Jumat, 17 Mei 2013

Sepasang Sayap


Kini, sayap yang kumiliki telah patah.
Terurai menjadi debu, tertiup angin dalam semu.
Aku menjadi seorang yang dibalut pecahan kaca.
Terkurung dalam denting simfoni malam, dengan langit berwajah suram.

Kini, sayap yang kumiliki telah tiada.
Dibunuh dan ditelan oleh kekejaman ego.
Aku menjadi sebuah patung kusam dalam senja.
Disihir oleh masa lalu, tak berkutik walau ditusuk melulu.

    Sepasang sayap yang jelas – jelas telah kumiliki hampir seutuhnya, perlahan rapuh dan tak tahu bagaimana harus kurawat. Menjatuhkan satu per satu bulu halus yang selalu kujaga kenanggunannya. Bagaimana tidak? Sayap yang selama ini selalu kuhargai keberadaannya, selalu kucintai tiap ceritanya, perlahan menjadi rusak tak beraturan. Membuat aku, pun langit serta pasangan dewa dewi yang melindunginya bertanya dengan perasaan keingintahuan yang menggebu-gebu. Menderetkan beberapa untaian kata yang siap dikeluarkan.

    Aku perlahan jatuh menjadi lumpuh. Seperti gedung pencakar langit Jakarta yang kehilangan pilar kokohnya. Dengan reruntuhan yang menghantam riuh jalanan ibukota. Aku tak lagi menjadi bidadari dengan senyum yang menyebar membelah angkasa, aku hanya perempuan yang tak dapat mengepakkan sayap, menjadi hampa diantara makhluk hidup yang berkeliaran mencari kesenangan dalam kebengisan dunia.
    Sayapku menjadi fatamorgana di atas gersangnya hidup yang sekarang. Aku pun tak tahu, mengapa sayap itu sangat penting bagi hidupku untuk saat ini dan seterusnya. Padahal, sayap itu dulu tak pernah kupandang, selalu menjadi bagian dari sudut di ruangan yang jarang ku jamah. Entahlah, sepasang sayap itu kini menjadi sangat berarti.

    Aku berusaha mencari sayap persis seperti sepasang sayap yang kumiliki. Namun, setiap sayap itu seperti tak mempunyai nyawa. Hingga sepasang sayap membius membekukan pengelihatanku, terlihat sempurna untuk kumiliki, namun terlalu kaku untuk mengepakkan sayap, sedangkan aku tak dapat memiliki sayap yang tak bisa menuntunku untuk terbang. Dan saat aku memutuskan untuk memilih sepasang sayap lain yang lebih menarik, sayap itu terlalu banyak dihinggapi bidadari yang lebih sempurna dibandingkanku. Lagipula, meskipun sayap itu terlihat indah memanjakan mata, namun mempunyai duri menusuk yang terselubung di beberapa bulu lembutnya

    Pada akhirnya, aku berusaha merangkai satu persatu potongan sayap yang telah hancur. Memaksakan diri untuk terus membuat sepasang sayap milikku menjadi utuh layaknya sedia kala. Sayapku tak pernah serapuh ini sebelumnya. Dan aku tak tahu pasti alasan yang mendasari hancurnya sayapku. Yang kutahu, saat aku hampir memiliki sepasang sayap itu, sayapku membuat dirinya mati. Membiarkan rayap dari keserakahan ego memakan dirinya sendiri.
    Bagaimanapun, aku tak dapat membuat sayapku menjadi sesuatu yang baru. Semua yang telah hancur, meskipun dapat kuperbaiki, takkan bisa seperti dulu. Sayapku hanya akan menjadi rongsokan diantara rongsokan, seperti sampah yang berjalan beririgan melewati sungai, yang membentang ditiap sudut kota di negeri yang tak tersentuh keadilan.

    Sayapku kini pergi, tak lagi menjadi sesuatu yang kugenggam walau sebentar. Sayapku telah menjadi bagian dari apa yang biasa kusebut dengan untaian masa lalu. Sedangkan aku melebur menjadi lumpur, tak lagi menjadi bidadari yang tersenyum dari langit khayangan. Aku tak lagi mengemas beberapa keceriaan yang biasa hadir dalam atmosfer kebahagiaanku. Aku hanya menjadi apa yang orang sebut kenangan, hanya bisa mendamba dan bermimpi, merangkai kata selayaknya pujangga, mengorbankan diri termakan oleh dimensi waktu. Berharap akan kembali untuk dapat memeluk hangat sayapku di waktu dulu.
    Dan saat sayapku mati. Perlahan aku akan mati. Menjadi mantan bidadari yang mungkin dikenal oleh masa. Meski aku takkan dapat menggapai sayapku kembali, sayapku adalah satu – satunya hal yang dapat kupeluk dengan abadi, meski hanya di mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar