Senin, 10 Desember 2012

Hujan dan Kenangan


Senin, 10 Desember 2012
03:40 pm
    Hujan begitu riamg bernyanyi diluar sana, aku menghangatkan diriku dengan selimut dan secangkir teh hangat, begitu nyaman.
Dari dalam sini, aku melihat rintik hujan yang bertransformasi menjadi embun di kaca jendela. Hujan hari ini sepertinya hujan terderas selama 3 bulan terakhir, setelah sebelumnya hujan badai yang menumbangkan pohon besar dekat rumah. Aku kembali meringkuk di kasur dan memeluk diri dengan selimut.

Hujan sore ini, mengingatkan aku tentang kejadian itu. Kejadian di masa lalu, saat kamu memberikan jaketmu untuk kupakai, sedangkan kau sendiri kedinginan menahan jahatnya angin.

   Aku kembali mengacak-acak otakku tentang masa lalu, membuat beberapa tetes air keluar dari dalam mata. Secara naluriah, aku tak ingin mengundang masa lalu untuk hadir, tapi waktulah yang menyeretku untuk kembali ke jaman itu. Dan secara berkala, slide tentang aku dan kamu saat itu terputar jelas, dan sekarang di otakku sudah berdiri sebuah bioskop yang menampilkan film jadul tentang kita yang dulu. Dan harus ku akui, ini memang terjadi.
Hujan semakin mengeluarkan kekuatannya, aku semakin memeluk diriku dan menyeruput teh hangat dengan tenang. Melihat jendela kembali membuat film yang berada di otak dipercepat hingga sampai di suatu slide

“walaupun kamu bukan yang pertama, tapi aku harap kamu menjadi yang terakhir untukku, hingga nanti”

Aku tersenyum. “hingga nanti..”
Hingga nanti, saat megaku dan megamu benar-benar menyatu.

   Mengharap khayalan itu terjadi bagaikan mencoba merengkuh gunung, mustahil untuk kuraih. Aku adalah kamu, kamu adalah kamu, hanya aku yang masih dijalan ini, sedangkan kamu telah pergi jauh sebelumnya.
   Kamu bukanlah aku, tapi aku adalah kamu.
Memang benci rasanya menahan rindu yang hanya sepihak. Bukankah setahuku, rindu diciptakan untuk dua orang? Tapi aku, aku berpikir bahwa rindu untukmu hanya aku yang merasa, sedangkan rindumu padaku mustahil untuk kudapat. Sejak kapan aku terlalu bodoh untuk menunggu secara sendiri. Ini tak adil!
Hujan mulai mereda, ia kembali tenang dengan menjatuhkan rintikan air secara lembut. Disini aku masih dibalut selimut, dengan secangkir teh yang sedikit.
Aku mencoba menghapus semua, tapi yang ku dapat, hanyalah slide yang berisi memori yang membuat hening diriku sendiri

“mungkin memang Tuhan tak mentakdirkan kita bersama untuk sekarang, tapi jika Tuhan mentakdirkan kita berdua, kita pasti akan bersama lagi”

   Senyumku memudar, berganti tetesan air mata, lagi..
Lantas, untuk apa kamu berjanji untuk menjadikanku paling terakhir? Apa salahku sehingga kamu jatuhkan? Benci sekali mengetahui bahwa aku masih mencinta dan kau tidak. Cukup!
   Hujan kembali mengeluarkan amarahnya. Dewa Zeus mengeluarkan petirnya dari angkasa. Diluar langit kembali kelabu, langit berduka.
Aku memeluk erat tubuhku. Disini dingin, sama seperti saat itu. Bedanya, tidak ada kamu atau sms darimu. Aku adalah orang asing di hidupmu.

Seberapapun aku menunggumu, sebanyak apapun aku menuliskan kata untukmu, kamu tak akan mengerti tentangku lagi. Bahkan film yang diputar di otakku, berisi semua tentang kejadian kita berdua. Sampai kapan kamu mau menyiksaku dengan wajah dan senyummu? Cukup lelah bila setiap hari aku harus memaksa otakku agar tidak kembali ke masa lalu. Ada apa denganmu? Sampai-sampai kamu tidak membiarkanku untuk lepas dari kenangan?!
   Hujan memang sepenuhnya reda, setidaknya untuk waktu sekarang. Aku melepaskan pelukan untuk diriku, mencoba menahan dingin yang masih menjalar di sekitar kamarku.
Aku mengusap mata yang penuh air, dan berusaha bangkit dari sana. Begitu juga dengan hatiku, hati yang selama ini dipenuhi oleh kecintaan pada dirimu. Aku harus meninggalkanmu, meski enggan rasanya
   Selimut tadi kulipat rapi, otakku juga telah siap mengemasi peninggalan masa lalu yang masih ada di dalamnya. Secangkir teh hangat itu telah habis, perasaanku padamu juga berusaha untuk menghilang.

Aku mengulas senyum, meneguhkan hati
“terima kasih, Reno”
Saat ini, berhentilah menunggu seseorang yang nyatanya dia tak akan bisa kamu miliki
Untuk apa kau lama menunggu, jika hasil yang kau dapat hanyalah sia-sia?

Untukmu, Reno. Jika aku masih denganmu, aku takkan tahu rencana Tuhan. Aku berpisah denganmu, bukti bahwa Tuhan akan memberikan rencanaNya yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar