“jadi, kita
berpisah dulu?” ucapku pelan. Aku menatap wanita yang tepat berada di depan mataku. Wanita yang tiap
detik selalu kuingat wajahnya. Wanita yang mengatakan kalimat itu saat siang
menjadi penguasa hari.
“Iya Van. Aku
ingin fokus dengan pelajaran. Aku mau kita sendiri dulu” balasnya menatapku,
seakan kita takkan pernah bertemu lagi untuk beberapa waktu kedepan. Entahlah,
aku juga tak dapat mengatakan apapun di depan bidadari yang selama ini selalu
kusyukuri kehadirannya. Berharap agar wanitaku berubah pikiran dan menarik
kembali semua kalimat yang telah ia keluarkan. Mengapa saat aku mencintainya, bidadari
itu malah terbang menuju ke arah lain?
“aku
mencintaimu, aku bersumpah demi semua hari yang menjadi sejarah kisah kita.
Meskipun aku yang lebih dulu mengucap perpisahan, tapi kamu selalu menjadi yang
utama di hatiku. Kamu tetap disini” ungkap wanita yang memiliki rambut
bergelombang sembari menunjuk tepat di hatinya, “3 tahun akan terasa sebentar
jika aku dan kamu menunggu dengan tulus dan tidak merasa terbebani oleh apapun.
Kita berdua harus sama – sama percaya Van”.
Aku menatap objek lain yang mungkin dapat
membuat ke-fokusanku terpecah untuk sesaat, tapi semuanya terasa sama di mata.
Menatap wanitaku
memang nyaman terasa, walau sebenarnya akan berujung luka.
“aku mau nunggu
kamu. sampai kamu sadar kalau hanya aku tempat terakhir kamu untuk selamanya”
kataku mantap. Wanita itu tersentak, lalu tersenyum, “Aku gak akan kemana –
mana”. Dia menggenggam tanganku, mencoba untuk membuat aku percaya dengan semua
ucapan yang wanita itu jatuhkan tepat di ulu hatiku, “aku mencintaimu”
lanjutnya tanpa beban, kebohongan kesekian darinya yang sialnya tetap
kupercaya.
Aku meraih
tangannya, menggenggamnya dengan erat jua. Merasa harus memeluk wanitaku dan
berkata bahwa aku lebih mencintainya. Namun, aku hanya berkata hal yang sama layaknya
ucapan yang ia lontarkan sebelumnya.
“aku tahu, aku
juga mencintaimu” balasku singkat.
Wanitaku balas
tersenyum, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. “aku pergi
dulu ya Van” ujar wanita itu dengan posisi berdiri, kemudian ia melepaskan
genggamannya dari tanganku. Menatapku dengan senyuman seperti bidadari yang
hendak menebarkan kasih cintanya.
Kami berpisah,
tepatnya bidadariku yang lebih dulu terbang menjauh. Bukan aku, bahkan aku
masih tetap di tempat ini dan berharap untuk dapat mendekapnya meski hanya sebentar.
Dia takkan tahu,
bagaimana hatiku yang hanya dapat terbuka karenanya, berusaha menunggu selama 3
tahun tanpa kepastian, bertahan dengan diselimuti abu – abu di tiap senja dan
terik matahari. Menunggunya terasa sakit, namun hanya ialah masa depanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar