Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah sekian lama aku mencoba menata beberapa keping hati
yang terlepas dari tempatnya. Membersihkannya secara menyeluruh hingga semua
kenangan yang kubiarkan berantakan di dalamnya tertata rapih. Saat itu, kurasa
aku kembali siap untuk jatuh cinta,
Mengambil resiko jika suatu saat nanti beberapa keping
hatiku kembali jatuh tak beraturan—berantakan.
Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah hampir beberapa tahun aku takut untuk memberanikan
diri keluar dari pelukan menusuk masa lalu. Terus didekap seakan berkata bahwa
mencintai seorang yang baru akan sama sakitnya dengan waktu dulu. Aku melewati
beberapa duri yang mengikatku, aku menerjang, hingga aku kembali percaya kalau
aku memang siap untuk kembali mencinta,
Mengambil konsekuensi untuk sakit suatu hari nanti.
Kukira, kita sama-sama mempunyai perasaan saling memiliki.
Tapi nyatanya, hanya aku yang pertama memulai perasaan ini, dan kamu sama
sekali tak ingin turun tangan.
Padahal, kamu menjadi pemenang telak. Menyibakkan tirai yang
menutupi cahaya di satu ruang kosong yang kumiliki. Aku mengibarkan bendera
putih, pertanda kamu memang pantas masuk dan membuat ruangan yang kumiliki
kembali berwarna.
Seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar membuat ruang itu
bercahaya.
Otak mengutukku. Seharusnya kamu tak pernah percaya ucapan
dan matanya, seharusnya kamu memakai logikamu untuk menaruh perasaan itu lagi!
lihat, sekarang kamu terus menerus menggerus hatimu yang kembali berantakan,
membuat semua kembali rusak!
Kamu, ah kamu lagi. Kamu terlihat benar di kedua mataku,
bahkan kesalahan kecilmu kubenarkan kejadiannya, aku terlalu mengagumimu hingga
aku tak percaya dengan ucapan otakku untuk berhati-hati kembali, takut terjatuh
dalam situasi yang sama lagi.
Aku takut untuk mencinta, sebelum kamu datang memecahkan
pemahaman itu, menarikku untuk berusaha keluar dari jeruji penuh duri yang
setiap hari makin tumbuh bak semak belukar.
Aku tahu, bekas luka dari duri itu masih tampak jelas dan
teraba olehmu, tapi kamu memegang lukaku dan bersabar untuk menyembuhkannya,
aku sempat melupakan dan menganggap masa lalu itu hanya sekedar masa lalu.
Mereka adalah sejarah, katamu.
Tapi, seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar bersabar
menyembuhkan lukaku.
Aku menaruh kepercayaan padamu, aku tak akan lagi jatuh dan
takut, ada kamu yang menemaniku. Aku mencintaimu, meski kucoba untuk menepis
dan membuang pernyataan itu jauh ke bawah sadarku. Tapi nyatanya, aku
mencintaimu secara pasti, tanpa ragu dan rancu. Kamu memberi tanda bahwa kamu
siap untuk membopong diriku yang tak kuat untuk berdiri, memelukku menggantikan
duri kesetanan yang telah melukaiku, kamu terlalu membiusku.
Kukira, kita mempunyai perasaan yang sama. Sama-sama
memiliki.
Ternyata, pernyataan itu hanya aku yang menelannya.
---
Selamat atasmu yang berhasil membuat semua secara
keseluruhan menjadi kacau. Membuang jauh-jauh kepercayaan yang dalam diam aku bangun sendiri, dan membuat semua dinding yang kuciptakan untukmu berhasil
runtuh.
Aku kembali rapuh.
Kau tahu, aku menyiapkan perasaan ini dengan hati-hati,
khusus untukmu yang bisa mengeluarkanku dari masa lalu.
Nyatanya, perasaan yang telah lama kusimpan rapi, saat
kukeluarkan, malah kembali berantakan.
Aku kembali sukar untuk mencintai,
Aku takut semua hal yang menyangkut hati kembali tak
beraturan.
Aku percaya padamu, dan kamu mematahkannya. Aku bisa
mencintai kembali karena hadirmu, dan kamu merusaknya. Seakan kata ‘aku dan
kamu’ tak ada lagi dalam sejarah kita.
Aku tak pernah merasa sesakit ini. Apa kamu pernah merasa
sakit seperti ini?
Mencintai dalam diam, menaruh perasaan yang dalam.
Tapi saat kau tahu, perasaanmu tak pernah tersampaikan,
bahkan hanya dapat terucap oleh hatimu. Tak pernah teraba secara pasti, dibunuh
dengan cara nista, mengetahui bahwa cintamu tak benar-benar ingin dimiliki.
Harusnya aku tahu, kamu tak pernah berpikir untuk benar-benar mengikrarkan hubungan ini, aku hanya mainan bagimu,
Dan seharusnya aku tahu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar