“semua yang telah lewat menorehkan luka sedikit demi
sedikit. Apabila kamu masih bertahan dengan ketulusan, berarti kamu masih
mencintainya”
Mencintaimu
bukanlah hal seharusnya patut kuperjuangkan, seharusnya. Mencintaimu bukanlah
hal yang dapat membuatku ada, namun karena kehadiranmu aku merasa ada.
Aku selalu berharap, kesalahanku tempo dulu dapat kuulang
dan terhapus menjadi satu lembaran kosong, yang akan di-isi kembali oleh
tumpahan kenangan yang sama sekali tak membuat sakit. Tapi, kau tahu, kenangan
itu sudah permanen, sudah tak mungkin lagi untuk aku ulang dan diubah menjadi
rangkaian yang baru.
Semua telah menjadi abu, kenangan itu menjadi debu yang
tertiup beriringan menuju keluar jendela hatimu. Kamu tak lagi tahu betapa
aku-sangat-mempertahankan-kenangan yang selalu membayangiku tiap waktu. Baiklah,
memang seharusnya, saat kamu dan aku berpisah, aku tidak menghilangkanmu dari
seluruh sisa hidupku, aku hanya berpikir bahwa hanya dengan menghapusmu, masa
depanku akan menjadi suci.
Bodohnya aku, terlalu menuruti ego bisa menyebabkanku buta,
berkata benci sebenarnya rindupun adalah suatu ke-egoisanku untuk menunjukkan
bahwa aku bisa tanpa kehadiranmu di masa depanku.
Ah sudah. Aku tak perlu
membahas sesuatu yang tak pernah penting dimatamu.
Sekarang, hari mendekati tengah malam, mendekati hari Sabtu.
Itu tandanya adalah tinggal 24jam sisa waktumu untuk menapaki seluruh kota ini.
Kamu harus pergi. Ya, kamu tak bisa mengelak untuk tetap diam disini sementara
keluargamu berada jauh disana. Kamu (walaupun sebenarnya tidak harus) mau tidak
mau meninggalkan beberapa kenangan yang masih melekat di sudut jalan kecil di pinggir
kota ini. Aku begitu tersanjung apabila kamu membawa beberapa bekal mengenai
kenangan saat dulu kita masih bersama, sebagai alasan bahwa aku masih menjadi
temanmu, ya, temanmu.
Kepergianmu, meninggalkan goresan ke-ratusan kali yang
selama ini selalu kamu torehkan diatas kertas yang hampir lusuh tak berbentuk. Karenamu,
sebagian dari sejarahku mengalami metamorfosa menuju kedewasaan. Entahlah, aku
harus berterima kasih atau malah menyalahkanmu atas semua yang telah terjadi.
Kamu harus pergi, siapapun tak dapat menghindari
kepergianmu, termasuk aku. Baik-baik disana, jangan melupakan aku—temanmu di
masa lalu. Aku hanya bisa menuliskan kata demi kata tanpa berani mengucapkan. Kamu
harus jadi baik disana. Maaf aku (dan temanmu yang lain) tak dapat
memelukmu untuk sekedar melepas rindu serta kepergianmu menuju salah satu kota
yang dianggap romantis bagi pemuda Indonesia.
Jika nanti, Tuhan memang mengijinkan kita untuk mengunci
pengelihatan kita satu sama lain. Aku harap, aku, kamu, dapat berubah menjadi
lebih baik. Kamu harus ingat janji kita dan yang lainnya. ‘kita saling
mengenal, tak terpisahkan jarak, kita sahabat’.
Bulan mendekati tempat peraduannya. Di titik ini, harapanku,
adalah dapat melihatmu tersenyum. Saat fajar mulai menyalakan apinya, aku
harap, saat kamu di perjalanan nanti, kamu dapat membawa beberapa memori yang
tak sepenuhnya kamu tinddalkan di kota ini, sehingga kamu bisa mengingat
kejadian aneh yang telah terekam jelas, seperti kenangan tentangmu yang masih
setia berada di otakku.
Cepat pergi. Biarkan aku kembali memperbaiki kesalahan yang
berada di otak dan perasaanku sekarang, menutupnya untuk beberapa waktu
kedepan. Hingga tiba waktunya, saat kamu benar-benar kembali, kamu masih mempunyai
rumah di kota ini.
--------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar