Siang tampak
terik. Jalanan dipenuhi pedagang yang setia menunggu pembeli yang berkenan
menukarkan uangnya disana.
Wanita itu
bertahan di rumah tempat ia bernaung untuk saat ini. Berharap agar pria
pujaannya datang dan memeluknya dengan erat. Wanita itu begitu optimis, bahwa,
pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya akan datang, membelai lembut
rambut hitamnya seperti yang biasa ia lakukan.
Wanita itu menunggu dengan tangguh. Ia sangat percaya bahwa
hari ini, hari esok, atau hari yang lain sang pria akan datang untuk
menjemputnya, membawanya pergi dari semua hal yang sudah membuatnya jenuh
setengah mati. Maka, wajar saja ia tetap keras kepala untuk tetap menanti.
Wanita itu terus menerus bergumam setiap hari, atau mungkin
setiap jam, atau bisa jadi setiap detik.
Apakah priaku akan
datang? Apa ia akan memelukku? Ah, dia pasti akan membawa seikat mawar putih
seperti yang ia janjikan sebelumberangkat
kerja! Aku tak sabar hihihihi.
Wanita itu
tersenyum lebar, sembari bergumam ia terus bercermin dengan menyisir rambut
hitam sebahu yang ia miliki, menyematkan jepit bewarna pelangi di sebelah
kanan, dan ia kembali tersenyum lebar.
Hari ini,
ia memakai short dress berwarna putih tulang, memakai sandal teplek dan gelang
karet yang menghiasi pergelangan tangannya. Ia tampak anggun, cantik, hari ini
dia sungguh cantik. Wanita itu mempunyai angan – angan yang terlalu tinggi,
menjauh melewati atmosfer pikirannya sendiri. Bagaimanapun, wanita itu tetap
menunggu sang pria, hingga saat ini.
Namun, sore tampak abu – abu, menutupi warna oranye dan ungu
tipis yang sebelumnya menghiasi kota. Hujan tidak benar – benar turun di tempat
dimana wanita ini berpijak. Wanita itu memudarkan senyumannya.
Perlahan, gerimis melanda.
Semua orang
yang lewat di depan wanita itu berlari berhamburan bagai gerombolan semut yang
kehilangan arah. Setiap orang mencari tempat berteduh, tapi tidak dengan wanita
ini.
Ia berlari keluar dari pintu kamarnya, menuju taman. Ia berharap pria yang selalu ia tunggu kehadirannya akan datang bersama hujan. Ia tidak mau seorangpun, siapapun, mengganggu penantiannya sore ini meskipun hanya sebentar.
Ia berlari keluar dari pintu kamarnya, menuju taman. Ia berharap pria yang selalu ia tunggu kehadirannya akan datang bersama hujan. Ia tidak mau seorangpun, siapapun, mengganggu penantiannya sore ini meskipun hanya sebentar.
Waktu menunjukkan hampir larut malam, namun hujan semakin
mengguyur kota ini. Wanita itu memanggil nama sang pria dengan napas tersengal –
sengal dan nada yang putus asa. Dalam hatinya, ia sangat yakin pria itu akan
datang, entah sekarang, atau nanti.
Dan wanita itu berteriak memecah malam.
---
Para perawat
tak henti – hentinya memaksa wanita berumur 28 tahun itu untuk masuk ke dalam
kamar. Semua perawat turun tangan, mulai dari cara halus hingga ancaman agar
sang wanita mau masuk dan meninggalkan taman.
Dari lorong itu, terlihat beberapa orang tertawa melihat
tingkah sang wanita, beberapa orang lainnya tengah diajak perawat untuk masuk
dan beristirahat. Wanita itu teriak memanggil sebuah nama.
Nama suaminya, almarhum suaminya.
Sang pria
meninggal dalam kecelakaan kerja 6 bulan yang lalu. Setelah itu, sang wanita
benar – benar tak sadarkan diri, ia terus meronta untuk bertemu pujaannya yang
berada di dunia yang lain.
wanita itu menolak untuk masuk, sedangkan perawat sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan pasien dengan traumatik berat seperti ini. Wanita ini terus meneriaki nama suaminya. Berharap sang suami segera datang dan mencium keningnya. Seakan ia tak tahu bahwa suaminya tak pernah kembali kedalam pelukannya.
wanita itu menolak untuk masuk, sedangkan perawat sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan pasien dengan traumatik berat seperti ini. Wanita ini terus meneriaki nama suaminya. Berharap sang suami segera datang dan mencium keningnya. Seakan ia tak tahu bahwa suaminya tak pernah kembali kedalam pelukannya.
Wanita itu berteriak dengan keras untuk sekali. Tetapi,
wanita tangguh itu menyerah oleh keadaan.
Ia dibopong
menuju kamar 90, tempatnya beristirahat 4 bulan terakhir. Beberapa perawat
masuk dan membawa tali tambang, sedangkan perawat wanita membawa handuk dan
baju ganti. Ia terlihat pasrah dengan rengekan kecil memanggil suaminya, ia
lemah.
Lalu, ia tertidur pulas, dengan tangan dan kakinya yang
diikat sejajar dengan ujung tempat tidur. Ini demi sang wanita, demi masa
depannya, tanpa kekasih hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar