Sabtu, 23 November 2013

Seharusnya tentang kamu

Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah sekian lama aku mencoba menata beberapa keping hati yang terlepas dari tempatnya. Membersihkannya secara menyeluruh hingga semua kenangan yang kubiarkan berantakan di dalamnya tertata rapih. Saat itu, kurasa aku kembali siap untuk jatuh cinta,

Mengambil resiko jika suatu saat nanti beberapa keping hatiku kembali jatuh tak beraturan—berantakan.

Aku tak pernah merasa sesakit ini.
Setelah hampir beberapa tahun aku takut untuk memberanikan diri keluar dari pelukan menusuk masa lalu. Terus didekap seakan berkata bahwa mencintai seorang yang baru akan sama sakitnya dengan waktu dulu. Aku melewati beberapa duri yang mengikatku, aku menerjang, hingga aku kembali percaya kalau aku memang siap untuk kembali mencinta,

Mengambil konsekuensi untuk sakit suatu hari nanti.


    Kukira, kita sama-sama mempunyai perasaan saling memiliki. Tapi nyatanya, hanya aku yang pertama memulai perasaan ini, dan kamu sama sekali tak ingin turun tangan.
    Padahal, kamu menjadi pemenang telak. Menyibakkan tirai yang menutupi cahaya di satu ruang kosong yang kumiliki. Aku mengibarkan bendera putih, pertanda kamu memang pantas masuk dan membuat ruangan yang kumiliki kembali berwarna.

Seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar membuat ruang itu bercahaya.

   Otak mengutukku. Seharusnya kamu tak pernah percaya ucapan dan matanya, seharusnya kamu memakai logikamu untuk menaruh perasaan itu lagi! lihat, sekarang kamu terus menerus menggerus hatimu yang kembali berantakan, membuat semua kembali rusak!

    Kamu, ah kamu lagi. Kamu terlihat benar di kedua mataku, bahkan kesalahan kecilmu kubenarkan kejadiannya, aku terlalu mengagumimu hingga aku tak percaya dengan ucapan otakku untuk berhati-hati kembali, takut terjatuh dalam situasi yang sama lagi.
    Aku takut untuk mencinta, sebelum kamu datang memecahkan pemahaman itu, menarikku untuk berusaha keluar dari jeruji penuh duri yang setiap hari makin tumbuh bak semak belukar.

    Aku tahu, bekas luka dari duri itu masih tampak jelas dan teraba olehmu, tapi kamu memegang lukaku dan bersabar untuk menyembuhkannya, aku sempat melupakan dan menganggap masa lalu itu hanya sekedar masa lalu. Mereka adalah sejarah, katamu.

Tapi, seharusnya aku tahu, kamu tak benar-benar bersabar menyembuhkan lukaku.

    Aku menaruh kepercayaan padamu, aku tak akan lagi jatuh dan takut, ada kamu yang menemaniku. Aku mencintaimu, meski kucoba untuk menepis dan membuang pernyataan itu jauh ke bawah sadarku. Tapi nyatanya, aku mencintaimu secara pasti, tanpa ragu dan rancu. Kamu memberi tanda bahwa kamu siap untuk membopong diriku yang tak kuat untuk berdiri, memelukku menggantikan duri kesetanan yang telah melukaiku, kamu terlalu membiusku.

Kukira, kita mempunyai perasaan yang sama. Sama-sama memiliki.
Ternyata, pernyataan itu hanya aku yang menelannya.
---
Selamat atasmu yang berhasil membuat semua secara keseluruhan menjadi kacau. Membuang jauh-jauh kepercayaan yang dalam diam aku bangun sendiri, dan membuat semua dinding yang kuciptakan untukmu berhasil runtuh.
Aku kembali rapuh.

Kau tahu, aku menyiapkan perasaan ini dengan hati-hati, khusus untukmu yang bisa mengeluarkanku dari masa lalu.
Nyatanya, perasaan yang telah lama kusimpan rapi, saat kukeluarkan, malah kembali berantakan.
Aku kembali sukar untuk mencintai,
Aku takut semua hal yang menyangkut hati kembali tak beraturan.

Aku percaya padamu, dan kamu mematahkannya. Aku bisa mencintai kembali karena hadirmu, dan kamu merusaknya. Seakan kata ‘aku dan kamu’ tak ada lagi dalam sejarah kita.

Aku tak pernah merasa sesakit ini. Apa kamu pernah merasa sakit seperti ini?
Mencintai dalam diam, menaruh perasaan yang dalam.
Tapi saat kau tahu, perasaanmu tak pernah tersampaikan, bahkan hanya dapat terucap oleh hatimu. Tak pernah teraba secara pasti, dibunuh dengan cara nista, mengetahui bahwa cintamu tak benar-benar ingin dimiliki.

Harusnya aku tahu, kamu tak pernah berpikir untuk benar-benar mengikrarkan hubungan ini, aku hanya mainan bagimu,

Dan seharusnya aku tahu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar