Kamis, 29 Agustus 2013

Satu kisah di Malioboro


Night ya. malam ini, post ini adalah inspirasi saat gue pergi ke Yogya tempo hari. intinya sih ya sad ending (menurut gue) yasudah lah, happy reading ya~
(karya ini, untuk menyadarkanmu. bahwa saat itu, aku menunggu kamu di sepanjang Malioboro, tapi kamu tak kunjung hadir)

Aira
                Aku tak punya kekasih, setidaknya semenjak 4 tahun lalu, semenjak perpisahan itu, semenjak orang yang (sangat) kucintai memutuskan hubungan secara sepihak.
Selama itu, aku menunggu. Ya, menunggu, meskipun tahu orang yang selalu kutunggu kehadirannya mungkin tak lagi mengingatku. Bodoh ya hehe. Tapi, ya begitulah aku, tetap menunggunya disini. Aku berharap dia hadir, di Malioboro.

                Jalan setapak ini tak ubahnya seperti perjalanan waktu ke masa lalu, saat aku bersamanya.
Namanya Aldio, itulah nama orang yang telah menorehkan luka di hatiku. Membuatku bersikap bodoh bin tolol dengan menunggu tanpa kepastian. Semua orang bilang menunggu adalah hal yang membosankan, sudah kuno, tidak trendsetter. Untuk apa kamu lelah menunggu apabila kamu dapat melakukan aktivitas lain dari itu? Tapi, disinilah aku. Tidak berhenti berharap agar Aldio kembali lagi kesini, mengulang lagi kenangan yang kami lakukan di sepanjang jalan setapak Malioboro. Nyatanya, hanya aku yang berdiri.

Aldio
                Aku pernah punya kekasih, sekali, tetapi dia memutuskanku karena aku tak mengajaknya kencan di restoran bintang lima di pusat kota (dan itu adalah hal teraneh selama hidupku). Setelah itu, sampai sekarang, aku masih sendiri, bukan karena tidak ada pilihan, tapi aku tengah menunggu seseorang.
Semenjak 4 tahun lalu, aku memutuskan hubungan dengan seorang perempuan. Aku yang memutuskannya, dan sekarang aku menyesal mengingat hal itu. Kau tahu? Terkadang saat kau bosan dengan sesuatu (atau seseorang), kau bisa saja meninggalkannya tanpa berpikir dua kali, begitupun aku. Kejam ya? Membuat gadis itu menangis. Tunggu! Jangan menyalahkan keputusanku! Jika kau lelaki mungkin kau akan melakukannya. Mungkin..

                Namanya Aira, perempuan yang ku sia-siakan keberadaannya. Aku tak seharusnya bosan, seharusnya tak kulontarkan kalimat itu. Terbukti setelah putus dengannya aku hanya sekali memiliki kekasih (yang memutuskanku karena hal itu). Dan sudah 3 tahun terakhir Aira selalu berjalan di sepanjang Malioboro. Mungkin, atau hanya perasaanku, dia sebenarnya menungguku untuk hadir. Aku sering menatapnya berjalan santai di daerah ini. Kau tahu? Aku menatapnya secara diam selama tiga tahun terakhir! Meski Malioboro padat saat liburan, aku selalu bisa menemukannya. Aira, wanita dengan rambut hitam gelombang sebahu, mata bulat dan cokelat, kulit sawo matang dengan bibir merah delima. Kusadari, aku mencintainya.

Aira
                Aku biasa kesini saat liburan tiba. Tepat 3hari setelah liburan datang, aku selalu menyempatkan diri ke Yogyakarta. Selalu seperti itu 3 tahun ini. Aku sendiri tinggal di Jakarta sang ibukota, aku beri tahu ya, masa remaja kuhabiskan di Yogyakarta semenjak 1 SMP hingga 3 SMA. Keluargaku selalu berpindah, mengikuti ayah yang selalu bekerja di berbagai kota.
                Ponselku bergetar, seseorang mengirimkan pesan. Sepertinya aku pernah mengetahui pemilik nomor ini, tapi siapa?
“hai, Aira. Masih ingat denganku?”
“maaf ini siapa?” balasku sopan. Siapapun dia, aku merasa bahwa hatiku sedikit bergetar.
“aku Aldio. Kamu tidak menyimpan nomorku?”, kalimat itu tertulis jelas di ponselku.
Jantungku berdegup kencang.

“maaf, ponselku baru. Jadi semua kontak tak bisa kusimpan hehe” balasku dengan gemetar
“gapapa. Lama ya, kita tidak smsan” ucap Aldio dari pesan singkat. Ah! Aku gugup sekali, mungkin aku terlihat senyum sendiri oleh orang lain. Aku mendadak seperti orang gila!
“iya yah hahaha” ucapku, lalu aku menekan tombol kirim
Beberapa menit kemudian, Aldio tak membalas pesanku. Sial!

Aldio
                Aku memeriksa kontak di ponselku. Masih tertulis jelas nama Aira di urutan kelima. Dari sini, aku bisa melihat Aira yang berjalan santai. Dia tak pernah berjalan di kepadatan turis, dia selalu berjalan di tepi jalan raya, selama 3 tahun ini. Aku seperti tahu kapan Aira datang dan kapan Aira pulang ke Jakarta, seperti kontak batin.
“lagi apa?” tanyaku asal setelah beberapa menit aku mengabaikan pesannya
“jalan – jalan, kamu?” balasnya
“lagi cari sarapan. Jalan dimana?”tanyaku lagi. seandainya ia melihatku yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.
“kalo jalan ya di jalanan lah, hehe. Kamu sarapan dimana?”
Ternyata, dia tidak berkata bahwa dia di Maliboro. Kenapa ia tak jujur saja?

Aira
                Aku bingung! Sekaligus gugup! Juga senang! Tapi ingin meledak!
Harusnya aku berkata bahwa aku ada di sepanjang jalan Malioboro! Bukan berkata di jalanan! Ih Aira bodoh! Persetan dengan jemari yang dilanda kegugupan!
Oke, tenang sebentar, huuu…haaaa…
Ponselku berbunyi, itu pesan dari Aldio!
“masih nyari tempat yang enak sih bareng temenku” ucapnya. Oh, temannya ya…
Kupikir, ia sudah mendapat seseorang yang baru, dan bukan aku. Tunggu sebentar, Aldio sms aku lagi
“kamu masih sering ke Yogya?”
Eh! Dia menanyakannya! Dia mengingatku!

Aldio
“iya hehe, ini lagi di Yogya” balasnya mengagetkanku. Astaga! Akhirnya dia bilang bahwa dia di Yogya!
“oooh. Trus sekarang lagi dimananya Yogya?”
Fix! Aku akan menghampirinya!
Tak mungkin! Kamu terlalu naïf Aldio! Terbukti kamu hanya jadi mata-mata selama 3 tahun ini! Ucap hatiku yang lain.
Ponselku berbunyi, itu Aira, dengan sebuah pesan singkat yang berbunyi “aku di Malioboro”.

Aira
                Oh tidak! Apa yang baru aku ketik!?
Aku mengirim teks bahwa aku berada di Malioboro! Aduh! Mana mungkin Aldio peka dengan pesanmu?! Ucap hatiku.
Tenanglah Aira, dia pasti tahu kalau kamu selalu disini tiap tahun. Ucap hatiku yang lain.
“masih jalan di Malioboro?” pesan Aldio seketika ada di ponselku
“iya nih” balasku singkat. Mungkin dia ingin menghampiriku, senangnya!
Dan… ini sudah 5 menit setelah aku membalas pesan Aldio. Kenapa ia tak balas pesanku? Apa ia ada perlu? Lalu kenapa dia begitu penasaran dengan lokasiku sekarang?! Ah! Aira selalu bodoh kalau menyangkut hal ini! Dia tak akan peka! Jujur aku sangat sangat kecewa dengan Aldio!
Oh, atau memang dari awal aku saja yang terlalu percaya diri, padahal Aldio memang hanya ingin menyapa, sekedar menyapa lewat pesan teks!
Sudahlah! Lebih baik aku berlari dan keluar dari Malioboro!

Aldio
                Kenapa langkah kaki Aira dipercepat? Apa ia sedang melupakan sesuatu? Padahal aku ingin menghampirinya. Lebih baik aku segera berlari di belakangnya. Atau mungkin, ini bukan waktunya untuk bertemu? Tapi, aku ingin, sangat! Aku sengaja tak membalas pesannya karena aku ingin menepuk pundaknya dari belakang dan berkata ‘kejutan!’ seperti di ftv yang sering ditonton kakakku.
“aku di belakangmu” kalimat itu tertulis jelas di ponsel, tinggal kukirim saja. Ah! Aku merasa tidak bisa menjadi laki – laki gentleman hanya karena sosok Aira!

Aira
                Aku kembali melihat ponsel. Tuh kan, Aldio tak membalas pesanku! Sudah sudah! Harusnya sekalian saja aku berbohong, atau mungkin tak kubalas pesannya!

Aldio
                Aku berlari menuju jalan yang dilewati Aira. Tanpa pikir panjang aku menabrak beberapa penjual baju dan souvenir yang berjejer di sepanjang Malioboro. Napasku tersengal – sengal, aku tahu aku terlalu lelah, tapi aku yakin dapat bertemu Aira. Ini semua demi gadis itu.

Aira
                Aku berjalan cepat, lalu aku menabrak seseorang. Rasanya sakit, bahkan bisa kuperkirakan tinggiku hanya sampai bahunya.
“ma..maaf” ucapku pelan
“Aira ya? Masih ingat aku toh?” ucap laki – laki itu
Itu Satrio! Sahabat karibku!
“Tio?! Kukira kau gak disini! Suatu kejutan!”
“hehe. Aku lagi bantu ayahku tarik andong, biasa lah. Kerja sambilan Ra hehe” ucap Satrio bersemangat
“tarik andong? Bajumu bagus begitu kok hahaha”
“ini?” tanyanya sambil memegang setelan kaos Biru dan celana bahan warna hitam. “Aku itu bukan jadi kusirnya, tapi yang ngomong sama bule” jelas Satrio
“tour guide maksudmu?”
“NAAAH ITU LOH RA!” teriaknya. Kami tertawa riang.

Aldio
                Jarakku kurang lebih 5 meter dari Aira, saat kulihat ia tengah berbicara dengan riang…bersama seorang laki – laki tinggi yang sebelumnya pernah kulihat. Apa itu kekasih barunya? Atau seseorang yang tengah pdkt dengan Aira? Ah! Seharusnya aku selangkah lebih dulu untuk menepuk pundak Aira! Harusnya aku mengirim pesan itu agar Aira menungguku! Harusnya yang tengah mengobrol dengannya adalah aku..

Aira
“ngapain kamu ke Yogya? kamu cari Aldio?” tanya Satrio to the point. Aku diam
Satrio tahu banyak tentang Aldio, aku sering menceritakannya. Oh iya, satrio temanku saat kelas 2SMA (hingga sekarang), dia sudah punya kekasih (yaitu teman baikku sendiri) dan mereka berencana untuk tunangan tahun depan!
“aku mau naik andongmu ya. Sekalian kita cerita banyak” ajakku. Satrio bersemangat, mungkin aku pelanggan pertamanya.
Aku melihat ke belakang, mataku tertuju kepada jalanan yang penuh sesak dengan turis dan penjual. Seperti ada sesuatu yang mencegatku untuk diam disini.

Aldio
                Aku melihat Aira menghadap kemari, semoga ia melihatku. Tapi, bagaimana bisa ia melihat kearah kepadatan turis seperti ini? Tunggu, Aira berjalan menuju seberang jalan bersama pria tinggi itu, sepertinya mereka akan pergi bersama. Sudahlah, lebih baik aku pergi. Kesimpulannya, aku mengurungkan niatku menemui putri itu.

Aira
                Aku memeriksa barang yang kubawa, sepertinya tak ada yang terjatuh, lalu?
“Tio, tunggu ya, sepertinya ada sesuatu terjatuh di..umm…. disana!” kataku sambil menunjuk jalan depan toko Morita batik
“ooh..yasudah, aku dan bapakku tunggu disini”
Aku mengangguk, dan berlari ke depan toko Morita. Ada sesuatu yang memaksaku untuk terus berada disini. Tapi apa? Siapa? Aldio? Oh jangan bercanda! Mana mungkin dia mau menemuiku? Dia saja tak membalas pesanku! Tapi, aku tak ingin pergi dari Malioboro. Entahlah…

Aldio
                Aku melihat Aira berjalan mendekat tanpa pria Tinggi, hanya perasaanku atau dia memang kembali! Tapi ia terlihat mencari sesuatu. Baiklah, lebih baik aku pergi saja..

Aira
                Itu seperti Aldio.
                Ya! Itu memang dia! Atau, ini hanya ilusi optik karena aku selalu memikirkannya? Bahkan punggungnya yang bidang masih bisa ku kenali. Laki – laki yang mirip Aldio itu hanya berjarak beberapa meter dariku. Tinggi badannya bisa ku kenali, Sungguh! Mungkin aku salah orang, atau, apa aku hampiri saja orang itu? Tapi jika itu bukan Aldio, aku bisa malu tingkat dewa!

Aldio
                Aku kembali menoleh kearah Aira yang hanya berjarak beberapa meter dariku, ia terlihat memukul pelan kepalanya dengan tangan mungil yang ia miliki. Mungkin, sesuatu yang ia cari tak kunjung ketemu. Apa aku mendekat saja ya? Ah, tadi kan Aira bersama laki – laki itu. Fix, aku tak akan mendekatinya.

-----------------------
Setahun kemudian
                Aira kembali berjalan santai, ini adalah tahun ke-4 ia menjalankan ritual untuk berjalan di sekitar Malioboro, setelah 5 tahun ia tak bertemu sosok itu. Semenjak itu, Aira selalu menghadap belakang, sesuatu mencegatnya untuk terus mengunjungi Malioboro. Namun, Aira tak tahu apa yang mencegatnya, atau siapa yang sedang menunggunya.
                Dari kejauhan, Aldio kembali melakukan aktivitas ini. Memata – matai seorang gadis dari jarak beberapa meter. Setiap 3 hari setelah liburan, Aldio selalu kemari, dan melakukan hal ini selama 4 tahun berturut – turut. Perempuan itu terlalu bersinar dan tak bisa untuk Aldio hiraukan. Dan selama itu pula, Aldio hanya bisa memendam.

Dalam diam, mereka saling jatuh cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar