Jumat, 30 Agustus 2013

Cerita seorang wanita


                Siang tampak terik. Jalanan dipenuhi pedagang yang setia menunggu pembeli yang berkenan menukarkan uangnya disana.
                Wanita itu bertahan di rumah tempat ia bernaung untuk saat ini. Berharap agar pria pujaannya datang dan memeluknya dengan erat. Wanita itu begitu optimis, bahwa, pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya akan datang, membelai lembut rambut hitamnya seperti yang biasa ia lakukan.
Wanita itu menunggu dengan tangguh. Ia sangat percaya bahwa hari ini, hari esok, atau hari yang lain sang pria akan datang untuk menjemputnya, membawanya pergi dari semua hal yang sudah membuatnya jenuh setengah mati. Maka, wajar saja ia tetap keras kepala untuk tetap menanti.

Wanita itu terus menerus bergumam setiap hari, atau mungkin setiap jam, atau bisa jadi setiap detik.

Apakah priaku akan datang? Apa ia akan memelukku? Ah, dia pasti akan membawa seikat mawar putih seperti yang ia janjikan sebelumberangkat  kerja! Aku tak sabar hihihihi.

                Wanita itu tersenyum lebar, sembari bergumam ia terus bercermin dengan menyisir rambut hitam sebahu yang ia miliki, menyematkan jepit bewarna pelangi di sebelah kanan, dan ia kembali tersenyum lebar.
                Hari ini, ia memakai short dress berwarna putih tulang, memakai sandal teplek dan gelang karet yang menghiasi pergelangan tangannya. Ia tampak anggun, cantik, hari ini dia sungguh cantik. Wanita itu mempunyai angan – angan yang terlalu tinggi, menjauh melewati atmosfer pikirannya sendiri. Bagaimanapun, wanita itu tetap menunggu sang pria, hingga saat ini.
Namun, sore tampak abu – abu, menutupi warna oranye dan ungu tipis yang sebelumnya menghiasi kota. Hujan tidak benar – benar turun di tempat dimana wanita ini berpijak. Wanita itu memudarkan senyumannya.

Perlahan, gerimis melanda.

                Semua orang yang lewat di depan wanita itu berlari berhamburan bagai gerombolan semut yang kehilangan arah. Setiap orang mencari tempat berteduh, tapi tidak dengan wanita ini.
Ia berlari keluar dari pintu kamarnya, menuju taman. Ia berharap pria yang selalu ia tunggu kehadirannya akan datang bersama hujan. Ia tidak mau seorangpun, siapapun, mengganggu penantiannya sore ini meskipun hanya sebentar.
Waktu menunjukkan hampir larut malam, namun hujan semakin mengguyur kota ini. Wanita itu memanggil nama sang pria dengan napas tersengal – sengal dan nada yang putus asa. Dalam hatinya, ia sangat yakin pria itu akan datang, entah sekarang, atau nanti.

Dan wanita itu berteriak memecah malam.
---
                Para perawat tak henti – hentinya memaksa wanita berumur 28 tahun itu untuk masuk ke dalam kamar. Semua perawat turun tangan, mulai dari cara halus hingga ancaman agar sang wanita mau masuk dan meninggalkan taman.
Dari lorong itu, terlihat beberapa orang tertawa melihat tingkah sang wanita, beberapa orang lainnya tengah diajak perawat untuk masuk dan beristirahat. Wanita itu teriak memanggil sebuah nama.

Nama suaminya, almarhum suaminya.

                Sang pria meninggal dalam kecelakaan kerja 6 bulan yang lalu. Setelah itu, sang wanita benar – benar tak sadarkan diri, ia terus meronta untuk bertemu pujaannya yang berada di dunia yang lain.
wanita itu menolak untuk masuk, sedangkan perawat sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan pasien dengan traumatik berat seperti ini. Wanita ini terus meneriaki nama suaminya. Berharap sang suami segera datang dan mencium keningnya. Seakan ia tak tahu bahwa suaminya tak pernah kembali kedalam pelukannya.

Wanita itu berteriak dengan keras untuk sekali. Tetapi, wanita tangguh itu menyerah oleh keadaan.
                Ia dibopong menuju kamar 90, tempatnya beristirahat 4 bulan terakhir. Beberapa perawat masuk dan membawa tali tambang, sedangkan perawat wanita membawa handuk dan baju ganti. Ia terlihat pasrah dengan rengekan kecil memanggil suaminya, ia lemah.
Lalu, ia tertidur pulas, dengan tangan dan kakinya yang diikat sejajar dengan ujung tempat tidur. Ini demi sang wanita, demi masa depannya, tanpa kekasih hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar