Gnight all! malem ini, gue bakal lanjutin cerita Penantianku dan Pengabaianmu (1) mungkin bisa jadi penghibur lo yang suka baca ato sekedar bete trus gatau musti ngapain. jangka waktunya postingnya emang kelamaan dari part 1 sama part 2, abis gue kalo bete nulis bisa berhari-hari._. (penting gitu yah?)
okeh! check it!
------------------------------------------------------------------------------
Hari itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan tugas yang setumpuk. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Hai
okeh! check it!
------------------------------------------------------------------------------
Hari itu siang, terik. Matahari menyambut kami yang baru keluar dari tempat teduh bernama kampus. Aku salah satunya, keluar tanpa Keina yang masih sibuk dengan tugas yang setumpuk. Aku melangkah, mengarahkan pandangan ke sekitar dan terpaku pada pohon mahoni yang begitu teduh. Aku terpikat, dan mulai mengarahkan kaki ke tempat sejuk itu.
Aku menghempaskan diri ke kursi yang tak pernah lapuk, kursi
taman. Disini teduh, lelahku lumayan menghilang. Tapi.. otakku masih saja
tentangnya. Sudah genap satu setengah tahun orang itu tetap berkeliaran di
benakku, masih terpajang jelas, tanpa cacat dan samar.
“Ren” ucap seorang cowok yang membuatku tersentak.
“oh, Aldo,” ucapku “tumben Do nyamperin hari gini, biasanya
lu sibuk” lanjutku asal
“iya, gue mau ketemu lu ama Keina aja” balasnya “eh iya
Keina mana?” tanya Aldo
“dia ada tugas banyak tuh. Cieee cariin Kei, suka yah?
Hihihi” tawaku jahil, Aldo menatap sinis. Tanpa kusuruh dia duduk dengan kasar.
Membuatku sedikit tersentak.
Aku tertawa melihat tingkahnya, cowok itu merubah raut muka
dan memperhatikan buku sketsaku.
“lo… punya berapa banyak stok wajah Ikan butek itu?”
tanyanya padaku
“dia Neo, bukan ikan butek tau!” aku memberikan pembelaan
“kita… baru kenal setahun yah? Trus lo idah berapa lama gak
bisa lupain dia?” tanya Aldo, terlalu kepo
“satu setengah tahun” jawabku singkat
“HAH?GILAK!” teriak Aldo dengan reaksi terkejut, aku hanya
diam
“lo masih nyimpen kenangan tentang dia?! Trus fungsi gue dan
Keina yang ada di hari-hari lo ini apa?!” tanya Aldo bertubi-tubi
“lo temen gue Aldo, Kei juga. Kalian…” Aldo memotong
kalimatku, “padahal, gue dan Kei berusaha buat lo ngelupain si ikan butek itu.
Tapi kenyataannya, bahkan lo masih ngebela dia gara-gara tadi gue sebut ikan
butek” ucap Aldo panjang lebar. Aku biarkan dia mengoceh tentang seseorang yang
dia sebut ‘ikan butek’
“gue tau,” ucap Aldo lagi “lo masih sayang sama dia pake
banget” lanjutnya. Aku terdiam
Aku dan Aldo berada diantara hening, kami berdua sama-sama
membisu.
“oke Ren!” teriakannya buatku kaget, lalu dia berdiri “gue
harus bisa ngebuat lu jadi cewek yang gak galauan! Inget Ren! Jangan terlalu
pake perasaan lo buat ngadepin seseorang, kali-kali lo harus pake logika,
okeh?!” ucapnya sambil mengacungkan jempol padaku, aku tersenyum.
Aldo, memang teman yang tak kenal
--oo--
--oo--
Keina
memang biasa berkunjung ke rumah saat Minggu. Entah itu mengerjakan tugas atau
sekedar bermain denganku dan Jingga, kucing Persia milikku.
Keluargaku mengenal Keina cukup lama, semenjak SMP dia
memang menjadi temanku. Keina itu… orang yang mengerti bahwa hidup itu bukan
untuk menjalani hal yang merumitkan, tapi hidup itu dijalani untuk hal yang
menyenangkan. Dia mengajari banyak hal, termasuk cinta.
Dan bicara soal cinta, Keina termasuk orang yang pandai
memakai topeng. Saat dirinya (lebih tepapnya hatinya) tersakiti, dia tersenyum
seakan tak ada apapun. Dia adalah gadis yang tegar.
Obrolan kami berlanjut ke trend baju tahun ini, saat handphoneku berdering menandakan pesan
masuk
“Ren, ada sms noh” ucap Rene dengan mulut penuh potato chips
Aku merangkak mengambil handphone
yang terletak diatas meja, lalu membacanya.
Siapa pula orang asing sms siang bolong begini?
Dari: 088891830723
Gue temen lu, masa lupa sih
Dari: 088891830723
Ke: 088891830723
Kok lu jadi ketus gini sih? Lo bukan lo yang dulu
Dari: 088891830723
Jaman berubah, gue yg dulu gk sama dengan gue yg skrng. Manusia gk akan sama seumur hidup
Jantungku berdegup kencang.
Bukan, ini pasti bukan orang itu! Nomor belakang dia kan 530. Aku terus menatap
layar, diam.
“siapa sih Ren? Wajah lu ga
enakin gitu” tanya Keina, masih mengunyah snack
“hah?
Oh bukan, bukan siapa-siapa” elakku. Keina menatap curiga, namun masih asik
dengan cemilannya
Siapa ya?
Ke: 088891830723
Klik. Aku mengirim pesan, menunggu balasan. Ah! Bahkan dia
membalas kurang dari 3 menit! Siapa sih orang ini?
Temen gue banyak, to the point aja sih
Kulihat Keina asik bermain dengan Jingga. Selama Keina masih
asik dengan dunianya, aku merasa tak ada masalah. Aku melanjutkan membalas sms
orang itu.
Ke: 088891830723
Tapi dulu, setahun lalu lo gak kaya gini kalo smsan ke orang baru
Dari: 088891830723
Lo kira gue bkln sama? Udah deh, elu itu siapa?
Ke: 088891830723
Gue adalah orang yang manggil lo ‘idung pesek’ setelah Wowo
Dari: 088891830723
Aku berkeringat. Haduuh! Untuk apa sih kembali hadir
disini?! Kembali mengusik semua yang hampir tertata rapih?
(continue)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar