Aku
menunggu dengan sabar kedatangan sang Sembrani, kereta yang akan mengantarku
pulang ke Jakarta. Sekarang masih pukul 15.00, itu artinya waktu luangku disini
masih sekitar 2 jam lagi. aku menelaah beberapa majalah terbitan lama yang
tergeletak tak beraturan di atas meja, mencari beberapa artikel yang mungkin
menyita pengelihatanku. Tapi kenyataannya, nol besar.
Beberapa
kereta melintas untuk sekedar mengangkut atau menurunkan beberapa penumpang.
Hari memang sudah tampak senja, dengan warna oranye dan goresan violet tipis
hasil tangan Tuhan, namun para penjelajah hidup di bumi ini masih ramai
memadati stasiun. Aku meminum minuman kaleng yang berhasil aku dapatkan di toko
kecil samping ruang tunggu, jenuh merajai, dan sepertinya ini akan terus
beranjut hingga satu jam kedepan.
Pandanganku
berkeliaran tak tentu arah. Memandangi setiap orang yang tengah membawa
barang-barangnya berlalu lalang didepanku, hingga aku memandang orang itu…
ia mempunyai ukuran tubuh yang memang lebih tinggi untuk orang normal pada umumnya, tubuhnya tak terlalu gemuk, kulitnya terlihat kecoklatan terkena sinar senja, tubuhnya tegap dan bidang, rambutnya pendek cepak berwarna hitam, dengan gurat wajah tegas dan hidungnya yang mancung, dan matanya yang bulat. Ia membawa satu tas ransel berukuran sedang di punggungnya dan sebuah biola yang ia bawa di tangan kirinya, terlihat gusar dengan raut wajah bimbang.
ia mempunyai ukuran tubuh yang memang lebih tinggi untuk orang normal pada umumnya, tubuhnya tak terlalu gemuk, kulitnya terlihat kecoklatan terkena sinar senja, tubuhnya tegap dan bidang, rambutnya pendek cepak berwarna hitam, dengan gurat wajah tegas dan hidungnya yang mancung, dan matanya yang bulat. Ia membawa satu tas ransel berukuran sedang di punggungnya dan sebuah biola yang ia bawa di tangan kirinya, terlihat gusar dengan raut wajah bimbang.
Tatapan
kami terkunci satu sama lain, setidaknya untuk beberapa detik. Ia tersenyum
padaku, dan aku membalas senyum simpulnya. Lalu ia pergi menuju pusat
informasi, sedangkan aku masih duduk dan memandang pria itu dari kejauhan,
terdengar seperti kebetulan yang telah direncanakan Tuhan untukku di sore sejuk
ini. Ia tampak seperti seseorang yang sudah lama bergabung dalam pikiranku,
bedanya, seorang di hidupku mencintai gitar, bukan biola. Seperti seseorang
yang selalu melekat, tapi tak pernah digenggam.
Oh jangan! Jangan dia lagi!
-----
Waktu
menunjukkan pukul 17.00, keretaku berhenti tepat di rel nomor 1. Secepat itu
pula, aku mendapati diriku telah berada di gerbong 03, mencari tempat duduk
dengan nomor 4B di atasnya, meletakkan barang bawaan di bagasi atas dan
merebahkan diri. Entah untuk kesekian ribu atau juta kali, aku berhasil
mengundang pria itu masuk ke pikiranku. Ini adalah masa liburan, dan aku masih
saja menyisipkan sketsa wajahnya di loker dalam otakku. Bagaimana bisa seorang
yang telah meninggakanku selama dua tahun masih tetap tergambar jelas dan
bayangnya tak terlihat pudar? Ah, selalu saja tentang Bima yang kubahas dalam
persoalan ini. Ya, si jangkung dengan mata kecoklatan dan tubuh atletis, tak
berbeda jauh dengan pria yang bertatapan denganku di ruang tunggu beberapa
waktu lalu, serta kegemarannya bermain gitar begitu sukses membuatku stuck
untuk menunggu tanpa kepastian, berharap ia kembali untuk sekedar menyatakan
rindu terhadapku. Entahlah, begitu berat rasanya melupakan orang yang selama
ini membuat kenangan dalam hidupku. Seperti ibarat kata, ‘melupakan seseorang
sama susahnya dengan mengingat seseorang yang belum pernah kita temui’.
Penumpang
lain datang mencari tempat duduk masing – masing, wajah mereka terlihat lelah
dengan raut amarah, sebagian mencoba duduk dengan sikap anggun dan berintelek,
tidak ada yang tau pasti, terkadang manusia di dunia telah terbiasa memakai
topeng di keseharian hidupnya, mereka selalu menggunakannya untuk terlihat luar
biasa dimata orang lain. Sehingga mereka terlanjur memendam egonya, dan membuat
ego diluar sifat asli mereka, mereka terlanjur terjebak dengan topeng mereka sendiri. Ah sudahlah,
orang – orang yang menjadi pengelana di bumi Tuhan ini sudah semakin tak tentu
arah atas kemauannya. Biarlah. Kini, kembali ke pembicaraan kita.
Aku
melihat ke arah jendela, terlihat petugas kereta bertopi merah berjalan cepat
menuju ruang masinis. Petugas lain terlihat membantu wanita paruh baya di dekat
papan informasi. Terdengar langkah kaki mendekat kemari.
“permisi, ini kursi 4A?” ucap
pria kepadaku, aku menoleh, dan melihatnya lagi.
“ya, ini kursi 4A” ucapku datar.
Wajahku terlihat sumringah. Mengapa harus seseorang yang menyerupai dia yang
bersama denganku?!
“tadi kita sempat bertemu kan?”
“iya, kamu yang tadi terlihat
gusar disana kan?haha” tawaku renyah
Pria yang menyerupai Bima itu
mengangguk sambil tertawa “sepertinya kita seumuran. Aku Rio, hanya Rio. Masih
bisa disebut remaja”
“Vania. Panggil saja Nia jika kau
mau. Oh, dan masih remaja” ucapku diiringi tawa.
Kami
seperti sudah terikat, mungkin ini kebetulan untuk kedua kalinya yang berhasil
direncanakan Tuhan untukku. Tapi yang pasti, pria ini sudah membangkitkan
kenangan yang seharusnya telah ku pendam cukup lama.
-----
Kereta
melaju perlahan, kami berdua kembali terdiam. Langit sudah tampak berwarna
hitam, dengan bintang yang sesekali muncul di balik awan strato yang masih agak
terlihat, petugas kereta tengah membagikan selimut ke setiap kursi. Lampu –
lampu kota terlihat indah menghiasi sepanjang perjalanan menuju Jakarta, dingin
semakin menyelimuti, biar begitu lampu penghias malam tetap menjadi layar yang
selalu kupandang dari sini.
Kembali
ke topik mengenai Bima, sebagai teman dalam malam untuk hari ini. Dia adalah
satu – satunya pria yang bisa membuatku menutup pintu hati untuk 2 tahun
terakhir. Tak ada yang spesial darinya, memang, tapi… entahlah, sosoknya
terlalu luar biasa dan berpengaruh di hidupku. Ia sama seperti remaja lain yang
senang bersosialisasi dan mengembangkan minatnya. Ia memang pintar, lagipula
dia manis, tak banyak yang bisa kuceritakan mengenai sosok atletis itu. Aku
sendiri tak tahu mengapa aku terpikat olehnya.
Kami
saling menyayangi selama hampir satu setengah tahun, waktu yang lama bagiku
untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Selama itu, entahlah, aku tak tahu
apa yang menyebabkan perahuku harus pergi dari pelabuhannya, meninggalkan
pelabuhan itu dalam keadaan kosong tak terurus. Bima pergi, ya, tanpa sebab,
dan itu pasti. Setiap pria yang kutahu selalu memutuskan hubungan tanpa alasan
yang jelas, mereka semua terlihat sama, tak bertanggung jawab terhadap hati
seorang wanita. Tapi bodohnya, aku masih menunggu pria itu hingga kini, detik
ini.
“kamu turun dimana?” ucap Rio
membuyarkan lamunanku.
“Jakarta, di Gambir. Kamu
sendiri?”
“di Stasiun Semarang” jawabnya,
kami kembali terdiam “mau cokelat?” ia menawarkan
“terima kasih, aku tak biasa
makan coklat malam hari” tolakku halus
“oh begitu ya, maaf”
“tak apa” ucapku.
Kami
kembali berkutat dengan pikiran masing – masing. Waktu menunjukkan pukul 22.00,
penumpang yang lain telah tertidur, sebagian masih memainkan telpon genggam
mereka dengan mata sayu. Rio terlihat belum memejamkan mata, dengan bacaan yang
sedari tadi ia baca. Aku kembali menatap jendela yang menampilkan lukisan bintang
dan bulan sabit hasil ciptaan Tuhan.
“Ngomong – ngomong…..” ucapku
untuk membuka pembicaraan santai “suka main biola ya?”
Ia menatapku, aku balas
menatapnya “ya, aku mencintai biola. Sangat” jelasnya singkat, aku mengangguk
kecil
“apa yang kamu cintai?” tanyanya
Aku tertegun sejenak, aku
mencintai apa? Tidak tahu. Aku mencintai siapa? Bima.
“aku sama sekali tak menyukai
alat musik” jawabku, ia tersentak “tapi aku mencintai seni tulis, mereka bisa
hidup dan melekat di hati. Dikembangkan menjadi untaian kata yang tak berujung
dan mempunyai arti. Tulisan bisa membuatku merasakan fantasi yang tak bisa
dirasakan orang lain. Dan aku mencintainya” ujarku
“kamu sama seperti dirinya, ia
membenci alat musik apapun. Tapi ia mencintai seni tulis” ucapnya menatap
jendela
“siapa?” tanyaku penasaran
Rio menatapku, dengan tatapan menerawang “seseorang, yang berhasil
membiusku, namun berhasil pula untuk melukaiku”
Kami
terdiam cukup lama, hingga aku menanggapinya “aku tahu rasanya”
Rio tersenyum "ah, kamu mungkin tak tahu rasanya kehilangan seseorang yang berpengaruh terhadap masa depanmu"
"sungguh aku bisa merasakannya" protesku, "Jujur, kamu mirip seseorang yang bisa membuatku tersenyum, bedanya, seorang itu mencintai gitar, bukan biola. Tapi akhirnya ya, aku sama sepertimu"
Rio
menghadapku, dan tersenyum simpul. Kami mempunyai persamaan; sama – sama masih
menempatkan seseorang di sisa hidup kami. Masih mencintai orang yang seharusnya
tak lagi menjadi seseorang di keseharian kita, seharusnya mereka hanya sebatas
kenangan yang tak boleh diingat terlalu banyak.
“kau tahu? Satu – satunya cara
adalah mengikhlaskannya pergi” ucap Rio sambil memakan sisa cokelatnya. Aku
tersentak
“maksudmu?”
“aku mencintai wanita itu selama
lebih dari 3 tahun terakhir, namanya Meysa, dan selama itu aku tak bisa
mencintai wanita lain.” ungkapnya
Aku terdiam, melihat kedua kaki
mungilku “Terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan pelabuhan sementara,
sebelum akhirnya kita sampai di pelabuhan terakhir, dimana kita mengaitkan jangkar
kapal kita untuk selamanya, begitu bukan?”
“kamu benar” tegasnya, “tapi,
susah rasanya jika kamu telah mencintai orang, yang berpengaruh besar terhadap
sifatmu yang akan berlanjut hingga nanti. Dia sudah melekat kuat dan juga
melukai sebagian besar hatiku, dan mungkin hanya orang yang tepat yang akan
menyembuhkannya”
“pada intinya, kamu
mencintainya?” aku bertanya
“hingga detik ini, bisa
dibilang…..ya. Tapi, aku sadar…”
“dari apa?”
“kenangan yang terus kubawa
pergi, jika kubiarkan perlahan akan semakin menorehkan luka. Jika terus kubawa,
itu artinya aku akan menyakiti hatiku sendiri. Aku harus tinggalkan itu, aku
tak boleh membawa kenangan terlalu banyak” ujarnya panjang lebar
Rio
seperti tahu banyak tentang arti mencintai dengan tulus namun dilukai dengan
luka menyayat. Semua percakapan kami memang tertuju kepada satu orang; orang
yang kami cintai. Aku bisa berpura – pura untuk tak melihat Bima lagi, tapi
harus meninggalkan sebagian kenangan…?
“bagaimana jika keputusanmu untuk
terus menunggu?” tanyaku pelan
“setiap penantian memiliki titik
jenuh, Vania. Tak selamanya penantianmu akan berbuah manis. Jika orang yang
kamu tunggu telah memiliki pelabuhan terakhirnya, apa kamu akan terus menanti?”
ia tersenyum menghadapku, berusaha meyakinkan bahwa tidak baik untuk terus
menunggu seseorang yang keberadaannya terlihat samar.
“kau benar, kita harus
meninggalkan kenangan yang tak perlu”
Kereta
melaju dengan lambat, lalu berhenti di sebuah stasiun kecil untuk suatu
keperluan. Di luar, tampak tiada seorangpun, kecuali 3 orang petugas yang
berjaga malam ini. Lalu kereta melaju lagi menuju Semarang.
“aku belajar banyak dari
pengalaman mencintai Meysa” ucap Rio sambil menyeruput kopi panas yang baru ia
pesan, “Memang, jika terus memaksakan untuk melupakan seseorang justru akan
membuat kita makin mengingat. Tapi, jika kita tak mencoba melupakan, kita akan stuck di masa lalu, dan tak bisa membuka
hati untuk siapapun”
“jadi, sekarang kamu mencoba
untuk melupakan Meysa?” ucapku penuh tanya
“melupakan, bukan berarti
menghapusnya. Hanya menyisihkannya sebagai ingatan sekunder. Bagaimanapun, dia
kan telah mengisi keseharianku dulu. Kejam namanya jika tiba – tiba aku
menghapus dan memaksa untuk tak menganggapnya”
“lalu, kalau dia kembali?”
“ya…. kalau aku mau jatuh ke
lubang yang sama, aku akan menerimanya. Tapi jika aku ingin bangkit, aku harus
mengikhlaskannya. Kalau Tuhan merancang ia menjadi jodohku, mungkin memang
itulah saatnya” jawabnya meyakinkan
Jarum
pendek hampir mengarah ke angka 12, sudah hampir satu setengah jam kami
berbincang mengenai hati. Untuk saat ini, aku mendapatkan alasan untuk tak lagi
mempertahankan bayang Bima di keseharianku, kurasa.
“aku tidur duluan ya. Selamat
malam” ucapku membelakanginya, ia hanya tersenyum sambil mengunyah cokelat yang
baru ia buka.
------
Alarm
handphone milikku berbunyi pukul 03.00, tidur selama 3 jam yang lumayan lama
untukku selama perjalanan berlangsung. Dingin masih menguasai, namun aku sadar,
Rio tak lagi berada di kursi sampingku. Mungkin kota Semarang sudah lewat saat
aku tertidur tadi, dan ia turun tanpa mengucapkan sepatah kata atau sekedar
membangunkanku, mungkin ia tak enak untuk mengatakannya. Lalu aku mendapati
secarik kertas dan chocolate bar di kursi sampingku, secarik kertas yang bertuliskan ‘ikuti hatimu,
apabila ia ingin bertahan untuk menunggu, maka kamu harus mengambil resiko
apapun itu. Tapi jika ingin pergi, itu artinya bebas’.
Rio
adalah orang tercepat yang kukenal, hanya karena ia mempunyai kemiripan dengan Bima,
aku merasa nyaman saat berbincang dengannya. Entahlah, aku berpikir bahwa Tuhan
mempertemukanku dengan Rio untuk mengulang kembali semua kisah bersama Bima,
atau mungkin, Tuhan memiliki jalan agar aku dapat melupakan Bima.
Aku
tak dapat tidur kembali, memang waktu tidurku tergolong sedikit, namun jika
dipaksakan tentu akan membuatku sakit kepala. Lagipula, hujan di luar menjadi
daya tarik sendiri di pagi buta ini. Waktu yang pas untuk menimang kembali
kalimat Rio, memikirkan apakah aku harus tetap menunggu atau berjalan pergi
seperti yang ia lakukan. Aku terlalu banyak membawa kenangan, sehingga susah
untuk melepas keberadaannya di masa lalu. Aku terlalu menguras otakku mengenai
hal yang berbau Bima, tanpa tahu bahwa semakin lama hanyalah goresan luka yang
aku timbulkan. Mencintai Bima memang bukan hal yang salah, tapi menunggu seorang
yang tak tahu kapan kembali adalah suatu keputusan yang seharusnya tak aku
pilih.
Jam
menunjukkan pukul 04.00, penumpang yang lain tengah terbangun dari tidur
nyenyak mereka. Langit sudah berwarna biru tua, sebentar lagi fajar datang. Aku
melakukan regangan kecil untuk ototku. Keputusan yang kuambil memang berat,
menurutku. Dan aku yakin takkan mudah untuk melakukannya.
Pagi
telah datang, kereta telah memasuki Jakarta, aku bersiap untuk segera turun dan
bergegas, seperti penumpang lain yang bersiap dengan ego mereka yang baru. Di
Gambir, kereta ini melakukan pemberhentian terakhir. Orang sudah berlalu lalang
memadati stasiun untuk sekedar mencari nafkah, sebagian datang untuk menjemput
sanak keluarga mereka. Aku berjalan sendiri menuju pintu keluar, memanggil
taksi, lalu meluncur pulang.
Aku
memutuskan meninggalkan sebagian kenanganku disana, di kereta itu. Meninggalkan
beberapa kenangan mengenai Bima dan sosoknya. Mencoba untuk terus melangkah ke
depan seperti ucapan Rio sewaktu itu. dan sesekali, menggenggam erat coklat pemberian pria pemain biola itu..
Mengikhlaskan
seseorang yang kita cintai untuk pergi memang sulit ditempuh. Tapi bila itu
membuat hati dan diri kita menjadi lebih baik, kita harus melakukannya.
26 Juni 2013
sepanjang perjalanan menuju Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar