Sabtu, 18 Mei 2013

sesuatu yang tak kamu tahu tentang hatiku - 1


“jadi, kita berpisah dulu?” ucapku pelan. Aku menatap wanita yang tepat  berada di depan mataku. Wanita yang tiap detik selalu kuingat wajahnya. Wanita yang mengatakan kalimat itu saat siang menjadi penguasa hari.
“Iya Van. Aku ingin fokus dengan pelajaran. Aku mau kita sendiri dulu” balasnya menatapku, seakan kita takkan pernah bertemu lagi untuk beberapa waktu kedepan. Entahlah, aku juga tak dapat mengatakan apapun di depan bidadari yang selama ini selalu kusyukuri kehadirannya. Berharap agar wanitaku berubah pikiran dan menarik kembali semua kalimat yang telah ia keluarkan. Mengapa saat aku mencintainya, bidadari itu malah terbang menuju ke arah lain?
“aku mencintaimu, aku bersumpah demi semua hari yang menjadi sejarah kisah kita. Meskipun aku yang lebih dulu mengucap perpisahan, tapi kamu selalu menjadi yang utama di hatiku. Kamu tetap disini” ungkap wanita yang memiliki rambut bergelombang sembari menunjuk tepat di hatinya, “3 tahun akan terasa sebentar jika aku dan kamu menunggu dengan tulus dan tidak merasa terbebani oleh apapun. Kita berdua harus sama – sama percaya Van”.

Aku menatap objek lain yang mungkin dapat membuat ke-fokusanku terpecah untuk sesaat, tapi semuanya terasa sama di mata.

Menatap wanitaku memang nyaman terasa, walau sebenarnya akan berujung luka.

“aku mau nunggu kamu. sampai kamu sadar kalau hanya aku tempat terakhir kamu untuk selamanya” kataku mantap. Wanita itu tersentak, lalu tersenyum, “Aku gak akan kemana – mana”. Dia menggenggam tanganku, mencoba untuk membuat aku percaya dengan semua ucapan yang wanita itu jatuhkan tepat di ulu hatiku, “aku mencintaimu” lanjutnya tanpa beban, kebohongan kesekian darinya yang sialnya tetap kupercaya.
Aku meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat jua. Merasa harus memeluk wanitaku dan berkata bahwa aku lebih mencintainya. Namun, aku hanya berkata hal yang sama layaknya ucapan yang ia lontarkan sebelumnya.
“aku tahu, aku juga mencintaimu” balasku singkat.

Wanitaku balas tersenyum, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. “aku pergi dulu ya Van” ujar wanita itu dengan posisi berdiri, kemudian ia melepaskan genggamannya dari tanganku. Menatapku dengan senyuman seperti bidadari yang hendak menebarkan kasih cintanya.

Kami berpisah, tepatnya bidadariku yang lebih dulu terbang menjauh. Bukan aku, bahkan aku masih tetap di tempat ini dan berharap untuk dapat mendekapnya meski hanya sebentar.

Dia takkan tahu, bagaimana hatiku yang hanya dapat terbuka karenanya, berusaha menunggu selama 3 tahun tanpa kepastian, bertahan dengan diselimuti abu – abu di tiap senja dan terik matahari. Menunggunya terasa sakit, namun hanya ialah masa depanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar