Aku terus
menerus melewati sakit yang tertancap erat disini. Menunggu wanitaku dengan
harapan bahwa ia juga masih mencintaiku diujung belahan bumi disana. Menunggu
dengan atmosfer yang selalu memutar wajahnya tiap kali aku melewati hari.
Mengingat tiap detail raut wajahnya yang diukir indah oleh Tuhan. Mengingat
awal saat aku menatapnya dengan muka memerah. Mengingat semuanya dengan perih,
dengan luka.
Dia takkan tahu
apa yang selalu ada di pikiranku selama dua tahun terakhir ini
“hai Evan.” Ucap wanitaku disuatu hari dengan
langit yang sedikit kelabu. Itu adalah pertemuan pertama semenjak ia memutuskan
untuk pergi melanjutkan pendidikannya. Semua masih sama, hanya saja bidadariku
mempunyai rambut sebahu berwarna cokelat.
Aku menatapnya
sebentar, lalu tersenyum, “sekarang sudah dua tahun, dan kita hanya perlu satu
tahun lagi untuk kembali bersama” kataku dengan raut wajah berbinar. Namun yang
ku lihat, wanitaku meniadakan senyumnya, membiarkanku dengan pertanyaan yang
memenuhi otak.
“kamu jangan
nunggu lagi Van. Usahamu akan sia – sia jika kamu terus menanti aku untuk
kembali ke kamu. kita mungkin takkan seperti dulu untuk selamanya” ucapnya
dengan menundukkan kepala. “aku mempunyai seseorang yang baru. Dan kamu mungkin
tahu, orang itu bukanlah kamu”. Aku menatapnya tak percaya, merasa bahwa ini
hanyalah kebohongan yang selalu ia lakukan. “aku telah dimiliki seseorang yang
lain Van, dan kamu harus percaya kenyataan itu” lanjutnya.
Aku tertegun,
“bukankah kamu bilang bahwa kita harus saling percaya?”
Wanita itu diam,
tak dapat mengucap apapun selain kata ‘aku’ dan ‘aku’. Selama itu, aku masih
menunggu wanitaku. Disaat aku mengerti bahwa hanya aku yang masih bertahan di
jalur kesetiaan ini. Disaat aku tahu bahwa hanya aku yang mencintai, sedangkan
dia mencintai yang lain. “jadi, kenapa waktu itu kamu bilang kita harus
percaya, sehingga aku merasa bahwa aku harus menunggumu?”.
Tapi, wanita itu
kembali diam.
Hening merajai
kami. Hingga akhirnya kuputuskan untuk berdiri. “aku pergi”
Berat mengetahui
bahwa sebagian hatiku telah pergi ke muara lain. Tak menyadari bahwa hanya aku
tempat berteduhnya untuk sepanjang hidupnya. Jika ini adalah mimpi, kuharap aku
dapat terbangun dengan keadaan normal. Atau, aku berharap terkena amnesia
sehingga tak dapat merasakan bagaimana sakitnya kehilangan bidadariku.
“Evan!” teriak
wanita yang sekarang tak lagi berada di muaraku. “aku menyayangimu” ucapnya
dengan air mata yang membendung di sudut matanya. Kebohongannya selalu manis di
telingaku, yang kuyakini tak mungkin untuk aku percayai lagi. aku
meninggalkannya, saat matahari menjadi raja tunggal dihari itu. Sama seperti
yang ia lakukan dua tahun lalu.
. .
. .
Senja berlalu
dengan tenang. Saat ini waktunya bulan menjadi ratu dengan nyanyian merdu,
dengan bintang yang menjadi latar suara dari keheningan malam yang menguasai
atmosfer saat ini.
Tepat setahun,
mestinya saat ini aku bersama dengan wanita yang (seharusnya) menjadi milikku.
Namun saat ini, aku masih berada ditempat dimana bidadari itu meninggalkanku
terbang. Disini, aku menjaga hatiku yang mungkin dapat membawanya kembali.
Meski sekarang hati ini dipenuhi tusukan karenanya.
Tapi
bagaimanapun, ia tak akan mengetahui tentang cintaku.
(untuk kamu, yang teguh menjaga hati ditengah hamparan sakit yang menyayat.
Bertahan dengan hati yang berselimut luka. Memakan tiap menit keputus-asaan
dari penantian dengan perasaan tulusmu. Untuk kamu yang mencintanya atas nama kasih sayang. Untuk kamu, Mr.P)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar