Jumat, 30 Agustus 2013

Cerita seorang wanita


                Siang tampak terik. Jalanan dipenuhi pedagang yang setia menunggu pembeli yang berkenan menukarkan uangnya disana.
                Wanita itu bertahan di rumah tempat ia bernaung untuk saat ini. Berharap agar pria pujaannya datang dan memeluknya dengan erat. Wanita itu begitu optimis, bahwa, pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya akan datang, membelai lembut rambut hitamnya seperti yang biasa ia lakukan.
Wanita itu menunggu dengan tangguh. Ia sangat percaya bahwa hari ini, hari esok, atau hari yang lain sang pria akan datang untuk menjemputnya, membawanya pergi dari semua hal yang sudah membuatnya jenuh setengah mati. Maka, wajar saja ia tetap keras kepala untuk tetap menanti.

Wanita itu terus menerus bergumam setiap hari, atau mungkin setiap jam, atau bisa jadi setiap detik.

Apakah priaku akan datang? Apa ia akan memelukku? Ah, dia pasti akan membawa seikat mawar putih seperti yang ia janjikan sebelumberangkat  kerja! Aku tak sabar hihihihi.

                Wanita itu tersenyum lebar, sembari bergumam ia terus bercermin dengan menyisir rambut hitam sebahu yang ia miliki, menyematkan jepit bewarna pelangi di sebelah kanan, dan ia kembali tersenyum lebar.
                Hari ini, ia memakai short dress berwarna putih tulang, memakai sandal teplek dan gelang karet yang menghiasi pergelangan tangannya. Ia tampak anggun, cantik, hari ini dia sungguh cantik. Wanita itu mempunyai angan – angan yang terlalu tinggi, menjauh melewati atmosfer pikirannya sendiri. Bagaimanapun, wanita itu tetap menunggu sang pria, hingga saat ini.
Namun, sore tampak abu – abu, menutupi warna oranye dan ungu tipis yang sebelumnya menghiasi kota. Hujan tidak benar – benar turun di tempat dimana wanita ini berpijak. Wanita itu memudarkan senyumannya.

Perlahan, gerimis melanda.

                Semua orang yang lewat di depan wanita itu berlari berhamburan bagai gerombolan semut yang kehilangan arah. Setiap orang mencari tempat berteduh, tapi tidak dengan wanita ini.
Ia berlari keluar dari pintu kamarnya, menuju taman. Ia berharap pria yang selalu ia tunggu kehadirannya akan datang bersama hujan. Ia tidak mau seorangpun, siapapun, mengganggu penantiannya sore ini meskipun hanya sebentar.
Waktu menunjukkan hampir larut malam, namun hujan semakin mengguyur kota ini. Wanita itu memanggil nama sang pria dengan napas tersengal – sengal dan nada yang putus asa. Dalam hatinya, ia sangat yakin pria itu akan datang, entah sekarang, atau nanti.

Dan wanita itu berteriak memecah malam.
---
                Para perawat tak henti – hentinya memaksa wanita berumur 28 tahun itu untuk masuk ke dalam kamar. Semua perawat turun tangan, mulai dari cara halus hingga ancaman agar sang wanita mau masuk dan meninggalkan taman.
Dari lorong itu, terlihat beberapa orang tertawa melihat tingkah sang wanita, beberapa orang lainnya tengah diajak perawat untuk masuk dan beristirahat. Wanita itu teriak memanggil sebuah nama.

Nama suaminya, almarhum suaminya.

                Sang pria meninggal dalam kecelakaan kerja 6 bulan yang lalu. Setelah itu, sang wanita benar – benar tak sadarkan diri, ia terus meronta untuk bertemu pujaannya yang berada di dunia yang lain.
wanita itu menolak untuk masuk, sedangkan perawat sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan pasien dengan traumatik berat seperti ini. Wanita ini terus meneriaki nama suaminya. Berharap sang suami segera datang dan mencium keningnya. Seakan ia tak tahu bahwa suaminya tak pernah kembali kedalam pelukannya.

Wanita itu berteriak dengan keras untuk sekali. Tetapi, wanita tangguh itu menyerah oleh keadaan.
                Ia dibopong menuju kamar 90, tempatnya beristirahat 4 bulan terakhir. Beberapa perawat masuk dan membawa tali tambang, sedangkan perawat wanita membawa handuk dan baju ganti. Ia terlihat pasrah dengan rengekan kecil memanggil suaminya, ia lemah.
Lalu, ia tertidur pulas, dengan tangan dan kakinya yang diikat sejajar dengan ujung tempat tidur. Ini demi sang wanita, demi masa depannya, tanpa kekasih hatinya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Satu kisah di Malioboro


Night ya. malam ini, post ini adalah inspirasi saat gue pergi ke Yogya tempo hari. intinya sih ya sad ending (menurut gue) yasudah lah, happy reading ya~
(karya ini, untuk menyadarkanmu. bahwa saat itu, aku menunggu kamu di sepanjang Malioboro, tapi kamu tak kunjung hadir)

Aira
                Aku tak punya kekasih, setidaknya semenjak 4 tahun lalu, semenjak perpisahan itu, semenjak orang yang (sangat) kucintai memutuskan hubungan secara sepihak.
Selama itu, aku menunggu. Ya, menunggu, meskipun tahu orang yang selalu kutunggu kehadirannya mungkin tak lagi mengingatku. Bodoh ya hehe. Tapi, ya begitulah aku, tetap menunggunya disini. Aku berharap dia hadir, di Malioboro.

                Jalan setapak ini tak ubahnya seperti perjalanan waktu ke masa lalu, saat aku bersamanya.
Namanya Aldio, itulah nama orang yang telah menorehkan luka di hatiku. Membuatku bersikap bodoh bin tolol dengan menunggu tanpa kepastian. Semua orang bilang menunggu adalah hal yang membosankan, sudah kuno, tidak trendsetter. Untuk apa kamu lelah menunggu apabila kamu dapat melakukan aktivitas lain dari itu? Tapi, disinilah aku. Tidak berhenti berharap agar Aldio kembali lagi kesini, mengulang lagi kenangan yang kami lakukan di sepanjang jalan setapak Malioboro. Nyatanya, hanya aku yang berdiri.

Aldio
                Aku pernah punya kekasih, sekali, tetapi dia memutuskanku karena aku tak mengajaknya kencan di restoran bintang lima di pusat kota (dan itu adalah hal teraneh selama hidupku). Setelah itu, sampai sekarang, aku masih sendiri, bukan karena tidak ada pilihan, tapi aku tengah menunggu seseorang.
Semenjak 4 tahun lalu, aku memutuskan hubungan dengan seorang perempuan. Aku yang memutuskannya, dan sekarang aku menyesal mengingat hal itu. Kau tahu? Terkadang saat kau bosan dengan sesuatu (atau seseorang), kau bisa saja meninggalkannya tanpa berpikir dua kali, begitupun aku. Kejam ya? Membuat gadis itu menangis. Tunggu! Jangan menyalahkan keputusanku! Jika kau lelaki mungkin kau akan melakukannya. Mungkin..

                Namanya Aira, perempuan yang ku sia-siakan keberadaannya. Aku tak seharusnya bosan, seharusnya tak kulontarkan kalimat itu. Terbukti setelah putus dengannya aku hanya sekali memiliki kekasih (yang memutuskanku karena hal itu). Dan sudah 3 tahun terakhir Aira selalu berjalan di sepanjang Malioboro. Mungkin, atau hanya perasaanku, dia sebenarnya menungguku untuk hadir. Aku sering menatapnya berjalan santai di daerah ini. Kau tahu? Aku menatapnya secara diam selama tiga tahun terakhir! Meski Malioboro padat saat liburan, aku selalu bisa menemukannya. Aira, wanita dengan rambut hitam gelombang sebahu, mata bulat dan cokelat, kulit sawo matang dengan bibir merah delima. Kusadari, aku mencintainya.

Aira
                Aku biasa kesini saat liburan tiba. Tepat 3hari setelah liburan datang, aku selalu menyempatkan diri ke Yogyakarta. Selalu seperti itu 3 tahun ini. Aku sendiri tinggal di Jakarta sang ibukota, aku beri tahu ya, masa remaja kuhabiskan di Yogyakarta semenjak 1 SMP hingga 3 SMA. Keluargaku selalu berpindah, mengikuti ayah yang selalu bekerja di berbagai kota.
                Ponselku bergetar, seseorang mengirimkan pesan. Sepertinya aku pernah mengetahui pemilik nomor ini, tapi siapa?
“hai, Aira. Masih ingat denganku?”
“maaf ini siapa?” balasku sopan. Siapapun dia, aku merasa bahwa hatiku sedikit bergetar.
“aku Aldio. Kamu tidak menyimpan nomorku?”, kalimat itu tertulis jelas di ponselku.
Jantungku berdegup kencang.

“maaf, ponselku baru. Jadi semua kontak tak bisa kusimpan hehe” balasku dengan gemetar
“gapapa. Lama ya, kita tidak smsan” ucap Aldio dari pesan singkat. Ah! Aku gugup sekali, mungkin aku terlihat senyum sendiri oleh orang lain. Aku mendadak seperti orang gila!
“iya yah hahaha” ucapku, lalu aku menekan tombol kirim
Beberapa menit kemudian, Aldio tak membalas pesanku. Sial!

Aldio
                Aku memeriksa kontak di ponselku. Masih tertulis jelas nama Aira di urutan kelima. Dari sini, aku bisa melihat Aira yang berjalan santai. Dia tak pernah berjalan di kepadatan turis, dia selalu berjalan di tepi jalan raya, selama 3 tahun ini. Aku seperti tahu kapan Aira datang dan kapan Aira pulang ke Jakarta, seperti kontak batin.
“lagi apa?” tanyaku asal setelah beberapa menit aku mengabaikan pesannya
“jalan – jalan, kamu?” balasnya
“lagi cari sarapan. Jalan dimana?”tanyaku lagi. seandainya ia melihatku yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.
“kalo jalan ya di jalanan lah, hehe. Kamu sarapan dimana?”
Ternyata, dia tidak berkata bahwa dia di Maliboro. Kenapa ia tak jujur saja?

Aira
                Aku bingung! Sekaligus gugup! Juga senang! Tapi ingin meledak!
Harusnya aku berkata bahwa aku ada di sepanjang jalan Malioboro! Bukan berkata di jalanan! Ih Aira bodoh! Persetan dengan jemari yang dilanda kegugupan!
Oke, tenang sebentar, huuu…haaaa…
Ponselku berbunyi, itu pesan dari Aldio!
“masih nyari tempat yang enak sih bareng temenku” ucapnya. Oh, temannya ya…
Kupikir, ia sudah mendapat seseorang yang baru, dan bukan aku. Tunggu sebentar, Aldio sms aku lagi
“kamu masih sering ke Yogya?”
Eh! Dia menanyakannya! Dia mengingatku!

Aldio
“iya hehe, ini lagi di Yogya” balasnya mengagetkanku. Astaga! Akhirnya dia bilang bahwa dia di Yogya!
“oooh. Trus sekarang lagi dimananya Yogya?”
Fix! Aku akan menghampirinya!
Tak mungkin! Kamu terlalu naïf Aldio! Terbukti kamu hanya jadi mata-mata selama 3 tahun ini! Ucap hatiku yang lain.
Ponselku berbunyi, itu Aira, dengan sebuah pesan singkat yang berbunyi “aku di Malioboro”.

Aira
                Oh tidak! Apa yang baru aku ketik!?
Aku mengirim teks bahwa aku berada di Malioboro! Aduh! Mana mungkin Aldio peka dengan pesanmu?! Ucap hatiku.
Tenanglah Aira, dia pasti tahu kalau kamu selalu disini tiap tahun. Ucap hatiku yang lain.
“masih jalan di Malioboro?” pesan Aldio seketika ada di ponselku
“iya nih” balasku singkat. Mungkin dia ingin menghampiriku, senangnya!
Dan… ini sudah 5 menit setelah aku membalas pesan Aldio. Kenapa ia tak balas pesanku? Apa ia ada perlu? Lalu kenapa dia begitu penasaran dengan lokasiku sekarang?! Ah! Aira selalu bodoh kalau menyangkut hal ini! Dia tak akan peka! Jujur aku sangat sangat kecewa dengan Aldio!
Oh, atau memang dari awal aku saja yang terlalu percaya diri, padahal Aldio memang hanya ingin menyapa, sekedar menyapa lewat pesan teks!
Sudahlah! Lebih baik aku berlari dan keluar dari Malioboro!

Aldio
                Kenapa langkah kaki Aira dipercepat? Apa ia sedang melupakan sesuatu? Padahal aku ingin menghampirinya. Lebih baik aku segera berlari di belakangnya. Atau mungkin, ini bukan waktunya untuk bertemu? Tapi, aku ingin, sangat! Aku sengaja tak membalas pesannya karena aku ingin menepuk pundaknya dari belakang dan berkata ‘kejutan!’ seperti di ftv yang sering ditonton kakakku.
“aku di belakangmu” kalimat itu tertulis jelas di ponsel, tinggal kukirim saja. Ah! Aku merasa tidak bisa menjadi laki – laki gentleman hanya karena sosok Aira!

Aira
                Aku kembali melihat ponsel. Tuh kan, Aldio tak membalas pesanku! Sudah sudah! Harusnya sekalian saja aku berbohong, atau mungkin tak kubalas pesannya!

Aldio
                Aku berlari menuju jalan yang dilewati Aira. Tanpa pikir panjang aku menabrak beberapa penjual baju dan souvenir yang berjejer di sepanjang Malioboro. Napasku tersengal – sengal, aku tahu aku terlalu lelah, tapi aku yakin dapat bertemu Aira. Ini semua demi gadis itu.

Aira
                Aku berjalan cepat, lalu aku menabrak seseorang. Rasanya sakit, bahkan bisa kuperkirakan tinggiku hanya sampai bahunya.
“ma..maaf” ucapku pelan
“Aira ya? Masih ingat aku toh?” ucap laki – laki itu
Itu Satrio! Sahabat karibku!
“Tio?! Kukira kau gak disini! Suatu kejutan!”
“hehe. Aku lagi bantu ayahku tarik andong, biasa lah. Kerja sambilan Ra hehe” ucap Satrio bersemangat
“tarik andong? Bajumu bagus begitu kok hahaha”
“ini?” tanyanya sambil memegang setelan kaos Biru dan celana bahan warna hitam. “Aku itu bukan jadi kusirnya, tapi yang ngomong sama bule” jelas Satrio
“tour guide maksudmu?”
“NAAAH ITU LOH RA!” teriaknya. Kami tertawa riang.

Aldio
                Jarakku kurang lebih 5 meter dari Aira, saat kulihat ia tengah berbicara dengan riang…bersama seorang laki – laki tinggi yang sebelumnya pernah kulihat. Apa itu kekasih barunya? Atau seseorang yang tengah pdkt dengan Aira? Ah! Seharusnya aku selangkah lebih dulu untuk menepuk pundak Aira! Harusnya aku mengirim pesan itu agar Aira menungguku! Harusnya yang tengah mengobrol dengannya adalah aku..

Aira
“ngapain kamu ke Yogya? kamu cari Aldio?” tanya Satrio to the point. Aku diam
Satrio tahu banyak tentang Aldio, aku sering menceritakannya. Oh iya, satrio temanku saat kelas 2SMA (hingga sekarang), dia sudah punya kekasih (yaitu teman baikku sendiri) dan mereka berencana untuk tunangan tahun depan!
“aku mau naik andongmu ya. Sekalian kita cerita banyak” ajakku. Satrio bersemangat, mungkin aku pelanggan pertamanya.
Aku melihat ke belakang, mataku tertuju kepada jalanan yang penuh sesak dengan turis dan penjual. Seperti ada sesuatu yang mencegatku untuk diam disini.

Aldio
                Aku melihat Aira menghadap kemari, semoga ia melihatku. Tapi, bagaimana bisa ia melihat kearah kepadatan turis seperti ini? Tunggu, Aira berjalan menuju seberang jalan bersama pria tinggi itu, sepertinya mereka akan pergi bersama. Sudahlah, lebih baik aku pergi. Kesimpulannya, aku mengurungkan niatku menemui putri itu.

Aira
                Aku memeriksa barang yang kubawa, sepertinya tak ada yang terjatuh, lalu?
“Tio, tunggu ya, sepertinya ada sesuatu terjatuh di..umm…. disana!” kataku sambil menunjuk jalan depan toko Morita batik
“ooh..yasudah, aku dan bapakku tunggu disini”
Aku mengangguk, dan berlari ke depan toko Morita. Ada sesuatu yang memaksaku untuk terus berada disini. Tapi apa? Siapa? Aldio? Oh jangan bercanda! Mana mungkin dia mau menemuiku? Dia saja tak membalas pesanku! Tapi, aku tak ingin pergi dari Malioboro. Entahlah…

Aldio
                Aku melihat Aira berjalan mendekat tanpa pria Tinggi, hanya perasaanku atau dia memang kembali! Tapi ia terlihat mencari sesuatu. Baiklah, lebih baik aku pergi saja..

Aira
                Itu seperti Aldio.
                Ya! Itu memang dia! Atau, ini hanya ilusi optik karena aku selalu memikirkannya? Bahkan punggungnya yang bidang masih bisa ku kenali. Laki – laki yang mirip Aldio itu hanya berjarak beberapa meter dariku. Tinggi badannya bisa ku kenali, Sungguh! Mungkin aku salah orang, atau, apa aku hampiri saja orang itu? Tapi jika itu bukan Aldio, aku bisa malu tingkat dewa!

Aldio
                Aku kembali menoleh kearah Aira yang hanya berjarak beberapa meter dariku, ia terlihat memukul pelan kepalanya dengan tangan mungil yang ia miliki. Mungkin, sesuatu yang ia cari tak kunjung ketemu. Apa aku mendekat saja ya? Ah, tadi kan Aira bersama laki – laki itu. Fix, aku tak akan mendekatinya.

-----------------------
Setahun kemudian
                Aira kembali berjalan santai, ini adalah tahun ke-4 ia menjalankan ritual untuk berjalan di sekitar Malioboro, setelah 5 tahun ia tak bertemu sosok itu. Semenjak itu, Aira selalu menghadap belakang, sesuatu mencegatnya untuk terus mengunjungi Malioboro. Namun, Aira tak tahu apa yang mencegatnya, atau siapa yang sedang menunggunya.
                Dari kejauhan, Aldio kembali melakukan aktivitas ini. Memata – matai seorang gadis dari jarak beberapa meter. Setiap 3 hari setelah liburan, Aldio selalu kemari, dan melakukan hal ini selama 4 tahun berturut – turut. Perempuan itu terlalu bersinar dan tak bisa untuk Aldio hiraukan. Dan selama itu pula, Aldio hanya bisa memendam.

Dalam diam, mereka saling jatuh cinta.


Senin, 12 Agustus 2013

Sepenggal percakapan di perjalanan menuju Jakarta


                Aku menunggu dengan sabar kedatangan sang Sembrani, kereta yang akan mengantarku pulang ke Jakarta. Sekarang masih pukul 15.00, itu artinya waktu luangku disini masih sekitar 2 jam lagi. aku menelaah beberapa majalah terbitan lama yang tergeletak tak beraturan di atas meja, mencari beberapa artikel yang mungkin menyita pengelihatanku. Tapi kenyataannya, nol besar.
                Beberapa kereta melintas untuk sekedar mengangkut atau menurunkan beberapa penumpang. Hari memang sudah tampak senja, dengan warna oranye dan goresan violet tipis hasil tangan Tuhan, namun para penjelajah hidup di bumi ini masih ramai memadati stasiun. Aku meminum minuman kaleng yang berhasil aku dapatkan di toko kecil samping ruang tunggu, jenuh merajai, dan sepertinya ini akan terus beranjut hingga satu jam kedepan.

                Pandanganku berkeliaran tak tentu arah. Memandangi setiap orang yang tengah membawa barang-barangnya berlalu lalang didepanku, hingga aku memandang orang itu…
ia mempunyai ukuran tubuh yang memang lebih tinggi untuk orang normal pada umumnya, tubuhnya tak terlalu gemuk, kulitnya terlihat kecoklatan terkena sinar senja, tubuhnya tegap dan bidang, rambutnya pendek cepak berwarna hitam, dengan gurat wajah tegas dan hidungnya yang mancung, dan matanya yang bulat. Ia membawa satu tas ransel berukuran sedang di punggungnya dan sebuah biola yang ia bawa di tangan kirinya, terlihat gusar dengan raut wajah bimbang.

                Tatapan kami terkunci satu sama lain, setidaknya untuk beberapa detik. Ia tersenyum padaku, dan aku membalas senyum simpulnya. Lalu ia pergi menuju pusat informasi, sedangkan aku masih duduk dan memandang pria itu dari kejauhan, terdengar seperti kebetulan yang telah direncanakan Tuhan untukku di sore sejuk ini. Ia tampak seperti seseorang yang sudah lama bergabung dalam pikiranku, bedanya, seorang di hidupku mencintai gitar, bukan biola. Seperti seseorang yang selalu melekat, tapi tak pernah digenggam.

Oh jangan! Jangan dia lagi!
-----
                Waktu menunjukkan pukul 17.00, keretaku berhenti tepat di rel nomor 1. Secepat itu pula, aku mendapati diriku telah berada di gerbong 03, mencari tempat duduk dengan nomor 4B di atasnya, meletakkan barang bawaan di bagasi atas dan merebahkan diri. Entah untuk kesekian ribu atau juta kali, aku berhasil mengundang pria itu masuk ke pikiranku. Ini adalah masa liburan, dan aku masih saja menyisipkan sketsa wajahnya di loker dalam otakku. Bagaimana bisa seorang yang telah meninggakanku selama dua tahun masih tetap tergambar jelas dan bayangnya tak terlihat pudar? Ah, selalu saja tentang Bima yang kubahas dalam persoalan ini. Ya, si jangkung dengan mata kecoklatan dan tubuh atletis, tak berbeda jauh dengan pria yang bertatapan denganku di ruang tunggu beberapa waktu lalu, serta kegemarannya bermain gitar begitu sukses membuatku stuck untuk menunggu tanpa kepastian, berharap ia kembali untuk sekedar menyatakan rindu terhadapku. Entahlah, begitu berat rasanya melupakan orang yang selama ini membuat kenangan dalam hidupku. Seperti ibarat kata, ‘melupakan seseorang sama susahnya dengan mengingat seseorang yang belum pernah kita temui’.

                Penumpang lain datang mencari tempat duduk masing – masing, wajah mereka terlihat lelah dengan raut amarah, sebagian mencoba duduk dengan sikap anggun dan berintelek, tidak ada yang tau pasti, terkadang manusia di dunia telah terbiasa memakai topeng di keseharian hidupnya, mereka selalu menggunakannya untuk terlihat luar biasa dimata orang lain. Sehingga mereka terlanjur memendam egonya, dan membuat ego diluar sifat asli mereka, mereka terlanjur terjebak dengan topeng mereka sendiri. Ah sudahlah, orang – orang yang menjadi pengelana di bumi Tuhan ini sudah semakin tak tentu arah atas kemauannya. Biarlah. Kini, kembali ke pembicaraan kita.
                Aku melihat ke arah jendela, terlihat petugas kereta bertopi merah berjalan cepat menuju ruang masinis. Petugas lain terlihat membantu wanita paruh baya di dekat papan informasi. Terdengar langkah kaki mendekat kemari.
“permisi, ini kursi 4A?” ucap pria kepadaku, aku menoleh, dan melihatnya lagi.
“ya, ini kursi 4A” ucapku datar. Wajahku terlihat sumringah. Mengapa harus seseorang yang menyerupai dia yang bersama denganku?!
“tadi kita sempat bertemu kan?”
“iya, kamu yang tadi terlihat gusar disana kan?haha” tawaku renyah
Pria yang menyerupai Bima itu mengangguk sambil tertawa “sepertinya kita seumuran. Aku Rio, hanya Rio. Masih bisa disebut remaja”
“Vania. Panggil saja Nia jika kau mau. Oh, dan masih remaja” ucapku diiringi tawa.
                Kami seperti sudah terikat, mungkin ini kebetulan untuk kedua kalinya yang berhasil direncanakan Tuhan untukku. Tapi yang pasti, pria ini sudah membangkitkan kenangan yang seharusnya telah ku pendam cukup lama.
-----
                Kereta melaju perlahan, kami berdua kembali terdiam. Langit sudah tampak berwarna hitam, dengan bintang yang sesekali muncul di balik awan strato yang masih agak terlihat, petugas kereta tengah membagikan selimut ke setiap kursi. Lampu – lampu kota terlihat indah menghiasi sepanjang perjalanan menuju Jakarta, dingin semakin menyelimuti, biar begitu lampu penghias malam tetap menjadi layar yang selalu kupandang dari sini.

                Kembali ke topik mengenai Bima, sebagai teman dalam malam untuk hari ini. Dia adalah satu – satunya pria yang bisa membuatku menutup pintu hati untuk 2 tahun terakhir. Tak ada yang spesial darinya, memang, tapi… entahlah, sosoknya terlalu luar biasa dan berpengaruh di hidupku. Ia sama seperti remaja lain yang senang bersosialisasi dan mengembangkan minatnya. Ia memang pintar, lagipula dia manis, tak banyak yang bisa kuceritakan mengenai sosok atletis itu. Aku sendiri tak tahu mengapa aku terpikat olehnya.
                Kami saling menyayangi selama hampir satu setengah tahun, waktu yang lama bagiku untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Selama itu, entahlah, aku tak tahu apa yang menyebabkan perahuku harus pergi dari pelabuhannya, meninggalkan pelabuhan itu dalam keadaan kosong tak terurus. Bima pergi, ya, tanpa sebab, dan itu pasti. Setiap pria yang kutahu selalu memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, mereka semua terlihat sama, tak bertanggung jawab terhadap hati seorang wanita. Tapi bodohnya, aku masih menunggu pria itu hingga kini, detik ini.
“kamu turun dimana?” ucap Rio membuyarkan lamunanku.
“Jakarta, di Gambir. Kamu sendiri?”
“di Stasiun Semarang” jawabnya, kami kembali terdiam “mau cokelat?” ia menawarkan
“terima kasih, aku tak biasa makan coklat malam hari” tolakku halus
“oh begitu ya, maaf”
“tak apa” ucapku.

                Kami kembali berkutat dengan pikiran masing – masing. Waktu menunjukkan pukul 22.00, penumpang yang lain telah tertidur, sebagian masih memainkan telpon genggam mereka dengan mata sayu. Rio terlihat belum memejamkan mata, dengan bacaan yang sedari tadi ia baca. Aku kembali menatap jendela yang menampilkan lukisan bintang dan bulan sabit hasil ciptaan Tuhan.
“Ngomong – ngomong…..” ucapku untuk membuka pembicaraan santai “suka main biola ya?”
Ia menatapku, aku balas menatapnya “ya, aku mencintai biola. Sangat” jelasnya singkat, aku mengangguk kecil
“apa yang kamu cintai?” tanyanya
Aku tertegun sejenak, aku mencintai apa? Tidak tahu. Aku mencintai siapa? Bima.
“aku sama sekali tak menyukai alat musik” jawabku, ia tersentak “tapi aku mencintai seni tulis, mereka bisa hidup dan melekat di hati. Dikembangkan menjadi untaian kata yang tak berujung dan mempunyai arti. Tulisan bisa membuatku merasakan fantasi yang tak bisa dirasakan orang lain. Dan aku mencintainya” ujarku
“kamu sama seperti dirinya, ia membenci alat musik apapun. Tapi ia mencintai seni tulis” ucapnya menatap jendela
“siapa?” tanyaku penasaran
Rio menatapku, dengan tatapan menerawang “seseorang, yang berhasil membiusku, namun berhasil pula untuk melukaiku”
                Kami terdiam cukup lama, hingga aku menanggapinya “aku tahu rasanya”
Rio tersenyum "ah, kamu mungkin tak tahu rasanya kehilangan seseorang yang berpengaruh terhadap masa depanmu"
"sungguh aku bisa merasakannya" protesku, "Jujur, kamu mirip seseorang yang bisa membuatku tersenyum, bedanya, seorang itu mencintai gitar, bukan biola. Tapi akhirnya ya, aku sama sepertimu"

                Rio menghadapku, dan tersenyum simpul. Kami mempunyai persamaan; sama – sama masih menempatkan seseorang di sisa hidup kami. Masih mencintai orang yang seharusnya tak lagi menjadi seseorang di keseharian kita, seharusnya mereka hanya sebatas kenangan yang tak boleh diingat terlalu banyak.
“kau tahu? Satu – satunya cara adalah mengikhlaskannya pergi” ucap Rio sambil memakan sisa cokelatnya. Aku tersentak
“maksudmu?”
“aku mencintai wanita itu selama lebih dari 3 tahun terakhir, namanya Meysa, dan selama itu aku tak bisa mencintai wanita lain.” ungkapnya
Aku terdiam, melihat kedua kaki mungilku “Terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan pelabuhan sementara, sebelum akhirnya kita sampai di pelabuhan terakhir, dimana kita mengaitkan jangkar kapal kita untuk selamanya, begitu bukan?”
“kamu benar” tegasnya, “tapi, susah rasanya jika kamu telah mencintai orang, yang berpengaruh besar terhadap sifatmu yang akan berlanjut hingga nanti. Dia sudah melekat kuat dan juga melukai sebagian besar hatiku, dan mungkin hanya orang yang tepat yang akan menyembuhkannya”
“pada intinya, kamu mencintainya?” aku bertanya
“hingga detik ini, bisa dibilang…..ya. Tapi, aku sadar…”
“dari apa?”
“kenangan yang terus kubawa pergi, jika kubiarkan perlahan akan semakin menorehkan luka. Jika terus kubawa, itu artinya aku akan menyakiti hatiku sendiri. Aku harus tinggalkan itu, aku tak boleh membawa kenangan terlalu banyak” ujarnya panjang lebar
                Rio seperti tahu banyak tentang arti mencintai dengan tulus namun dilukai dengan luka menyayat. Semua percakapan kami memang tertuju kepada satu orang; orang yang kami cintai. Aku bisa berpura – pura untuk tak melihat Bima lagi, tapi harus meninggalkan sebagian kenangan…?
“bagaimana jika keputusanmu untuk terus menunggu?” tanyaku pelan
“setiap penantian memiliki titik jenuh, Vania. Tak selamanya penantianmu akan berbuah manis. Jika orang yang kamu tunggu telah memiliki pelabuhan terakhirnya, apa kamu akan terus menanti?” ia tersenyum menghadapku, berusaha meyakinkan bahwa tidak baik untuk terus menunggu seseorang yang keberadaannya terlihat samar.
“kau benar, kita harus meninggalkan kenangan yang tak perlu”

                Kereta melaju dengan lambat, lalu berhenti di sebuah stasiun kecil untuk suatu keperluan. Di luar, tampak tiada seorangpun, kecuali 3 orang petugas yang berjaga malam ini. Lalu kereta melaju lagi menuju Semarang.
“aku belajar banyak dari pengalaman mencintai Meysa” ucap Rio sambil menyeruput kopi panas yang baru ia pesan, “Memang, jika terus memaksakan untuk melupakan seseorang justru akan membuat kita makin mengingat. Tapi, jika kita tak mencoba melupakan, kita akan stuck di masa lalu, dan tak bisa membuka hati untuk siapapun”
“jadi, sekarang kamu mencoba untuk melupakan Meysa?” ucapku penuh tanya
“melupakan, bukan berarti menghapusnya. Hanya menyisihkannya sebagai ingatan sekunder. Bagaimanapun, dia kan telah mengisi keseharianku dulu. Kejam namanya jika tiba – tiba aku menghapus dan memaksa untuk tak menganggapnya”
“lalu, kalau dia kembali?”
“ya…. kalau aku mau jatuh ke lubang yang sama, aku akan menerimanya. Tapi jika aku ingin bangkit, aku harus mengikhlaskannya. Kalau Tuhan merancang ia menjadi jodohku, mungkin memang itulah saatnya” jawabnya meyakinkan
                Jarum pendek hampir mengarah ke angka 12, sudah hampir satu setengah jam kami berbincang mengenai hati. Untuk saat ini, aku mendapatkan alasan untuk tak lagi mempertahankan bayang Bima di keseharianku, kurasa.
“aku tidur duluan ya. Selamat malam” ucapku membelakanginya, ia hanya tersenyum sambil mengunyah cokelat yang baru ia buka.
------
                Alarm handphone milikku berbunyi pukul 03.00, tidur selama 3 jam yang lumayan lama untukku selama perjalanan berlangsung. Dingin masih menguasai, namun aku sadar, Rio tak lagi berada di kursi sampingku. Mungkin kota Semarang sudah lewat saat aku tertidur tadi, dan ia turun tanpa mengucapkan sepatah kata atau sekedar membangunkanku, mungkin ia tak enak untuk mengatakannya. Lalu aku mendapati secarik kertas dan chocolate bar di kursi sampingku, secarik kertas yang bertuliskan ‘ikuti hatimu, apabila ia ingin bertahan untuk menunggu, maka kamu harus mengambil resiko apapun itu. Tapi jika ingin pergi, itu artinya bebas’.
------ 
                Rio adalah orang tercepat yang kukenal, hanya karena ia mempunyai kemiripan dengan Bima, aku merasa nyaman saat berbincang dengannya. Entahlah, aku berpikir bahwa Tuhan mempertemukanku dengan Rio untuk mengulang kembali semua kisah bersama Bima, atau mungkin, Tuhan memiliki jalan agar aku dapat melupakan Bima.
                Aku tak dapat tidur kembali, memang waktu tidurku tergolong sedikit, namun jika dipaksakan tentu akan membuatku sakit kepala. Lagipula, hujan di luar menjadi daya tarik sendiri di pagi buta ini. Waktu yang pas untuk menimang kembali kalimat Rio, memikirkan apakah aku harus tetap menunggu atau berjalan pergi seperti yang ia lakukan. Aku terlalu banyak membawa kenangan, sehingga susah untuk melepas keberadaannya di masa lalu. Aku terlalu menguras otakku mengenai hal yang berbau Bima, tanpa tahu bahwa semakin lama hanyalah goresan luka yang aku timbulkan. Mencintai Bima memang bukan hal yang salah, tapi menunggu seorang yang tak tahu kapan kembali adalah suatu keputusan yang seharusnya tak aku pilih.
                Jam menunjukkan pukul 04.00, penumpang yang lain tengah terbangun dari tidur nyenyak mereka. Langit sudah berwarna biru tua, sebentar lagi fajar datang. Aku melakukan regangan kecil untuk ototku. Keputusan yang kuambil memang berat, menurutku. Dan aku yakin takkan mudah untuk melakukannya.

                Pagi telah datang, kereta telah memasuki Jakarta, aku bersiap untuk segera turun dan bergegas, seperti penumpang lain yang bersiap dengan ego mereka yang baru. Di Gambir, kereta ini melakukan pemberhentian terakhir. Orang sudah berlalu lalang memadati stasiun untuk sekedar mencari nafkah, sebagian datang untuk menjemput sanak keluarga mereka. Aku berjalan sendiri menuju pintu keluar, memanggil taksi, lalu meluncur pulang.
                Aku memutuskan meninggalkan sebagian kenanganku disana, di kereta itu. Meninggalkan beberapa kenangan mengenai Bima dan sosoknya. Mencoba untuk terus melangkah ke depan seperti ucapan Rio sewaktu itu. dan sesekali, menggenggam erat coklat pemberian pria pemain biola itu..

                Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi memang sulit ditempuh. Tapi bila itu membuat hati dan diri kita menjadi lebih baik, kita harus melakukannya.

26 Juni 2013
sepanjang perjalanan menuju Jakarta


Jumat, 02 Agustus 2013

Percakapan.

well, cerita hari ini sebenernya lebih kayak diary gitu, masih tentang cewek yang ingin melupakan, cowok yang udah pernah nyakitin dia, sama seorang cowok yang mencintainya dengan hati, dan ngebantu dia buat ngelepas kenangannya. ya baca sendiri aja deh hehe.
happy reading ^^


08 Mei 2011
Percakapan santai kita
Aku        : kamu percaya kesempatan kedua?
Kamu    : nggak
Aku        : kenapa?
Kamu    : karena… biasanya kita tak tahu bahwa itu adalah kesempatan kedua. Kadang kita malah menyia-nyiakan kesempatan itu buat hal yang harusnya gak perlu
Aku        : kalau, kita putus, terus kalau aku atau kamu minta kesempatan kedua? Gimana?
Kamu    : hush! apaan sih kamu?! aku pengennya kita terus sampe kakek nenek! Ngomong seenaknya!
Kamu cemberut luar biasa, aku kan hanya bertanya. Tapi, memang pertanyaanku yang keterlaluan
Aku        : maaf, aku cuman nanya kok hehe
Kamu    : gausah pake peng-ibaratan kita juga dong!
Aku        : hehehe, iya aku minta maaf Ninoooo
Kamu hanya terdiam, lalu menghadapku dengan senyummu, dan merangkulku dengan erat

17 Mei 2011
Percakapan kamu sama aku, di hari anniversary kita ke 1 tahun
Kamu    : selamat tanggal 17, Fia
Aku        : selamat juga ya, makasih udah bisa pacaran sama aku sampe setahun gini, hehe
Kamu    : hahaha..
Kamu tertawa renyah, menatapku dalam-dalam, memegang erat kedua tanganku
Kamu    : aku mencintaimu
Aku        : aku juga, No
Kamu    : cinta aku lebih lebih ke kamu
Aku        : aku juga
Kamu    : dih jawabnya singkat banget
Kamu mengerutkan wajah, aku tersenyum geli melihat tingkahmu saat marah tak karuan, seperti anak kecil
Aku        : ya aku mau bilang apa? Rasa sayang itu gak bisa digambar sama kata-kata, kalo udah sayang, yaudah. Sayangnya aku sampe sini nih ke kamu, sampe hati.
Aku tersenyum, pun denganmu. Kamu terlihat manis dibawah senja dan cahaya matahari yang menyiratkan warna oranye. Kita berpandangan
Kamu    : aku milikmu selamanya
Aku        : aku juga, aku menyayangimu sampai kapanpun
Kamu tersenyum..

21 Desember 2011
Percakapan dihari saat kamu mengucap kalimat itu
Aku        : apa yang menjadi alasanmu memutuskanku?
Kamu    : aku...ingin sendiri
Aku        : begitu? Kamu kira aku percaya dengan kebohonganmu kali ini? Jelaskan kesalahanku.
Kamu    : aku... kamu seharusnya tak perlu bertanya apapun. Aku ingin kita putus, kita udah nggak bisa kayak dulu
Aku menunduk, berusaha menahan tetesan air mata agar tak terlihat oleh kamu. aku berusaha tegar.
Aku        : kamu nggak logis banget. aku punya salah? Aku minta maaf.
Kamu    : aku… kamu gausah mengenalkanku pada cewek itu
Aku menangkap getaran yang kamu lontarkan lewat mulutmu. Ada sedikit rasa menyesal serta sakit dan ingin mengulang waktu. kamu mencintai wanita itu
Aku        : dia partner kelompok kita. Wajar bila aku mengenalkannya padamu!
Kamu    : kamu tak tahu apapun, Fia
Aku        : kamu mencintainya, aku tahu, sejak 2 minggu lalu.
Kamu terperangah. Kehabisan kata. Kamu kira aku tak tahu, gerak-gerik anehmu selama 2 minggu ini? Selalu terlihat sempurna di hadapan Maya, tapi di hadapanku terlihat konyol.
Kamu    : ya, aku menyukainya. Dan dia menyukaiku. Toh,dia tak tahu bahwa kita pacaran, dia hanya tahu kita akrab dari kecil.
Aku tersentak, masih berusaha menahan semua luapan emosi yang tertuju padamu. Aku mengusap mataku, mencoba menatapmu
Aku        : gitu? Yaudah. Emang hubungan macam ini nggak bisa dipaksa
Kamu    : lo ngerti kenapa gue mutusin lo kan. Jadi, maaf gue nggak bisa jadi seutuhnya buat lo Fi
Aku        : ya, nggak apa-apa. Udah sana, jauh jauh dari aku.
Berapa detik kemudian, kamu pergi, menyusul Maya yang berada tepat diujung jalan sana. Dan aku masih terpaku disini, menangis

12 Maret 2012
Percakapan dengan Maya, yang berujung amarah
Maya     : gue sebel sama Nino.
Aku mengangkat kedua alisku. Oh, iya. Maya tak tahu dulu aku menjadi kekasihnya, tepat sebelum Maya datang
Maya     : masa dia belain main games daripada nge-date sama gue?!
Aku diam.
Maya     : eh tapi ya, dia pernah cerita tentang mantannya loh, bikin gue ngefly juga hihi
Aku menatap wajah gadis itu dengan tajam
Aku        : kenapa sama mantannya?
Maya     : kata Nino, mantannya itu nggak peka. Dia sih nggak bilang semua, katanya kalo dia ngungkapin kalimat A ke si cewek, si cewek cuman bilang‘oh’ atau ‘aku juga’, nggak pernah ngomong panjang lebar mengenai perasaannya ke Nino. Trus dia bilang ke gue kalo gue itu pacar dia yang baik gitu deh hihihi
Emosiku meluap, terselip rasa bersalah karena perasanku yang tak benar-benar ditunjukkan pada Nino. Ini karena pendirianku, yang menganggap bahwa tidak semua rasa sayang harus diungkapkan. tapi, bagaimanapun, aku kesal setengah mati atas perkataan Maya
Aku        : kok dia bilang gitu sih? Gak cemburu lo?
Maya     : nggak, justru itu motivasi kalo gue harus lebih baik dari mantan mantannya. Gitu.
Setelah percakapan itu, aku meninggalkan Maya menuju gerbang.

3 April 2012
Aku dan Aldo. Percakapan dengan luka
Aldo       : pasti tentang Nino lagi nih
Aku mengangguk, Aldo selalu mengerti bagaimana aku tersiksa menunggu tanpa kepastian, ia selalu tau bahwa ia adalah orang yang selalu kucari keberadaanya, untuk membahas tentang kamu
Aldo       :  lo, tetep ngarepin Nino?
Aku        : iya Kak
Aldo mengeritkan dahinya, beberapa pertanyaan muncul begitu banyak di kepala ketua Ekskul yang menjadi kakak kelasku.
Aldo       : dia udah mati kali, gak ada kabar juga yang dia kasih ke lo
Aku        : dia itu hidup! Kalaupun mati dia tetep bernyawa di hati aku! Aku… nepatin kata-kata aku sendiri, Kak. Aku sayang sama dia sampe hati, sampe kapanpun
Aldo       : go forward Fia! Move on! Cowok bukan cuman dia! Masih banyak orang lain yang sebenarnya lebih sayang sama lo, dengan hati mereka. Hanya mereka belom mau mengungkapkan.
Ada kekhawatiran lebih yang tersirat dibalik mata Aldo. Aku tak mengerti, tak akan. Aku tetap memilih Nino, penguat hidupku, penghancur hatiku
Aldo       : batu banget sih, tetep pertahanin orang yang sekarang gak pernah nganggep lo.
Aku        : bukan batu, ini setia namanya
Aldo       : setia meskipun dilukai berkali-kali? Digantungin gak jelas dan disakitin? Setia dari mananya Fiaaa
Aku hanya diam, tak mengerti. Terlalu bodoh rasanya diceramahi Aldo mengenai penantian. Bisa apa aku di depannya? Dia selalu berhasil menyiratkan kalimat yang tak mudah kumengerti
Aldo       : suatu hari, nanti, lo akan punya orang yang bisa melindungi, bukan menyakiti. Yang bisa ngebuat lo senyum. Orang yang deket sama lo mungkin..
Aldo seperti mengatakan dengan tulus. Sangat tulus
Aku        : cuman Nino kak, yang bisa bikin aku senyum
Aldo hanya terdiam. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia ucap, terlihat dari wajahnya yang mengisyaratkan sesuatu yang dalam, tapi apa? Dia hanya berdiri di depanku, memantulkan bola basket yang sedari tadi dipegangnya. Sesuatu mencegatnya untuk tidak mengatakan beberapa hal. Ia hanya pasrah, tapi seperti masih memperjuangkan sesuatu.
Aldo       : yaudah, terserah. Tapi gue yakin, lo bisa move on! Bisa pindah ke seseorang yang lebih baik daripada si jelek Nino.
Lantas ia pergi

30 April 2012
Diatas titik kejenuhanku
                Aku menimang kalimat Aldo beberapa minggu lalu, apa aku akan mendapatkan seseorang yang akan melindungiku ukan menyakiti? Ah! Rasanya hati ini masih terus berpihak kepada kamu, ya, hanya kamu, tak ada yang lain. Kenapa aku terlalu idiot menuruti tiap kata yang dilontarkan hatiku? Kenapa aku terus menunggu orang yang tak pasti? Apa ini cinta? Tapi kurasa cinta itu mengikhlaskan, bukan menunggu dengan sakit seperti ini!
                Terus saja aku terpaut sepanjang malam ini, siapa lagi kalau bukan kamu yang aku pikirkan. Kamu selalu sukses membayangiku tentang masa lalu. Kamu itu aneh, mengucap perpishan, membuatku menunggu dengan kesetiaan yang masih tertanam kuat, yang entah kapan mencapai titik jenuhnya.
                Kalimat Aldo kembali terlintas, dengan beberapa sakit yang sukses kamu buat. Aku merasa ini sia-sia, tapi..aku tak ingin pergi. Apa penantianku ini sudah mencapai puncaknya? Sudah berhasil mencapai titik jenuhnya, untuk pergi dan melihat orang yang lebih baik?

2 Mei 2012
Percakapan mengenai hati, bersama Aldo
Aldo       : gue tau nih, lo kesini mau curhat tentang Nino lagi kan?
Aku        : hihihi, abis kaka enak diajak curhat
Aldo       : terus aja gue dijadiin tong sampah bagi lo, berasa gak dianggap haha
aku hanya tersenyum asimetris, Aldo merasa tak dianggap olehku, padahal lebih dari itu....dia penyemangatku..
Aldo       : gimana Nino? Masih lo perjuangin?
Aku        : iya kak
Setelah itu, Aldo diam, sesekali hanya melihatku yang kutangkap memiliki tatapan nanar. Entahlah
Aldo       : lo… belom nentuin orang yang ngisi hati lo?
Aku        : cuman ada Nino kak, disini.
Aldo       : batu dasar. Lo gak sadar apa orang di sekitar lo sayang dan pengen ngelindungin lo lebih dari apapun? Seenggaknya setelah Tuhan dan keluarganya itu adalah diri lo.
Aku menatap wajahnya yang terlihat sumringah. Aldo bersikap aneh, seperti bulan lalu. Aku tetap saja tak mengerti.
Aku        : ada kali kak yang mau ngorbanin kayak gitu buat aku. Berasa mimpi jadi putri hahaha
Ucapku dengan nada ejekan, mana mungkin hal yang dibicarakan Nino adalah kenyataan.
Aldo       : ada lah! Pasti ada! Lo itu harusnya dilindungin bukan dibuat galau kayak gini!
Aku        : yakin? Siapa juga yang mau ngelakuin itu buat aku? Gak ada kaaaak
Aldo seketika melempar bola basket seenaknya, memutar tubuhnya ke arahku, lalu memegang kedua pundakku. Tatapannya begitu dalam.
Aldo       : gue. Gue mau ngelakuin semua agar lo nggak terus sakit kayak gini sama Nino yang nggak jelas itu.
Tatapannya dalam, dari hati, wajahku panas. Terselip rasa yang tak percaya, bimbang, senang, apapun, yang membuat hati ini seketika menganggap Nino hanya obsesiku semata.
Aku        : a.. aku.. jadi.. kak Aldo itu..
Aldo menghela napasnya,sedikit bergetar
Aldo       : lo gak tau? Ah dasar bocah nggak peka. Gue sayang sama lo, gue pengen lo senyum. Tapi kalo lo lebih milih Nino yang gak tau arahnya itu, yaudah lah, gue gak bisa maksa juga kan.
Aku        : aku… jadi nggak enak, curhat tentang Nino terus
Kami terdiam, aku menunduk memerah, Aldo mulai melepas kedua tangannya, berjalan menuju bola, lalu kembali lagi ke arahku
Aldo       : lo itu kayak boomerang buat gue. Udah gue coba buat ngilangin rasa kayak gini, eh balik lagi. dan Nino itu ibarat air buat lo. Lo adalah bunga, tanpa air lo nggak bisa hidup, gak bisa berfotosintesis. Gue berasa bukan apa-apa di hidup lo, cuman temen. Kalo gue paksa lo buat suka sama gue, ntar yang ada rasa suka lo itu cuman beban.
Aldo tersenyum getir, terlihat keputus asaan yang selama ini jarang terlihat mata. aku sadar, kamu adalah segalanya, tapi ketika melihat Aldo, aku merasa bahwa kamu hanyalah obsesi yang tak bisa kulepas pergi.
Aku        : kak..
Aldo menoleh ke arahku
Aku        : aku ingin lupain Nino, tapi aku nggak yakin kak. Aku takut, rasa ini muncul lagi buat Nino. Aku butuh orang yang bisa buat aku percaya, kalau Nino bukan satu-satunya orang yang bisa buat aku senyum.
Aldo       : …..
Aku        : aku..aku butuh bantun kakak. Aku nggak bisa berjuang buat lupain Nino kayak gini, rasanya sakit kalau harus melupakan dengan cara kayak gini. Tapi… daripada aku makin sakit. Aku inget kalimat kakak, aku harus moving forward.
Aldo menatapku tak percaya. Apa ini jalan terbaik yang telah kupilih? Apa aku telah melakukan hal yang benar? Ah, sudahlah.
Aldo       : gue bisa bantu lo buat ngapus Nino. Tapi, gue butuh kepercayaan dari lo.
Aku        : aku percaya, sangat, kalau kakak bisa ngubah pendirian aku. Jenuh kak rasanya nunggu orang yang nggak nungguin kita. Aku capek, aku pengin berubah. Aku pengin, kakak yang merubah itu..

30 November 2012
Hati untuk  Aldo
                Aldo selalu bisa membuatku tersenyum, setidaknya semenjak setahun ini Nino bersama dengan Maya. Dia selalu sukses membuatku percaya bahwa bukan hanya Nino saja yang dapat membuat senyum merekah di bibirku.
                Aldo membantuku untuk terus melangkah maju, tetap mendukung meskipun ia tau, keberadaannya hanya menjadi penyemangat untukku. Bagaimanapun, aku berusaha agar Aldo dapat diterima oleh hatiku seutuhnya.
Aku        : enak gak nasi gorengnya?
Aldo       : asin banget, pedes banget, manis banget, ih gaenak campur aduk gini
Aku        : yakin? Kok dimakan terus sih kak? Haha
Aldo       : kan gue menghargai masakan lo Fi haha
Aku        : bilang aja suka kan sama buatan aku?
Aldo       : iya deh iyaaa
Aldo memakan nasi buatanku dengan lahap, aku tersenyum
Aku        : makasih ya kak, udah buat aku percaya
Aldo menatapku, dan tersenyum

17 Mei 2013
Dua tahun setelah anniversary itu, kamu kembali
                Aku mencoba melupakan semua hal yang berbau hari ini, sakit, memang. Tapi aku harus melanjutkan semua jika aku tak ingin lagi menjadi orang yang bertahan demi cinta diatas kesakitan.
                Aku bersama Aldo di sepanjang koridor, saat kamu datang, dan merubah seluruh atmosfer duniaku.
Kamu    : hai, Fia
Kamu menyapaku seperti ada keengganan, aku diam
Aldo       : gue.. ke ruang ekskul bentar ya, lo bisa nyusul nanti Fi
Kamu    : ngg.. kamu mau ikut Aldo?
Aku        : tumben pake aku-kamu, kemarin ngomongnya gue-lo
Kamu tersentak, seperti tak percaya aku menyindirmu begitu tajam
Kamu    : ngg..aku cuman kangen sama kamu
Aku        : kangen? Hah? Aku nggak salah denger nih? sejak kapan kerinduan yang kamu miliki sepenuhya buat aku? Bukannya buat Maya?
Kamu    : Maya bukan orang yang pas buat aku, cuman kamu
Aku        : Maya nggak pas buat kamu? kamu kan pacaran sama dia setahun
Kamu    : semua gak bisa diukur hanya dengan setahun Fi, yang aku sayang ternyata cuman kamu
Kamu kembali melemparkan kalimat rayuan yang dulu sukses membuatku mabuk setengah mati
Aku        : Kamu jangan kembali
Kamu    : Kenapa? Aku hanya merindukanmu
Aku        : Jangan merindukanku, hal yang kamu lakukan hanya membuat sakit
Kamu    : Menurutku ini hal yang wajar. Aku, merindukanmu. Aku juga ingin kamu kembali…
Aku        : Tidak. Kamu masa laluku, kamu tak seharusnya kembali!
Kamu    : Tapi aku ingin kembali ke kamu
Aku        : Aku udah janji gak akan mau ngeliat kamu,walaupun sakit dan sulit
kamu diam, berkata dengan tatapan tak percaya padaku. Seakan-akan kamu sama sekali tidak terima pernyataan yang tadi aku ucapkan
Aku        : Tinggalkan aku
Kamu    : Tapi ak…
Aku        : Aku sakit! Kamu ngerti?! Aku nunggu kamu! tapi kamu gak lagi kembali ke jalan ini! Kamu gak akan tau rasanya nunggu kayak yang aku lakukan!
Kamu    : Aku sayang kamu. aku sadar, walaupun kamu Gak lagi dengan aku. Pada akhirnya hati aku sebagian besar berpihak padamu
Aku        : Kesadaran kamu telat. Saat aku ingin pergi, kamu datang. Membuat rindu ini kembali muncul
Kamu    : Tapi, dasarnya kamu masih merindukan aku kan?
aku terdiam beberapa saat, pun denganmu. Kita terdiam cukup lama, kamu menungguku mengucapkan sebuah kata, yang pada akhirnya aku rangkai dengan susah payah
Aku        : Ya. Aku merindukan kamu, sampai saat ini
Kamu    : Kalau gitu kasih aku kesempatan kedua
Aku        : Kamu sendiri yang bilang. Kita gak punya kesempatan kedua. Meskipun ada, tapi sebagian besar kesempatan itu malah kita sia-siakan
Kamu    : Makanya aku pengen kembali, aku pengen perbaiki apa yang telah aku rusak
Aku        : Jangan, kumohon
Kamu    : kenapa?
Aku hanya diam, aldo tepat di belakang pilar itu. Memata-matai kita
Aku        : aku..tak mau mengulang semua apa yang telah membuatku sakit
Kamu    : kalau kita masih saling mencintai, kita bisa kayak dulu, kita ulang semua dari awal
Aku        : tidak! Aku tak ingin mencintaimu lagi!
Penolakanku adalah gertakan bagimu, kamu terkejut. Emosiku kembali meluap, dan saat itu pula, Aldo menghampiri
Aldo       : jangan paksa dia, kalo dia gak mau sama lo yaudah
Kamu    : tau apa lo tentang hubungan gue sama Fia? Gak ada!
Aldo       : gue emang gak tau apa-apa, tapi selama lo nggak ada, Fia cerita semua hal yang udah dia alami tentang rasa sakit nungguin lo. Lo gak tau itu kan? Karna lo lebih milih sama Maya!
Aku        : kak, biarin Nino ngomong sama aku
Kemarahan Aldo memuncak, tidak terima apabila aku terus menerus sakit dan menangis karena Nino. Sedangkan Nino hanya terpaku menelan kalimat Aldo
Aldo       : kita pergi aja Fi, aku antar kamu pulang
Aldo meraih tanganku, membawaku menu ju lapangan parkir di seberang sana. Kamu melihat kami pergi, dari raut wajahmu, kamu menyesal.

10 Juni 2013
Hati untuk Aldo
Aku menatap Aldo. Kejadian di hari itu belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Tapi, aku tau, Nino yang selama ini menjadi obsesi yang tak bisa kulepas, perlahan menghilang, digantikan oleh sosok tinggi atletis yang kini berada di sampingku. Aldo
Aku        : gimana sparingnya? Pasti kalah deh
Aldo terdiam, lalu tersenyum jail
Aldo       : aku menang dong! Berhubung aku menang, sesuai janji ya, kamu traktir aku sama temen-temen lain bakso pakde
Aku        : ih apaan sih? Nggak lah nggak mau!!
Aldo       : udah janji juga
Aldo tertawa terbahak –bahak melihat wajahku yang kusut akibat kalah. Setelah itu, dia terdiam, menatapku
Aku        : yaudah aku bayarin, berapa orang nih?
Aldo       : udah gausah, kamu traktir aku potato chips aja. Kasian kamunya
Aku        : gapapa, lagian aku kan udah janji.
Aldo       : hmm.. gimana gantinya kamu temenin aku jalan-jalan aja? Deal? OKE!!
Aku mengangguk setuju. Aldo membereskan peralatannya dan merangkulku, sedangkan aku membantunya membawa satu liter air minum yang memang sehari-hari ia bawa untuk persiapan latihan. Kami pergi menuju parkiran. Dengan senyum