Percakapan santai kita
Aku : kamu
percaya kesempatan kedua?
Kamu : nggak
Aku : kenapa?
Kamu : karena…
biasanya kita tak tahu bahwa itu adalah kesempatan kedua. Kadang kita malah
menyia-nyiakan kesempatan itu buat hal yang harusnya gak perlu
Aku : kalau,
kita putus, terus kalau aku atau kamu minta kesempatan kedua? Gimana?
Kamu : hush! apaan
sih kamu?! aku pengennya kita terus sampe kakek nenek! Ngomong seenaknya!
Kamu cemberut luar biasa, aku kan hanya bertanya. Tapi,
memang pertanyaanku yang keterlaluan
Aku : maaf, aku
cuman nanya kok hehe
Kamu : gausah pake
peng-ibaratan kita juga dong!
Aku : hehehe,
iya aku minta maaf Ninoooo
Kamu hanya terdiam, lalu menghadapku dengan senyummu, dan
merangkulku dengan erat
17 Mei 2011
Percakapan kamu sama aku, di hari anniversary kita ke 1
tahun
Kamu : selamat
tanggal 17, Fia
Aku : selamat
juga ya, makasih udah bisa pacaran sama aku sampe setahun gini, hehe
Kamu : hahaha..
Kamu tertawa renyah, menatapku dalam-dalam, memegang erat
kedua tanganku
Kamu : aku mencintaimu
Aku : aku juga,
No
Kamu : cinta aku
lebih lebih ke kamu
Aku : aku juga
Kamu : dih jawabnya
singkat banget
Kamu mengerutkan wajah, aku tersenyum geli melihat tingkahmu
saat marah tak karuan, seperti anak kecil
Aku : ya aku mau
bilang apa? Rasa sayang itu gak bisa digambar sama kata-kata, kalo udah sayang,
yaudah. Sayangnya aku sampe sini nih ke kamu, sampe hati.
Aku tersenyum, pun denganmu. Kamu terlihat manis dibawah
senja dan cahaya matahari yang menyiratkan warna oranye. Kita berpandangan
Kamu : aku milikmu
selamanya
Aku : aku juga,
aku menyayangimu sampai kapanpun
Kamu tersenyum..
21 Desember 2011
Percakapan dihari saat kamu mengucap kalimat itu
Aku : apa yang
menjadi alasanmu memutuskanku?
Kamu : aku...ingin
sendiri
Aku : begitu?
Kamu kira aku percaya dengan kebohonganmu kali ini? Jelaskan kesalahanku.
Kamu : aku... kamu
seharusnya tak perlu bertanya apapun. Aku ingin kita putus, kita udah nggak
bisa kayak dulu
Aku menunduk, berusaha menahan tetesan air mata agar tak
terlihat oleh kamu. aku berusaha tegar.
Aku : kamu nggak
logis banget. aku punya salah? Aku minta maaf.
Kamu : aku… kamu gausah
mengenalkanku pada cewek itu
Aku menangkap getaran yang kamu lontarkan lewat mulutmu. Ada
sedikit rasa menyesal serta sakit dan ingin mengulang waktu. kamu mencintai wanita
itu
Aku : dia
partner kelompok kita. Wajar bila aku mengenalkannya padamu!
Kamu : kamu tak tahu
apapun, Fia
Aku : kamu
mencintainya, aku tahu, sejak 2 minggu lalu.
Kamu terperangah. Kehabisan kata. Kamu kira aku tak tahu,
gerak-gerik anehmu selama 2 minggu ini? Selalu terlihat sempurna di hadapan
Maya, tapi di hadapanku terlihat konyol.
Kamu : ya, aku
menyukainya. Dan dia menyukaiku. Toh,dia tak tahu bahwa kita pacaran, dia hanya
tahu kita akrab dari kecil.
Aku tersentak, masih berusaha menahan semua luapan emosi
yang tertuju padamu. Aku mengusap mataku, mencoba menatapmu
Aku : gitu?
Yaudah. Emang hubungan macam ini nggak bisa dipaksa
Kamu : lo ngerti
kenapa gue mutusin lo kan. Jadi, maaf gue nggak bisa jadi seutuhnya buat lo Fi
Aku : ya, nggak
apa-apa. Udah sana, jauh jauh dari aku.
Berapa detik kemudian, kamu pergi, menyusul Maya yang berada
tepat diujung jalan sana. Dan aku masih terpaku disini, menangis
12 Maret 2012
Percakapan dengan Maya, yang berujung amarah
Maya : gue sebel
sama Nino.
Aku mengangkat kedua alisku. Oh, iya. Maya tak tahu dulu aku
menjadi kekasihnya, tepat sebelum Maya datang
Maya : masa dia
belain main games daripada nge-date sama gue?!
Aku diam.
Maya : eh tapi ya,
dia pernah cerita tentang mantannya loh, bikin gue ngefly juga hihi
Aku menatap wajah gadis itu dengan tajam
Aku : kenapa
sama mantannya?
Maya : kata Nino,
mantannya itu nggak peka. Dia sih nggak bilang semua, katanya kalo dia
ngungkapin kalimat A ke si cewek, si cewek cuman bilang‘oh’ atau ‘aku juga’,
nggak pernah ngomong panjang lebar mengenai perasaannya ke Nino. Trus dia
bilang ke gue kalo gue itu pacar dia yang baik gitu deh hihihi
Emosiku meluap, terselip rasa bersalah karena perasanku yang
tak benar-benar ditunjukkan pada Nino. Ini karena pendirianku, yang menganggap
bahwa tidak semua rasa sayang harus diungkapkan. tapi, bagaimanapun, aku kesal
setengah mati atas perkataan Maya
Aku : kok dia
bilang gitu sih? Gak cemburu lo?
Maya : nggak,
justru itu motivasi kalo gue harus lebih baik dari mantan mantannya. Gitu.
Setelah percakapan itu, aku meninggalkan Maya menuju
gerbang.
3 April 2012
Aku dan Aldo. Percakapan dengan luka
Aldo : pasti tentang Nino lagi nih
Aku mengangguk, Aldo selalu mengerti bagaimana aku tersiksa menunggu tanpa kepastian, ia selalu tau bahwa ia adalah orang yang selalu kucari keberadaanya, untuk membahas tentang kamu
Aldo : lo, tetep ngarepin Nino?
Aku : iya Kak
Aldo mengeritkan dahinya, beberapa pertanyaan muncul begitu
banyak di kepala ketua Ekskul yang menjadi kakak kelasku.
Aldo : dia udah
mati kali, gak ada kabar juga yang dia kasih ke lo
Aku : dia itu
hidup! Kalaupun mati dia tetep bernyawa di hati aku! Aku… nepatin kata-kata aku
sendiri, Kak. Aku sayang sama dia sampe hati, sampe kapanpun
Aldo : go forward
Fia! Move on! Cowok bukan cuman dia! Masih banyak orang lain yang sebenarnya
lebih sayang sama lo, dengan hati mereka. Hanya mereka belom mau mengungkapkan.
Ada kekhawatiran lebih yang tersirat dibalik mata Aldo. Aku
tak mengerti, tak akan. Aku tetap memilih Nino, penguat hidupku, penghancur
hatiku
Aldo : batu
banget sih, tetep pertahanin orang yang sekarang gak pernah nganggep lo.
Aku : bukan
batu, ini setia namanya
Aldo : setia
meskipun dilukai berkali-kali? Digantungin gak jelas dan disakitin? Setia dari
mananya Fiaaa
Aku hanya diam, tak mengerti. Terlalu bodoh rasanya
diceramahi Aldo mengenai penantian. Bisa apa aku di depannya? Dia selalu
berhasil menyiratkan kalimat yang tak mudah kumengerti
Aldo : suatu
hari, nanti, lo akan punya orang yang bisa melindungi, bukan menyakiti. Yang
bisa ngebuat lo senyum. Orang yang deket sama lo mungkin..
Aldo seperti mengatakan dengan tulus. Sangat tulus
Aku : cuman Nino
kak, yang bisa bikin aku senyum
Aldo hanya terdiam. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia
ucap, terlihat dari wajahnya yang mengisyaratkan sesuatu yang dalam, tapi apa?
Dia hanya berdiri di depanku, memantulkan bola basket yang sedari tadi
dipegangnya. Sesuatu mencegatnya untuk tidak mengatakan beberapa hal. Ia hanya
pasrah, tapi seperti masih memperjuangkan sesuatu.
Aldo : yaudah,
terserah. Tapi gue yakin, lo bisa move on! Bisa pindah ke seseorang yang lebih
baik daripada si jelek Nino.
Lantas ia pergi
30 April 2012
Diatas titik kejenuhanku
Aku
menimang kalimat Aldo beberapa minggu lalu, apa aku akan mendapatkan seseorang
yang akan melindungiku ukan menyakiti? Ah! Rasanya hati ini masih terus
berpihak kepada kamu, ya, hanya kamu, tak ada yang lain. Kenapa aku terlalu
idiot menuruti tiap kata yang dilontarkan hatiku? Kenapa aku terus menunggu orang
yang tak pasti? Apa ini cinta? Tapi kurasa cinta itu mengikhlaskan, bukan
menunggu dengan sakit seperti ini!
Terus
saja aku terpaut sepanjang malam ini, siapa lagi kalau bukan kamu yang aku
pikirkan. Kamu selalu sukses membayangiku tentang masa lalu. Kamu itu aneh,
mengucap perpishan, membuatku menunggu dengan kesetiaan yang masih tertanam
kuat, yang entah kapan mencapai titik jenuhnya.
Kalimat
Aldo kembali terlintas, dengan beberapa sakit yang sukses kamu buat. Aku merasa
ini sia-sia, tapi..aku tak ingin pergi. Apa penantianku ini sudah mencapai
puncaknya? Sudah berhasil mencapai titik jenuhnya, untuk pergi dan melihat
orang yang lebih baik?
2 Mei 2012
Percakapan mengenai hati, bersama Aldo
Aldo : gue tau nih, lo kesini mau curhat tentang Nino lagi kan?
Aku : hihihi, abis kaka enak diajak curhat
Aldo : terus aja gue dijadiin tong sampah bagi lo, berasa gak dianggap haha
aku hanya tersenyum asimetris, Aldo merasa tak dianggap olehku, padahal lebih dari itu....dia penyemangatku..
Aldo : gimana
Nino? Masih lo perjuangin?
Aku : iya kak
Setelah itu, Aldo diam, sesekali hanya melihatku yang
kutangkap memiliki tatapan nanar. Entahlah
Aldo : lo… belom
nentuin orang yang ngisi hati lo?
Aku : cuman ada
Nino kak, disini.
Aldo : batu
dasar. Lo gak sadar apa orang di sekitar lo sayang dan pengen ngelindungin lo
lebih dari apapun? Seenggaknya setelah Tuhan dan keluarganya itu adalah diri
lo.
Aku menatap wajahnya yang terlihat sumringah. Aldo bersikap
aneh, seperti bulan lalu. Aku tetap saja tak mengerti.
Aku : ada kali
kak yang mau ngorbanin kayak gitu buat aku. Berasa mimpi jadi putri hahaha
Ucapku dengan nada ejekan, mana mungkin hal yang dibicarakan
Nino adalah kenyataan.
Aldo : ada lah!
Pasti ada! Lo itu harusnya dilindungin bukan dibuat galau kayak gini!
Aku : yakin?
Siapa juga yang mau ngelakuin itu buat aku? Gak ada kaaaak
Aldo seketika melempar bola basket seenaknya, memutar
tubuhnya ke arahku, lalu memegang kedua pundakku. Tatapannya begitu dalam.
Aldo : gue. Gue
mau ngelakuin semua agar lo nggak terus sakit kayak gini sama Nino yang nggak
jelas itu.
Tatapannya dalam, dari hati, wajahku panas. Terselip rasa
yang tak percaya, bimbang, senang, apapun, yang membuat hati ini seketika
menganggap Nino hanya obsesiku semata.
Aku : a.. aku..
jadi.. kak Aldo itu..
Aldo menghela napasnya,sedikit bergetar
Aldo : lo gak
tau? Ah dasar bocah nggak peka. Gue sayang sama lo, gue pengen lo senyum. Tapi
kalo lo lebih milih Nino yang gak tau arahnya itu, yaudah lah, gue gak bisa
maksa juga kan.
Aku : aku… jadi
nggak enak, curhat tentang Nino terus
Kami terdiam, aku menunduk memerah, Aldo mulai melepas kedua
tangannya, berjalan menuju bola, lalu kembali lagi ke arahku
Aldo : lo itu
kayak boomerang buat gue. Udah gue coba buat ngilangin rasa kayak gini, eh
balik lagi. dan Nino itu ibarat air buat lo. Lo adalah bunga, tanpa air lo nggak
bisa hidup, gak bisa berfotosintesis. Gue berasa bukan apa-apa di hidup lo,
cuman temen. Kalo gue paksa lo buat suka sama gue, ntar yang ada rasa suka lo
itu cuman beban.
Aldo tersenyum getir, terlihat keputus asaan yang selama ini
jarang terlihat mata. aku sadar, kamu adalah segalanya, tapi ketika melihat
Aldo, aku merasa bahwa kamu hanyalah obsesi yang tak bisa kulepas pergi.
Aku : kak..
Aldo menoleh ke arahku
Aku : aku ingin
lupain Nino, tapi aku nggak yakin kak. Aku takut, rasa ini muncul lagi buat Nino.
Aku butuh orang yang bisa buat aku percaya, kalau Nino bukan satu-satunya orang
yang bisa buat aku senyum.
Aldo : …..
Aku : aku..aku
butuh bantun kakak. Aku nggak bisa berjuang buat lupain Nino kayak gini,
rasanya sakit kalau harus melupakan dengan cara kayak gini. Tapi… daripada aku
makin sakit. Aku inget kalimat kakak, aku harus moving forward.
Aldo menatapku tak percaya. Apa ini jalan terbaik yang telah
kupilih? Apa aku telah melakukan hal yang benar? Ah, sudahlah.
Aldo : gue bisa
bantu lo buat ngapus Nino. Tapi, gue butuh kepercayaan dari lo.
Aku : aku
percaya, sangat, kalau kakak bisa ngubah pendirian aku. Jenuh kak rasanya
nunggu orang yang nggak nungguin kita. Aku capek, aku pengin berubah. Aku
pengin, kakak yang merubah itu..
30 November 2012
Hati untuk Aldo
Aldo selalu
bisa membuatku tersenyum, setidaknya semenjak setahun ini Nino bersama dengan
Maya. Dia selalu sukses membuatku percaya bahwa bukan hanya Nino saja yang
dapat membuat senyum merekah di bibirku.
Aldo membantuku
untuk terus melangkah maju, tetap mendukung meskipun ia tau, keberadaannya
hanya menjadi penyemangat untukku. Bagaimanapun, aku berusaha agar Aldo dapat
diterima oleh hatiku seutuhnya.
Aku : enak gak nasi
gorengnya?
Aldo : asin
banget, pedes banget, manis banget, ih gaenak campur aduk gini
Aku : yakin? Kok
dimakan terus sih kak? Haha
Aldo : kan gue
menghargai masakan lo Fi haha
Aku : bilang aja
suka kan sama buatan aku?
Aldo : iya deh
iyaaa
Aldo memakan nasi buatanku dengan lahap, aku tersenyum
Aku : makasih ya
kak, udah buat aku percaya
Aldo menatapku, dan tersenyum
17 Mei 2013
Dua tahun setelah anniversary itu, kamu kembali
Aku mencoba
melupakan semua hal yang berbau hari ini, sakit, memang. Tapi aku harus
melanjutkan semua jika aku tak ingin lagi menjadi orang yang bertahan demi
cinta diatas kesakitan.
Aku bersama
Aldo di sepanjang koridor, saat kamu datang, dan merubah seluruh atmosfer
duniaku.
Kamu : hai, Fia
Kamu menyapaku seperti ada keengganan, aku diam
Aldo : gue.. ke
ruang ekskul bentar ya, lo bisa nyusul nanti Fi
Kamu : ngg.. kamu
mau ikut Aldo?
Aku : tumben
pake aku-kamu, kemarin ngomongnya gue-lo
Kamu tersentak, seperti tak percaya aku menyindirmu begitu
tajam
Kamu : ngg..aku
cuman kangen sama kamu
Aku : kangen? Hah?
Aku nggak salah denger nih? sejak kapan kerinduan yang kamu miliki sepenuhya
buat aku? Bukannya buat Maya?
Kamu : Maya bukan
orang yang pas buat aku, cuman kamu
Aku : Maya nggak
pas buat kamu? kamu kan pacaran sama dia setahun
Kamu : semua gak
bisa diukur hanya dengan setahun Fi, yang aku sayang ternyata cuman kamu
Kamu kembali melemparkan kalimat rayuan yang dulu sukses
membuatku mabuk setengah mati
Aku : Kamu
jangan kembali
Kamu : Kenapa? Aku
hanya merindukanmu
Aku : Jangan
merindukanku, hal yang kamu lakukan hanya membuat sakit
Kamu : Menurutku ini
hal yang wajar. Aku, merindukanmu. Aku juga ingin kamu kembali…
Aku : Tidak.
Kamu masa laluku, kamu tak seharusnya kembali!
Kamu : Tapi aku
ingin kembali ke kamu
Aku : Aku udah
janji gak akan mau ngeliat kamu,walaupun sakit dan sulit
kamu diam, berkata dengan tatapan tak percaya padaku.
Seakan-akan kamu sama sekali tidak terima pernyataan yang tadi aku ucapkan
Aku : Tinggalkan
aku
Kamu : Tapi ak…
Aku : Aku sakit!
Kamu ngerti?! Aku nunggu kamu! tapi kamu gak lagi kembali ke jalan ini! Kamu
gak akan tau rasanya nunggu kayak yang aku lakukan!
Kamu : Aku sayang
kamu. aku sadar, walaupun kamu Gak lagi dengan aku. Pada akhirnya hati aku
sebagian besar berpihak padamu
Aku : Kesadaran
kamu telat. Saat aku ingin pergi, kamu datang. Membuat rindu ini kembali muncul
Kamu : Tapi,
dasarnya kamu masih merindukan aku kan?
aku terdiam beberapa saat, pun denganmu. Kita terdiam cukup
lama, kamu menungguku mengucapkan sebuah kata, yang pada akhirnya aku rangkai
dengan susah payah
Aku : Ya. Aku
merindukan kamu, sampai saat ini
Kamu : Kalau gitu
kasih aku kesempatan kedua
Aku : Kamu
sendiri yang bilang. Kita gak punya kesempatan kedua. Meskipun ada, tapi
sebagian besar kesempatan itu malah kita sia-siakan
Kamu : Makanya aku
pengen kembali, aku pengen perbaiki apa yang telah aku rusak
Aku : Jangan,
kumohon
Kamu : kenapa?
Aku hanya diam, aldo tepat di belakang pilar itu. Memata-matai
kita
Aku : aku..tak
mau mengulang semua apa yang telah membuatku sakit
Kamu : kalau kita
masih saling mencintai, kita bisa kayak dulu, kita ulang semua dari awal
Aku : tidak! Aku
tak ingin mencintaimu lagi!
Penolakanku adalah gertakan bagimu, kamu terkejut. Emosiku kembali
meluap, dan saat itu pula, Aldo menghampiri
Aldo : jangan
paksa dia, kalo dia gak mau sama lo yaudah
Kamu : tau apa lo
tentang hubungan gue sama Fia? Gak ada!
Aldo : gue emang
gak tau apa-apa, tapi selama lo nggak ada, Fia cerita semua hal yang udah dia
alami tentang rasa sakit nungguin lo. Lo gak tau itu kan? Karna lo lebih milih
sama Maya!
Aku : kak,
biarin Nino ngomong sama aku
Kemarahan Aldo memuncak, tidak terima apabila aku terus
menerus sakit dan menangis karena Nino. Sedangkan Nino hanya terpaku menelan
kalimat Aldo
Aldo : kita pergi
aja Fi, aku antar kamu pulang
Aldo meraih tanganku, membawaku menu ju lapangan parkir di
seberang sana. Kamu melihat kami pergi, dari raut wajahmu, kamu menyesal.
10 Juni 2013
Hati untuk Aldo
Aku menatap Aldo. Kejadian di hari itu belum sepenuhnya
hilang dari ingatan. Tapi, aku tau, Nino yang selama ini menjadi obsesi yang
tak bisa kulepas, perlahan menghilang, digantikan oleh sosok tinggi atletis
yang kini berada di sampingku. Aldo
Aku : gimana
sparingnya? Pasti kalah deh
Aldo terdiam, lalu tersenyum jail
Aldo : aku menang
dong! Berhubung aku menang, sesuai janji ya, kamu traktir aku sama temen-temen
lain bakso pakde
Aku : ih apaan
sih? Nggak lah nggak mau!!
Aldo : udah janji
juga
Aldo tertawa terbahak –bahak melihat wajahku yang kusut
akibat kalah. Setelah itu, dia terdiam, menatapku
Aku : yaudah aku
bayarin, berapa orang nih?
Aldo : udah
gausah, kamu traktir aku potato chips aja. Kasian kamunya
Aku : gapapa,
lagian aku kan udah janji.
Aldo : hmm..
gimana gantinya kamu temenin aku jalan-jalan aja? Deal? OKE!!
Aku mengangguk setuju. Aldo membereskan peralatannya dan
merangkulku, sedangkan aku membantunya membawa satu liter air minum yang memang
sehari-hari ia bawa untuk persiapan latihan. Kami pergi menuju parkiran. Dengan
senyum