aku (lagi-lagi) menulis, hanya untuk iseng, hehe. yah aku tahu aku adalah orang yang tidak punya kerjaan, tapi tulisan ini semata-mata karena rasa bosanku (mungkin?)
hai.
umm.. aku harus berkata apa yah untuk mengawali perbincangan kita? oh iya aku tau !
apa kabar, kamu? baikkah? oh tentu kamu selalu baik, dan memang kenyataannya kamu itu baik-baik saja, karena hidupmu sudah lengkap--- ada dia.
atau aku terlalu sotoy? hah sudahlah
hai. apa kamu masih sama dengan yang dulu? tampak ceria meskipun aku tahu kamu sedang sakit, tetap tersenyum meskipun aku tau kamu sedang tidak bahagia. topeng itu... bagiku tak mempunyai arti
halah, apa sih aku ini? men-judge kamu gitu aja. padahal kamu bukan siapa-siapa aku.
lebih tepatnya, aku dan kamu bukan siapa-siapa.
aku tetap merangkai kata. seperti yang kamu tahu, aku mencurahkan segalanya lewat tulisan yang bahkan aku sendiripun tak tahu untuk apa tulisan amatiranku tentangmu. yang kutahu, dengan menulis aku merasa bahwa aku masih bisa mencurahkan perasaanku, meskipun lewat tulisan aneh ini.
tidak ada kata-kata indah yang bisa aku keluarkan untukmu. tidak ada majas, tidak ada kalimat sastra, tidak ada kalimat pujian yang menghiperbola. semua adalah tulisan yang memang berasal dari hati, sederhana dan tak beraturan, yang memang dia (baca:hati) masih menampakkan lukanya.
hai. kamu.
dibalik rasa benci yang kubuat untukmu, ada rindu terselip didalamnya, diujung rasa kebencianku terhadap luka yang sekarang tak kunjung sembuh, banyak rindu yang tertampung disudut terpencil hatiku.
ruangan didalam sini (baca:hati) masih berantakan, tak ada yang membereskannya, karena memang aku menutup pintu itu dan tak membiarkan orang lain masuk. aku sendiri... tak ingin membereskannya. bukan karena aku tak punya kuasa untuk melakukan itu. aku hanya.. jika aku masuk dan kembali melihat ruang yang penuh pecahan tajam itu, ada sakit yang menjalar, namun aku tak punya daya mencegah rasa sakit itu menguasai diriku. aku membiarkannya.
bodoh
sampai sekarang, ruang itu masih berantakan, masih ada pecahan dari figura masa lalu, masih ada gulungan film tentang kenangan yang terurai begitu saja, masih ada bingkai foto kamu dan aku (karena,tak pernah ada kita,lagi) yang berantakan disana. ruangan itu tidak berdebu, karena pada dasarnya, didalam sini tak ada debu yang ingin menyentuh ruangan yang berisi hal menyakitkan.
tapi tenang saja, perlahan aku mencoba masuk dan membereskannya dengan tanganku, sendiri. tidak. tidak ada yang membantuku untuk menata ulang ruangan itu. murni hanya aku yang akan membereskannya, tak ada bantuan.
karena sekarang ini, aku tidak membutuhkan bantuan siapapun.
tapi, pada kenyataannya, aku hanya berhasil membereskan satu figura, dari sekian banyak figura yang terpajang kemudian jatuh berserakan. susah juga yah, membereskan ruangan yang dulu kamu tinggali. aku lelah loh menata ulang semuanya, apa kamu tau? mungkin tidak, hahaha.
kamu.
seperti yang kubilang, ada rindu terselip dibalik kebencian yang aku pancarkan padamu. tapi, aku tak berharap kamu kembali pulang, melewati jalanku, lalu kembali hadir di rumahku. aku tak ingin berharap hal konyol menengah gila tentangmu.
kamu, punya jalan pulang sendiri, jalan yang lebih baik dibandingkan jalanku. dan aku... aku yakin Tuhan memberikan jalan terbaik untuk pulang. yang pasti, setelah saat ini, jalan aku dan kamu berbeda, jauh.
aku tahu, kamu sekarang berstatus kekasih orang. tapi apa yang bisa aku perbuat? ini hanyalah sebuah surat. ini hanyalah tulisan tentang curahan hati gadis labil yang masih beranjak dewasa, yang hanya ingin mengeluarkan beban hatinya lewat tulisan amatir yang tak mempunyai makna berarti.
kamu, sudah yah. aku sepertinya tak perlu berbicara banyak, aku hanya memberi kabar tentang keadaanku. meskipun aku tahu... kamu akan tertawa atau mungkin membuang muka sambil berkata 'cih!' karena melihat tulisan ini. meskipun aku tahu... ini hanyalah surat bodoh yang dibuat oleh orang silly sepertiku. aku harap, aku dan kamu bertemu, tidak sekarang. mungkin nanti, saat aku dan kamu sudah menemukan jalan masing-masing. see you...
hai.
umm.. aku harus berkata apa yah untuk mengawali perbincangan kita? oh iya aku tau !
apa kabar, kamu? baikkah? oh tentu kamu selalu baik, dan memang kenyataannya kamu itu baik-baik saja, karena hidupmu sudah lengkap--- ada dia.
atau aku terlalu sotoy? hah sudahlah
hai. apa kamu masih sama dengan yang dulu? tampak ceria meskipun aku tahu kamu sedang sakit, tetap tersenyum meskipun aku tau kamu sedang tidak bahagia. topeng itu... bagiku tak mempunyai arti
halah, apa sih aku ini? men-judge kamu gitu aja. padahal kamu bukan siapa-siapa aku.
lebih tepatnya, aku dan kamu bukan siapa-siapa.
aku tetap merangkai kata. seperti yang kamu tahu, aku mencurahkan segalanya lewat tulisan yang bahkan aku sendiripun tak tahu untuk apa tulisan amatiranku tentangmu. yang kutahu, dengan menulis aku merasa bahwa aku masih bisa mencurahkan perasaanku, meskipun lewat tulisan aneh ini.
tidak ada kata-kata indah yang bisa aku keluarkan untukmu. tidak ada majas, tidak ada kalimat sastra, tidak ada kalimat pujian yang menghiperbola. semua adalah tulisan yang memang berasal dari hati, sederhana dan tak beraturan, yang memang dia (baca:hati) masih menampakkan lukanya.
hai. kamu.
dibalik rasa benci yang kubuat untukmu, ada rindu terselip didalamnya, diujung rasa kebencianku terhadap luka yang sekarang tak kunjung sembuh, banyak rindu yang tertampung disudut terpencil hatiku.
ruangan didalam sini (baca:hati) masih berantakan, tak ada yang membereskannya, karena memang aku menutup pintu itu dan tak membiarkan orang lain masuk. aku sendiri... tak ingin membereskannya. bukan karena aku tak punya kuasa untuk melakukan itu. aku hanya.. jika aku masuk dan kembali melihat ruang yang penuh pecahan tajam itu, ada sakit yang menjalar, namun aku tak punya daya mencegah rasa sakit itu menguasai diriku. aku membiarkannya.
bodoh
sampai sekarang, ruang itu masih berantakan, masih ada pecahan dari figura masa lalu, masih ada gulungan film tentang kenangan yang terurai begitu saja, masih ada bingkai foto kamu dan aku (karena,tak pernah ada kita,lagi) yang berantakan disana. ruangan itu tidak berdebu, karena pada dasarnya, didalam sini tak ada debu yang ingin menyentuh ruangan yang berisi hal menyakitkan.
tapi tenang saja, perlahan aku mencoba masuk dan membereskannya dengan tanganku, sendiri. tidak. tidak ada yang membantuku untuk menata ulang ruangan itu. murni hanya aku yang akan membereskannya, tak ada bantuan.
karena sekarang ini, aku tidak membutuhkan bantuan siapapun.
tapi, pada kenyataannya, aku hanya berhasil membereskan satu figura, dari sekian banyak figura yang terpajang kemudian jatuh berserakan. susah juga yah, membereskan ruangan yang dulu kamu tinggali. aku lelah loh menata ulang semuanya, apa kamu tau? mungkin tidak, hahaha.
kamu.
seperti yang kubilang, ada rindu terselip dibalik kebencian yang aku pancarkan padamu. tapi, aku tak berharap kamu kembali pulang, melewati jalanku, lalu kembali hadir di rumahku. aku tak ingin berharap hal konyol menengah gila tentangmu.
kamu, punya jalan pulang sendiri, jalan yang lebih baik dibandingkan jalanku. dan aku... aku yakin Tuhan memberikan jalan terbaik untuk pulang. yang pasti, setelah saat ini, jalan aku dan kamu berbeda, jauh.
aku tahu, kamu sekarang berstatus kekasih orang. tapi apa yang bisa aku perbuat? ini hanyalah sebuah surat. ini hanyalah tulisan tentang curahan hati gadis labil yang masih beranjak dewasa, yang hanya ingin mengeluarkan beban hatinya lewat tulisan amatir yang tak mempunyai makna berarti.
kamu, sudah yah. aku sepertinya tak perlu berbicara banyak, aku hanya memberi kabar tentang keadaanku. meskipun aku tahu... kamu akan tertawa atau mungkin membuang muka sambil berkata 'cih!' karena melihat tulisan ini. meskipun aku tahu... ini hanyalah surat bodoh yang dibuat oleh orang silly sepertiku. aku harap, aku dan kamu bertemu, tidak sekarang. mungkin nanti, saat aku dan kamu sudah menemukan jalan masing-masing. see you...
saat mengerjakan setumpuk PR, saat masih fokus mengerjakan salah satu tugas
di otakku, tetap saja terlintas untuk bertanya 'apa kabarmu?'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar