Kamis, 20 Juni 2013

Pentas seni yang menjanjikanmu hadir.

Aku melangkah secepat yang kubisa. Sekarang pukul 13.08, janjiku sudah ngaret selama satu jam, ini karena semua kemacetan di ruas jalan menuju jantung kota, dimana pusat pemerintahan kota diatur disana.
Langkahku tepat berhenti di depan gerbang sekolah yang setahun lalu meluluskanku menjadi calon murid SMA. Aku menunggu Naya dengan wajah beralaskan asap knalpot dan rambut yang mulai mengembang tak karuan. Hampir 5 menit aku diam bak kambing mencari induknya, dan Naya akhirnya datang.

Kami berbincang ria, mengganti berbagai macam topic mulai dari cowok cakep hingga gossip simpang siur di kalangan alumni. Kami duduk di bawah pohon belimbing, dengan beralaskan tempat duduk yang dibuat seperti kayu dan sedikit lumut yang menyelimuti. Sebenarnya, tujuanku datang ke pentas seni tidak hanya untuk melihat artis papan atas yang heboh berjingkrak di atas panggung, alasanku kesini (selain melihat artis yang kegantengannya mencapai level 8 itu), untuk melihat sosok itu…..

“Iru, lo tadi dicariin!!” teriak Kiara, yang (bagaimanapun) tidak terdengar jelas karena music diatas panggung yang begitu memekakkan telinga siapapun.

“HAH? AMA SIAPA?” ucapku tak kalah kencang, setelah itu, ia mendekat untuk berbisik

“sama Ken.” Ucapnya.
------------------------------------------------~
Di pentas seni ini, satu-satunya harapanku agar bisa bertemu dengan sosok itu meskipun hanya semenit. Bagiku, apalah arti keramaian yang tengah mengerubutiku apabila aku sendiri merasa kosong, bukan karena apa-apa. Tapi pentas seni ini adalah satu-satunya acara yang menjanjikan dia untuk hadir, satu-satunya cara yang sepertinya haram untuk aku indahkan.

Aku hanya diam. Iya, diam. Untuk apa aku ikut melompat dan bersorak apabila pikiranku melayang kemana-mana. Mencari ke sekitar apakah ia akan terlihat oleh mata atau justru menghilang dari pengelihatan. 

Tapi, kamu tahu, sosok itu memang tak terlihat oleh mataku.

“Iru, kantin yuk. Gue haus tau” celetuk Naya, membuatku (berpura-pura) fokus menatap sang vokalis, lalu menjawab pernyataan si cewek cungkring itu.

“lo aja”

“ah gue haus Iru. Tega lu emang” ucapnya dengan nada bentakan, lalu menarikku dari keramaian

“ah lu, yaudah gue juga mau pipis hihi”
Di depan, terlihat barisan cowok dengan wajah yang familiar; cowok satu angkatan denganku. Aku lebih memilih jalan memutar, ketimbang harus menyapa dengan akhir pem-bully-an yang dirumuskan padaku.

Terlihat jelas seorang cowok berwajah oriental. Dengan mata dan postur tubuh yang tak ubahnya seorang atlet dari tim basket. Wajah yang terlalu ‘asing’ untuk tak ku kenali.

Dia Ken, dengan Aldo disampingnya, dan Handphone di genggamannya.

Aldo teriak memanggilku, entah, Ken seakan-akan diam tak berkutik. Mencoba menjadi orang tuli satu sekolahan, merasa bahwa beberapa waktu lalu ia tak mencariku.
Aku menoleh tepat, bertatapan, dengan Aldo. Tentunya, Ken acuh padaku. Aku bisa apa? Memaksa Ken melihatku dan mencoba meneriaki namanya saat pentas berlangsung? Oh mungkin itu adalah hal yang konyol yang harus aku lewati. Ya aku tentu tidak ingin melakukannya!

Aku mengacuhkan Aldo, si hitam dengan rambut bagai sarang tawon. Aku berusaha menghilangkan gemetar yang menjalar di seluruh tubuh. Harus terlihat bodoh seperti apa lagi aku? Melihat Ken dari samping saja sudah membuatku dagdigug setengah mati, bagaimana jika aku bertemu yang berbincang dengannya?!

Beberapa waktu telah berlalu, sang vokalis tetap saja menebarkan senyumnya dan membuat para cewek dibawah panggung terbius beberapa jam. Entah.

Aku mencoba memusatkan perhatianku kepada pembicaraan yang dihidangkan oleh Naya, dan teman-temannya. Sungguh, karena kejadian “Aldo memanggilku namun yang disampingnya (Ken) bersikap acuh” membuatku pusing tingkat dewa Neptunus. Segitu pusingkah aku menghadapi masalah kecil itu? Oh, okay. Mungkin harusnya aku bersikap biasa dan tidak terlalu membebani pikiranku dengan peristiwa kecil ini.
--------------------------------------------------~
hari menjelang petang. Kiara mengajakku untuk keluar dari pentas itu dan membawaku untuk masuk ke salah satu mall di kota. Aku hanya menurut, lagipula, vokalis yang kegantengannya ada di level 8 itu sudah berhenti menyumbangkan suaranya di depan anak-anak abg yang begitu terlihat histeris. Namun…

“kenapa Ru?” tanya Kiara

“gak, gapapa. Udah yuk jalan” jawabku berat

“masih nunggu Ken?”

“eh?” kagetku.

Coba dipikir lagi, Iru, adalah seorang anak yang sehari-hari selalu bisa atasi masalahnya. Tapi mengapa jika berhubungan dengan pria yang satu ini Iru terlihat sangat lemah?! Ayo Iru bangkit!

“lo masih nunggu kan? Mau kita tunggu sampe dia lewat gerbang?” tawar Kiara dengan nada yang sangat diperhalus

“gue mau ketemu Bu Kira, yuk”
Kali ini, Kiara yang mengikutiku.

Ya sebenarnya, bertemu Bu Kira salah satu alasan untuk mengalihkan pembicaraan kali ini. Tapi, lagi-lagi, dia terlihat di mataku—
Ken beranjak pulang, dengan temannya yang dulu satu kelas. Aku ingin menghampiri…tapi kamu tahu sendiri, bagaimana reaksiku saat aku berhadapan dengan Ken. Dengan berat aku kembali mengobrol dengan Bu Kira.

Aku melewati gerbang, bertahan disana untuk sementara waktu. ah! Apasih yang sebenarnya harus kutunggu?! Ken? Dia tidak terlihat mata lagi Iru, mungkin dia pergi ke kantin dulu, jadi mengapa terus Iru tunggu kehadirannya?
karena, pentas seni ini yang menjanjikan Ken untuk hadir

Aku dan Kiara setia menunggu, hingga salah satu temanku datang

“Iruuu~ nungguin siapa lagi sih? Acara udah selesai tahu”
Aku dan Kiara hanya berpandangan. Bisu.

“pasti nunggu Ken ya Ru?” Ucapnya to the point, temanku yang satu ini pasti tahu karena… ia tahu bahwa aku masih menyayangi Ken--- lewat social mediaku.

“iya tuh si Iru masih aja nunggu” celetuk Kiara. Aku diam

“Iru pengen ngucap perpisahan ya ke Ken? Ken kan mau pindah jauh Ru, nggak di kota ini lagi”
Aku diam.

Sakit begitu cepat melewati urat nadi dan perlahan menyatu dengan siklus peredaran darah. Jujur, sebelumnya, aku memang tahu bahwa Ken akan pergi dari kota ini, dan saat itu ekspresiku (sama sekali) datar, seakan itu hanya salah satu gossip yang suatu saat akan lenyap. Tapi ternyata..

“Iru, ucapin salam perpisahan sekarang aja Ru, daripada nanti, malah mendem sakit sendiri” ucap temanku yang satu itu.
Kiara menatapku tanpa reaksi, ia tahu pasti aku akan mengeluarkan setetes demi setetes air dari mata meskipun aku berusaha tersenyum. Kiara tak banyak membantu jika hal ini menimpaku. Aku terlalu stuck untuk mengharapkan hiburan dari Kiara. Dan sedangkan, temanku yang satu itu, pergi menuju pintu gerbang.

“Iru masih mau nunggu? Nanti Kiara ikutan nunggu, Kalo nggak mau nunggu lagi Kiara ajak Iru pulang” ucapnya dengan pelan. Percakapan kami berubah menjadi sangat halus. Ini semua agar hati Iru tidak terus kaku, menurut Kiara.

“aku…” aku tak banyak berbicara. “kok Ken belum lewat ya?”

“mungkin Ken lagi bareng temennya Ru, yaudah kita tungguin aja”
Kiara dan aku tetap menunggu, ah! Aku terlalu bodoh untuk mengikuti hatiku agar terus menunggu Ken!

“Kiara…pulang yuk. Toh Ken gak akan lewat sini. Ken pasti lagi kumpul bareng temennya. Atau mungkin Ken lewat belakang buat ngindarin Iru”

“tapi kan, tadi Ken nanya ke Kiara tentang Iru, masak iya dia gak mau ngeliat Iru”

“udahlah” ucapku singkat.

“jadi, Iru gak mau nunggu lagi. ini mungkin pentas seni terakhir yang Ken kunjungi, kalau tahun depan kan Ken udah nggak di kota ini lagi. ini kesempatan terakhir Iru buat ketemu Ken. Aku temenin deh” tawar Kiara sekali lagi.

Aku menimang-nimang tawaran Kiara. Hari sudah terlihat abu-abu,pertanda hujan. Jika aku menunggunya, mungkin Ken akan lewat dan berpapasan denganku, itupun kalau ia tidak melewati pintu belakang. Jika aku tidak menunggunya….mungkin aku tak bisa bertemu dengan senyumnya lagi karena perbedaan jarak yang cukup jauh.

“Kiara, ayuk pulang. Aku capek.” Ucapku dengan nada yang lebih pasrah santun

“Iru serius mau pulang, jadi kita nggak usah nunggu Ken lagi?” tanya Kiara
Aku tersenyum. Kiara mengambil ancang-ancang untuk siap merangkulku. Ia tahu, senyum yang ku keluarkan selama ini atas nama Ken adalah senyum semu.

“yaudah sih, menurutku Ken gak mau ketemu sama aku. Biarin aja ini jadi pentas seni terakhir Ken. Seharusnya apa peduliku dengan hal ini? Hahaha.”

“jadi pas Ken pergi, Iru gak mau ngucapin salam perpisahan?” ucapnya untuk meyakinkanku

“gausah Ra. Gak penting kok, bagi Ken perpisahan dariku itu gak penting, hehe”
Lantas, aku pulang. Kiara merangkulku, dan aku yakin Kiara tak bisa lagi berbuat apapun terhadap diriku. 

Aku hanya bisa tersenyum sepanjang jalan. Melihat apakah aku harus kembali menghadap belakang dan memastikan bahwa Ken tepat terkunci di pengelihatanku. Aku tak dapat berbuat banyak, aku seperti seorang anak kecil yang mainan kesayangannya dihancurkan oleh anak yang lebih besar. Aku masih berusaha berkata bahwa ini mimpi. Seandainya pentas seni ini adalah yang terakhir bagi Ken, maka aku adalah orang yang paling tidak beruntung karena tak dapat berbincang dengan Ken meski sebentar.

“Iru gapapa kan?”

“gapapa kok Ra, Aku baik-baik aja”

“yakin, mumpung kita masih di jalan ini, Iru gak mau balik lagi?”

“gausah lah, Ken gak disini lagi kok.” Jawabku singkat.

Aku mengikuti Kiara untuk pergi ke sebuah mall. Pentas seni ini telah menjanjikan Ken untuk hadir, namun, pentas seni ini juga telah menjanjikanku untuk menyadari beberapa hal..

Ken tak akan kembali, meskipun kembali, ia tak akan sama, toh ia juga mengacuhkanku. Ken akan pergi, dengan begitu percuma aku terlalu menunggu dan berharap. Meskipun aku melarangnya pergi, Ken akan tetap menuju kota yang jauh itu.

Pada intinya, pentas seni ini adalah pentas terakhir untuk Ken, juga pentas terakhir untukku.



(maaf. saya tak dapat menyapamu. saya terlalu bingung. tapi lebih dari itu, selamat berpisah. semoga saya tak lagi menjadi kaku bila bertatap muka denganmu. kamu tetap yang terbaik.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar