Minggu, 26 Mei 2013

sesuatu yang tak kamu tahu tentang hatiku - 2




    Aku terus menerus melewati sakit yang tertancap erat disini. Menunggu wanitaku dengan harapan bahwa ia juga masih mencintaiku diujung belahan bumi disana. Menunggu dengan atmosfer yang selalu memutar wajahnya tiap kali aku melewati hari. Mengingat tiap detail raut wajahnya yang diukir indah oleh Tuhan. Mengingat awal saat aku menatapnya dengan muka memerah. Mengingat semuanya dengan perih, dengan luka.

    Dia takkan tahu apa yang selalu ada di pikiranku selama dua tahun terakhir ini

    “hai Evan.” Ucap wanitaku disuatu hari dengan langit yang sedikit kelabu. Itu adalah pertemuan pertama semenjak ia memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikannya. Semua masih sama, hanya saja bidadariku mempunyai rambut sebahu berwarna cokelat.
    Aku menatapnya sebentar, lalu tersenyum, “sekarang sudah dua tahun, dan kita hanya perlu satu tahun lagi untuk kembali bersama” kataku dengan raut wajah berbinar. Namun yang ku lihat, wanitaku meniadakan senyumnya, membiarkanku dengan pertanyaan yang memenuhi otak.

    “kamu jangan nunggu lagi Van. Usahamu akan sia – sia jika kamu terus menanti aku untuk kembali ke kamu. kita mungkin takkan seperti dulu untuk selamanya” ucapnya dengan menundukkan kepala. “aku mempunyai seseorang yang baru. Dan kamu mungkin tahu, orang itu bukanlah kamu”. Aku menatapnya tak percaya, merasa bahwa ini hanyalah kebohongan yang selalu ia lakukan. “aku telah dimiliki seseorang yang lain Van, dan kamu harus percaya kenyataan itu” lanjutnya.

    Aku tertegun, “bukankah kamu bilang bahwa kita harus saling percaya?”

   Wanita itu diam, tak dapat mengucap apapun selain kata ‘aku’ dan ‘aku’. Selama itu, aku masih menunggu wanitaku. Disaat aku mengerti bahwa hanya aku yang masih bertahan di jalur kesetiaan ini. Disaat aku tahu bahwa hanya aku yang mencintai, sedangkan dia mencintai yang lain. “jadi, kenapa waktu itu kamu bilang kita harus percaya, sehingga aku merasa bahwa aku harus menunggumu?”.

    Tapi, wanita itu kembali diam.

    Hening merajai kami. Hingga akhirnya kuputuskan untuk berdiri. “aku pergi”
Berat mengetahui bahwa sebagian hatiku telah pergi ke muara lain. Tak menyadari bahwa hanya aku tempat berteduhnya untuk sepanjang hidupnya. Jika ini adalah mimpi, kuharap aku dapat terbangun dengan keadaan normal. Atau, aku berharap terkena amnesia sehingga tak dapat merasakan bagaimana sakitnya kehilangan bidadariku.

“Evan!” teriak wanita yang sekarang tak lagi berada di muaraku. “aku menyayangimu” ucapnya dengan air mata yang membendung di sudut matanya. Kebohongannya selalu manis di telingaku, yang kuyakini tak mungkin untuk aku percayai lagi. aku meninggalkannya, saat matahari menjadi raja tunggal dihari itu. Sama seperti yang ia lakukan dua tahun lalu.
.    .    .    .

    Senja berlalu dengan tenang. Saat ini waktunya bulan menjadi ratu dengan nyanyian merdu, dengan bintang yang menjadi latar suara dari keheningan malam yang menguasai atmosfer saat ini.
Tepat setahun, mestinya saat ini aku bersama dengan wanita yang (seharusnya) menjadi milikku. Namun saat ini, aku masih berada ditempat dimana bidadari itu meninggalkanku terbang. Disini, aku menjaga hatiku yang mungkin dapat membawanya kembali. Meski sekarang hati ini dipenuhi tusukan karenanya.

    Tapi bagaimanapun, ia tak akan mengetahui tentang cintaku.

(untuk kamu, yang teguh menjaga hati ditengah hamparan sakit yang menyayat. Bertahan dengan hati yang berselimut luka. Memakan tiap menit keputus-asaan dari penantian dengan perasaan tulusmu. Untuk kamu yang mencintanya  atas nama kasih sayang. Untuk kamu, Mr.P)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar