Kamis, 28 Maret 2013

antara aku, kamu, dia

ini mungkin tulisan pertama, dimana gue berperan jadi 3 tokoh^^. disini ceritanya gue jadi si cewek, jadi si cowok, sama jadi si pacarnya cowok yang sekarang. gak tau dah bagus apa nggak hehehe._.

happy reading~~~


Manda
    Hari itu, saat aku berada di sebuah café kecil di mall, dan hendak keluar dari sana. Aku melihat Dimas tepat di depanku. Iya, Dimas yang selalu mengganggu laju pikiranku bila mengingatnya. Aku berusaha mungkin untuk membuat semua seperti biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha untuk mengalihkan pandangan dengan melihat isi tas berwarna merah jambu milikku. Yang mungkin sebenarnya adalah hal yang malas sekali kulakukan.
   Disamping Dimas, berdiri seorang gadis manis berkulit agak coklat, bermata bulat dan mempunyai gingsul, serta menggenggam erat lengan Dimas; kekasih Dimas saat ini.
   Sekuat tenaga aku menahan rasa gugup ketika Dimas mulai menyadari keberadaanku dan mendekat menghampiri, yang tentu saja bersama kekasihnya. Meskipun begitu, entah mengapa aku tak bisa mengelak untuk tidak bertemu dengannya.
“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucapnya sebagai awal pertemuan.
“Baik, kamu?” ucapku ramah tanpa menatapnya.
“lumayan, untuk saat ini” balasnya.

    Aku berdiri diam tepat di depan Dimas, bersyukur karena Dimas terlihat baik dengan kekasihnya sekarang. Namun terselip rasa tak terucap mengetahui bahwa aku sakit mendengar suara dan menatap kedua matanya yang tajam.

“gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” lontarku memecah keheningan. Menatap Dimas.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” balasnya dengan senyum. Senyum yang beberapa bulan terakhir sudah tak pernah kulihat.

    Dimas tampak lebih bahagia sekarang.
Ia tak banyak berubah, tetap dewasa, tetap tinggi, tetap pintar, tetap manis..
    Aku mengulas senyum. “aku mau pulang dulu Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlast buat kalian” lalu aku berjalan menjauh.

    Ada sakit yang melewati hati dan otak. Kesal, sesak, rindu, terharu, benci.
Dimas tak lagi melihatku, tidak akan pernah. Bahkan kurasa dia lebih senang bersama kekasihnya yang sekarang. Dimas terlalu mencintai Farah, dan tak akan menoleh padaku, lagi. memang Dimas gak akan kembali, dan aku gak seharusnya bermimpi bahwa semua akan kembali

Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku, lalu menangis.

Aku mencintai Dimas

Dimas
    Hari itu, saat aku menunggu Farah membeli sebuah ice tea, aku mengarahkan pandangan ke semua penjuru mall, melihat apakah aku dapat melihat sesuatu yang menarik. Lalu aku melihatnya.
    Dia Manda, gadis yang dulu pernah ada di hidupku. Aku terus menatapnya, namun sepertinya ia tidak menyadari keberadaanku.

    Aku meminta Farah untuk diam disini, sedangkan aku pergi sebentar dengan alasan menemui teman lamaku, tetapi Farah tetap ingin aku disampingnya. Memaksaku untuk tidak meninggalkannya. Dan aku masih menatap Manda, yang tampaknya ingin keluar dari café dengan tergesa – gesa.
Manda akhirnya melihatku, saat aku tepat didepannya dan menatap kedua bola mata yang berwarna cokelat tua. Aku berusaha menghilangkan kegugupanku dan mencoba mendekatinya untuk sekedar bertanya tentang keadaannya saat ini. Namun, Farah meletakkan tangannya di lenganku dengan erat, membuatku tak nyaman.             Dan pada akhirnya aku dapat menatap wajah Manda dari dekat, yang sudah lama tak kulihat.

“Hai Man, gimana kabar kamu?” tanyaku dari hati
“Baik, kamu?” balasnya tanpa menatapku, terlalu sibuk dengan isi tas merah jambunya.
“lumayan, untuk saat ini” jawabku. Kuharap dia mengerti arti sebenarnya dari kalimat itu.

Aku merindukan Manda
Aku merindukan tawanya, senyumnya, lelucon anehnya, aku merindukan waktu saat di dekatnya.

“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap gadis ceria itu mengagetkanku.

Kurasa, dia tak lagi mencintaiku.
Kurasa, hanya aku yang masih mencintainya.
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawabku tersenyum. Mencoba menetralisir suasana otakku yang mulai terpaut dengan Manda. Ada keheningan sebentar.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlast buat kalian” ucapnya dengan senyum yang selalu ku tunggu kemunculannya. Lalu ia pergi menjauh

    Ada keinginan untuk memeluknya sebelum kami berpisah dan tak tahu kapan bertemu kembali, aku merasa sangat merindukannya. Namun sepertinya, ia tidak merindukannku.
Namun sepertinya, ia tak lagi melihatku.

Lantas, aku pulang menuju rumah. Bertahan di kamar tidurku, lalu menangis

Aku kehilangan Manda

Farah
    Aku pergi membeli ice tea ditemani Dimas saat itu. Awalnya memang tak ada apapun di pengelihatanku, namun sesuatu mencegatku untuk menatap Dimas.
    Dimas terlihat tengah menatap seorang gadis di kejauhan. Aku masih belum yakin siapa gadis itu, tapi aku merasa  gadis itu adalah Manda; seseorang yang pernah hidup dan menetap di hati Dimas. Tadinya aku merasa bahwa tidak apa – apa bila Dimas bertemu teman lamanya di mall superbesar ini. Namun, untuk saat ini, menatap Manda membuatku berpikir bahwa Dimas mempunyai sesuatu hal yang ingin disampaikan kepada gadis itu.

Dan aku pura – pura tak tahu.

    Dimas memintaku untuk diam disini, sementara ia pergi menghampiri gadis yang diakuinya sebagai teman lama. Aku tak mau bila Dimas harus bertemu masa lalunya tanpa aku disampingnya. Jika itu terjadi, mungkin ada beberapa hal yang dapat memicu permasalahan antara aku dan Dimas, membuatku menjadi ‘seseorang yang dulu ada di hidup Dimas’. Jika kamu mengerti apa maksudku.
Selesai membeli minum, aku dan Dimas berjalan menuju café; tempat Manda berada saat itu. Aku menggenggam erat Dimas, mencoba tidak melepaskannya. Karena, dengan seperti ini Manda akan tahu bahwa Dimas telah memiliki seseorang yang sangat mencintainya.

“Hai Man, gimana kabar kamu?” ucap Dimas
“baik,kamu?” balas gadis berambut bergelombang itu
“lumayan, untuk saat ini” jawab Dimas.
    Percakapan berjalan alot. Dengan aku sebagai pendengar, dengan Dimas dan Manda menjadi tokoh dalam dialog ini.
    Menatap Manda membuatku berpikir bahwa ia tak lagi memperhatikan Dimas sebagai masa lalu terindahnya. Sedangkan menatap Dimas membuatku berpikir bahwa ia memang mencintaiku, dan menurutku ini adalah hal yang bagus--  Dua masa lalu yang tak saling menghadap.

“Gimana? Udah berapa bulan sama Farah?” ucap Manda mengagetkanku.
    Mungkin, Manda hanya ingin tahu..
“udah jalan 7 bulan, lumayan lama” jawab Dimas disertai senyum, membuatku semakin yakin bahwa tidak ada penghalang antara aku dan Dimas.
“aku pulang duluan ya Dim, udah dari tadi aku disini. Duluan ya, semoga longlasting kalian” Manda berkata lagi, kali ini dengan senyuman (perpisahan). Dimas menatap Manda dari kejauhan, seakan Dimas memang tidak menganggap Manda sebagai seseorang yang special di hidupnya.

Aku senang, reuni Dimas dan Manda berakhir.
Aku senang, menjadi bagian dari kehidupan Dimas saat ini.

Dan aku tak mau, seseorang seperti Manda datang lagi hanya untuk menyapa Dimas.

Lantas, aku pulang ke rumah dan berdiam diri di kamar

Aku membenci Manda.

2 komentar: