Hei, kamu yang jauh disana :)
Apakabar? Lama yah kita tidak berjumpa, bagaimana keadaan
disana, di kota yang tidak kau sebut saat kita berpisah waktu itu? Apakah kamu
masih jago Matematika dan Basket? Apa kamu semakin tinggi? Apa kamu masih
mengingatku? Ah aku ini terlalu banyak tanya yah.
aku masih ingat, saat kamu duduk diam kelas 2. Tidak
mengobrol, tidak bercanda, kau adalah anak baru saat itu, kau masih lugu, masih
polos, masih tidak mengetahui kondisi lingkungan sekolah. Lalu aku, dan
temanku, menghampirimu, berkenalan dengan kalimat “halo, kamu anak baru yah?
Siapa namamu?”. Kamu menatapku, tatapan dari seorang bocah laki-laki yang
mempunyai bola mata hitam legam dengan senyum yang manis. “iya, aku Ari”
ucapmu singkat, aku berkata dengan riang, entah apa yang membuatku bersemangat,
“aku Ica. Ayo! Kita main!” teriakku, ya, dari awal kamu melihatku sering
bermain dengan bocah laki-laki yang seumuran denganku, ya, aku memang tomboy,
dulu.
Ah sudahlah, jika aku terus membahas sejarah awal pertemuan
kita kapan selesainya? Terlalu banyak peristiwa tersimpan di memori yang hampir
usang.
dulu, kamu dan aku bersahabat. Jajan, main, mengerjakan tugas, semua yang
kulakukan disekolah hampir semuanya ditemani oleh sosok cowok berwajah Timur,
oriental, manis, tegas. Ya kamu. hingga
aku sadar, ada sesuatu yang janggal di sini (baca:hati), rasanya makin lama
makin kuat, makin besar. Rasa apa ini? Dulu saat kita belajar bersama, aku
tidak merasakan apapun, tapi mengapa saat aku melihatmu hati ini seketika
berdegup dengan kecepatan tak menentu?
Kamu, mengajariku tentang rasa yang berdegup di sini (baca:hati). Kamu
memberikan rasa yang seharusnya tidak kukenal saat itu, kita masih terlalu
kecil, masih terlalu dini untuk mengetahui perasaan itu. Aku tak mengerti
mengapa kamu mengajariku untuk mengenal perasaan itu.
kita masih kelas 3 SD, rasa suka dan sayang ini harusnya tidak aku keluarkan. Aku masih kanak-kanak, tetapi kamu malah mengajariku untuk mencintaimu.
Kamu menyeretku untuk mengenal rasa ini lebih dalam, lebih peka. Dan aku menurutimu, kamu kan panutanku. Kamu bagaikan guru bagiku, bahkan kamu guru pertama yang mengajariku tentang perasaan itu.
kita masih kelas 3 SD, rasa suka dan sayang ini harusnya tidak aku keluarkan. Aku masih kanak-kanak, tetapi kamu malah mengajariku untuk mencintaimu.
Kamu menyeretku untuk mengenal rasa ini lebih dalam, lebih peka. Dan aku menurutimu, kamu kan panutanku. Kamu bagaikan guru bagiku, bahkan kamu guru pertama yang mengajariku tentang perasaan itu.
Aku menyukainya, aku menyukai perasaan ini. Dan aku lebih
menyukainya saat kamu berkata bahwa kamu mempunyai perasaan yang sama. Apa aku
senang? Oh tentu, sangat! Sangat senang! Kita menjalani hari dengan setumpuk
permainan, kejahilan kecil, permen, cemilan, ah aku rindu.
tapi, kita tetap sahabat, sebatas sahabat, tidak lebih. Walaupun kamu
mengajariku menyelami perasaan ini lebih dalam, tetapi aku dan kamu masih
menyukai label ‘sahabat’. Kita masih kecil,kan?
Hingga saat itu, usai agenda tahunan pembagian raport
selesai, kamu menghampiriku. Mengatakan hal yang membuat laju peredaran darah
di otakku berhenti sepersekian detik. “aku akan pindah”. Ucapan singkat yang
terlihat sangat berat, bagiku dan bagimu. “jadi, kamu hanya dua tahun disini?
Kenapa?” tanyaku, lugu. Kalimat apa lagi yang harus aku keluarkan untuk orang yang selama ini aku kagumi?
“Disini, kamu baik-baik yah, jangan lupa sama aku, aku akan ingat kok sama Icha” ucapmu, disertai tawa, terlihat garing, hambar.
“Disini, kamu baik-baik yah, jangan lupa sama aku, aku akan ingat kok sama Icha” ucapmu, disertai tawa, terlihat garing, hambar.
pertanyaanku tidak kamu jawab? Kamu pindah kemana? Atas dasar apa? Apa kamu
tega meninggalkan aku disini? Lantas jika kamu pergi mengapa kamu
mengajariku tentang perasaan itu? Apa tujuanmu mengenalkanku padanya?
Aku, tersenyum, menatap nanar wajahmu, “aku nggak lupa kok
sama Ari”. Lalu kamu tersenyum, berat. Dan kamu meninggalkanku disamping
tangga, menjauh dan pergi mengejar ibumu. Aku tetap menatapmu, perih. Kamu
melihat ke arahku, melambaikan tangan. Sudahlah. Aku tak mau melihatmu, yang
ada hanya sakit.
Dan sekarang, tepat 7 tahun semenjak pertemuan itu. Apa kamu
mengingat janji yang dulu kau ucap? Yaitu mengingatku? Apa kemampuan Matematika
dan basketmu meningkat? Aku ingin bertemu, tapi sayangnya, kota yang kamu
tinggali sekarang bukanlah kota yang aku tempati.
Tepat hari ini, 9 Oktober, umurmu 15 tahun, sama sepertiku. Aku harap, kamu menyelipkan namaku di hembusan doamu hari ini.
Selamat ulang tahun ya, cinta pertamaku :)
Tepat hari ini, 9 Oktober, umurmu 15 tahun, sama sepertiku. Aku harap, kamu menyelipkan namaku di hembusan doamu hari ini.
Selamat ulang tahun ya, cinta pertamaku :)
Dari kenangan kecil masa lalumu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar