Matahari tak bisa menerangi manusia yang tengah beraktifitas
pagi ini. Hanya awan abu – abu yang terlihat di sepanjang langit yang
seharusnya berarna biru.
Serangan air dari udara
datang perlahan, tenang, kemudian turun secara serempak. Membuat
beberapa orang yang tengah berada di lapangan berhamburan mencari perlindungan
Aku duduk di tepi jendela. Terlihat beberapa tetes air
menyentuh kaca, dan membuat embun. Hujan.
Hujan begitu jahat. Terlalu jahat. Karena hujan, selalu
mendatangkan kamu dalam wujud masa lalu. Entah kenapa, hujan begitu senang
melihatku kembali memikirkan seeorang yang tidak mungkin memikirkanku. Aku
benci harus jujur tentang ini semua, mengetahui bahwa kenyataan ini benar
adanya. Bahwa aku kembali merindukanmu.
Para penjaga langit sudah siap mengeluarkan jurus kilatnya,
saat kutahu bahwa hujan semakin menggebu – gebu mengeluarkan milyaran air yang
telah dikandungnya. Hujan selalu sukses membuat replica wajahmu di benakku,
kembali mengingat kenangan setahun lalu yang (jujur) sama sekali tak kulupakan.
Apa yang kamu lakukan padaku? Sehingga secara terus menerus aku memkirkanmu
saat hujan tengah melanda? Mengapa selalu kamu yang tergambar di otakku?
Pagi ini, matahari kalah telah oleh dinginnya hujan,
walaupun para penjaga tak lagi membuat dentuman keras dari kahyangan. Meski
begitu, hujan tetap saja membodbardir denga cairannya.
Pelajaran pertama adalah sejarah. Mengenai zaman dulu. Meski
begitu, sejarah yang teringat di otakku hanyalah sejarah tentang kita, dulu.
Serangan air perlahan berhenti. Berganti tetesan – tetesan
kecil dengan level yang lebih ringan. Orang – orang tak lagi menghindar, dan
matahari sedikit memunculkan seberkas cahayanya dibalik awan kelabu, membuat
pantulan kecil, mengenai hujan gerimis, dan membentuk pelagi.
Hujan bukanlah akhir dari kenangan yang tercipta antara aku
dan kamu. karena setelah hujan, ada pelangi.
Dan pelangi, adalah awal dimana
aku menciptakan kenangan baru, ada atau tidaknya dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar