Night ya. malam ini, post ini adalah inspirasi saat gue pergi ke Yogya tempo hari. intinya sih ya sad ending (menurut gue) yasudah lah, happy reading ya~
(karya ini, untuk menyadarkanmu. bahwa saat itu, aku menunggu kamu di sepanjang Malioboro, tapi kamu tak kunjung hadir)
Aira
Aku tak
punya kekasih, setidaknya semenjak 4 tahun lalu, semenjak perpisahan itu,
semenjak orang yang (sangat) kucintai memutuskan hubungan secara sepihak.
Selama itu, aku menunggu. Ya, menunggu, meskipun tahu orang
yang selalu kutunggu kehadirannya mungkin tak lagi mengingatku. Bodoh ya hehe. Tapi,
ya begitulah aku, tetap menunggunya disini. Aku berharap dia hadir, di
Malioboro.
Jalan setapak
ini tak ubahnya seperti perjalanan waktu ke masa lalu, saat aku bersamanya.
Namanya Aldio, itulah nama orang yang telah menorehkan luka
di hatiku. Membuatku bersikap bodoh bin tolol dengan menunggu tanpa kepastian. Semua
orang bilang menunggu adalah hal yang membosankan, sudah kuno, tidak
trendsetter. Untuk apa kamu lelah menunggu apabila kamu dapat melakukan
aktivitas lain dari itu? Tapi, disinilah aku. Tidak berhenti berharap agar
Aldio kembali lagi kesini, mengulang lagi kenangan yang kami lakukan di
sepanjang jalan setapak Malioboro. Nyatanya, hanya aku yang berdiri.
Aldio
Aku pernah
punya kekasih, sekali, tetapi dia memutuskanku karena aku tak mengajaknya
kencan di restoran bintang lima di pusat kota (dan itu adalah hal teraneh
selama hidupku). Setelah itu, sampai sekarang, aku masih sendiri, bukan karena
tidak ada pilihan, tapi aku tengah menunggu seseorang.
Semenjak 4 tahun lalu, aku memutuskan hubungan dengan
seorang perempuan. Aku yang memutuskannya, dan sekarang aku menyesal mengingat
hal itu. Kau tahu? Terkadang saat kau bosan dengan sesuatu (atau seseorang),
kau bisa saja meninggalkannya tanpa berpikir dua kali, begitupun aku. Kejam ya?
Membuat gadis itu menangis. Tunggu! Jangan menyalahkan keputusanku! Jika kau
lelaki mungkin kau akan melakukannya. Mungkin..
Namanya
Aira, perempuan yang ku sia-siakan keberadaannya. Aku tak seharusnya bosan,
seharusnya tak kulontarkan kalimat itu. Terbukti setelah putus dengannya aku
hanya sekali memiliki kekasih (yang memutuskanku karena hal itu). Dan sudah 3
tahun terakhir Aira selalu berjalan di sepanjang Malioboro. Mungkin, atau hanya
perasaanku, dia sebenarnya menungguku untuk hadir. Aku sering menatapnya
berjalan santai di daerah ini. Kau tahu? Aku menatapnya secara diam selama tiga
tahun terakhir! Meski Malioboro padat saat liburan, aku selalu bisa
menemukannya. Aira, wanita dengan rambut hitam gelombang sebahu, mata bulat dan
cokelat, kulit sawo matang dengan bibir merah delima. Kusadari, aku
mencintainya.
Aira
Aku biasa
kesini saat liburan tiba. Tepat 3hari setelah liburan datang, aku selalu
menyempatkan diri ke Yogyakarta. Selalu seperti itu 3 tahun ini. Aku sendiri
tinggal di Jakarta sang ibukota, aku beri tahu ya, masa remaja kuhabiskan di Yogyakarta
semenjak 1 SMP hingga 3 SMA. Keluargaku selalu berpindah, mengikuti ayah yang
selalu bekerja di berbagai kota.
Ponselku
bergetar, seseorang mengirimkan pesan. Sepertinya aku pernah mengetahui pemilik
nomor ini, tapi siapa?
“hai, Aira. Masih ingat denganku?”
“maaf ini siapa?” balasku sopan. Siapapun dia, aku merasa
bahwa hatiku sedikit bergetar.
“aku Aldio. Kamu tidak menyimpan nomorku?”, kalimat itu
tertulis jelas di ponselku.
Jantungku berdegup kencang.
“maaf, ponselku baru. Jadi semua kontak tak bisa kusimpan
hehe” balasku dengan gemetar
“gapapa. Lama ya, kita tidak smsan” ucap Aldio dari pesan
singkat. Ah! Aku gugup sekali, mungkin aku terlihat senyum sendiri oleh orang
lain. Aku mendadak seperti orang gila!
“iya yah hahaha” ucapku, lalu aku menekan tombol kirim
Beberapa menit kemudian, Aldio tak membalas pesanku. Sial!
Aldio
Aku memeriksa
kontak di ponselku. Masih tertulis jelas nama Aira di urutan kelima. Dari sini,
aku bisa melihat Aira yang berjalan santai. Dia tak pernah berjalan di
kepadatan turis, dia selalu berjalan di tepi jalan raya, selama 3 tahun ini. Aku
seperti tahu kapan Aira datang dan kapan Aira pulang ke Jakarta, seperti kontak
batin.
“lagi apa?” tanyaku asal setelah beberapa menit aku
mengabaikan pesannya
“jalan – jalan, kamu?” balasnya
“lagi cari sarapan. Jalan dimana?”tanyaku lagi. seandainya
ia melihatku yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.
“kalo jalan ya di jalanan lah, hehe. Kamu sarapan dimana?”
Ternyata, dia tidak berkata bahwa dia di Maliboro. Kenapa ia
tak jujur saja?
Aira
Aku bingung!
Sekaligus gugup! Juga senang! Tapi ingin meledak!
Harusnya aku berkata bahwa aku ada di sepanjang jalan
Malioboro! Bukan berkata di jalanan! Ih Aira bodoh! Persetan dengan jemari yang
dilanda kegugupan!
Oke, tenang sebentar, huuu…haaaa…
Ponselku berbunyi, itu pesan dari Aldio!
“masih nyari tempat yang enak sih bareng temenku” ucapnya. Oh,
temannya ya…
Kupikir, ia sudah mendapat seseorang yang baru, dan bukan
aku. Tunggu sebentar, Aldio sms aku lagi
“kamu masih sering ke Yogya?”
Eh! Dia menanyakannya! Dia mengingatku!
Aldio
“iya hehe, ini lagi di Yogya” balasnya mengagetkanku. Astaga!
Akhirnya dia bilang bahwa dia di Yogya!
“oooh. Trus sekarang lagi dimananya Yogya?”
Fix! Aku akan menghampirinya!
Tak mungkin! Kamu terlalu
naïf Aldio! Terbukti kamu hanya jadi mata-mata selama 3 tahun ini! Ucap hatiku
yang lain.
Ponselku berbunyi, itu Aira, dengan sebuah pesan singkat
yang berbunyi “aku di Malioboro”.
Aira
Oh tidak!
Apa yang baru aku ketik!?
Aku mengirim teks bahwa aku berada di Malioboro! Aduh! Mana mungkin Aldio peka dengan
pesanmu?! Ucap hatiku.
Tenanglah Aira, dia
pasti tahu kalau kamu selalu disini tiap tahun. Ucap hatiku yang lain.
“masih jalan di Malioboro?” pesan Aldio seketika ada di
ponselku
“iya nih” balasku singkat. Mungkin dia ingin menghampiriku,
senangnya!
Dan… ini sudah 5 menit setelah aku membalas pesan Aldio. Kenapa
ia tak balas pesanku? Apa ia ada perlu? Lalu kenapa dia begitu penasaran dengan
lokasiku sekarang?! Ah! Aira selalu bodoh kalau menyangkut hal ini! Dia tak
akan peka! Jujur aku sangat sangat kecewa dengan Aldio!
Oh, atau memang dari awal aku saja yang terlalu percaya
diri, padahal Aldio memang hanya ingin menyapa, sekedar menyapa lewat pesan
teks!
Sudahlah! Lebih baik aku berlari dan keluar dari Malioboro!
Aldio
Kenapa langkah
kaki Aira dipercepat? Apa ia sedang melupakan sesuatu? Padahal aku ingin
menghampirinya. Lebih baik aku segera berlari di belakangnya. Atau mungkin, ini
bukan waktunya untuk bertemu? Tapi, aku ingin, sangat! Aku sengaja tak membalas
pesannya karena aku ingin menepuk pundaknya dari belakang dan berkata ‘kejutan!’
seperti di ftv yang sering ditonton kakakku.
“aku di belakangmu” kalimat itu tertulis jelas di ponsel,
tinggal kukirim saja. Ah! Aku merasa tidak bisa menjadi laki – laki gentleman
hanya karena sosok Aira!
Aira
Aku kembali
melihat ponsel. Tuh kan, Aldio tak membalas pesanku! Sudah sudah! Harusnya sekalian
saja aku berbohong, atau mungkin tak kubalas pesannya!
Aldio
Aku berlari
menuju jalan yang dilewati Aira. Tanpa pikir panjang aku menabrak beberapa
penjual baju dan souvenir yang berjejer di sepanjang Malioboro. Napasku tersengal
– sengal, aku tahu aku terlalu lelah, tapi aku yakin dapat bertemu Aira. Ini semua
demi gadis itu.
Aira
Aku berjalan
cepat, lalu aku menabrak seseorang. Rasanya sakit, bahkan bisa kuperkirakan
tinggiku hanya sampai bahunya.
“ma..maaf” ucapku pelan
“Aira ya? Masih ingat aku toh?” ucap laki – laki itu
Itu Satrio! Sahabat karibku!
“Tio?! Kukira kau gak disini! Suatu kejutan!”
“hehe. Aku lagi bantu ayahku tarik andong, biasa lah. Kerja sambilan
Ra hehe” ucap Satrio bersemangat
“tarik andong? Bajumu bagus begitu kok hahaha”
“ini?” tanyanya sambil memegang setelan kaos Biru dan celana
bahan warna hitam. “Aku itu bukan jadi kusirnya, tapi yang ngomong sama bule”
jelas Satrio
“tour guide maksudmu?”
“NAAAH ITU LOH RA!” teriaknya. Kami tertawa riang.
Aldio
Jarakku
kurang lebih 5 meter dari Aira, saat kulihat ia tengah berbicara dengan riang…bersama
seorang laki – laki tinggi yang sebelumnya pernah kulihat. Apa itu kekasih
barunya? Atau seseorang yang tengah pdkt dengan Aira? Ah! Seharusnya aku
selangkah lebih dulu untuk menepuk pundak Aira! Harusnya aku mengirim pesan itu
agar Aira menungguku! Harusnya yang tengah mengobrol dengannya adalah aku..
Aira
“ngapain kamu ke Yogya? kamu cari Aldio?” tanya Satrio to
the point. Aku diam
Satrio tahu banyak tentang Aldio, aku sering
menceritakannya. Oh iya, satrio temanku saat kelas 2SMA (hingga sekarang), dia
sudah punya kekasih (yaitu teman baikku sendiri) dan mereka berencana untuk
tunangan tahun depan!
“aku mau naik andongmu ya. Sekalian kita cerita banyak”
ajakku. Satrio bersemangat, mungkin aku pelanggan pertamanya.
Aku melihat ke belakang, mataku tertuju kepada jalanan yang
penuh sesak dengan turis dan penjual. Seperti ada sesuatu yang mencegatku untuk
diam disini.
Aldio
Aku melihat
Aira menghadap kemari, semoga ia melihatku. Tapi, bagaimana bisa ia melihat
kearah kepadatan turis seperti ini? Tunggu, Aira berjalan menuju seberang jalan
bersama pria tinggi itu, sepertinya mereka akan pergi bersama. Sudahlah, lebih
baik aku pergi. Kesimpulannya, aku mengurungkan niatku menemui putri itu.
Aira
Aku memeriksa
barang yang kubawa, sepertinya tak ada yang terjatuh, lalu?
“Tio, tunggu ya, sepertinya ada sesuatu terjatuh di..umm…. disana!”
kataku sambil menunjuk jalan depan toko Morita batik
“ooh..yasudah, aku dan bapakku tunggu disini”
Aku mengangguk, dan berlari ke depan toko Morita. Ada sesuatu
yang memaksaku untuk terus berada disini. Tapi apa? Siapa? Aldio? Oh jangan
bercanda! Mana mungkin dia mau menemuiku? Dia saja tak membalas pesanku! Tapi,
aku tak ingin pergi dari Malioboro. Entahlah…
Aldio
Aku melihat
Aira berjalan mendekat tanpa pria Tinggi, hanya perasaanku atau dia memang
kembali! Tapi ia terlihat mencari sesuatu. Baiklah, lebih baik aku pergi saja..
Aira
Itu seperti
Aldio.
Ya! Itu
memang dia! Atau, ini hanya ilusi optik karena aku selalu memikirkannya? Bahkan
punggungnya yang bidang masih bisa ku kenali. Laki – laki yang mirip Aldio itu
hanya berjarak beberapa meter dariku. Tinggi badannya bisa ku kenali, Sungguh! Mungkin
aku salah orang, atau, apa aku hampiri saja orang itu? Tapi jika itu bukan
Aldio, aku bisa malu tingkat dewa!
Aldio
Aku kembali
menoleh kearah Aira yang hanya berjarak beberapa meter dariku, ia terlihat
memukul pelan kepalanya dengan tangan mungil yang ia miliki. Mungkin, sesuatu
yang ia cari tak kunjung ketemu. Apa aku mendekat saja ya? Ah, tadi kan Aira
bersama laki – laki itu. Fix, aku tak akan mendekatinya.
Setahun kemudian
Aira
kembali berjalan santai, ini adalah tahun ke-4 ia menjalankan ritual untuk
berjalan di sekitar Malioboro, setelah 5 tahun ia tak bertemu sosok itu. Semenjak
itu, Aira selalu menghadap belakang, sesuatu mencegatnya untuk terus
mengunjungi Malioboro. Namun, Aira tak tahu apa yang mencegatnya, atau siapa
yang sedang menunggunya.
Dari kejauhan,
Aldio kembali melakukan aktivitas ini. Memata – matai seorang gadis dari jarak
beberapa meter. Setiap 3 hari setelah liburan, Aldio selalu kemari, dan
melakukan hal ini selama 4 tahun berturut – turut. Perempuan itu terlalu
bersinar dan tak bisa untuk Aldio hiraukan. Dan selama itu pula, Aldio hanya
bisa memendam.
Dalam diam, mereka saling jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar