
Opal langsung senderan, Afif siap siaga melepas kaos kaki,
dan Fia masih asik dengan tas punggungnya. Sementara itu rumah masih gelap,
karena cahaya dari jendela belum ada. Opal ngomong
“ih kok hawanya ga enak ya? Jangan jangan ada hantu lagi
hhiiiiiiyyyy”
“hayoloh dek, udah gelap, sumpek, jangan-jangannnnn”
Gue menjerit, ah Opal sama Nio bisa aja nakutin gue sama
cewek berkacamata ini. Fia dan gue berpelukan, takut. Tapi kalian bertiga malah
ketawa ngeliat reaksi gue dan Fia
Modem gue punya sinyal ndut-ndutan, bentar nyala bentar
disconnect.
“punya literan beras gak dek?” ucap Nio. Dek, adalah
panggilan gue karena gue lahir paling belakangan
“ngggg…kayak gimana ya ka?” balas gue dengan tampang polos
kepada cowok yang 5 bulan lebih tua dari gue
Kalian terhuyung,syuuuungggg~ dan juga meleleh
“lo gatau literan? Yaudah deh ada mangkok dari seng kaga?”
ucap Opal
“tar gue cari” balas gue, sedangkan yang lain ngemil permen
coklat sambil ngombrol, si Fia dan Afif
Gue mencari bareng Nio, “INI DIAAA!!!!” teriak gue, membuat
Nio menutup telinga dan menjitak kepala gue dengan gaya seorang mafia lagi hukum
anak buahnya
“gausah teriak peseeek!!”
Kalian semua tertawa. Gue mendengus kesal
Sementara itu, Opal asik mengutak-atik laptop kesayangan
gue, Fia main hape dan Afif asik ngemil.
Dan Nio?
Nio dan gue, curhat tentang seorang cowok berwajah oriental
cina yang waktu itu gue kagumi, Awan namanya.
Orang yang gue suka dan orang yang menyakiti gue.
“kalo lo mau lupain lo harus lupain juga lambang yang
berkaitan sama dia” ucap Nio bijak
“kalo mau move on, apapun tentangnya harus lo lupain”
sambungnya
Kami bertukar cerita, tentang Awan. Orang yang berkata
‘suka’ pad ague tapi dia pacaran sama orang lain. Nio, sosok kakak yang bisa
gue percaya, selain Fia, Opal dan Afif.
Trus kami berkumpul, Opal, Nio dan Fia lesehan sedangkan gue
dan Afif duduk di sofa, masih ngemil permen coklat. Sampai…
“Fi, gue sama Nio punya ide” ucap Fia, “gimana kalo kita
bikin account tentang galau-galau gitu?”
Kita diem
“bagus tuh, tapi jangan galau doang, ada lawaknya gitu” ucap
Opal
“ama quote lagu!” sambung Afif
“nah kan gue sama Nio seneng ngelawak nih” timal Opal
“dan Ka Bay (sebutan gue untuk Afif) suka punya quote gitu
sedangkan gue ama ka Fi (sebutan untuk Fia) suka galau sendiri tuh. Jadi buat
aja yuk! Adminnya kita semuaaa!!!” ucap gue panjang lebar
Kami setuju. Opal dan Nio yang pinter tentang dunia cyber
ngebuat account itu di salah satu social media. Sementara itu gue, Fia, dan
Afif ngombrol tentang acc terbaru kami.
Account kita udah jadi, dengan gambar beberapa emot sedih
berwarna biru dan satu emot kuning yang tersenyum. Saat itu kita seneng banget,
soalnya meskipun kita gak bisa ketemu nanti, kita bisa komunikasi lewat account
itu. Gue merasa…. Kalian temen yang paling oke bagi gue
Apa kalian juga berpikir hal yang sama?
Afif cuman bengong ngeliatin kita yang masing-masing punya
account. Kita bercanda dan ngejek Afif gak gaul
“eh Fif, lo buat twitter dong kayak kita!!” ucap Nio
Kita menyoraki Afif, sampe akhirnya Afif setuju kita buatin
account twitter dengan username @afifrafif. Afif masih newbie banget jadinya
kita yang urusin twitternya untuk beberapa waktu.
Dan akhirnya, kita semua terhubung lewat twitter
masing-masing. Kalian masih inget gak waktu itu?
Setelah itu, tepat tengah hari. Perut kita udah minta
sesajen. Akhirnya gue sama Nio ke dapur buat masak mie. Sedangkan elo bertiga
duduk manis di ruang tamu sambil mainin laptop gue.
Di dapur, kita berdua cerita banyak. Mulai dari alien, film
terbaru, sms Awan yang modusnya nauzubillah, sambil nunggu air mendidih. Saat
itu gue diajarin gimana caranya masak telor yang baru keluar dari kulkas. Kata
ka Bow (sebutan untuk Neo) telor yang baru dari kulkas masih beku kuningnya,
jadi direndem dulu ato nggak kocok, biar kuningnya gak terlalu kentel gitu.
Itu nasihat yang paling gue inget, yang masih gue praktekin
sampe sekarang..
Trus lo bilang, lo lebih suka mie dengan telor rebus, saat
gue udah terlanjur pecahin itu telor. Trus lo juga kasih tau gue gimana caranya
pecahin telor dengan satu tangan, kayak ala chef gitu, lo inget gak, ka Bow?
Di dapur kita mainan, kita masak sesuka hati. Lo motong
bawang dan gue yang ngerebus mie. Rasa ayam bawang yang paling gue suka. Kita
juga buat es jeruk sama es marjan. Dapur sama ruang makan jadi berantakan
gara-gara kita. Sampe si Opal nyeletuk
“wisss, lama amat disono, berduaan aja nih eheem”
“idiiih cemburu lo?” ejek gue.
Ah. Bahkan setiap detailnya masih gue inget, ekspresi Opal
saat ngejek gue dan Nio, ekspresi Fia ama Afif yang cie-in. Mungkin kalian
lupa..
Mie udah jadi, saat gue menemukan kaleng seng dan kalian
menyoraki gue dengan kata “yeeee pesek!!!!” karena gue gatau kalo itu adalah
literan beras. Ah udahlah, detail yang itu gak perlu gue certain. Cukup gue
yang ingat..
Kita makan di satu mangkok gede, sebenernya sih gue sama Nio
udah nyiapin 5 mangkok kecil untuk kita semua, udah dibagi-bagi lagi mie-nya.
Tapi yaa.. dasar waktu itu kita laper banget, udah dibagi jadi 5 mangkok tetep
aja kita makan barengan di mangkok gede. Rebutan telor rebus lah, mie-nya
kebelibet lah, ampe gue makan pake tangan gara-gara garpunya berantem sama
garpu Afif.
Apa cerita ini sudah membuka ingatan kalian?
Abis itu kita istirahat, gue dan Fia abis beresin makan tadi
trus buat sirup marjan lagi. dan kalian para cowok tiduran kekenyangan.
Dzuhur. Kita sholat bareng, awalnya Nio sama Opal gamau jadi
imam. Tapi akhirnya Opal nyerah dan jadi imam bagi gue dan 3 kakak gue.
Kita duduk bareng, masih cerita-cerita tentang politik dan
gossip yang beredar di sekolah, sambil ngurusin acc kita.
Kita saling share, berbagi tentang ceritanya Opal dan
pacarnya, Nio dan galaunya, gue dan emosi terhadap Awan, dan Afif yang berusaha
pdkt sama Fia. Kita ketawa bareng, seakan rumah gue adalah tempat kumpul
terbesar. Kita ejek-ejekan bareng, rasanya tuh yang menguasai dunia cuman kita
berlima, gak ada yang lain.
Jam 2. Setelah makan, ngurusin acc baru, curhat bareng,
ngelawak bareng, kalian pamit pulang. Rumah gue yang kayak kapal pecah kembali
seperti baru setelah kalian beresin. Gue masih aja ketawa gara-gara si Nio yang
bercanda dan Opal yang ngatain gue pesek.
Angkot kuning makin mendekati rumah gue, kalian siap-siap
ninggalin Afif yang sepatunya Opal taro di samping tong sampah tetangga. Udah
beberapa angkot kuning yang lewat, tapi kalian tetep ngobrol sambil nunggu Afif.
Satu yang gue pelajari
Solidaritas
Setelah beres semua, kalian berkata “pulang dulu ya Arfi,
makasih mie sama rumahnya” dengan riang. Gue tersenyum
Inikah yang namanya pertemanan sejati?
Jum’at, 12 Oktober 2012
Tepat setahun setelah itu..
Kita punya jalan masing-masing, gue masih berhubungan dengan
Fia dan Afif. Sementara Nio dan Opal lost contact.
Karena hal kecil, tetapi besar bagi Nio, kita berpisah
Hal kecil yang membuat gue dan Opal juga menjauh.
Biasanya orang menyebutnya cntsgtg. Oke mungkin kalian
tafsir aja sendiri.
Tapi setelah putus hubungan dengan Opal dan Nio, Nio kembali
hadir meskipun suasana menjadi sedikit canggung. Sementara Fia dan Afif masih
kumpul bareng meskipun lewat social media kita sendiri, bukan dengan account
yang kita buat waktu itu.
Account itu dibiarkan gak keurus, karena masalah kecil itu.
Tak pernah gue buka, kita berlima melupakan account yang dibuat untuk
menyatukan kita sendiri. Miris
Tepat setahun, gue merindukan tawa kita bersama di ruang
tamu, makan mie bareng, curhat dan beragumen lagi, sholat bareng
Ah. Mungkin hanya gue yang mengingat..
Gue disini, dirumah yang dulu menjadi markas. Dengan laptop
dan beberapa benda yang menjadi saksi bisu saat hari itu
Atas nama pertemanan. Gue merindukan kalian, saat kita masih
barengan.
Kepada Fia, Nio, Afif, Opal
Akankah kalian semua bisa kembali lagi menjadi kita?
12 oktober 2012
Selamat satu tahun warga pojokan sapu J
Entahlah, meskipun kalian melupakannya, gue masih ingat
kejadian hari itu secara detail
Terlalu anak-anak yah, gue masih ingat kenangan yang
seharusnya udah kalian timbun rapat-rapat :’)