Senin, 09 Desember 2013

Talk.


"I know you're somewhere out there Somewhere far away
I want you back
I want you back"

Aku menulis ini saat dingin mulai menyertai malam yang perlahan menyergap, sesudah senja. Aku bukan pria yang menjunjung melankolis, tapi, harus kuakui, aku tengah melakukannya saat ini.
Melakukannya bersama bulan purnama di ujung langit sana, dengan harapan kamu melihat hal yang sama juga.

Untuk wanitaku, Carla.

Aku mencintaimu, kuingin bulan mendengar semua perkataanku, dan menyampaikannya padamu.
Aku tengah menatap bulan, melakukan hal yang sama terus menerus selama 3 tahun ini. Setidaknya, semenjak kita diharuskan untuk tidak saling memiliki. Ceritakan dengan cepat tentang kabarmu, kuharap kamu selalu cantik, manis, menawan, meski tidak denganku.
Meski bukan menjadi milikku.

Aku berpikir, terkadang. Apakah kita sedang melihat bulan yang sama? apa kita masih memiliki ikatan batin yang erat? meski waktu telah melampaui batas kemampuanku untuk menjangkaumu? Umm…Oh! Lihat Carla! itu rasi gubuk, menunjukkan selatan, dulu kita sama – sama menyukai rasi bintang, itu dulu, sebelum kita berpisah.
Jika saja mencarimu semudah menunjuk arah di rasi itu, aku takkan merasa begitu sakit menunggu seperti sekarang.
Kamu masih mengguncang pikiranku, Carla sayang. Walau sudah 3 tahun terakhir kita tak pernah saling bertatap muka, hanya pesan yang kubuat yang hampir menghabiskan semua buku tulis yang kumiliki. Semua di tumpuk rapi di laci mejaku, surat – surat dan puisi untukmu tanpa bisa aku kirim. Baiklah, kau mungkin takkan mengerti, bahwa aku terus menyayangimu. Intinya, kamu masih berhasil menyekap masa depanku, untuk terus melihat masa lalu—kamu.

Jika saja perjodohan itu bukanlah tindakan tegas dari orang tua kita masing-masing, mungkin kita masih dapat bersama. Dengan aku dan kamu yang saling melekatkan jemari kita satu sama lain. Tapi nyatanya, kamu miliknya, dan aku dimiliki wanita itu. Aku bisa saja menjadi pemberontak kedua orang tuaku (dan kabur dari rumah lalu mencari pekerjaan sehingga bisa melamarmu), memangnya ini zaman Siti Nurbaya?! Kita saling dewasa dan masih saja diikat dengan aturan perjodohan?! Jika saja ini bukan karena ayah yang umurnya semakin senja dan ibu yang selalu kusayangi, mungkin aku telah melakukan hal itu.

Jika saja, hanya jika, hanya kata ‘jika’. Karena sesungguhnya, kita tak pernah ditakdirkan untuk bersama. Sejarah tak menginkan kita untuk bersatu. Kamu bersamanya, dan aku (diharuskan) bersama wanita ini.
 Aku menatap bulan dengan lekat, berharap permukaan bulan tergantikan oleh bayangan wajahmu yang sulit terlepas dari otakku, apa kita tengah menatap hal yang sama? Apa bulan mendengarkan semua cerita kita? Apa disini hanya aku yang masih mencintaimu?

Carla sayang,
2 bulan lagi, aku diharuskan menikah. Sejujurnya, aku tak pernah ingin melakukannya, jika mempelai wanita yang berdiri di sampingku bukanlah kamu. okay, sebagai seorang laki-laki aku terlalu lemah untuk menolak perjodohan ini. Tapi percayalah, aku melakukan ini untuk kebahagiaan kedua orang tuaku, karena aku masih mencintaimu.
Kuingin bulan menyampaikan pesanku yang satu ini,
Semoga kita dapat bertemu, kuharap secepatnya.
Jika itu bisa dilakukan.
Jika Tuhan berencana untuk mempertemukan kita kembali.

Pria itu berdiri di balkon rumahnya. Menatap bulan yang sesekali tertutup awan tipis yang melintas. Pikirannya kabur, matanya tak terlihat sembab, namun beberapa tetes air sesekali mampir di pelupuk matanya. Ia merindukan gadis itu, Carla.

Seseorang memperhatikan pria itu dari balik pintu teras yang setengah terbuka. Memandang dari atas hingga bawah, dari rambut hitam cepaknya hingga kedua telapak kakinya yang berukuran 43.
Pria itu memiliki alis tebal, bola mata hitam, hidung mancung, lesung pipi yang terlukis jelas, rahang tegas, semua yang dimilikinya seperti ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hingga detail bahunya yang bidang serta tinggi tubuhnya yang sekitar 187 cm itu mampu membius wanita yang tepat berjalan menghampiri sang lelaki.

“sudah malam, kamu nggak kedinginan?” tanya wanita itu lembut, sang pria tampak diam tak bergeming
“bulannya bagus” wanita itu bergelajut manja di bahu sang pria “aku suka” ia menyandarkan kepala dan menyelipkan jemari tangannya di sela-sela jemari pasangannya.
“tiara..” pria itu berkata “aku mencintaimu” lanjutnya memutar tubuh sembari memeluk Tiara dengan erat, menutupi tangisnya.
-------
"At night when the stars light up my room
I sit by myself"

Bulan purnama, ya?

Malam ini aku terjaga, entahlah. Aku tak terbiasa untuk tidak tidur lewat jam 10, dan sekarang pukul 10.14 malam, aku tak tahu apa yang merasuki aku untuk menatap bulan malam ini.
Apakah bulan ingin menceritakan sesuatu? Apa aku hanya ingin dingin menusuk untuk mengembalikan ingatanku tentangmu? Oh, bicara mengenai kamu. aku rindu.
Kuingin bulan menulis semua ocehanku malam ini, hanya malam ini. Sebelumnya, ku titipkan rinduku kepada bulan, semoga ia segera menyampaikannya padamu.

Kepada Bima,
Menatap bulan sama saja seperti membayangkan wajahmu yang hingga kini masih terlihat nyata di benakku, meski telah 3 tahun berlalu. Apakah kamu masih seorang Bima yang sama? Dengan kacamata yang menutupi bola mata hitammu dan hidung mancung dan lesung pipi dan kegemaranmu memakan coklat dan kesukaanmu menggambar ilustrasi juga puisi dan…
Ah sudahlah, membahas tentangmu tak akan cukup untuk satu malam ini

Aku selalu bertanya, mengapa kita diharuskan Tuhan untuk tak saling memiliki? Apa Tuhan tak ingin ciptaannya ini memiliki pasangan sejati? Nyatanya kan, kita saling mencintai, bahkan teman-teman dan tempat yang menjadi saksi bisu kita tahu, bahwa kita memang saling melengkapi satu sama lain. Tapi mengapa akhir cerita harus merelakan kita untuk berpisah?
Oh, tunggu, Bima. Apa kita sedang melihat bulan yang sama? Kuharap kamu menatap bulan purnama malam ini. Meski tempat kita berbeda, tak tersentuh dan termakan waktu yang menggerus hal yang menyangkut kenangan kita. Umm..uh, hei! Itu rasi gubuk, kan? Rasi yang menunjukkan arah selatan di ujungnya. Apakah kamu ingat dulu kita sering mencari nama – nama rasi bintang, itu dulu, Bima.

Seandainya menatapmu semudah menatap rasi bintang gubuk, mungkin aku takkan pernah menahan rindu yang menggebu seperti ini.

Kamu masih bertahan di hatiku, Bima sayang. Meski sudah 3 tahun kita tak saling menyapa. Kau tahu, aku masih menyimpan beberapa puisimu dan gambarmu yang sengaja kau lukis di sela-sela kesibukanmu, tertata rapih di laci mejaku. Okay, mungkin kalimatku menjadi sukar untuk dimengerti, bahwa aku selalu merindu dan menharap kehadiranmu. Intinya, kamu masih berhasil menyita waktuku untuk stuck di masa lalu, mengingat waktu dulu—merindu dirimu.
Seandainya perjodohan itu bisa kita cegah, mungkin kita masih dapat bertemu. Saling memeluk erat tubuh kita satu sama lain. Tapi sekarang, kamu telah memilih wanita itu, dan aku telah dipilih pria yang menjadi rekomendasi ayah. Aku bisa saja mengancam untuk bunuh diri atau pergi dari rumah karena perjodohan konyol di era kebebasan ini. Memangnya sekarang masih menganut system Siti Nurbaya?! Ah, aku tak pernah mengerti apa yang menjadi dasar acara jodoh-jodohan ini. Jika saja bukan karena ibu yang sakit keras dan ayah yang terus memintaku menikah. Aku akan berkata BIG NO didepan semua saksi yang hadir di acara pertunanganku.

Ya, hanya seandainya, hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Toh, kenyataannya aku menerima perjodohan ini dan merelakanmu untuk wanita (yang kuharap tak kamu sukai kehadirannya) itu. Kita memang diharuskan untuk tidak bersatu oleh Tuhan. Takdir kita bukan untuk bersama. Jalan hidup kita tak pernah dialirkan untuk satu alur yang sama. Kamu milik wanita itu, dan aku menjadi milik pria ini.
Aku menatap bulan, begitu terang malam ini. Kuharap ia mencatat semua obrolan jarak jauh kita. Mungkin ia akan menyampaikanya padamu. Mengatakan betapa aku tak pernah jenuh untuk merindukan sosokmu.

Bima, priaku.
Dalam waktu dekat aku akan menikah. Kau tahu, aku masih berharap bahwa kamu tiba-tiba datang dan membatalkan acara pernikahanku. Atau mungkin, kamu yang menjadi pria yang berada disampingku, seandainya.

Karena mimpi yang kubangun untukmu, tak akan pernah menjadi kenyataan untuk sepenuhnya.
Aku ingin katakan satu hal.
Aku masih menyayangingu, bulan harus tahu ini dan merekamnya. Agar, kita dapat secepatnya bertemu, kalau bisa sebelum pernikahanku, seandainya (ini kata yang berhasil kuucapkan untuk kesekian kalinya).
Jika Tuhan ingin mempertemukan kita kembali. Kita akan bertemu.

Sang wanita menekuk lututnya dan menyelimutinya dengan tangan mungil itu, diatas lantai yang mulai membeku karena terpaan angin malam yang sungguh menusuk rusuk. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa disisir. Sesekali airmata menghiasi pelupuk matanya. Hatinya menyimpan luka yang terus menerus dipendamnya hampir 3 tahun.
Seorang pria datang menyelimuti Carla. Memeluk sebagian tubuhnya di tengah dingin yang menggeliat meminta ruang. Pria itu menatap rambut hitam sepinggul yang dimiliki Carla, wajah Carla dihiasi bola mata bulat berwarna cokelat hazel, pipi yang tembem, hidung yang mancung, kulitnya yang putih namun tak pucat, lesung pipi yang terlihat saat tersenyum, gigi yang rapih diperlihatkan saat ia tertawa terbahak, bibir yang merekah meminta untuk disentuh. Sayangnya, malam ini Carla menutup wajahnya dibalik kedua lutut yang sedari tadi ia goyangkan.

“Carla, ini sudah larut, kamu nggak mau tidur?” ucap pria yang duduk merangkul Carla. Carla menoleh menatap pria itu.
Carla menggelengkan kepalanya, member isyarat ‘aku tidak mengantuk’ pada pria yang (sebentar lagi) menjadi suaminya. Sang pria hanya mengangkat salah satu alisnya dengan senyum menggoda.
“tidur yah. Aku mau nemenin ayah dulu” pria itu berkata sembari berusaha untuk berdiri, membenarkan kacamatanya yang turun, saat Carla mencegahnya pergi sehingga ia hanya berdiri bertopangkan kedua lututnya. “Satria..”
Carla berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar lirih, lalu ia menatap Satria “aku mencintaimu” ucapnya menghambur menyatu dengan tubuh Satria. Satria membalas pelukan Carla.
“aku juga mencintaimu” senyum tersungging di bibirnya, memeluk Carla dengan erat.

Yang tanpa ia ketahui, Carla menangis di dalamnya.

Talking to the Moon
Berbicara pada rembulan
Try to get to You
Berusaha bicara padamu
In hopes you're on the other side
Berharap kau ada di sana
Talking to me too
Juga sedang berbicara padaku
Or Am I a fool
Ataukah aku ini orang gila
who sits alone
Yang duduk seorang diri
Talking to the moon
Berbicara pada rembulan
(Bruno Mars – Talking to The Moon)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar