Senin, 12 Agustus 2013

Sepenggal percakapan di perjalanan menuju Jakarta


                Aku menunggu dengan sabar kedatangan sang Sembrani, kereta yang akan mengantarku pulang ke Jakarta. Sekarang masih pukul 15.00, itu artinya waktu luangku disini masih sekitar 2 jam lagi. aku menelaah beberapa majalah terbitan lama yang tergeletak tak beraturan di atas meja, mencari beberapa artikel yang mungkin menyita pengelihatanku. Tapi kenyataannya, nol besar.
                Beberapa kereta melintas untuk sekedar mengangkut atau menurunkan beberapa penumpang. Hari memang sudah tampak senja, dengan warna oranye dan goresan violet tipis hasil tangan Tuhan, namun para penjelajah hidup di bumi ini masih ramai memadati stasiun. Aku meminum minuman kaleng yang berhasil aku dapatkan di toko kecil samping ruang tunggu, jenuh merajai, dan sepertinya ini akan terus beranjut hingga satu jam kedepan.

                Pandanganku berkeliaran tak tentu arah. Memandangi setiap orang yang tengah membawa barang-barangnya berlalu lalang didepanku, hingga aku memandang orang itu…
ia mempunyai ukuran tubuh yang memang lebih tinggi untuk orang normal pada umumnya, tubuhnya tak terlalu gemuk, kulitnya terlihat kecoklatan terkena sinar senja, tubuhnya tegap dan bidang, rambutnya pendek cepak berwarna hitam, dengan gurat wajah tegas dan hidungnya yang mancung, dan matanya yang bulat. Ia membawa satu tas ransel berukuran sedang di punggungnya dan sebuah biola yang ia bawa di tangan kirinya, terlihat gusar dengan raut wajah bimbang.

                Tatapan kami terkunci satu sama lain, setidaknya untuk beberapa detik. Ia tersenyum padaku, dan aku membalas senyum simpulnya. Lalu ia pergi menuju pusat informasi, sedangkan aku masih duduk dan memandang pria itu dari kejauhan, terdengar seperti kebetulan yang telah direncanakan Tuhan untukku di sore sejuk ini. Ia tampak seperti seseorang yang sudah lama bergabung dalam pikiranku, bedanya, seorang di hidupku mencintai gitar, bukan biola. Seperti seseorang yang selalu melekat, tapi tak pernah digenggam.

Oh jangan! Jangan dia lagi!
-----
                Waktu menunjukkan pukul 17.00, keretaku berhenti tepat di rel nomor 1. Secepat itu pula, aku mendapati diriku telah berada di gerbong 03, mencari tempat duduk dengan nomor 4B di atasnya, meletakkan barang bawaan di bagasi atas dan merebahkan diri. Entah untuk kesekian ribu atau juta kali, aku berhasil mengundang pria itu masuk ke pikiranku. Ini adalah masa liburan, dan aku masih saja menyisipkan sketsa wajahnya di loker dalam otakku. Bagaimana bisa seorang yang telah meninggakanku selama dua tahun masih tetap tergambar jelas dan bayangnya tak terlihat pudar? Ah, selalu saja tentang Bima yang kubahas dalam persoalan ini. Ya, si jangkung dengan mata kecoklatan dan tubuh atletis, tak berbeda jauh dengan pria yang bertatapan denganku di ruang tunggu beberapa waktu lalu, serta kegemarannya bermain gitar begitu sukses membuatku stuck untuk menunggu tanpa kepastian, berharap ia kembali untuk sekedar menyatakan rindu terhadapku. Entahlah, begitu berat rasanya melupakan orang yang selama ini membuat kenangan dalam hidupku. Seperti ibarat kata, ‘melupakan seseorang sama susahnya dengan mengingat seseorang yang belum pernah kita temui’.

                Penumpang lain datang mencari tempat duduk masing – masing, wajah mereka terlihat lelah dengan raut amarah, sebagian mencoba duduk dengan sikap anggun dan berintelek, tidak ada yang tau pasti, terkadang manusia di dunia telah terbiasa memakai topeng di keseharian hidupnya, mereka selalu menggunakannya untuk terlihat luar biasa dimata orang lain. Sehingga mereka terlanjur memendam egonya, dan membuat ego diluar sifat asli mereka, mereka terlanjur terjebak dengan topeng mereka sendiri. Ah sudahlah, orang – orang yang menjadi pengelana di bumi Tuhan ini sudah semakin tak tentu arah atas kemauannya. Biarlah. Kini, kembali ke pembicaraan kita.
                Aku melihat ke arah jendela, terlihat petugas kereta bertopi merah berjalan cepat menuju ruang masinis. Petugas lain terlihat membantu wanita paruh baya di dekat papan informasi. Terdengar langkah kaki mendekat kemari.
“permisi, ini kursi 4A?” ucap pria kepadaku, aku menoleh, dan melihatnya lagi.
“ya, ini kursi 4A” ucapku datar. Wajahku terlihat sumringah. Mengapa harus seseorang yang menyerupai dia yang bersama denganku?!
“tadi kita sempat bertemu kan?”
“iya, kamu yang tadi terlihat gusar disana kan?haha” tawaku renyah
Pria yang menyerupai Bima itu mengangguk sambil tertawa “sepertinya kita seumuran. Aku Rio, hanya Rio. Masih bisa disebut remaja”
“Vania. Panggil saja Nia jika kau mau. Oh, dan masih remaja” ucapku diiringi tawa.
                Kami seperti sudah terikat, mungkin ini kebetulan untuk kedua kalinya yang berhasil direncanakan Tuhan untukku. Tapi yang pasti, pria ini sudah membangkitkan kenangan yang seharusnya telah ku pendam cukup lama.
-----
                Kereta melaju perlahan, kami berdua kembali terdiam. Langit sudah tampak berwarna hitam, dengan bintang yang sesekali muncul di balik awan strato yang masih agak terlihat, petugas kereta tengah membagikan selimut ke setiap kursi. Lampu – lampu kota terlihat indah menghiasi sepanjang perjalanan menuju Jakarta, dingin semakin menyelimuti, biar begitu lampu penghias malam tetap menjadi layar yang selalu kupandang dari sini.

                Kembali ke topik mengenai Bima, sebagai teman dalam malam untuk hari ini. Dia adalah satu – satunya pria yang bisa membuatku menutup pintu hati untuk 2 tahun terakhir. Tak ada yang spesial darinya, memang, tapi… entahlah, sosoknya terlalu luar biasa dan berpengaruh di hidupku. Ia sama seperti remaja lain yang senang bersosialisasi dan mengembangkan minatnya. Ia memang pintar, lagipula dia manis, tak banyak yang bisa kuceritakan mengenai sosok atletis itu. Aku sendiri tak tahu mengapa aku terpikat olehnya.
                Kami saling menyayangi selama hampir satu setengah tahun, waktu yang lama bagiku untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Selama itu, entahlah, aku tak tahu apa yang menyebabkan perahuku harus pergi dari pelabuhannya, meninggalkan pelabuhan itu dalam keadaan kosong tak terurus. Bima pergi, ya, tanpa sebab, dan itu pasti. Setiap pria yang kutahu selalu memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, mereka semua terlihat sama, tak bertanggung jawab terhadap hati seorang wanita. Tapi bodohnya, aku masih menunggu pria itu hingga kini, detik ini.
“kamu turun dimana?” ucap Rio membuyarkan lamunanku.
“Jakarta, di Gambir. Kamu sendiri?”
“di Stasiun Semarang” jawabnya, kami kembali terdiam “mau cokelat?” ia menawarkan
“terima kasih, aku tak biasa makan coklat malam hari” tolakku halus
“oh begitu ya, maaf”
“tak apa” ucapku.

                Kami kembali berkutat dengan pikiran masing – masing. Waktu menunjukkan pukul 22.00, penumpang yang lain telah tertidur, sebagian masih memainkan telpon genggam mereka dengan mata sayu. Rio terlihat belum memejamkan mata, dengan bacaan yang sedari tadi ia baca. Aku kembali menatap jendela yang menampilkan lukisan bintang dan bulan sabit hasil ciptaan Tuhan.
“Ngomong – ngomong…..” ucapku untuk membuka pembicaraan santai “suka main biola ya?”
Ia menatapku, aku balas menatapnya “ya, aku mencintai biola. Sangat” jelasnya singkat, aku mengangguk kecil
“apa yang kamu cintai?” tanyanya
Aku tertegun sejenak, aku mencintai apa? Tidak tahu. Aku mencintai siapa? Bima.
“aku sama sekali tak menyukai alat musik” jawabku, ia tersentak “tapi aku mencintai seni tulis, mereka bisa hidup dan melekat di hati. Dikembangkan menjadi untaian kata yang tak berujung dan mempunyai arti. Tulisan bisa membuatku merasakan fantasi yang tak bisa dirasakan orang lain. Dan aku mencintainya” ujarku
“kamu sama seperti dirinya, ia membenci alat musik apapun. Tapi ia mencintai seni tulis” ucapnya menatap jendela
“siapa?” tanyaku penasaran
Rio menatapku, dengan tatapan menerawang “seseorang, yang berhasil membiusku, namun berhasil pula untuk melukaiku”
                Kami terdiam cukup lama, hingga aku menanggapinya “aku tahu rasanya”
Rio tersenyum "ah, kamu mungkin tak tahu rasanya kehilangan seseorang yang berpengaruh terhadap masa depanmu"
"sungguh aku bisa merasakannya" protesku, "Jujur, kamu mirip seseorang yang bisa membuatku tersenyum, bedanya, seorang itu mencintai gitar, bukan biola. Tapi akhirnya ya, aku sama sepertimu"

                Rio menghadapku, dan tersenyum simpul. Kami mempunyai persamaan; sama – sama masih menempatkan seseorang di sisa hidup kami. Masih mencintai orang yang seharusnya tak lagi menjadi seseorang di keseharian kita, seharusnya mereka hanya sebatas kenangan yang tak boleh diingat terlalu banyak.
“kau tahu? Satu – satunya cara adalah mengikhlaskannya pergi” ucap Rio sambil memakan sisa cokelatnya. Aku tersentak
“maksudmu?”
“aku mencintai wanita itu selama lebih dari 3 tahun terakhir, namanya Meysa, dan selama itu aku tak bisa mencintai wanita lain.” ungkapnya
Aku terdiam, melihat kedua kaki mungilku “Terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan pelabuhan sementara, sebelum akhirnya kita sampai di pelabuhan terakhir, dimana kita mengaitkan jangkar kapal kita untuk selamanya, begitu bukan?”
“kamu benar” tegasnya, “tapi, susah rasanya jika kamu telah mencintai orang, yang berpengaruh besar terhadap sifatmu yang akan berlanjut hingga nanti. Dia sudah melekat kuat dan juga melukai sebagian besar hatiku, dan mungkin hanya orang yang tepat yang akan menyembuhkannya”
“pada intinya, kamu mencintainya?” aku bertanya
“hingga detik ini, bisa dibilang…..ya. Tapi, aku sadar…”
“dari apa?”
“kenangan yang terus kubawa pergi, jika kubiarkan perlahan akan semakin menorehkan luka. Jika terus kubawa, itu artinya aku akan menyakiti hatiku sendiri. Aku harus tinggalkan itu, aku tak boleh membawa kenangan terlalu banyak” ujarnya panjang lebar
                Rio seperti tahu banyak tentang arti mencintai dengan tulus namun dilukai dengan luka menyayat. Semua percakapan kami memang tertuju kepada satu orang; orang yang kami cintai. Aku bisa berpura – pura untuk tak melihat Bima lagi, tapi harus meninggalkan sebagian kenangan…?
“bagaimana jika keputusanmu untuk terus menunggu?” tanyaku pelan
“setiap penantian memiliki titik jenuh, Vania. Tak selamanya penantianmu akan berbuah manis. Jika orang yang kamu tunggu telah memiliki pelabuhan terakhirnya, apa kamu akan terus menanti?” ia tersenyum menghadapku, berusaha meyakinkan bahwa tidak baik untuk terus menunggu seseorang yang keberadaannya terlihat samar.
“kau benar, kita harus meninggalkan kenangan yang tak perlu”

                Kereta melaju dengan lambat, lalu berhenti di sebuah stasiun kecil untuk suatu keperluan. Di luar, tampak tiada seorangpun, kecuali 3 orang petugas yang berjaga malam ini. Lalu kereta melaju lagi menuju Semarang.
“aku belajar banyak dari pengalaman mencintai Meysa” ucap Rio sambil menyeruput kopi panas yang baru ia pesan, “Memang, jika terus memaksakan untuk melupakan seseorang justru akan membuat kita makin mengingat. Tapi, jika kita tak mencoba melupakan, kita akan stuck di masa lalu, dan tak bisa membuka hati untuk siapapun”
“jadi, sekarang kamu mencoba untuk melupakan Meysa?” ucapku penuh tanya
“melupakan, bukan berarti menghapusnya. Hanya menyisihkannya sebagai ingatan sekunder. Bagaimanapun, dia kan telah mengisi keseharianku dulu. Kejam namanya jika tiba – tiba aku menghapus dan memaksa untuk tak menganggapnya”
“lalu, kalau dia kembali?”
“ya…. kalau aku mau jatuh ke lubang yang sama, aku akan menerimanya. Tapi jika aku ingin bangkit, aku harus mengikhlaskannya. Kalau Tuhan merancang ia menjadi jodohku, mungkin memang itulah saatnya” jawabnya meyakinkan
                Jarum pendek hampir mengarah ke angka 12, sudah hampir satu setengah jam kami berbincang mengenai hati. Untuk saat ini, aku mendapatkan alasan untuk tak lagi mempertahankan bayang Bima di keseharianku, kurasa.
“aku tidur duluan ya. Selamat malam” ucapku membelakanginya, ia hanya tersenyum sambil mengunyah cokelat yang baru ia buka.
------
                Alarm handphone milikku berbunyi pukul 03.00, tidur selama 3 jam yang lumayan lama untukku selama perjalanan berlangsung. Dingin masih menguasai, namun aku sadar, Rio tak lagi berada di kursi sampingku. Mungkin kota Semarang sudah lewat saat aku tertidur tadi, dan ia turun tanpa mengucapkan sepatah kata atau sekedar membangunkanku, mungkin ia tak enak untuk mengatakannya. Lalu aku mendapati secarik kertas dan chocolate bar di kursi sampingku, secarik kertas yang bertuliskan ‘ikuti hatimu, apabila ia ingin bertahan untuk menunggu, maka kamu harus mengambil resiko apapun itu. Tapi jika ingin pergi, itu artinya bebas’.
------ 
                Rio adalah orang tercepat yang kukenal, hanya karena ia mempunyai kemiripan dengan Bima, aku merasa nyaman saat berbincang dengannya. Entahlah, aku berpikir bahwa Tuhan mempertemukanku dengan Rio untuk mengulang kembali semua kisah bersama Bima, atau mungkin, Tuhan memiliki jalan agar aku dapat melupakan Bima.
                Aku tak dapat tidur kembali, memang waktu tidurku tergolong sedikit, namun jika dipaksakan tentu akan membuatku sakit kepala. Lagipula, hujan di luar menjadi daya tarik sendiri di pagi buta ini. Waktu yang pas untuk menimang kembali kalimat Rio, memikirkan apakah aku harus tetap menunggu atau berjalan pergi seperti yang ia lakukan. Aku terlalu banyak membawa kenangan, sehingga susah untuk melepas keberadaannya di masa lalu. Aku terlalu menguras otakku mengenai hal yang berbau Bima, tanpa tahu bahwa semakin lama hanyalah goresan luka yang aku timbulkan. Mencintai Bima memang bukan hal yang salah, tapi menunggu seorang yang tak tahu kapan kembali adalah suatu keputusan yang seharusnya tak aku pilih.
                Jam menunjukkan pukul 04.00, penumpang yang lain tengah terbangun dari tidur nyenyak mereka. Langit sudah berwarna biru tua, sebentar lagi fajar datang. Aku melakukan regangan kecil untuk ototku. Keputusan yang kuambil memang berat, menurutku. Dan aku yakin takkan mudah untuk melakukannya.

                Pagi telah datang, kereta telah memasuki Jakarta, aku bersiap untuk segera turun dan bergegas, seperti penumpang lain yang bersiap dengan ego mereka yang baru. Di Gambir, kereta ini melakukan pemberhentian terakhir. Orang sudah berlalu lalang memadati stasiun untuk sekedar mencari nafkah, sebagian datang untuk menjemput sanak keluarga mereka. Aku berjalan sendiri menuju pintu keluar, memanggil taksi, lalu meluncur pulang.
                Aku memutuskan meninggalkan sebagian kenanganku disana, di kereta itu. Meninggalkan beberapa kenangan mengenai Bima dan sosoknya. Mencoba untuk terus melangkah ke depan seperti ucapan Rio sewaktu itu. dan sesekali, menggenggam erat coklat pemberian pria pemain biola itu..

                Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi memang sulit ditempuh. Tapi bila itu membuat hati dan diri kita menjadi lebih baik, kita harus melakukannya.

26 Juni 2013
sepanjang perjalanan menuju Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar